Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - Kabut Kelam Dinasti Dirgantara
Embusan angin pagi di kawasan perumahan elite Jakarta Selatan bertiup membawa kesegaran yang menipu. Sinar matahari baru saja menyembul di balik pucuk-pohonan palem yang tertata rapi, memantulkan pendaran cahaya pada permukaan aspal yang bersih.
Seperti rutinitas yang telah dijalaninya selama berpuluh-puluh tahun, Wirawan Dirgantara melangkah konstan dengan setelan celana olahraga kelabu dan sepatu lari ringannya. Meskipun usianya sudah senja, punggung sang maestro bisnis itu tetap tegak, melambangkan sisa-siga keagungan penguasa Dirgantara Perkasa yang belum pudar digilas zaman.
Langkah kakinya mendadak melambat saat ia melintasi sebuah rumah gedongan yang gerbang besinya terbuka sedikit. Di halaman parkir rumah tersebut, bertengger seunit mobil minibus hitam tanpa plat kendaraan dengan kaca gelap yang tertutup rapat, namun deru halus mesinnya terdengar menyala pasif.
"Tolong! Siapa saja... tolong saya!"
Sebuah teriakan histeris seorang wanita memecah kesunyian kompleks perumahan elite itu, bersumber murni dari balik pintu utama rumah yang setengah terbuka.
Insting kemanusiaan dan ketegasan Wirawan seketika terpelatuk.
Tanpa melakukan analisis risiko atau berpikir panjang mengenai kemungkinan buruk, Wirawan merangsek maju, melompati undakan teras dan melangkah masuk ke dalam ruang tengah rumah yang tampak sunyi dan remang-remang. Atmosfer di dalam ruangan itu begitu pengap, berbau debu, dan kosong tanpa ada tanda-tanda kehidupan atau perabotan satu jengkal pun.
"Halo? Nona anda dima..."
Belum sempat Wirawan menyelesaikan kalimatnya, sebuah pergerakan angin yang teramat cepat berdesir di balik punggungnya. Sebelum saraf kewaspadaannya sempat merespons, sebuah hantaman benda tumpul yang teramat keras dan padat bersarang telat di bagian tengkorak belakangnya.
Bugh!
Sensasi perih yang luar biasa disusul kegelapan pekat seketika merenggut kesadaran sang konglomerat. Tubuh tuanya limbung, ambruk ke atas lantai semen sebelum sempat mengeluarkan erangan.
Teriakan minta tolong itu murni merupakan taktik jebakan yang dirancang secara matang oleh para penculik demi memancing sang target masuk ke dalam perangkap mereka.
Dengan gerakan yang cekatan dan taktis, dua orang pria berbadan kekar mengenakan penutup wajah melangkah keluar dari balik pilar, membopong tubuh Wirawan, lalu memasukkannya dengan cepat ke dalam kabin kendaraan yang telah mereka siapkan sebelum minibus hitam itu melesat pergi meninggalkan kompleks tanpa meninggalkan jejak sepeser pun.
Tiga jam setelah insiden sunyi itu berlangsung, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang tinggi kediaman Wirawan Dirgantara. Banyu Permana, orang kepercayaan Wirawan, melangkah turun dengan pembawaan yang teramat tegap dan dingin. Tujuannya datang siang ini adalah untuk menyerahkan laporan mengenai perkembangan transformasi mental dua generasi Dirgantara, termasuk dinamika latihan fisik Elang di kota dan perkembangan bisnis sembako Bramantyo di kampung yang terus dipantaunya secara rahasia.
Namun, langkah Banyu tertahan di pos penjagaan utama. Dua petugas satpam berseragam lengkap menyambutnya dengan gurat wajah yang dipenuhi kecemasan yang mendalam.
"Pak Banyu... untung Bapak datang," ujar kepala satpam dengan suara yang bergetar pelan. Satpam sudah diberitahu Wirawan jika Banyu, bukan musuh mereka, semula mereka sempat menahan Banyu di pintu gerbang. Mereka semula berpikir Banyu-lah dalang dibalik kebangkrutan Wirawan.
"Ini sudah jam dua siang, tapi Pak Wirawan belum juga kembali dari jadwal lari paginya. Ponsel kami temukan ditinggal di kamar, dan kami sudah menyisir rute biasa namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan beliau," lanjut Satpam itu melaporkan.
Kening Banyu seketika bertaut erat, sepasang mata tajamnya menyipit mengeluarkan kilatan hawa dingin yang penuh kewaspadaan. Menghilangnya Wirawan selama berjam-jam tanpa pemberitahuan adalah sebuah keganjilan yang mustahil terjadi pada seorang maestro yang teramat disiplin pada waktu. Firasat buruk langsung menggedor dinding dadanya.
Tanpa membuang waktu, Banyu menyambar laptop dari dalam mobil, jemarinya bergerak dengan kecepatan yang gila untuk meretas pangkalan data jaringan CCTV publik yang terpasang di sepanjang kompleks hunian tempat biasa Wirawan berolahraga. Setelah melakukan enkripsi beberapa lapis keamanan, sebuah rekaman video amatir berdefinisi tinggi terpampang di layarnya.
Mata Banyu berkilat tajam melihat visualisasi di layar: Wirawan terlihat meloncat masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah, dan beberapa menit kemudian, dua orang preman bertubuh tegap tampak membopong sesosok tubuh yang dapat dipastikan itu adalah Wirawan, memasukkannya ke dalam kabin minibus hitam tanpa plat sebelum kendaraan itu melaju kencang membelah jalanan sepi.
