Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 09
Para tabib di Ilos berkerja keras untuk menahan wabah ofelion, namun semakin di biarkan semakin banyak yang terjangkit. Bahkan Ella sudah tidak sanggup lagi.
Eva berulang kali mencoba mencari sumber lain yang bisa menggantikan air tujuh mata pelangi, tapi sudah tiga hari lebih dia tidak menemukannya.
Luantys kini masih terbaring lemah, kondisinya lebih parah semakin harinya. Jika bukan bantuan Izkye, mungkin gadis itu tidak bertahan sehari saja.
Eva menoleh ketika terdengar pintu kamarnya yang terbuka, Ella dan Izkye masuk ke kamar Eva yang penuh dengan permanen dan buku kuno lainnya. Eva berkutat keras untuk bisa mencari solusi.
"sayang kamu istirahat dulu, biar mama dan papa yang coba cari", Ella mendekat pada Eva.
sepanjang wabah muncul, Eva satu-satunya anak yang tidak lelah mencari cara untuk menangani wabah ofelion, dia bahkan belum makan selama dua hari karena harus membaca semua perkamen dan buku kuno. Berharap mendapatkan petunjuk.
Izkye mengelus kepala putri tunggalnya, dia tahu apa yang di pikirkan anaknya. Berkaitan dengan Luantys yang terkena wabah dalam keadaan luka parah. Tapi jika Eva juga kenapa-kenapa itu akan lebih berbahaya lagi.
"ma, pa. Selama ini kalian melakukan apa untuk mencegah wabah?". Ella dan Izkye terdiam.
Eva menatap kedua orang tuanya, dia sudah sangat ingin tau sejak awal wabah dimulai, entah bagaimana bisa tapi_ dia merasa ada yang di sembunyikan dari kedua orangtuanya. Terutama satu hal, identitas mereka di Ilos, dia sudah sangat penasaran.
Ella dan Izkye saling pandang, seperti melakukan percakapan dalam pikiran mereka sebelum akhirnya menatap Eva, Ella bangkit hendak membuat minuman, menyisakan kamar hanya ada Eva dan Izkye.
Izkye diam melihat perkamen dan buku kuno yang banyak, menumpuk dan berserakan di kamar Eva. Terlebih sekali ke sungguh anaknya itu untuk mencari obat untuk wabah di Ilos.
"Ilos adalah negeri yang pernah ditempati penyihir beribu-ribu tahun lalu, dan peninggalan mereka adalah hutan yang memiliki sihir", Izkye menatap ke jendela kamar Eva yang mengarah ke luar.
"Dalam sejarah ditulis, kalau hutan sihir selalu memilih satu orang untuk di wariskan sedikit sihir yang kelak akan berkembang dan menjadi abadi, dan akan bisa kembali ke hutan Ilos lagi".
Eva menatap bingung, apa hubungannya dengan sejarah Ilos dengan identitas mereka?.
"tapi ada satu catatan yang tidak di tulis, sengaja untuk tidak di catat agar kelak tidak menimbulkan masalah besar." Izkye menatap ke tangannya.
Eva melihat di telapak tangan Izkye,perlahan muncul simbol bulan sabit yang menghadap keatas, warnanya putih perak yang seperti berkilau biru indah.
"ada penyihir yang sampai sekarang masih hidup di antara manusia nak, dia keturunan terakhir era penyihir lama, dia terus bersembunyi dan mencari cara identitas mereka aman. Sehingga mereka memiliki anak" Izkye menghela nafas.
"dua puluh ribu tahun hidup, dua pasangan penyihir itu akhirnya kembali ke negeri mereka tinggal, Ilos menyambut mereka seperti menyambut raja. Karena sejarah mengatakan penyihir sudah punah akibat perang besar, padahal sejatinya mereka mati dibantai oleh sebuah kerajaan yang serakah. Mereka berdua menutup identitas mereka".
"sampai putri mereka lahir setelah penantian panjang, warga Ilos baru menyadari identitas kedua penyihir itu. Dikarenakan saat anak itu lahir, hutan Ilos menunjukkan tanda sihir hebat. Yang menandakan lahirnya anak yang punya sihir hebat, karena takut ilos diserang, warga Ilos sepakat untuk menjadikan negeri Ilos seperti lokasi Tampa bangsawan, karena mereka punya seseorang diatas bangsawan manapun".
