Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tertukar²⁰
Pada hari pertunangan itu, cuaca seolah kurang bersahabat. Gumpalan awan tebal menutupi matahari, menahan panas, tetapi tanpa sadar juga membuat suasana hati terasa suram.
Jamuan pertunangan hari ini diselenggarakan di sebuah perkebunan milik keluarga Xue.
Perkebunan tersebut bergaya Eropa, dengan hamparan rumput luas sejauh mata memandang tanpa batas. Oleh karena itu, jamuan pertunangan kali ini pun diadakan langsung di atas hamparan rumput tersebut.
Di atas rumput, dihiasi puluhan ribu bunga mawar taman, peoni, foxglove, dan aneka bunga lainnya. Hanya untuk dekorasi bunga saja, biaya yang dikeluarkan telah mencapai jutaan.
Hal ini cukup untuk menunjukkan betapa seriusnya keluarga Xue memandang jamuan pertunangan hari ini.
Saat ini, Nyonya Xue tengah sibuk menyambut para tamu.
Demi membangun citra Xue Mo, jamuan pertunangan ini tidak hanya ditata dengan kemewahan ekstrem, tetapi daftar undangan pun disusun dengan sangat serius. Selain mengundang seluruh mitra bisnis, Nyonya Xue juga memanfaatkan relasi keluarga Chou untuk bersusah payah mengundang beberapa tokoh penting.
Xue Ba tampak berseri-seri, mendampingi istrinya menyapa para tamu. Sementara Xue Mo berdiri disamping, bertugas tersenyum dan mengucapkan salam.
Ia bagaikan boneka yang digerakkan oleh tali.
Sementara itu, Xue Yao sedang menemani kakek Xue di ruang istirahat.
Meski banyak tamu penting hadir, sang kakek telah setengah pensiun dan enggan tampil di depan umum.
Ditambah lagi, meskipun kondisi kesehatannya sudah jauh membaik, ia tetap tidak dapat dibandingkan dengan Xue Ba dan istrinya yang berada pada usia prima. Ia pun tidak ingin harus keluar-masuk menyambut tamu secara bergelombang.
Di dalam ruangan, yang ikut 'bermalas-malasan' bersama mereka adalah Kakek Su.
Serta Su Chen.
Su Heng juga hadir hari ini, tetapi saat ini sedang berada di luar, sibuk menjalin relasi sosial.
"Di ruangan ini hanya ada dua orang tua yang berbincang, pasti membosankan. Xiao Chen, kau dan A Yao keluar saja berjalan-jalan sebentar. Jangan buang waktu menemani kami."
Kakek Su melambaikan tangan sambil duduk di depan papan catur yang telah disiapkan di ruang istirahat.
"Ayo, kita lanjutkan satu babak lagi."
Xue Yao tersenyum, lalu bangkit dan pergi bersama Su Chen.
Keduanya tiba di balkon observasi di lantai tiga perkebunan. Dari sana seluruh area jamuan pertunangan di atas rumput dapt terlihat jelas.
Di tengah lautan bunga yang romantis bak mimpi, yang paling mencolok perhatian adalah layar raksasa di atas panggung utama.
Layar itu dibawa khusus oleh Keluarga Qu.
Konon harganya mencapai angka fantastis yang mencengangkan. Biasanya, hanya digunakan untuk tata panggung konser kelas dunia. Teknologi yang dipakai merupakan yang paling mutakhir secara internasional, dan biaya penggunaannya saja hampir mencapai puluhan juta.
Kini, layar tersebut menampilkan gambar-gambar yang berganti selaras dengan dekorasi bunga di lokasi. Nanti, setelah Keluarga Qu dan Keluarga Xue mengumumkan pertunangan secara resmi, logo kedua keluarga akan muncul di layar sebagai bentuk promosi terselubung sekaligus penanda aliansi kuat.
"Aku belum sempat mengucapkan selamat kepadamu. Kau berhasil mendapatkan proyek Jing'an. Sekarang, di lingkaran ini, siapa yang tidak ingin berkenalan dengan Nona Besar Keluarga Xue? Satu pertempuran langsung membuat namamu terkenal."
Sikap congkak Su Chen kini telah banyak memudar.
Atau mungkin, sikap congkak itu sejak awal hanyalah topengnya.
Tampak tidak patuh dan tidak terkendali justru paling sesuai dengan citra anak bungsu dalam sebuah keluarga besar. Tidak mengancam, dan membuat orang lain lebih merasa aman.
"Ucapan selamat itu juga untukmu. Perihal Su Heng yang mengalami kerugian besar di tanganmu, aku juga sempat mendengarnya. Yang paling patut dirayakan adalah dukungan kakek Su terhadapmu."
Bulan lalu, Su Heng dan Su Chen berselisih pendapat karena sebuah proyek pengembangan. Mengandalkan jabatannya, Su Heng menekan Su Chen dan memaksakan keputusannya sendiri.
Hasilnya, pekan ini proyek tersebut dihentikan.
