Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sinar matahari di hari Rabu menerangi ruang kerja Kirana dengan kehangatan yang berbeda. Ketegangan yang menyelimuti lantai 29 selama dua hari terakhir perlahan menguap bersamaan dengan keluarnya Amar Wijaja dari gedung Baskara Group. Struktur baru mulai terbentuk, dan hari ini adalah hari pertama bagi pengisian posisi-posisi krusial yang sempat ditinggalkan oleh faksi lama.
Kirana duduk di balik meja marmernya, mencatat beberapa poin penting terkait penataan ulang rantai pasok untuk proyek koridor timur. Fokusnya terpecahkan ketika pintu ruangannya diketuk dengan ritme tiga kali yang sangat dia kenali.
"Masuk," ujar Kirana tanpa mendongak dari tabletnya.
Pintu terbuka, dan langkah kaki yang terdengar ragu namun bersemangat melangkah masuk. Kirana mendongak, dan seulas senyum lebar langsung terbit di wajahnya saat melihat sosok wanita muda dengan kacamata berbingkai bulat dan rambut yang dikuncir kuda berdiri di depannya.
"Tika?" Kirana meletakkan tabletnya, matanya berbinar senang.
"Selamat pagi, Ibu Direktur Kirana," Tika membungkuk, mencoba memberikan salam formal, namun senyum lebar di wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa antusias yang meluap-luap. Di tangannya, Tika membawa sebuah map biru berisi surat mutasi resmi. "Staf Administrasi Junior Tika, melaporkan diri untuk tugas baru sebagai Asisten Kepala Divisi Regional Koridor Timur di bawah pengawasan langsung COO".
Kirana bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja untuk mendekati mantan rekan kerjanya di divisi sekretariat dulu.
"Jadi... orang kepercayaan yang dimaksud Radit kemarin adalah kamu?"
"Pak Radit yang memanggil saya ke ruangannya kemarin sore setelah drama pemecatan Pak Amar selesai, Bu," Tika menjelaskan, matanya berbinar-binar. "Beliau bilang, Ibu Kirana butuh seseorang yang tidak hanya mengerti administrasi tingkat tinggi, tapi juga seseorang yang terbukti setia dan tidak bisa disuap oleh faksi mana pun. Pak Radit bilang, loyalitas saya selama krisis kemarin dihargai dengan promosi ini".
Kirana menepuk bahu Tika dengan lembut.
"Kamu sangat layak mendapatkannya, Tika. Selama ini kamu bekerja keras di balik layar membantu saya menyusun draf-draf rahasia untuk Pak Radit. Tapi ingat, posisi baru ini berarti kamu akan sering turun ke lapangan. Koridor timur bukan tempat yang ramah seperti meja sekretariat".
Tika menegakkan punggungnya, meniru gestur tegas yang biasa dilakukan Kirana dulu.
"Saya belajar dari yang terbaik, Ibu Kirana. Jika mantan Sekretaris Utama bisa bertransformasi menjadi Nyonya Besi Operasional, maka mantan staf junior ini juga siap untuk ikut berlumpur-lumpur di proyek".
Kirana tertawa lepas, suara renyahnya memenuhi ruangan. Kehadiran Tika seperti angin segar yang mengembalikan energi positif di dalam timnya.
"Baiklah. Ambil kursi dan duduk. Kita punya waktu dua jam sebelum rapat koordinasi pertama dengan tim lapangan yang baru untuk memetakan ulang vendor logistik".
___
Dua jam berlalu dengan cepat dalam ritme kerja yang intens namun produktif. Tika terbukti sangat cekatan dalam menyerap instruksi baru, membuat Kirana merasa bebannya sedikit berkurang. Namun, ketenangan itu kembali teruji ketika ponsel pribadi Kirana di atas meja bergetar, menampilkan nama panggilan yang tidak asing.
Ibu Sofia Baskara.
Kirana memberi isyarat kepada Tika untuk melanjutkan membaca berkas, sementara dia melangkah menuju dinding kaca besar untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Selamat siang, Ibu Sofia," sapa Kirana dengan nada hormat yang tulus.
"Selamat siang, Kirana. Bagaimana kabarmu? Aku mendengar dari Radit bahwa kamu baru saja membersihkan beberapa parasit lagi di divisi operasional kemarin" suara Sofia terdengar renyah namun tetap berwibawa di seberang telepon.
"Semua berjalan sesuai rencana, Ibu. Struktur lapangan sudah mulai stabil sekarang" jawab Kirana.
