Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 6 — Batangan Besi Meteor
Lilin di kamar Qin Mu menari-nari, memproyeksikan bayangan pemuda itu yang tampak lebih besar dari biasanya di dinding kayu.
Perkataan Baotian Wei dan Rong Shuxing di pinggir danau tadi sore masih terngiang, namun bukan rasa sakit hati yang menetap, melainkan sebuah perenungan mendalam.
"Dunia ini hanya mengenal dua bahasa, yaitu kekuatan dan manfaat," batin Qin Mu.
Dahulu Qin Mu di puja-puji sebagai putra patriark, banyak anggota keluarga yang mengelu-elukan ia akan menjadi kultivator sehebat ayahnya. Semua orang mendekati dirinya, berharap ketika anak laki-laki itu berhasil mereka dapat memetik hasilnya. Namun, ketika jalur kultivasi ditekankan pada setiap anak di keluarga ini. Qin Mu tidak menonjol bahkan selama 8 bulan hingga 1 tahun berlalu.
Semua orang yang dahulu memujinya menjauh, namun dari situlah Qin Mu menjadi lebih dewasa. Ia tahu, siapa yang Pendukung Sejati dan Siapa Yang Menyembunyikan Taringnya.
Ia menyadari bahwa kasih sayang ayahnya adalah benteng terakhir yang menjaganya dari badai, dan kepolosan Qin Lian adalah cahaya yang tidak boleh padam oleh kegelapan politik keluarga. Untuk menjaga keduanya, menjadi cukup kuat saja tidak akan memadai. Ia harus menjadi lebih kuat atas takdirnya sendiri.
"Apa artinya mencapai puncak jika di sana hanya ada kesepian? Tapi... apa artinya menjadi baik jika tidak memiliki kekuatan untuk melindungi kebaikan itu sendiri?"
Ia menggelengkan kepala, mengusir pikiran filosofis yang terlalu berat untuk malam ini.
Fokusnya sekarang adalah persiapan fisik. Dengan kultivasi yang melonjak ke Tahap Pengumpulan Spiritual, tubuhnya kini siap untuk memegang senjata yang lebih berat dan teknik yang lebih rumit.
Qin Mu melangkah keluar, menyusuri lorong-lorong sunyi kediaman keluarga menuju sisi barat kompleks, tempat aroma besi terbakar dan dentuman palu sering terdengar bahkan di malam hari. Tujuannya adalah Aula Penempaan Utama, tempat kediaman Tetua Kelima, Qin Changin.
Berbeda dengan para tetua lain yang gila kekuasaan, Qin Changin adalah pria tua yang lebih mencintai bau arang dan logam daripada kursi di dewan keluarga. Ia adalah sahabat lama ayahnya dan satu dari sedikit orang yang masih menatap Qin Mu dengan mata hangat, bukan mata yang menghakimi.
Saat Qin Mu tiba, ia melihat seorang pria tua dengan janggut putih pendek yang terkena noda jelaga sedang memeriksa deretan pedang di rak.
"Tetua Kelima," puji Qin Mu sambil membungkuk dalam.
Qin Changin menoleh, wajahnya yang keriput pecah dalam senyuman lebar. "Oh? Mu'er? Apa yang membawamu ke lubang berasap ini di jam segini? Bukankah seharusnya kau sedang mengistirahatkan otot-ototmu?"
"Aku tidak berlatih hari ini, Tetua Chang. Sepertinya menghirup udara alam sekitar hari ini lebih aku butuhkan untuk menenangkan pikiranku. Jadi, aku keluar untuk mencari kesenangan sedikit." balas Qin Mu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Terkadang setelah latihan fisik berat Qin Mu, tetua kelima datang keruangannya untuk mengobrol singkat. Bukan obrolan biasa, obrolan itu layaknya Qin Changin menganggap Qin Mu sebagai cucunya. Karena Qin Changin sendiri tidak memiliki putra ataupun istri, dia melajang hingga tua seperti sekarang karena saat ia muda, Qin Changin ditinggalkan oleh kekasih yang ia cintai.
"Ohh... begitu. Bagus, jangan terlalu terpaku dengan perjalanan kultivasi yang panjang ini. Kita masihlah seorang manusia yang memerlukan hidup seperti manusia biasa di luaran sana."
"Terimakasih atas nasihatnya."
Qin Changin menatap wajah Qin Mu serius, "Baiklah. Kau kemari pastinya memerlukan sebuah senjata."
"Iya. Aku ingin mencari sesuatu yang... lebih berat dari samsak pasir, Tetua Chang," jawab Qin Mu setengah bercanda.
