NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30: Jalur likuidasi

Sinar matahari pagi di awal bulan Juli menyinari sudut-sudut ruang kerja Doni Salman di lantai dua ruko Pluit.

Di atas meja jati yang luas, tidak ada lagi cangkir kopi lecek atau kertas manifest pelabuhan yang kotor.

Sebagai gantinya, tiga buah telepon kabel paralel berjejer rapi di samping mesin faksimile yang terus-menerus mengeluarkan kertas gulung berisi laporan harian bursa efek dan pergerakan pasar uang antarbank (PUAB).

Doni duduk bersandar dengan tenang, menikmati aroma teh melati hangat yang mengepul tipis dari cangkir porselen putihnya.

Di hadapannya, Joko berdiri dengan memegang sebuah buku catatan kulit hitam tebal, wajahnya memancarkan kombinasi antara rasa lelah yang amat sangat dan kegembiraan yang meluap-luap.

"Pak Doni, perkiraanmu tidak meleset bahkan satu senti pun," Joko membuka catatan itu dengan ketukan jari yang bersemangat.

"Sejak berita pembatasan penarikan dana di Bank Nusa Sentosa mulai bocor secara halus di kalangan sub-kontraktor kemarin sore, kepanikan massal langsung pecah di Sektor Utara."

"Tiga vendor terbesar kita PT Baja Utama, CV Semen Nusantara, dan penyedia alat berat Marunda hari ini menolak menurunkan material baru ke lokasi proyek jembatan kalau PT Santoso Karya tidak membayar lunas tagihan bulan lalu menggunakan uang tunai."

Doni menyesap tehnya perlahan, meletakkan cangkirnya tanpa menimbulkan suara.

"Lalu, apa yang dilakukan oleh utusan Devan Santoso di lapangan?"

"Mereka panik gila!" Joko terkekeh rendah, kepuasan lapangan terasa jelas dalam nada suaranya.

"Manajer baru yang dikirim dari Menara Thamrin cuma bisa menangis di depan gerbang proyek karena dikepung oleh para mandor."

"Mereka mencoba memberikan bilyet giro dari Bank Nusa Sentosa, tapi para vendor langsung melemparkan kertas itu kembali ke wajahnya."

"Mereka tahu bilyet giro itu sekarang tidak lebih dari sekadar kertas sampah yang tidak bisa dicairkan."

Doni menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman tipis yang sedingin es.

Situasi ini adalah replika sempurna dari kehancuran finansial yang ia saksikan di kehidupan pertamanya, namun bedanya, kali ini dialah yang memegang kendali atas katup aliran udara yang tersisa bagi musuhnya.

"Ini saatnya kita bergerak, Joko," kata Doni, suaranya berat, stabil, dan penuh dengan kalkulasi maut.

"Buka jalur likuiditas kita melalui entitas Salman Holdings."

"Hubungi pemilik PT Baja Utama dan CV Semen Nusantara secara pribadi."

"Katakan kepada mereka bahwa kita bersedia membeli seluruh piutang dagang dan surat utang jangka pendek yang mereka pegang atas PT Santoso Karya."

Joko tertegun sejenak, menelan ludahnya dengan berat.

"Membeli piutang mereka, Mas? Berarti kita yang akan menalangi utang Pak Devan kepada mereka? Menggunakan dana tunai tiga belas miliar hasil jualan saham BUMI kemarin?"

"Tentu saja tidak dengan harga penuh, Joko," Doni memajukan tubuh mudanya, sepasang mata sumur tuanya menatap Joko dengan kilatan predator bursa yang sangat tajam.

"Para vendor itu saat ini sedang dicekik oleh kebutuhan uang tunai untuk membayar gaji buruh mereka di awal bulan."

"Mereka sedang panik. Tawarkan skema pembelian piutang dengan potongan harga (discount rate) sebesar tiga puluh lima persen dari nilai nominal asli utang."

Doni mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja kerja jatinya dengan ritme yang konstan.

"Artinya, jika PT Santoso Karya berutang satu miliar rupiah kepada mereka, Salman Holdings di bawah Salman Group hanya akan membayar enam ratus lima puluh juta rupiah secara tunai hari ini kepada para vendor."

"Sebagai gantinya, hak tagih hukum atas utang satu miliar itu sepenuhnya beralih ke tangan kita."

"Para vendor akan senang karena mendapatkan uang tunai instan untuk menyelamatkan napas perusahaan mereka, dan kita... kita mendapatkan senjata hukum yang sah untuk menyita aset jaminan Devan Santoso di kemudian hari."

Joko mengangguk-angguk dengan cepat, bulu kuduknya kembali memanjang tegak demi menyadari kejeniusan strategi Doni.

Dengan skema ini, Doni tidak sedang membantu Devan menyelesaikan masalahnya; ia sedang membeli seluruh rantai pasokan hidup PT Santoso Karya dengan harga murah, mengubah para rekanan Devan menjadi pasukan sekutu di bawah bendera Salman Holdings di kegelapan.

Di saat yang sama, jeruji kepanikan di lantai lima belas Menara Thamrin telah berubah menjadi neraka birokrasi yang membakar ego keluarga Santoso.

