Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12: Amorette's Move
Malam semakin larut, langit malam di atas Istana Elowen bertabur bintang yang bersinar terang, namun di dalam kamar tidur Amorette, lampu-lampu lilin masih menyala terang. Gadis itu duduk bersila di atas meja kerjanya, bulu ayam di tangannya bergerak lincah di atas kertas tebal. Sudah tiga jam lamanya ia melakukan rutinitas yang sama: menulis, melipat, mengikatkan pesan kecil itu ke kaki burung merpati putih, melepaskannya ke jendela, lalu menunggu tiga puluh menit hingga burung itu kembali membawa balasan.
Komunikasi magis ini adalah ide cerdasnya sendiri. Siang tadi, ia meminta izin dan bantuan ayahnya untuk mendapatkan sepasang burung merpati khusus yang telah dilatih menggunakan sihir penghubung, sehingga tidak ada orang lain yang bisa mencegat atau membaca pesan yang mereka kirim. Ini adalah saluran rahasia, aman, dan cukup cepat—meski bagi Amorette yang terbiasa dengan kecepatan internet dan pesan singkat zaman modern, menunggu setengah jam rasanya seperti selamanya.
Ia kembali menulis pesan barunya dengan tinta berwarna ungu: Aku sangat merindukan teknologi canggih yang bernama ponsel itu. Ayolah CEO hebat, tidakkah engkau mau membuatkan ponsel untuk kita berdua? Pasti dengan kecerdasanmu, kau bisa merakit sesuatu yang mirip dari besi dan sihir, kan? Menunggu setengah jam demi satu kalimat itu sangat menyiksa, tahu!
Setelah selesai menulis, Amorette menyemprotkan sedikit parfum wangi bunga melati ke atas kertas itu—kebiasaan kecil yang ia lakukan agar suratnya tidak berbau seperti kertas tua saja. Ia menggulungnya rapi, mengikatnya dengan pita sutra kecil, lalu berjalan ke arah jendela di mana burung merpati itu sudah bertenggek dengan sabar. Dengan lembut, ia mengikatkan pesan itu ke kaki burung, lalu melepaskannya ke udara malam. Burung itu mengepakkan sayapnya pelan, lalu melesat hilang di kegelapan tanpa tanda-tanda kelelahan sedikit pun, berkat sihir yang tertanam di dalam tubuhnya.
Kurang dari dua puluh menit, burung itu sudah kembali. Amorette tertegun sejenak, ternyata jarak antara kedua istana tidak sejauh yang ia kira. Ia segera melepas pesan balasan itu dan membacanya dengan antusias.
Tulisan tangan Algernon yang tegak dan sedikit miring tertulis di sana: Yah, sayang sekali aku hanya mengatur bisnis teknologi saat itu, bukan membuatnya. Aku hanya menjualnya, Dokter Cantik. Kalau disuruh merakit kabel atau sirkuit, aku sama sekali tidak paham. Oh iya, soal laporan kemajuan... aku sudah mendapatkan banyak kenalan penting dalam sehari. Kau kapan mulai bergerak? Jika ini kompetisi, sepertinya aku sudah menang jauh darimu. Kalah saja, jangan malu-malu.
"Dasar sombong!" geram Amorette pelan, hampir saja ia meremas kertas itu menjadi gumpalan kecil karena kesal. Ia kembali duduk dan menulis balasan dengan garisan yang sedikit lebih tegas dan cepat, meluapkan kekesalannya karena diejek.
Di sudut ruangan, Esther dan Lily yang sedang melipat pakaian serta merapikan barang-barang, saling bertukar pandang sambil tersenyum tipis. Mereka sudah mengamati perilaku tuan putri mereka sejak tadi. Amorette yang biasanya tenang, dingin, dan sulit dibaca, kini terlihat cemberut, tertawa sendiri, atau berbicara sendiri hanya karena pesan kecil dari burung itu.
"Lihatlah, Nyonya Esther..." bisik Lily pelan sambil menyikut lengan Esther. "Yang Mulia tidak pernah begini sejak dulu. Dia sangat bersemangat, bahkan sampai lupa waktu. Pasti yang mengirim surat itu adalah Pangeran Algernon, kan?"
Esther mengangguk sambil tersenyum penuh arti. "Aku juga berpikir begitu, Lily. Hubungan mereka... rasanya bukan sekadar sekutu diplomatis atau sahabat biasa. Ada sesuatu yang lebih hangat dan dekat di antara mereka. Entah apa itu, tapi aku senang melihat Tuan Putri bahagia seperti ini."