Qin Changin tertawa renyah, namun matanya yang jeli menangkap sesuatu. Ia mendekat, menyipitkan mata ke arah Qin Mu. Sebagai ahli senjata yang bekerja dengan detail, ia memiliki kepekaan terhadap aliran energi seseorang.
"Tunggu sebentar..." Pria tua itu memutari Qin Mu.
"Langkahmu lebih ringan, napasmu lebih stabil, dan... aura di sekitar meridianmu tidak lagi terasa mampet. Mu'er, jangan bilang padaku kalau kau..."
Qin Mu tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Berbohong kepada Tetua Kelima tidaklah mungkin, "Aku sudah melewati gerbang itu, Tetua Chang. Aku berada di Tahap Pengumpulan Spiritual."
Brak!
Palu kecil di tangan Qin Changin jatuh ke lantai.
"Demi leluhur! Kau benar-benar melakukannya? Kapan hari kau mencapainya? Feiyan pasti akan melompat kegirangan jika tahu!"
"Ayah... Emm, dia akan segera mengetahuinya dan untuk itu aku ingin menunjukkannya di saat yang tepat. Tolong rahasiakan ini kepada semua orang, Tetua Chang." pinta Qin Mu.
Qin Changin mengangguk cepat, wajahnya memerah karena semangat. Ia tahu Qin Mu pasti akan menunjukan sebuah perubahan besar saat Upacara Uji Spiritual tiba.
"Tentu, tentu! Kejutan adalah senjata terbaik bagi seorang pejuang. Jadi, kau butuh senjata? Sayangnya, sebagian besar senjata berkualitas tinggi di sini sudah dipesan."
"Aku tidak butuh pedang hiasan atau tombak mahal yang berkilau, Tetua Chang," ujar Qin Mu sambil berjalan menuju pojok aula yang berdebu, tempat barang-barang tua yang terlupakan diletakkan.
Matanya tertuju pada sebuah batang besi hitam legam yang bersandar di sudut. Batang itu tidak memiliki mata bilah, tidak ada ukiran, hanya sebuah silinder besi sepanjang tiga kaki yang tampak sangat berat dan kusam.
"Itu?" Qin Changin mengernyit.
"Itu hanya Besi Hitam Meteor yang gagal ditempa oleh saudara-saudara besarmu menjadi pedang karena terlalu keras dan berat. Beratnya hampir 100 kilogram. Tidak ada praktisi Pembentukan Fondasi yang mau memakainya karena hanya akan menghabiskan tenaga."
Qin Mu mendekat, tangannya menyentuh permukaan besi yang dingin itu. Saat jarinya bersentuhan dengan logam tersebut, kerutan di besi itu memanglah kasar. Ia mencengkeram batang besi itu dan menariknya.
Ugh!
Otot lengan Qin Mu menegang. Dengan aliran energi dari tahap Pengumpulan Spiritual yang baru ia raih, ia mengangkat batang besi itu dengan satu tangan. Beratnya luar biasa, namun terasa benar di tangannya.
"Aku akan mengambil ini..." ucap Qin Mu pelan.
Brak!
Ia menjatuhkan batang besi itu, hanya bisa mengangkat sebentar, kurang dari satu detik.
"Kau gila? Itu akan memperlambat gerakanmu!" protes Qin Changin.
"Justru itu tujuannya, Tetua Chang. Jika aku bisa mengayunkan beban ini seolah-olah tubuhku telah terbiasa, maka saat aku bertarung dengan tangan kosong atau senjata biasa nanti, tidak akan ada yang bisa menandingi kecepatanku di ranah kultivasi yang sama."
Qin Changin menatap pemuda di depannya dengan rasa kagum yang tumbuh. Strategi ini sangat brutal namun efektif untuk menempa fisik.
"Baiklah. Ambil saja, kau tidak perlu membayarnya. Besi itu sudah mendekam di sana selama satu tahun menunggumu."
"Be.. Yang benar, Tetua?" ujar Qin Mu terkejut.
"Kau kira aku siapa? Tentu saja, ambil saja sana. Administrasi bisa aku sendiri yang mengurusnya."
Qin Mu membungkuk hormat, "Terimakasih Tetua."
Dalam perjalanan Qin Mu keluar aula itu, tersirat senyum tipis di bibir Qin Changin. Qin Mu yang ia anggap cucunya sendiri mulai melangkahkan kakinya di jalan kultivasi. Bukan sekedar kebahagian biasa, melainkan dukungan penuh arti.
Qin Changin juga tahu bahwa Keluarga Qin sekarang terbagi menjadi 2 faksi, dengan itu kekhawatiran tentang di keluarkannya Qin Mu dari keluarga ini, menghilang terbawa perasaan baru...