Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aza mulai mendapatkan rumahnya
Disaat Aza diterima baik oleh keluarga Dewa. Nasib Ramdan justru kebalikannya. Hutang ibunya menumpuk tanpa Ramdan ketahui, berakhir seluruh aset rumah dan kendaraan disita rentenir. Kini mereka tinggal di kontrakan lusuh. Keluarga besar yang mereka kira dapat membantunya, justru lepas tangan dan membiarkan mereka luntang-lantung di luar.
"Ramdan, ibu gasuka rumah ini. Kecil sekali, masa iya pesangonmu cuma cukup buat beli rumah sekecil ini?"
Ramdan yang sedang cekcok dengan orang dari telefon itu berdecak kesal. Mematikan telfon segera, lalu berbalik menatap ibunya yang sedari tadi protes itu.
"Bisa tidak ibu jangan membuat aku tambah pusing? Yang bikin kita tinggal disini siapa? Ibu kan?!" balas Ramdan tak kalah kesal.
Bu Ratna memutar bola matanya malas. Beralih masuk ke kamar dengan kaki di hentakkan kesal. Sementara Ramdan jatuhkan tubuhnya pada sofa kecil di ruang tamu itu, meletakkan lengannya pada dahi untuk melepas lelah.
Ia terbayang akan Aza yang selalu ada di sisinya setiap ia berada di posisi ini.
"Andai ada Aza, mungkin hidupku tidak sehancur ini."
Kini ia hanya bisa meratapi penyesalan yang tak berujung. Dan tak punya jalan kembali. Aza sudah pergi, ini semua gara-gara kebodohannya. Sekarang Mia pun pergi semenjak dirinya tak memiliki apa-apa lagi. Ia benar-benar bodoh sudah menukar berlian dengan batu sungai. Dan kini, semua sudah tidak berarti untuk di sesalkan.
"Aza....aku sangat merindukanmu." rintihnya disela ia terlelap, menangis dalam penyesalan yang tiada artinya lagi.
***
"Apa kamu akan terus memegangi tanganku?"
Sudah seharian ini Dewa memegangi tangannya. Bahkan saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Dewa tak juga melepas genggamannya.
Kini di ruang tamu hanya tersisa mereka berdua. Sementara ayah, ibu dan kakaknya sudah pulang ke rumah besar, tak ingin mengganggu kebersamaan mereka lebih jauh.
Dewa tersenyum tipis, menepuk tangan Aza di genggamannya pelan, "Kenapa, apa memegang tanganmu saja tak boleh?"
Aza memutar bola matanya, menatap Dewa yang tersenyum di depannya itu datar, "Bukan tak boleh, tapi tanganku sudah berkeringat, Dewa. Lihat!" gerutu wanita itu, melepas pegangannya dan menunjukkan jejak garis-garis bening di telapakannya.
Dewa tersenyum tipis, "Aku bahkan bisa bikin lebih basah dari ini."
Kening Aza mengerut, ia tidak tau kemana arah fikiran Dewa. Manik mata pria itu menatap lekat telapak tangannya sembari mengusap keringat itu lembut.
Aza tarik tangannya cepat, sedikit menjaga jarak darinya. Dewa menghela nafas pelan sebelum akhirnya pria itu bangkit. Mengulurkan tangannya pada Aza.
Bukannya membalas, wanita itu justru menatap uluran tangan Dewa tanpa ekspresi.
"Apa kamu akan tetap bengong disitu?"
Aza terhenyak, wanita itu lantas membalas uluran tangan Dewa. Berjalan beriringan menuju lift untuk istirahat di kamar masing-masing.
"Dewa."
Dewa yang fokus menatap pintu lift yang bergerak naik itu pun menoleh, "Kenapa?"
Aza tatap manik legam itu dalam, sebelum akhirnya wanita itu tersenyum, "Makasihh." sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.
Dewa tersenyum manis, mengacak pelan pucuk kepala Aza gemas.
"Justru aku yang makasih, kamu mau menerimaku kembali. Kamu tidak akan menyesal kan?"
Aza tersenyum menggeleng, ia raih tangan Dewa yang mengelus kepalanya, lalu menempelkan di pipinya lembut, memejam merasakan sensasi nyaman dari hangatnya tangan Dewa.
