Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27: Embrio Sang Raksasa
Angin malam yang berembus dari arah Selat Jakarta membawa aroma garam yang khas, menyapu pelataran kompleks ruko baru di kawasan komersial Pluit.
Di depan sebuah bangunan berlantai tiga dengan dinding putih bersih yang masih berbau cat baru, Doni Salman berdiri diam.
Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kain hitamnya, sementara sepasang mata sumur tuanya menatap intens ke arah pintu kaca utama yang masih tertutup tirai putih.
Ruko ini bukan lagi sekadar bangunan kosong dengan papan pengumuman "DIKONTRAKKAN" seperti yang sempat ia tunjukkan kepada Zahra beberapa minggu lalu.
Hari ini, dengan dana taktis yang dicairkan dari sebagian keuntungan portofolio saham BUMI miliknya yang terus meroket menembus angka Rp1.100 per lembar, Doni telah melunasi kontrak jangka panjang ruko ini.
Di atas pintu kaca, sebuah papan nama dari plat baja minimalis berwarna hitam doff baru saja dipasang sore tadi.
Di atasnya, tertulis sebaris huruf kapital dengan ukuran tegas dan presisi: SALMAN GROUP.
Ini adalah embrio dari raksasa yang di masa depannya menguasai lantai bursa Asia.
Sebuah wadah legal yang sengaja didirikan Doni untuk memisahkan seluruh pergerakan uang rahasianya dari pantauan tim audit PT Santoso Karya maupun otoritas perbankan.
"Mas Doni," sebuah suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan malam.
Joko berjalan mendekat dari arah area parkir, membawa sebuah kardus besar berisi sisa berkas operasional lapangan dari Sektor Utara.
Wajah mantan buruh gudang itu tampak kelelahan, namun matanya memancarkan binar kekaguman yang luar biasa saat menatap papan nama baja di atas kepala mereka.
"Semuanya sudah dipindahkan dari pos kontainer Marunda, Mas,"
kata Joko sambil meletakkan kardus itu di atas lantai teras ruko yang bersih.
"Anak-anak di lapangan masih tidak percaya kalau Mas Doni benar-benar membangun kantor semegah ini dalam waktu seminggu setelah kasus Andreas."
Doni membalikkan tubuhnya, menatap Joko dengan seulas senyuman hangat.
"Ini baru fondasi bawah tanah, Joko."
"Tempat ini yang akan menjaga agar seluruh aliran modal kita tidak terendus oleh Devan Santoso sebelum waktunya tiba."
"Bagaimana dengan situasi tim operasional di lapangan setelah kepergian Andreas?"
Joko langsung menegakkan tubuhnya, melaporkan dengan nada penuh percaya diri.
"Bersih total, Mas. Pengganti Andreas dari kantor pusat adalah orang baru yang tidak tahu apa-apa soal pelabuhan."
"Dia cuma bisa pasrah dan menandatangani setiap memo logistik yang kita kirim."
"Efisiensi kita stabil di angka dua puluh lima persen. Orang-orang keuangan di Menara Thamrin sekarang melihat kita seperti melihat hantu; mereka tahu kita punya saham, tapi mereka tidak bisa menemukan celah kesalahan kita."
Doni mengangguk puas.
Ia melangkah masuk ke dalam ruko, menyalakan sakelar lampu utama yang seketika menerangi lantai satu yang didesain dengan konsep kantor modern minimalis.
Beberapa meja kerja bersekat kayu ringan dan komputer tabung baru sudah tersusun rapi, siap diisi oleh para analis keuangan muda yang telah Doni rekrut secara rahasia melalui agensi penyalur tenaga kerja independen.
Di kehidupan pertamanya, Doni mendirikan perusahaan pertamanya dengan terburu-buru, dipenuhi kesombongan tanpa struktur hukum yang kuat, sehingga sangat mudah digerogoti oleh manipulasi Amanda dari dalam.
Namun di kehidupan kedua ini, jiwa sang CEO berusia empat puluh enam tahun telah merancang struktur korporasi Salman Holdings dengan sistem kompartemen yang sangat ketat.
Di lantai satu, aktivitas operasional logistik berjalan sebagai kedok formal.
Di lantai dua, terdapat ruangan khusus untuk pengelolaan portofolio saham dan derivatif keuangan yang dikunci dengan akses digital terbatas.
Dan di lantai tiga... adalah ruang kerja pribadi Doni, tempat di mana cetak biru kehancuran keluarga Santoso diperbarui setiap malam.
Doni berjalan menuju meja kerja utamanya di lantai satu, mengambil selembar dokumen legalitas perusahaan yang baru saja diterbitkan oleh Departemen Hukum dan HAM.
