NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Dendam yang Tidak Pernah Mati

Pagi itu datang dengan kabar buruk.

Bukan serangan.

Bukan ledakan.

Bukan pembunuhan.

Namun sesuatu yang jauh lebih mengganggu.

Salah satu informan tertua Valdarez menghilang.

Begitu saja.

Tanpa jejak.

Tanpa pesan.

Tanpa saksi.

Saat laporan itu sampai ke meja Kael, suasana rumah persembunyian langsung berubah.

Karena informan itu bukan orang biasa.

Namanya **Adrian**.

Sudah bekerja untuk keluarga Valdarez selama hampir lima belas tahun.

Ia mengenal banyak rahasia.

Terlalu banyak.

Dan jika seseorang menculik Adrian...

Maka ada alasan yang sangat jelas di baliknya.

"Mereka sedang mencari sesuatu."ucap Kael.

Ravian mengangguk.

"Atau seseorang."

Arda duduk diam mendengarkan.

Namun pikirannya langsung menuju satu kemungkinan.

Orang kelima.

Lagi.

Semua jalan selalu mengarah ke misteri yang sama.

Tim pencarian segera dibentuk.

Beberapa orang dikirim ke distrik timur.

Sebagian ke pelabuhan.

Sebagian lagi ke wilayah kasino.

Namun hingga sore hari...

Tidak ada hasil.

Adrian seolah menghilang dari muka bumi.

Dan itu membuat Arda semakin tidak tenang.

Karena orang seperti Adrian tidak mudah ditangkap.

Jika ia sampai menghilang...

Maka pelakunya pasti sangat terorganisir.

Sangat profesional.

Dan sangat berbahaya.

Malam harinya.

Arda kembali membuka map hitam yang ditemukan di ruang arsip.

Foto lama itu kembali berada di tangannya.

Leon.

Isabella.

Marcus.

Kael.

Dan orang kelima.

Sudah berkali-kali ia melihat foto tersebut.

Namun malam ini terasa berbeda.

Karena semakin lama ia menatap wajah-wajah itu...

Semakin ia menyadari sesuatu.

Semua masalah yang terjadi sekarang berasal dari masa lalu.

Semua.

Victor.

Pengkhianatan.

Kematian Leon.

Orang kelima.

Mereka semua terhubung.

Dan seseorang berusaha keras memastikan hubungan itu tidak pernah terungkap.

Pintu ruang arsip terbuka.

lalu kael masuk.

Membawa secangkir kopi.

Seperti biasa.

"Aku tahu aku akan menemukanmu di sini."ucapnya.

Arda tersenyum tipis.

"Aku juga tahu kau akan mengatakan itu."

Kael duduk di kursi seberang.

Tatapannya langsung jatuh pada foto lama.

Dan seketika ekspresinya berubah.

Lebih berat.

Lebih jauh.

Seolah sedang melihat kehidupan lain.

Kehidupan yang telah lama hilang.

"Bagaimana mereka dulu?"

tanya Arda tiba-tiba.

Kael terdiam.

Beberapa detik.

Lalu akhirnya menjawab.

"Kacau."

Arda mengernyit.

"Itu jawaban yang buruk."

Kael tertawa kecil.

"Karena memang begitu."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Kael mulai bercerita.

Tentang Leon muda.

Tentang Isabella.

Tentang Marcus.

Tentang masa ketika mereka semua masih percaya masa depan akan berjalan sesuai rencana.

"Leon selalu berkelahi."ucap Kael.

"Marcus selalu menyuruhnya berpikir sebelum bertindak."

"Dan Isabella selalu memarahi keduanya."

Arda membayangkan pemandangan itu.

Sulit dipercaya.

Karena Leon yang ia kenal selalu terlihat tenang.

Hampir tidak pernah kehilangan kendali.

"Dia tidak selalu seperti itu."

kata Kael seolah membaca pikirannya.

"Leon belajar dari kesalahan."

Tatapannya berubah.

Dan untuk pertama kalinya malam itu...

Ada kesedihan yang sangat jelas di wajahnya.

"Kesalahan yang mahal."

Keheningan muncul.

Arda tidak bertanya lebih jauh.

Karena ia tahu.

Beberapa luka masih terlalu dalam untuk disentuh.

Dua hari telah berlalu.

Pencarian Adrian tetap tidak membuahkan hasil sama sekali.

Namun pada hari ketiga...