Izkye menatap Eva yang masih bingung, pria itu tersenyum mengelus kepala putrinya.
"kau tau nak dua penyihir itu siapa?, itu kami. Papa dan mamamu". mata Eva membulat tidak percaya.
"Sekarang kamu bisa mengaitkan dengan baikkan sayang". Izkye mengelus kepala Eva.
Eva terdiam, perlahan otaknya berjalan baik. Pantas saja dia mudah dekat dengan alam Ilos, bahkan sihir di beberapa hutan mudah saja dia lewati.
Izkye menghela nafas, "walau begitu kau belum sampai di waktu kedewasaan. Umurmu belum cukup di ukuran penyihir, kau masih butuh Duan tahun lagi. Untuk bisa mengeluarkan sihir".
"tapi papa dan mama bisa sihir kenapa gak mengobati mereka dengan sihir?" Eva teringat cara awal menanganan wabah.
Izkye menggeleng, "karena papa dan mama belum bisa sihir regenerasi. Wabah ini butuh sihir itu, sayang buku sihir sudah lenyap. Kami bukan penyihir murni seperti ku nak, kamu juga ternyata punya darah percampuran, alasan kami tidak bisa mendapat sihir penuh".
Eva menunduk, hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan wabah ofelion. Dan jika itu harus maka Ilos harus bersiap menjadi bagian Odelions.
Mereka berdua menoleh saat mendengar suara pecahan gelas, Izkye berlari menuju dapur disusul Eva. Sampai di dapur Eva membeku dalam diam. Ella terbaring lemah dengan baju sisa muntahan, wajahnya pucat dan penuh keringat, gejala awal ofelion.
Izkye bergegas membuat kubah biru untuk menahan perkembangan ofelion di Ella, dan membawa Ella ke kamar untuk di baringkan.
Eva meremas ujung bajunya, dia melihat ke arah jendela rumah mereka.
"kali ini aku sudah tidak tahan, aku akan lakuin itu " batinnya.
...****************...
Bulan bersinar indah, menjadi pemenang Eva saat melewati hutan yang gelap. Derap kudanya memecah keheningan malam di hutan perbatasan Ilos dan Odelions.
Eva sudah bulat dengan niatnya, sudah cukup dia hanya diam melihat teman, warga bahkan sekarang ibunya menderita. Di harus ambil keputusan nekat yang luar biasa.
Derap kudanya melambat ketika mendekati ujung hutan, dia turun dari kudanya dan melangkah pelan dalam gelap mendekat ke ujung hutan.
Matanya awas melihat para penjaga yang berjaga di dekat perbatasan, pintu Odelions selalu terbuka bagi pedagang, jadi dia akan masuk dengan ikut gerobak pedangan.
Eva menoleh ketika melihat suara bising, ada kereta yang berhenti karena ada lubang. Eva bergegas mengambil kesempatannya untuk masuk ke kereta diam-diam, bersembunyi di barang-barang bawaan.
Eva berjaga-jaga ketika kereta bergerak lagi, tangannya awas memegang belati, khawatir ada pengecekan barang. Namun seperti itu hari keberuntungan Eva, tidak ada pengecekan. Kereta masuk dengan mudah saja, ketika kereta melewati lorong kota yang sepi, Eva melompat turun.
Eva berjalan menuju gang sempit, menaikkan tudung jubahnya agar bisa lebih menutupi dirinya. Karena dia tidak punya jubah gelap, dia memakai jubah seseorang yang baik menyelimuti nya. Jubahnya memang cukup besar untuknya tapi itu lebih baik untuknya menyelinap.
Eva masuk ke area yang dicatat di buku kuno, tempat air tujuh mata pelangi berada. katanya ada di samping istana, dekat dengan sebuah danau yang memiliki teratai merah.
"Hey kamu" Eva terdiam sejenak. Tubuhnya kaku mendengar suara berat.
suara langkah mendekatinya, Eva menahan diri untuk tidak menyerang terlebih dulu, tangannya mengepal ketakutan.