Ia melihat nama dirinya tercantum sebagai Pemegang Saham Pengendali sekaligus Komisaris Utama Salman Holdings.
"Joko," panggil Doni tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen tersebut.
"Besok pagi, tim analis keuangan yang baru akan mulai berkantor di sini."
"Tugas pertama mereka bukan mengurus semen atau besi baja Sektor Utara."
Joko mengernyitkan dahinya, melangkah mendekat.
"Lalu... apa yang harus mereka kerjakan, Mas?"
Doni meletakkan dokumen itu dengan bunyi tepukan pelan di atas meja. Sepasang matanya berkilat tajam di bawah terang lampu neon.
"Aku ingin mereka mulai melakukan pengumpulan data secara masif terhadap seluruh aset properti, tanah, dan anak perusahaan PT Santoso Karya yang saat ini sedang dijadikan jaminan utang di Bank Nusa Sentosa."
Joko tersentak, ingatan batinnya langsung terhubung pada rumor finansial yang belakangan mulai berembus di kalangan pengusaha kelas atas.
"Bank Nusa Sentosa? Bukankah itu bank swasta tempat Pak Devan menyimpan sebagian besar dana likuiditas proyek tol mereka, Mas?"
"Benar," desis Doni Salman, suara beratnya terdengar begitu dingin dan penuh perhitungan yang mematikan.
"Dalam waktu kurang dari dua bulan ke depan, Bank Nusa Sentosa akan mengalami krisis likuiditas parah akibat skandal kredit macet di sektor perkebunan kelapa sawit Sumatra."
"Manajemen mereka akan dinyatakan lumpuh oleh Bank Indonesia, dan seluruh dana pihak ketiga yang tidak dijamin akan dibekukan."
Doni memajukan tubuh mudanya, bertumpu pada kedua tangan di atas meja.
"Devan Santoso mengira dua persen saham yang diberikannya kepadaku di kantor notaris kemarin adalah konsesi terbesar yang harus ia bayar."
"Dia tidak tahu bahwa dengan menyimpan seluruh uang operasional proyek tolnya di Bank Nusa Sentosa, dia sedang meletakkan leher di atas kapak jagal yang sebentar lagi akan jatuh."
Mendengar kalkulasi masa depan yang begitu presisi dan mengerikan keluar dari mulut Doni, Joko merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ia menyadari bahwa pria yang berdiri di depannya ini bukan lagi sekadar sahabat lamanya yang berjuang mencari uang makan di gudang Mitra Kilat.
Doni Salman telah bertransformasi menjadi sesosok entitas finansial yang menakutkan seorang predator bursa yang bisa melihat badai ekonomi sebelum awan hitamnya terbentuk di langit.
"Gunakan dana dari rekening Salman Holdings untuk mulai membeli surat utang jangka pendek milik PT Santoso Karya yang mulai dijual murah oleh para vendor yang panik di lapangan,"
perintah Doni lagi, suaranya kembali datar namun sarat akan tekanan otoritas yang mutlak.
"Kita akan mengumpulkan semua surat utang itu secara perlahan di kegelapan."
"Begitu Bank Nusa Sentosa jatuh dan Devan kehilangan akses ke dana tunainya, kita akan maju sebagai kreditur utama yang memegang hak sita atas aset tanah mereka di Marunda."
"Baik, Mas."
"Segala perintah akan saya laksanakan bersama tim baru besok pagi,"
jawab Joko dengan rasa hormat yang mendalam, membungkuk sedikit sebelum melangkah keluar dari ruangan untuk menyelesaikan sisa pemindahan barang.
Setelah Joko pergi, Doni Salman berjalan menuju jendela kaca ruko yang menghadap langsung ke arah jalan raya Pluit yang mulai sepi.
Di dalam keheningan malam, ia meraba saku kemejanya, mengeluarkan seikat bunga melati kering yang selalu ia bawa sebagai pengingat akan kesetiaan Zahra.
Senjata fisiknya kini telah resmi berdiri kokoh di atas tanah Jakarta. Salman Group bukan lagi sekadar nama di atas kertas draf rencana; perusahaan ini adalah mesin perang finansial yang siap bergerak membelah dominasi para konglomerat korup.
"Nikmatilah sisa-sisa malam yang tenang di Menara Thamrin kalian, Devan... Amanda..."
bisik Doni Salman pada kegelapan malam, matanya memancarkan kilatan es yang mampu membekukan siapa saja yang menatapnya.
"Embrio sang raksasa telah lahir, dan saat badai perbankan itu menghantam Jakarta dua bulan lagi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun dari kalian yang bisa keluar hidup-hidup dari reruntuhan kekuasaan yang kalian banggakan."