Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Nasib Buruk
Su Wanqing menatap pantulan dirinya dari hadapan cermin besar di dalam gudang tua kumuh itu, gudang yang selama hampir 20 tahun ini menemani dirinya dalam kesendirian, kesedihan, ketakutan, kemurkaan, dan kehampaan. Ia tersenyum lirih sambil terus memainkan rambut panjangnya yang sengaja ia biarkan terurai.
"Ibu pasti senang lihat gaun yang Aku kenakan hari ini."
Su Wanqing meraih sebuah sisir tua berukirkan bunga dan seekor panda kecil yang tersenyum kepadanya. "Sisir ini pasti masih Ibu pakaikan padaku setiap hari, kalau tidak.." Su Wanqing mengepalkan tangannya kesal. Menarik napasnya panjang, ia mengantongi sisir itu dan berjalan keluar gudang kumuh.
Su Wanqing menghentikan langkahnya di samping meja makan besar yang berada di ruang makan keluarga Su. Ayahnya, seorang wanita muda, dan dua orang anak kembar perempuan dan laki-laki sedang asyik mengunyah makanannya. Sang Ayah melambaikan tangan pada para pelayan dan menginstruksikan kebiasaan mereka, yaitu membiarkan Su Wanqing pergi makan di dapur bersama para pelayan.
Pelayan Jing, seorang wanita tua dengan rambut yang sudah sepenuhnya memutih itu menyapa Su Wanqing ramah bersamaan para pelayan yang datang ke dapur untuk makan. "Wanqing.. kemarilah."
Wanita tua itu menuangkan sup kentang hangat dan membiarkan Wanqing menenggaknya habis. "Bagaimana resep wanita tua ini?" Wanqing tersenyum lebar, tanpa ia sadari air matanya mengalir perlahan.
"Oh Wan-Wan.." Wanita tua itu membimbing Wanqing menuju meja dapur dan menarikkan kursi untuknya, beberapa pelayan dengan sigap menuangkan air, menyendokkan nasi, sup, dan beberapa makanan lainnya di mangkuk Wanqing, dibandingkan keluarganya, justru para pelayan inilah yang lebih ia anggap sebagai keluarga.
"Wan-Wan, rasa sup ini mirip sekali ya dengan sup buatan nyonya tua." Pria dengan lesung pipi dan topi miring di kepalanya tersenyum lebar. Lengan besarnya disikut keras oleh Pelayan Jing. "Hentikan itu Fengji!"
Wanqing tertawa kecil dan mengelus pelan lengan wanita tua itu. "Pelayan Jing selalu tau apa yang Aku rindukan, bahkan sup ini, Aku seperti masih bisa merasakan kehadiran Ibu."
Pelayan Jing tersipu malu. Mereka mulai menikmati makanan itu sembari bertukar cerita lucu. Wanqing tidak pernah mengeluh bagaimana dirinya diperlakukan setelah Sang Ibu jatuh sakit, ia bahkan selalu bersyukur dengan adanya para pelayan ini.
"Wanqing! Sore ini Tuan bilang akan mengajakmu pergi makan keluar? Apakah itu benar? Kau bahkan tidak pernah keluar selama belasan tahun, apakah Kau tidak penasaran setengah mati? Kau pasti kegirangan!!" Wanita ceria itu terus menggelendoti lengan Su Wanqing.
"Rong-Rong, Kau ini menggosip dari mana? Aku bahkan tidak bisa membayangkan untuk pergi keluar sehari saja, bagaimana mungkin Aku dibawa keluar apalagi oleh Ayah dan Ibu tiri." Ujarku sembari mencuci piring itu perlahan.
"Hentikan gosipnya, Wanqing, Tuan memanggilmu." Seorang pria paruh baya, pelayan tua yang telah ada di sisi Ayah sejak Ayah muda itu membimbing Wanqing menuju kamar kerja sang Ayah.
Tok Tok Tok
Ketukan itu lembut dan berirama, lengan rapuh Su Wanqing sedikit gemetar. Ia tidak tau apa yang akan terjadi, terakhir dirinya dipanggil ke dalam, adalah saat saat dimana hadiah ulang tahunnya di setiap tahun ia peroleh dari Sang Ayah.
Su Wanqing baru akan mengetuk lagi ketika sautan dari dalam terdengar. "Masuklah." Tangan mungilnya menggenggam kenop pintu dan memutarnya perlahan. Ia melihat Sang Ayah yang tengah menyesap kopi hangatnya di balik meja raksasa yang terlihat penuh dengan beberapa file. Di sebelahnya ada sang Ibu tiri yang asyik memijat lengan Ayah.