"kau sedang apa malam-malam seperti ini di dekat istana", seorang penjaga mengamati Eva.
Eva hanya menunduk takut, menutupi wajahnya agar tidak di curigai, kabarnya gadis Ilos dan gadis Odelions bisa terlihat bedanya. Dari bola mata dan rambut, jarang warga berambut hitam. Dan hanya keluarga bangsawan tinggi dan kerajaan yang memiliki nya.
Salah seorang penjaga, menepuk rekannya dan berbisik pelan," jubah ini bukannya punya pangeran mahkota. Jangan bilang ini gadis rahasia beliau?".
"kau jangan bercanda, tapi_ memang benar ini punya Baginda pangeran, kalau dia benar orang pangeran tamat kita" bisik rekannya menimpali.
Eva tidak terlalu dengar apa yang di bahas kedua penjaga itu, sampai akhirnya dia di berikan jalan untuk pergi. Eva tidak tau saja ada mata yang mengintai nya dalam gelap.
Tiga puluh menit, Eva akhirnya sampai di titip lokasi sumbernya, dia bergegas mengeluarkan botol untuk menampung air yang di butuhkan untuk obat, dengan ini Ilos akan_
"tidak ku duga ada pencuri kecil disini" tubuh Eva membeku kaku.
Dia lebih terkejut lagi ketika tau siapa yang menemukannya, tubuh yang atletis dibalut kemeja putih biasa dan celana hitam, pedang di pinggangnya memiliki motif khas yang Eva ingat, rambut hitam dan bola mata yang berwarna merah darah, memberi senyum miring.
"gila kenapa harus dia" bati Eva.
Felix tersenyum kecil, mendekat pada Eva yang masih kaku. Tentu dia sudah menduga kedatangan Eva dari pengawasan burungnya, dan tujuan gadis itu pergi kalau bukan karena wabah ofelion.
Eva menarik busur dan panahnya ke arah Felix secepat kilat namun_
"AAAAA", Eva mengeram karena tangannya di panah seseorang di belakang Felix.
Felix berjalan perlahan mendekati Eva, menatapnya seperti predator yang siap melahap mangsanya.
Eva tidak diam, dia siap lari namun langkahnya terhenti ketika tangan kanannya di pegang kuat oleh felix, dan dalam sekejap dia tidak bisa bergerak lagi karena di tahan.
"lepas kan aku" Eva memberontak.
Felix mencengkeram dengan kuat, membuat Eva meringis. "semudah itu hmm, sudah masuk area musuh dan mencuri. Kau pikir aku semurah hati itu?".
Eva menggigit bibir bawahnya, "kau tiran. Kau sengaja kan tidak berbagi obat dengan daerah lain yang terkena ofelion".
Felix terkekeh, mendekat kan bibirnya ke telinga Eva. "hmm hanya suku bar-bar dan Ilos kenapa aku harus berbagi?".
Eva menggigit bibirnya tidak terima, rumor pangeran Felix yang kejam itu memang benar. Dia bahkan tidak berbelas kasih jika itu berhubungan dengan keinginan nya.
Felix tersenyum kecil. "kau mau tau cara agar kami mau berbagi obat dengan kalian Ilos?".
Eva mendengus, " mengakui negeri kami jadi bagian odelian,aku memilih mati dari pada itu".
Felix berbisik, membuat Eva terdiam tidak percaya.
Melihat reaksi Eva Felix tersenyum tipis, "ku beri waktu tiga hari, jika kau bersedia lady".
Felix melepas pegangan tangannya dan berniat pergi, namun sebuah tangan menahan langkahnya.
"aku bersedia ". Felix tersenyum puas.
Eva menggigit bibir tidak terima mengambil keputusan gila itu, tapi sudah tidak ada waktu lagi. Dia butuh air tujuh mata pelangi malam ini untuk warganya.
Felix berbalik , dam tersenyum kecil memberikan token miliknya. "satu Minggu siapkan dirimu, aku akan pergi ke Ilos untuk menjemput mu".
Eva memegang token itu erat, dan pergi membawa botol penuh air tujuh mata pelangi menjauhi Felix.
Felix tersenyum, "jangan salahkan aku Flery, kalau kau berniat menyentuh milikku yang ini.
...****************...