Setelah puas menulis balasan yang berisi protes panjang lebar dan pembelaan diri, Amorette kembali melepas burung itu. Namun, kali ini ia tidak menunggu. Ia merasa matanya sudah berat dan tubuhnya lelah. Ia duduk kembali di meja tulisnya, menyambar pena untuk pesan terakhir malam ini.
Ah, terserah! Jika cuma urusan lelang barang tua pun aku pasti bisa melakukannya lebih baik darimu, dasar CEO bodoh yang hanya bermodal hoki! Sudahlah, aku ingin tidur. Biarkan merpati ini berada bersamamu dulu malam ini. Kirimkan surat lagi besok pagi agar dia kembali padaku. Tapi ingat, aku tidak akan membaca atau membalas surat itu sebelum makan siang! Selamat malam, Pemenang Palsu.
Ia mengikat pesan itu, melepas burung itu untuk terakhir kalinya malam itu, lalu berjalan terhuyung-huyung menuju kasur empuknya, lalu merebahkan diri dengan nyaman di balik selimut tebal.
Sementara itu, di menara tertinggi Istana Remington, Algernon duduk di depan perapian yang menyala hangat. Ruangannya terpencil, jauh dari kamar-kamar penghuni lain, sehingga tidak ada satu pun suara yang bisa terdengar masuk atau keluar. Ia baru saja membaca pesan terakhir Amorette, dan ia tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang hebat.
"CEO bodoh... pemenang palsu..." gumamnya sambil menggelengkan kepala, menyimpan kertas itu di dalam kotak kecil berharga di laci mejanya. Ia sangat menikmati interaksi konyol namun akrab ini.
Namun, kegembiraannya bukan hanya karena pesan itu. Kejadian sore tadi saat ia pulang dari acara lelang masih menjadi pembicaraan hangat di seluruh istana, hingga ke telinga para pelayan dapur sekalipun.
...***...
Sore itu, saat Algernon tiba kembali di kediaman utama, ia langsung menuju ruang kerja Raja August. Di sana, Raja sedang berdiskusi dengan Theodore dan beberapa penasihat kerajaan. Saat Algernon masuk membawa kotak beludru berisi pedang kuno itu, semua mata tertuju padanya.
"Ayahanda, aku membawa sesuatu untuk Ayah," ucap Algernon tenang, lalu meletakkan kotak itu di atas meja kerja dan membukanya.
Saat Raja August melihat bilah pedang yang berkilau samar itu dan mengenali ukiran khas yang hampir hilang, napasnya tercekat. Ia mengambilnya dengan tangan gemetar, memeriksa setiap inci detailnya.
"Ini... ini Pedang Sir Gareth... Peninggalan 580 tahun lalu... Harta pusaka yang hilang dari keluarga kita!" seru Raja August kaget bercampur bahagia. Ia menatap putra sulungnya dengan pandangan tak percaya. "Algernon... kau mendapatkannya dari mana? Aku ingat barang ini hilang ratusan tahun yang lalu! Dan kondisinya masih sangat baik, sihir pertahanannya masih terasa kuat!"
"Aku menemukannya di pelelangan barang antik tadi, Ayah. Barang itu dijual dengan harga sangat murah karena orang-orang mengira itu hanya sampah tua yang sudah rusak. Untungnya, aku ingat catatan sejarah yang pernah kubaca, jadi aku tahu nilainya," jawab Algernon santai, seolah hal itu adalah hal sepele.
Di sampingnya, Theodore berdiri diam dengan wajah kaku dan masam. Ia sendiri sering mengikuti acara lelang, sering membeli barang-barang mahal dan indah untuk diberikan kepada ayahnya atau Elarise. Namun, tidak pernah sekalipun ia mendapatkan pujian sebesar ini. Ia melihat bagaimana wajah ayahnya bersinar bangga, bagaimana Raja August mengusap bilah pedang itu dengan penuh kekaguman.
"Brilian! Sungguh brilian!" Raja August berdiri dan menepuk bahu Algernon berkali-kali dengan kekaguman yang besar. "Kau tidak hanya memiliki pengetahuan sejarah yang mendalam, tapi juga ketajaman mata yang luar biasa! Kau mampu melihat nilai di balik sesuatu yang dianggap tidak berharga oleh orang lain. Ini bukan sekadar keberuntungan, Algernon. Ini naluri seorang pemimpin! Kau cerdas, kau berhati-hati, dan... kau cukup licik untuk mendapatkan harta berharga dengan harga murah. Itulah kualitas seorang penerus yang hebat!"