"Ngga, aku yang takut kamu menyesal memilihku. Aku janda, udah gitu mandul. Aku tidak lagi perawan, dan tidak bisa memberikan kepuasan di malam—"
Dengan cepat Dewa mengecup bibirnya, menghentikan ocehan nyeleneh yang keluar dari bibir mungil menggoda itu.
Tubuh Aza sangat pendek bagi Dewa. Hal itu membuat Dewa takut Aza merasa tak nyaman karena terus mendongak.
Ia raih pinggang wanita itu, lalu mengangkatnya, melingkarkan kaki Aza di pinggangnya. Membuatnya senyaman mungkin.
Dewa lepaskan tautan mereka saat nafas mereka nyaris habis, terengah-engah dengan nafas saling menyapu wajah satu sama lain.
Dewa tatap Aza penuh binar, meraih pipinya yang hanya setengah telapak tangannya itu lembut, "Tolong jangan buang aku lagi, Lea. Aku benar-benar gila membayangkannya."
***
Paginya, saat Dewa hendak ke kantor. Seperti biasa ia akan sarapan terlebih dahulu. Ia berjalan dengan tubuh sudah berbalut jas rapi, berjalan menuju ruang makan.
Ia tertegun saat melihat Aza tengah memegang pisau membelakangi dirinya. Panik langsung ia disitu, segera berlari dan merebut pisau di tangan Aza.
"Lea, kamu—!"
Dewa terkejut, sementara Aza tertegun, ia tatap Dewa yang panik di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Aza polos.
Dewa yang semula panik, melihat buah apel di genggaman Aza langsung diam, menurunkan pisau itu dengan ragu kembali ke atas tatakan.
"Ak-aku—"
Dewa garuk tengkuk lehernya sembari tergagap. Sementara Aza yang melihat ekspresi Dewa yang kikuk itu langsung terkekeh.
"Kenapa? Kau mengira aku akan bunuh diri dengan pisau itu?" kekeh wanita itu.
Dewa memalingkan wajah cepat, berdehem kecil, "Ak-aku hanya gugup saja." berusaha menjaga harga diri.
Ia berjalan menuju meja makan, menarik kursi untuknya duduk. Di atas meja sudah tersedia aneka satu dan lauk, serta nutrisi yang baik dengan suplemen harian Dewa di meja.
Aza terkekeh kecil. Dewa benar-benar berfikir ia akan bunuh diri dengan cara konyol seperti ini.
"Nah, potongan buah apel bentuk love ala Lea...." ucap Aza dengan dinada, sembari menyodorkan sepiring isi buah apel bentuk love kecil-kecil di atasnya.
Dewa tak mampu menahan senyumnya. Ia tatap potongan buah Aza untuk pertama kali baginya itu. Lalu menusukkan garpu ke salah satunya, menyuapkan ke mulutnya.
Matanya spontan berbinar, mendongak menatap Aza yang menunggu penilaian itu cepat
"Enak, sangat manis. Seperti yang motong."
Aza terkekeh lagi, lalu berjalan memutari kursi Dewa, duduk di sampingnya, "Kamu ini, sudah makan."
Dewa mengangguk antusias. Aza segera menyendokkan nasi ke atas piring, lalu menyodorkannya ke hadapan Dewa. Tak lupa ia mengambil beberapa lauk dengan sumpit untuk diletakkan di mangkok pria itu.
"Selamat makan, tuan..." ucapnya dengan senyum mengiringi.
Aza tatap wajah Dewa yang berseri-seri di sampingnya itu dengan berpangku tangan. Menatapnya dengan lekat.
"Dulu kamu cuek banget. Aku sampe harus berusaha keras buat bikin kamu senyum. Tapi setelah aku melihatmu sekarang, ternyata kau tidak secuek itu." gumamnya lirih, "Aku dulu mengira, aku tidak cukup pantas buatmu."
Dewa mendengar itu langsung menggeleng, menoleh menatap Aza di sampingnya, "Kamu pantas untukku, Aza."
"Benarkah? Tapi kenapa kamu dulu cuek banget sama aku? Setiap aku minta waktu kamu selalu beralasan sedang latihan atau kerja paruh waktu. Gimana aku ngga mikir kamu ngga cinta aku coba."
Dewa terdiam sesaat. Ia teringat dimasa dulu masih berpacaran dengan Aza. Ia akui dulu ia cukup cuek, dan selalu mengabaikannya. Namun ia punya maksud tersendiri.