Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Ancaman Sesungguhnya
Ibu Yunting tersenyum miring, ia lantas meminta Jingyuan dan Wanqing membaca secarik kertas yang juga berada di dalam kotak kayu itu. Jingyuan meraihnya dan membantu mensejajarkan kertas itu di hadapan dirinya dan istrinya. Mereka berdua mulai membaca surat itu perlahan.
Jenderal Lu,
Yunting mengirimkan surat ini dalam hati yang kacau dan penuh khawatir. Yunting tidak tahu harus bagaimana menghadapi pria itu, Aku mohon, tolong Yunting. Saat ini banyak sekali hal yang memenuhi kepalaku, bagaimana caranya Aku melahirkan anak ini dengan selamat tanpa harus diketahui olehnya kalau anak ini adalah anaknya, bagaimana caraku selamat?
Bantu Aku Lu.
Surat itu tidak terbalas dan hanya berisikan permohonan dari Ibu Yunting. Ibu Yunting lalu menghembuskan napasnya kasar. "Wanqing, selama ini, Su Gongqi bukanlah ayahmu."
Mendengar itu, Wanqing merasakan seluruh tubuhnya sangat amat lemas dan kebingungan. "Apa maksud Ibu?" Tanyanya langsung, tanpa sadar dirinya bersandar pada bahu besar Jenderal Lu yang spontan langsung merangkul tubuh mungilnya.
"Aku coba untuk mengirimkan Lu Fengji surat itu sebagai tanda permohonan ku ketika Aku tahu hamil dirimu, tapi, surat itu sudah diketahui dan dikembalikan oleh ayahmu yang asli."
Wanqing menatap bingung sang Ibu. "Lalu? Selama puluhan tahun ini, siapa Su Gongqi?" Ujarnya lirih.
Ibu Wanqing menggeleng, "Pria itu pria yang malang, dia hanya ingin bisnisnya lancar dan dilindungi, itulah kenapa dia setuju berkerjasama denganku."
Wanqing semakin pusing, kepalanya seperti mau pecah, ia tidak tahu harus proses semuanya dari mana, ia bahkan tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Melihat sosok ibunya yang terlihat dengan santai menceritakan kebenaran yang sebenarnya sangat menyakiti Wanqing itu, dirinya mulai tak sanggup. Ia menarik lengan baju suaminya dan berbisik, "Bawa Aku ke kamar, Aku tidak ingin berada di sini."
Jingyuan mengangguk, ia menatap kedua ajudannya dan mengangguk seolah tanda bertukar pikiran. Jingyuan menggendong Wanqing dan membawanya kembali ke kamar sementara mereka.
Wanqing mulai terisak di dalam pelukan Jingyuan, wanita itu terus menangis bahkan ketika dirinya sudah sampai di atas kasur dan diselimuti oleh Jingyuan. Wanqing terlihat sangat terpukul dan penuh emosi yang tidak dapat Jingyuan gambarkan emosi apa itu, tidak ingin Wanqing sakit, Jingyuan terus berusaha menenangkannya dan mulai mencari suatu topik pembicaraan yang menyenangkan agar Wanqing tak lagi sedih.
"Kau tau Qing'er? Aku pernah melihat sebuah tembok raksasa yang panjang sekali membentang di tengah dataran Tiongkok ini, apakah Kau sudah pernah melihatnya?"
Wanqing yang masih terisak menatap Jingyuan penasaran,
"Baiklah, nanti Kita akan liburan ke sana dan memperhatikan betapa kerennya bangunan itu ya? Tapi, sayangnya, tangganya banyak sekali, Aku yakin kaki kecilmu tidak akan sanggup menaikinya dan berakhir meminta pulang."
Wanqing langsung melotot, "Kau sok kuat." Ujarnya, isakannya mulai tidak terdengar meskipun matanya masih sembab.
"Waktu di kantorku di Guangzhou dulu, Kau tertarik membaca buku biografi?" Jingyuan masih mencoba mencari topik yang menarik agar Wanqing jauh lebih relax dan lupa dengan rasa sedihnya yang terlihat sangat menggebu-gebu beberapa waktu lalu.
Wanqing mengangguk, "Kantormu membosankan, Aku tidak suka baca buku strategi atau buku politik dan ekonomi, hanya ada buku biografi yang sedikit mirip dengan buku novel."
Jingyuan mengangguk, ia menoleh dan menelusuri rak-rak novel yang memenuhi kamar ini. "Kau sudah coba baca salah satu buku yang ada di sini?" Tanya Jingyuan sambil mencoba bangkit dan perlahan menelusuri buku-buku yang ada satu persatu.