Wanita licik itu tersenyum jahat. "Duduklah." Ujar Sang Ayah lagi. Wanqing terduduk di atas kursi mewah yang berada di samping kanan depan meja kerja Ayahnya, Kursi-kursi dengan kayu mahal yang diiringi meja indah untuk menjamu tamu atau rekan bisnis sang Ayah itu terasa sangat nyaman dan mewah. Wanqing meremas roknya dengan perasaan gelisah.
Pria itu mengisyaratkan untuk Sang Wanita dan pelayan pria yang masih berdiri di depan pintu untuk pergi keluar. Tak lama, hanya Wanqing dan sang Ayah yang berada di dalam ruangan itu. Su Gongqi menuangkan teh herbal berwarna merah pada cangkir kecil yang lalu ia bawa dan letakkan di depan Wanqing.
"Berapa usiamu sekarang?" Pria itu duduk sembari melepaskan kacamatanya.
"24 tahun." Jawab Wanqing singkat.
"Wanqing, ada hadiah dari Ibumu yang ia khusus siapkan untukmu di waktu yang istimewa. Gaun itu berwarna keemasan dan bermotifkan angsa indah serta pemandangan danau dan bunga sakura, Ibumu khusus memilihkan kainnya dan menjahitnya untukmu di usia yang tepat. Pakailah itu nanti."
Pria itu meletakkan kotak kayu tua lusuh di hadapannya. Wanqing perlahan membukanya, ia merasakan kain yang lembut dan licin itu di tangannya. "Bawalah dan bersiap, bawa beberapa barang kesukaanmu, Kita akan pergi keluar sore nanti."
Wanqing menatap tidak percaya pria itu. Pria paruh baya itu hanya dapat menaikkan alisnya sedikit "Jangan lama-lama, bersiaplah atau Kau akan ditinggal."
Wanqing bergegas berdiri, meraih kotak kayu itu dan memeluknya erat sembari berjalan perlahan pergi. Baru ketika kakinya hampir menginjak lantai beberapa centimeter depan pintu keluar, pria itu berkata tajam.
"Wanqing.. Jangan bertingkah sembrono nantinya, Kau tidak mau wanita itu mati kan.."
Wanqing mengangguk pelan, lengannya yang gemetar dan lemas ia paksakan memutar kenop pintu itu dan berlari keluar.
...
Sore itu, berbalutkan gaun indah buatan sang Ibu, Wanqing memasuki mobil mewah milik keluarganya. Duduk di samping jendela membuat dirinya mampu melihat pemandangan langit sore itu, gelap dan mencekam, terdengar gemuruh di langit dan beberapa burung yang bertebaran kesana-kemari. Tampaknya hari itu akan ada badai. Wanqing yang tak pernah sekalipun keluar rumah semenjak tragedi itu, takjub melihat perubahan kota. Kota yang sebelumnya ia ingat tidak semodern ini, tidak serapih dan seunik saat ini. Ia banyak melewatkan hal di dunia luar.
Sang Ayah duduk di samping kursi kemudi, sementara Ibu tirinya duduk di sebelahnya dan dua adik kembar tirinya di belakang. Baru sesaat setelah hujan dan petir menghujani bumi, Sang Ayah mengatakan sesuatu...
Sesuatu yang membuat Su Wanqing merasakan bahwa hidupnya sudah berada di ambang kematian. "Wanqing.. Karena sudah hampir sampai, Aku harus memberimu sedikit wejangan tambahan. Ingatlah untuk bersikap baik dan menuruti seluruh keinginan suamimu, Jenderal Lu Jingyuan nanti, jangan berbuat sembrono atau Kau tau konsekuensinya."
Bagai tersambar petir, lengan dan kaki Su Wanqing seketika lemas. Ia dapat melihat senyuman puas sang Ibu tiri dari samping kursinya. Ternyata.. Ternyata tujuan sang Ayah akhirnya setelah belasan tahun mengurungnya memutuskan membawanya keluar hanya untuk menyerahkan dirinya pada pria itu. Pria yang akan menjadi suaminya.
Perjodohan paksa yang tak ia inginkan. Terlebih karena calon suaminya itu..
Jenderal Lu Jingyuan
Sang pahlawan revolusi yang dielu-elukan rakyat sekaligus ditakuti musuh-musuhnya. Pria yang konon menghabisi seratus pasukan elit Dinasti Qing dalam satu malam berdarah. Jenderal yang dikenal dingin, kejam, dan tak memiliki belas kasihan.
Su Wanqing meremas gaun itu tanpa sadar, giginya beradu kencang dan bibirnya tertutup rapat. Nasibnya hanya akan semakin buruk kedepannya..
*BERSAMBUNG*
Jangan lupa support dengan Like dan Vote ya teman-teman, terima kasih!