"Bagus sekali. Aku memang tidak pernah meragukan kemampuan menantuku," ucap Sofia, membuat dada Kirana kembali menghangat mendengar kata 'menantu'. "Kirana, tujuan aku meneleponmu hari ini adalah untuk mengingatkanmu tentang akhir pekan ini. Vendor gaun dari Jakarta yang sudah kupilih akan tiba di kediaman utama untuk melakukan fitting terakhir gaun pertunanganmu. Aku ingin kamu dan Radit meluangkan waktu hari Sabtu sore untuk datang ke rumah"
Kirana menahan napas sejenak, melirik ke arah kalender digital di tabletnya. Waktu berjalan begitu cepat.
"Baik, Ibu. Saya akan memastikan jadwal saya dan Pak Radit kosong pada Sabtu sore".
"Jangan panggil dia Pak Radit di depanku, Kirana," Sofia terkekeh pelan. "Sampai jumpa hari Sabtu, Sayang. Istirahatlah yang cukup, jangan biarkan putraku membuatmu bekerja terlalu keras".
Setelah panggilan terputus, Kirana memandangi layar ponselnya dengan senyuman kecil. Sisi profesionalnya sebagai direktur kini harus mulai berkejaran dengan perannya sebagai calon bagian dari keluarga terkaya di ibu kota.
___
Pukul satu siang, setelah menyelesaikan rapat koordinasi dengan tim lapangan, Kirana memutuskan untuk mengantarkan beberapa berkas laporan yang membutuhkan tanda tangan basah langsung ke lantai teratas, ruang kerja CEO.
Begitu pintu lift eksekutif terbuka di lantai tiga puluh, suasana di sana tampak sedikit lengang karena sebagian besar staf sedang beristirahat makan siang. Kirana melangkah mantap menuju pintu jati besar ruang kerja Radit. Dia tidak mengetuk, melainkan langsung mendorongnya pelan karena tahu Radit sedang menunggunya.
Namun, begitu pintu terbuka setengah, langkah kaki Kirana mendadak terhenti di ambang pintu. Di dalam ruangan yang luas itu, Radit tidak sedang duduk sendirian di balik meja kerjanya. Seorang wanita cantik bertubuh semampai dengan gaun terusan merah marun yang elegan sedang berdiri sangat dekat di samping kursi Radit. Wanita itu memiliki rambut panjang bergelombang yang indah, memancarkan aura kelas atas yang sangat kental.
Tangan wanita itu sedang meletakkan sebuah kotak bekal eksklusif di atas meja Radit, sementara wajahnya condong mendekat ke arah Radit dengan senyuman yang teramat manis.
"Aku sengaja memasak ini sendiri untukmu, Radit. Ibu Sofia yang bilang kalau kamu akhir-akhir ini sering melewatkan makan siang karena sibuk dengan urusan operasional pasca-RUPSLB" suara wanita itu terdengar manja namun anggun, bergaung lembut di dalam ruangan yang kedap tersebut.
Radit tampak sedikit terkejut dengan kedatangan wanita itu, namun dia tidak langsung menjaga jarak yang drastis. Dia mendongak, menatap wanita di sampingnya dengan ekspresi yang sulit diartikan oleh Kirana dari ambang pintu.
"Kamu tidak perlu repot-repot datang ke kantor, Valerie," ujar Radit, suaranya terdengar ramah, sebuah nada keramahan yang jarang sekali Radit tunjukkan kepada orang luar selain kepada Kirana atau ibunya sendiri.
Kirana berdiri membeku di ambang pintu, map hitam di tangannya mendadak terasa sangat berat. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak nyaman. Nama wanita itu Valerie. Kirana ingat pernah melihat nama itu di beberapa arsip sosialita keluarga besar Baskara. Valerie adalah putri tunggal dari salah satu mitra bisnis terbesar keluarga Baskara dari Singapura, sekaligus wanita yang sejak lama digosipkan oleh faksi keluarga besar sebagai calon pendamping paling ideal untuk Raditya Baskara sebelum skandal pertunangan kontrak mereka mencuat.
Kehadiran Valerie di ruangan itu, dengan membawa restu tidak langsung dari Ibu Sofia mengenai makan siang, seperti sebuah alarm tak kasatmata yang berbunyi di dalam kepala Kirana. Badai korporat melawan pengkhianat internal mungkin telah usai, namun tantangan di ranah sosial dan lingkaran terdalam keluarga besar Baskara baru saja menampakkan wujudnya.