Wanqing menggeleng, "Tidak, Aku belum sempat menyentuhnya."
Jingyuan mengangguk, "Kita belum bisa kembali meskipun setidaknya hanya ke Fuzhou bagian Utara yang sudah Kita ambil alih, jadi, bagaimana kalau besok Kau kubawa belanja?" Tanya Jingyuan perlahan.
Wanqing menatap Jingyuan bingung, "Bukankah Kita seharusnya bersembunyi?"
Jingyuan menggeleng, "Dari pemahamanku, sebenarnya tempat ini sangatlah aman dan sangat damai bagi Kita apalagi Ibumu. Jadi seharusnya musuh atau ancaman terbesar Kita tidak akan mengganggu."
Wanqing masih menatap Jingyuan bingung. "Lalu bagaimana cara kita pulang? Apakah Ibu bisa lebih aman bersama Kita?"
Jingyuan menatapnya dengan tatapan penuh kasih, "Akan Aku perjuangkan apa pun yang Kau inginkan, bahkan jika itu mustahil."
Wanqing tersenyum, ia pun mengangkat kedua tangannya tanda ingin memeluk hangat suaminya itu, kedua tangannya disambut hangat oleh pelukan yang nyata dari suaminya itu. Duduk di samping kasur, pria itu berkata,
"Kita akan kembali bersama saat malam festival kembang api dan lampu lampion dilaksanakan. Aku ingat budaya orang-orang sini pastinya akan sangat heboh dan pergi memenuhi pusat kota, para penjaga jadi lebih santai dan fokus festival, dengan begitu, Kita bisa menyusupi para pengunjung agar tidak ada yang curiga. Bagaimana?"
Wanqing mengangguk, "Ide yang bagus, tapi menurutku lebih baik Kita tidak bergerombol, bagaimana kalau Aku dan Kau, lalu Han, Xien, dan Ibu."
Jingyuan mengangguk, "Ide yang bagus, Aku bahkan belum terpikirkan hal itu."
Jingyuan perlahan meraih tangan Wanqing yang perbannya telah diganti. "Tanganmu ini, kenapa? Aku belum sempat bertanya ada apa?"
Wanqing menatap lurus ke depan, seolah membayangkan kejadian yang telah terjadi lama. "Saat Aku mencoba kabur, kayu-kayu di pondok tua yang keropos itu harus kucabuti dan ku tarik satu persatu. Itulah yang menyebabkan luka robek di telapak tangan ini. Tapi untungnya saat Aku bangun, luka ini sudah dijahit dan dirapihkan dengan kemampuan yang sangat luar biasa sampai tidak terlihat bekas jahitannya."
Pria itu mengangguk, terlihat ada urat-urat kasar di lehernya, rahangnya juga mengeras. "Apa Kau bisa melihat atau mengenali siapa yang menculik mu?" Tanyanya.
Wanqing menggeleng, "Aku hanya dengar mereka berbincang soal, 'Jangan sampai Nyonya tahu' semacam itu."
Jingyuan mengangguk, "Kau mau membaca novel?" Tanyanya sembari kembali berdiri dan meraba-raba beberapa buku yang ada di dalam lemari itu.
Wanqing menggumamkan jawabannya, tak lama, sebuah buku dan satu cangkir teh hangat mendarat di atas kasurnya.
"Nikmatilah dulu waktumu dan jangan banyak berpikir aneh-aneh, Aku akan turun untuk membahas strategi lebih dalam dengan Han serta Xien. Nanti malam Kita banyak urusan."
Wanqing menatap kepergian suaminya dengan pipi yang memanas. "Urusan apa di malam hari?" Gumamnya.
Sementara itu, alih-alih membahas mengenai strategi kepulangan, Jingyuan datang menghampiri Ibu Yunting yang tengah menyesap tehnya di taman belakang.
Duduk santai di atas rumput liar, Jingyuan berkata, "Meskipun Kau bisa menyimpan semua ini sendiri, bukan berarti Kau akan bertahan dan mati dengannya." Jingyuan menatap Ibu Yunting dengan tatapan datar.
Wanita itu lalu menoleh, ia tersenyum dan mengangguk, "Banyak sekali rahasia dan kerumitan di dunia ini, terutama bagi mereka yang memiliki kekuasaan, harta, atau pun ilmu."
Jingyuan mengangguk, "Bagaimana dengan penculiknya? Apakah itu pria yang kupikirkan?"
Ibu Yunting mengangguk samar,
"Dia sudah pasti adalah Ayah dari Wanqing."
*BERSAMBUNG*
Tetap sabar dan semangat, stay positive and enjoy ur life all! Love u