Sebuah paket tiba di salah satu lokasi milik Valdarez.

Tanpa nama pengirim.

Tanpa identitas.

Hanya sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu segera dibawa ke rumah persembunyian.

Dan ketika dibuka...

Semua orang membeku.

Di dalamnya terdapat sebuah ponsel.

Dan sebuah flashdisk.

Tidak ada yang menyentuhnya selama beberapa detik.

Karena semua memiliki firasat buruk yang sama.

Akhirnya Ravian menyalakan ponsel tersebut.

Hanya ada satu video.

Satu-satunya file di dalam perangkat itu.

Ruangan menjadi sunyi.

Sangat sunyi.

Video diputar.

Layar menampilkan sebuah ruangan gelap.

Pencahayaan buruk.

Kualitas gambar rendah.

Namun satu sosok langsung dikenali.

Adrian.

Pria itu duduk terikat di kursi.

Wajahnya penuh luka.

Namun masih hidup.

Masih sadar.

"Kalau kalian melihat ini..."

ucap Adrian dengan suara serak.

"...berarti aku mungkin sudah mati."

Elena langsung menundukkan kepala.

Sementara Arda menatap layar tanpa berkedip.

"Aku minta maaf."lanjut Adrian.

"Aku tidak cukup kuat."

Lalu pria itu menoleh ke arah seseorang di luar kamera.

Wajahnya langsung dipenuhi ketakutan.

Ketakutan yang begitu nyata hingga membuat semua orang merinding.

Kemudian video terputus.

Selesai.

Begitu saja.

Ruangan tetap hening.

Tidak ada yang berbicara.

Karena semua memahami satu hal.

Adrian sudah mati.

Dan seseorang sengaja mengirim video itu.

Sebagai pesan.

Sebagai ancaman.

Sebagai peringatan.

Kael memejamkan mata.

Hanya beberapa detik.

Namun cukup untuk menunjukkan kemarahannya.

Ravian memukul meja.

BRAK!

"Brengsek!"

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu...

Arda merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan kesedihan.

Bukan ketakutan.

Bukan kebingungan.

Melainkan kemarahan.

Murni.

Panas.

Dan semakin lama semakin sulit dikendalikan.

Karena Adrian bukan tentara.

Bukan petarung.

Bukan ancaman.

Ia hanya seorang pria tua yang membantu keluarga Valdarez selama bertahun-tahun.

Dan sekarang ia mati.

Karena perang yang bahkan tidak ia mulai.

Malam itu.

Arda berdiri sendirian di balkon.

Tatapannya mengarah ke kota.

Namun pikirannya jauh.

Sangat jauh.

Ia teringat Leon.

Ia teringat makam ayahnya.

Ia teringat surat terakhir yang pernah ditinggalkan.

Lalu ia teringat Victor.

Dan semua orang yang berada di balik kematian-kematian ini.

Tangannya mengepal.

Begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku akan menemukan kalian."

gumamnya pelan.

Bukan janji.

Bukan ancaman.

Melainkan keputusan.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Elena muncul.

Membawa dua cangkir teh hangat.

Namun begitu melihat wajah Arda...

Ia langsung berhenti.

Karena ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Kau marah."

ucap Elena.

Arda tidak menyangkal.

"Aku lelah melihat orang-orang mati."

jawabnya.

Suaranya rendah.

Namun penuh emosi.

Elena berdiri di sampingnya.

Tidak memberi nasihat.

Tidak mencoba memperbaiki keadaan.

Karena terkadang...

Tidak ada kata-kata yang cukup.

Namun sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh...

Telepon Arda berdering.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Nomor tidak dikenal.

Arda mengangkatnya.

Dan langsung membeku.

Karena suara yang terdengar dari seberang sana...

Bukan suara orang asing.

Bukan suara ancaman.

Bukan suara yang kasar.

Justru sebaliknya.

Tenang.

Sangat tenang.

Dan itulah yang membuatnya jauh lebih mengerikan.

"Selamat malam, Arda."

Jantungnya berhenti sesaat.

Karena ia tidak mengenal suara itu.

Namun entah kenapa...

Ia langsung tahu siapa pemiliknya.

Victor.

Senyum di wajah pria itu seolah bisa terdengar melalui telepon.

"Sekarang akhirnya kita bisa berbicara."

Dan untuk pertama kalinya...

Arda mendengar suara musuh yang selama ini hanya menjadi bayangan.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!