Ruang kerja Devan dilingkupi aroma asap cerutu yang pekat dan menyesakkan. Di atas meja kaca besarnya, belasan lembar surat tuntutan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dari para vendor lapangan mulai menumpuk, dikirim melalui kurir kilat sejak pagi tadi.

Amanda Santoso berjalan mondar-mandir di depan meja ayahnya dengan langkah kaki yang menghentak kasar, meluapkan seluruh frustrasi sosialitanya yang terluka.

"Papa! Ini keterlaluan! Dua mobil Mercedes-Benz kita di rumah hari ini tidak bisa diisi bensin karena semua kartu kredit kita ditolak oleh sistem kliring Bank Nusa Sentosa! Mengapa Papa tidak langsung memindahkan dana kita ke bank pemerintah sejak minggu lalu?!"

"Diam, Amanda! Kamu tidak tahu apa-apa tentang struktur keuangan korporasi!" bentak Devan Santoso, suaranya parau oleh luapan amarah dan kelelahan fisik yang amat sangat.

Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini tampak berantakan.

Pintu ruang kerja menyembul terbuka, menampilkan Hendra, kepala tim legal keluarga Santoso, yang melangkah masuk dengan wajah yang dipenuhi limpahan keringat dingin.

"Pak Devan... situasi hukum kita di Sektor Utara memburuk dalam hitungan jam. PT Baja Utama dan CV Semen Nusantara baru saja mengirimkan surat pemberitahuan resmi demi hukum."

"Hak tagih atas total utang logistik kita sebesar lima belas miliar rupiah di Sektor Utara telah resmi dialihkan dan dijual kepada pihak ketiga melalui akta cessie notariil."

Devan Santoso seketika tersentak berdiri dari kursi kulit megahnya, matanya melebar beringas.

"Dialihkan?! Dijual kepada siapa, Hendra?! Siapa lintah darat di Jakarta ini yang berani membeli utang PT Santoso Karya di tengah situasi krisis seperti ini?!"

Hendra membetulkan posisi kacamata tebalnya dengan tangan yang gemetar, lalu membaca nama perusahaan yang tertera di lembar kop surat pemberitahuan tersebut.

"Pembelinya... adalah sebuah entitas korporasi baru yang berbasis di kawasan komersial Pluit, Pak. Namanya... Salman Holdings,di bawah naungan Salman Group."

BRAAK!

Devan Santoso menghantamkan kedua telapak tangannya ke atas meja marmer dengan begitu keras hingga asbak kristalnya bergeser dan jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping.

Wajah paruh bayanya berubah menjadi merah padam, napasnya memburu cepat seperti orang yang sedang terkena serangan jantung.

"Doni Salman..." desis Devan Santoso, nama itu keluar dari celah giginya yang mengatup rapat dengan nada kebencian yang begitu pekat.

"Anak haram pelabuhan itu... dia tidak sedang memotong anggaran kita. Dia sedang menguliti daging perusahaan kita sepotong demi sepotong dari bawah!"

Amanda Santoso yang mendengar nama itu seketika mematung di tempatnya berdiri, rasa ngeri yang murni kembali merayap dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun teringat kalimat ancaman Doni di ruko Pluit dua hari lalu.

Kalimat tentang upacara pemakaman bagi seluruh kekayaan PT Santoso Karya kini bukan lagi sekadar bualan gertakan; melainkan sebuah realitas berdarah yang sedang terjadi secara sistematis di depan mata mereka.

"Hendra! Siapkan mobil sekarang juga!" perintah Devan Santoso, suaranya bergetar tipis menahan kehancuran harga dirinya.

Pria tua itu menyambar jas safari hitamnya dengan terburu-buru.

"Kita harus pergi ke Pluit sekarang. Aku sendiri yang akan menemui anak muda itu sebelum dia mengirimkan surat permohonan pailit atas perusahaanku ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat."

Kembali ke lantai dua ruko Pluit, waktu menunjukkan pukul tiga sore.

Doni Salman berdiri di depan papan tulis putihnya, memegang sebatang spidol hitam baru.

Dengan gerakan tangan yang lambat namun sangat penuh penekanan, ia menarik sebuah garis tebal berbentuk lingkaran besar yang membungkus nama PT SANTOSO KARYA, lalu menuliskan sebuah kata tunggal dengan huruf kapital tepat di tengah lingkaran tersebut: TARGET ACQUISITION.

Mendengar suara deru mesin mobil mewah yang berhenti dengan sentakan kasar di pelataran parkir bawah, diikuti oleh suara lonceng pintu kaca yang berdentang panik di lantai satu, Doni tidak mengalihkan pandangannya dari papan tulis.

Ia tahu persis siapa tamu yang baru saja tiba tanpa diundang tersebut.

Bidak-bidak catur finansial di atas papan takdir pertengahan tahun 2006 kini telah bergeser ke posisi skakmat pertamanya.

Sang singa tidak perlu lagi merayap di kegelapan rawa sepi Marunda; hari ini, sang penguasa Menara Thamrin sendirilah yang datang merangkak masuk ke dalam sarangnya untuk menyerahkan sisa-sisa kehormatan kekaisaran bisnisnya ke dalam genggaman dingin Doni Salman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!