Pujian itu meluncur begitu saja, tanpa ragu dan sangat jelas. Theodore mengepal tangannya di balik punggungnya, rasa iri dan cemburu membakar hatinya hebat. Selama ini ayahnya selalu membandingkannya sebagai yang terbaik, namun hari ini, untuk pertama kalinya, Raja August memuji kakaknya sebagai sosok yang cerdas, licik, dan layak mewarisi takhta.
"Terima kasih, Ayahanda. Aku hanya ingin berguna bagi keluarga," jawab Algernon rendah hati, namun di dalam hatinya ia tersenyum lebar. Ia tahu, langkah kakinya menuju kekuasaan dan kepercayaan sudah semakin kokoh.
...***...
Dua hari berlalu dengan cepat.
Pagi itu, sinar matahari masuk dengan cerah ke dalam ruang kerja Raja Julius. Amorette dipanggil ke sana, dan saat ia melangkah masuk, Raja Julius tersenyum ramah sambil memegang selembar kartu undangan indah berwarna krem dengan tulisan emas timbul.
"Amorette, Ayah sudah mengurus apa yang kau minta waktu itu," ucap Raja Julius seraya memberikan undangan itu kepadanya.
Amorette menerimanya dengan kedua tangan, matanya berbinar saat membaca tulisan di atasnya: Undangan Perjamuan Teh di Kediaman Duchess Coral. Duchess Coral adalah wanita bangsawan paling berpengaruh, paling kaya, dan paling terhormat di ibu kota. Di acara inilah berkumpul semua orang penting yang ia butuhkan.
"Terima kasih banyak, Ayahanda! Ini lebih baik dari yang aku bayangkan," ucap Amorette dengan tulus.
"Duchess Coral adalah wanita yang sangat berkuasa. Berhati-hatilah di sana, bersikaplah sopan dan bijaksana. Kau harus bisa menarik hati para tamu di sana," pesan Raja Julius.
"Aku mengerti, Ayah. Aku tidak akan mengecewakanmu," jawab Amorette tegas.
Sejak saat itu, sepanjang hari itu, Amorette sibuk menyiapkan segala sesuatu di kamarnya. Ia menyebutnya sebagai "mempersiapkan persenjataan perang".
Pertama, ia memilih hadiah yang tepat. Ia tidak akan membawa barang mahal biasa. Ia memilih sepasang sarung tangan tenunan halus dari serat tanaman khusus yang langka—barang yang indah, berguna, dan menunjukkan selera yang tinggi, namun tidak terlihat berusaha menonjolkan kekayaan.
Kedua, ia menyusun strategi percakapan. Ia duduk berjam-jam, membayangkan pertanyaan apa saja yang mungkin diajarkan oleh para wanita bangsawan yang penuh intrik itu. Ia menyusun jawaban yang cerdas, sopan, namun tidak membuka kelemahan apa pun. Ia bahkan sudah menyiapkan topik-topik pembicaraan menarik tentang seni, sejarah, dan manajemen kekayaan untuk memukau mereka—sebagian besar wawasan itu ia dapatkan dari diskusi panjang dengan Algernon.
Dan yang terakhir, namun tak kalah penting: penampilan.
Amorette membuka lemari pakaiannya, menatap puluhan gaun indah yang ada di sana. Ia menolak gaun-gaun yang terlalu mencolok, terlalu berwarna cerah, atau penuh hiasan berlebihan. Ia memilih sebuah gaun berwarna biru muda keperakan, berkilau lembut seperti cahaya bulan. Potongannya sederhana namun sangat elegan, menonjolkan bentuk tubuhnya tanpa menjadi tidak sopan. Untuk perhiasan, ia hanya mengenakan kalung mutiara putih dan anting-anting kecil berlian, cukup untuk menunjukkan statusnya sebagai putri kerajaan namun tidak membuatnya terlihat seperti pohon natal.
"Esther, Lily, bantu aku merapikan rambut dan riasan. Kita harus terlihat anggun, cerdas, dan berwibawa besok pagi," perintah Amorette dengan mata berbinar penuh semangat.
Ia berdiri di depan cermin besar, memandang pantulan dirinya sendiri. Ia sudah bukan lagi gadis manja yang ditertawakan semua orang. Ia adalah Amorette, wanita yang akan mengubah nasibnya dan menaklukkan dunia ini dengan kecerdasan dan strategi. Besok, di pesta teh Duchess Coral, ia akan memulai babak baru pertempurannya di dunia sosialita.