Persis seperti yang telah diprediksi Su Chen kala itu. Karena melibatkan perubahan di tingkat otoritas atasan, proyek tersebut untuk sementara tidak diizinkan berjalan.
Setiap hari penundaan berarti biaya tambahan, dan keluarga Su harus menanggung kerugian yang tidak sedikit.
Meski dengan skala bisnis mereka, hal itu tidak sampai melukai tulang. Namun bagi Su Heng, kalah dalam pengambilan arah proyek dari Su Chen jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan total proyek itu sendiri.
Sejak kejadian tersebut, keluarga Su mengeluarkan pengumuman internal terbaru: Su Chen resmi menjabat sebagai Kepala Departemen Pengembangan Investasi.
Dibandingkan sebelumnya yang hanya mengurusi unit usaha bawahan, penempatan ini jelas merupakan pengakuan atas kemampuan Su Chen.
Posisi pewaris pun kembali menjadi samar dan sulit ditebak.
Pandangan Su Chen tertuju pada layar raksasa itu.
"Xue Yao, semoga kita berdua dapat memperoleh apa yang kita inginkan."
Ia pernah mengira dirinya telah memahami Xue Yao. Namun setelah menyaksikan bagaimana Xue Yao bersinar di dunia bisnis dalam kurun waktu ini, ia baru menyadari bahwa penilaiannya selama ini masih terlalu dangkal.
Musik di bawah berubah, para tamu mulai berkumpul ke area tengah di atas rumput. Tampaknya upacara akan segera dimulai.
Xue Yao berbalik dan melangkah turun.
"Tentu saja."
Suara yang lembut itu terbawa angin, lalu menghilang di balkon.
Pada saat yang sama, Qu Ning yang sejak tadi berada di ruang rias akhirnya muncul.
Karena hanya pertunangan, tidak perlu mengenakan gaun pengantin yang terlalu megah. Hari ini, Qu Ning mengenakan gaun malam berwarna sampanye dengan potongan pas tubuh. Dipadu dengan tubuhnya yang tinggi semampai, penampilannya tampak memukau.
Xue Mo sendiri berwajah rupawan. Saat keduanya berdiri berdampingan, mereka langsung menuai pujian sebagai pasangan yang serasi.
Karena para tetua keluarga Qu telah wafat lebih dulu, hari ini hanya orang tua Qu Ning yang hadir.
Di pihak keluarga Xue, meskipun sang kakek telah tiba di lokasi, ia tidak naik ke panggung. Tugas berbicara diwakili oleh Xue Ba dan Nyonya Xue. Di atas panggung pertunangan yang romantis, Qu Ning dan Xue Mo berdiri di samping, diam seperti dua boneka porselen yang indah.
Orang tua mereka berbicara dengan wajah penuh suka cita.
Semua yang hadir memahami bahwa di balik jamuan pertunangan ini, sesungguhnya terdapat aliansi kuat antara dua keluarga besar.
Saat Xue Ba baru saja mengangkat mikrofon, layar raksasa di belakang panggung yang semula menampilkan gambar bunga nan memukau tiba-tiba berubah menjadi hitam.
Apakah terjadi gangguan?
Nyonya Xue adalah orang pertama yang menyadari hal itu. Hatinya seketika berdebar.
Belum sempat ia bereaksi, layar hitam itu kembali menyala, dan kini menampilkan dua tokoh utama.
Salah satunya sangat dikenal oleh semua orang. Xue Mo, tokoh utama pria dari jamuan pertunangan hari ini.
Sedangkan yang satunya lagi, juga tidak asing bagi banyak orang yang hadir.
"Bukankah itu Xue Ling?"
Yu Yunqi tanpa sadar berseru.
Kegaduhan di lokasi bahkan sempat menutupi musik lembut yang diputar diberbagai sudut lapangan.
Lin Ling, bukankah dia putri yang dahulu tertukar dari keluarga Xue?
Sudut pengambilan gambar dalam video itu terasa aneh, seolah direkam dari suatu titik di seberang sofa.
Dalam video tersebut, pria dan wanita itu berpelukan mesra di atas sofa.
Gerakan semacam itu, jika dijelaskan sebagai kasih sayang kakak dan adik, terasa terlalu dipaksakan.
"Bagian kendali panggung! Cepat matikan layar itu!"
Nyonya Xue langsung panik.
Video ini tidak boleh ditayangkan.
Namun di area kendali panggung, beberapa staf tampak cemas.
"Perangkat lunaknya seperti terkena virus, sama sekali tidak bisa dimatikan."
Sementara itu, video di layar masih terus berlanjut.
"Kak Mo, setelah kau bertunangan, apakah kau tidak akan datang menemuiku lagi? Aku sendirian disini, sungguh sangat ketakutan."
"Mana mungkin."
Dalam video itu, Xue Mo menundukkan kepala dan mengecup lembut rambut Lin Ling.
"Di hatiku hanya ada dirimu. Pertunangan itu hanyalah sandiwara untuk orang luar."
Seluruh hadirin gempar.