"Kurang ajar... Mereka sudah bergerak," desis Banyu, rahangnya mengeras menahan amarah yang membakar batinnya.
Banyu bersama pengawal pribadinya segera melesat menuju lokasi koordinat rumah tersebut menggunakan kecepatan penuh. Begitu mendarat di TKP, ia memeriksa sisa jejak ban mobil di atas tanah kering dan menanyakan perihal kepemilikan bangunan kepada tetangga sebelah ruko.
"Oh, rumah itu sudah kosong lama, Pak. Pemilik aslinya sudah pindah ke luar negeri sejak dua tahun lalu," jawab warga setempat dengan wajah bingung.
Kecurigaan Banyu kini telah bermutasi menjadi sebuah kesadaran yang mengerikan. Skenario "kebangkrutan palsu" ini nampaknya telah mengundang serigala yang sesungguhnya untuk keluar dari balik bayang-bayang. Wirawan Dirgantara telah resmi menjadi korban penculikan oleh musuh yang hingga kini belum mengirimkan tuntutan upeti apa pun.
"Apakah ini permainan istrinya, untuk menguasi seluruh harta Wirawan? Apakah dia sudah tahu. Jika kebangkrutan Dirgantara hanya bohong belaka." Pikirnya dalam hati. Tapi dia tak dapat menerka-nerka siapa. Memang terlalu rumit.
*
Sementara itu, ratusan kilometer dari pusat kepanikan ibu kota, atmosfer kehidupan di sebuah perkampungan dekat makam kuno justru menyajikan ketenangan yang sarat akan kehangatan yang bersahaja. Di dalam toko agen sembako miliknya yang kian ramai dikunjungi warga kampung, Bramantyo Dirgantara sedang sibuk menata karung-karung beras di atas palet kayu.
Di balik meja kasir kecil, Sekar duduk dengan posisi tegap yang sopan.
Tangannya yang ramping bergerak dengan sangat teliti mencatat setiap digit angka keluar-masuk barang di dalam buku laporan keuangan, sesekali memberikan senyuman ramah yang tulus setiap kali ada ibu-ibu kampung yang datang membeli minyak goreng eceran.
Tak hanya duduk saja, sekar pun kadang membantu pekerja pria lain termasuk Bramantyo menyusun karung-karung beras berukuran sepuluh kilogram, atau logistik lainnya yang masih dirasa ringan.
Bramantyo selalu memperhatikan kecekatan Sekar dalam bekerja. Wanita itu tidak mengeluh sama sekali meskipun harus mengangkat barang-barang yang cukup berat.
Pernah Sekar membawa karung beras dua puluh lima kilogram, dan ketahuan Bramantyo bukannya di puji Sekar malah kena omel majikan. Sejak saat itu sekar tak lagi berani membereskan barang-barang yang dianggapnya berat atau membahayakan.
"Sekar, jangan dipaksakan kalau berat. Kan sudah ada bagiannya, biarkan sama para pria untuk mengangkat barang-barang yang berat dan berbahaya," Omel Bramantyo dengan suara lembut, menghilangkan sama sekali nada ketegasan otoriter yang dulu sering ia gunakan saat memimpin ratusan karyawan.
Sekar menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menyeka keringat di dahinya dengan ujung lengan daster. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan banyak rasa syukur. "Tidak apa-apa, Pak Bram. Saya sudah biasa kerja kasar sejak kecil."
"Loh, Pak Bram... Nak Sekar... jam segini kok kompak banget kerjanya, sudah seperti pasangan harmonis yang sedang membangun rumah tangga jadi satu," sebuah celetukan blak-blakan terdengar dari arah pintu masuk.
Bu RT melangkah masuk sembari membawa sebakul kue cucur hangat, langsung melayangkan gurat seringai menggoda yang khas. Ia meletakkan bakul itu di atas meja kasir kayu milik Bramantyo dengan gerakan yang heboh.
"Jujur. Kalian berdua ini benar-benar cocok lho. Yang satu tampan dan baik, yang satu cantik dan sopan. Sudah lah, Pak Bram, jangan lama-lama menduda, tidak baik kalau tidak cepat-cepat dihalalkan," lanjut Bu RT lagi sembari terkekeh pelan, menyenggol lengan Bramantyo dengan maksud menggoda.
Sekar langsung menundukkan kepala dalam-dalam, wajahnya mendadak memerah sempurna hingga ke ujung telinga akibat rasa malu yang membuncah. Sementara Bramantyo kembali terbatuk kecil, mendadak salah tingkah dan buru-buru memalingkan wajahnya ke arah buku catatan stok barang yang sebenarnya sudah rapi ia tulis sejak subuh.
"Bu RT ini bisa saja. Kami cuma sedang menata barang dagangan supaya warga yang beli nanti nyaman," jawab Bramantyo dengan nada suara yang diusahakan setenang mungkin, meski jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Bu RT mengambil tempat duduk di sebuah kursi plastik kosong di dekat meja kasir. Raut wajah wanita paruh baya itu tiba-tiba berubah menjadi lebih serius, memberikan isyarat dengan matanya agar Sekar melanjutkan pekerjaan di bagian belakang toko, membiarkan dirinya berbicara empat mata dengan Bramantyo.
"Pak Bram," panggil Bu RT dengan suara yang dikecilkan agar tidak terdengar ke belakang. "Saya ini bicara sebagai sesama warga. Kejadian malam itu sudah menyebar. Meskipun Pak Joko sudah menyisir preman-preman itu, tetap saja tidak baik kalau Sekar yang sebatang kara terus-menerus berada di rumah seorang duda tanpa status yang jelas. Fitnah orang kampung itu lebih tajam dari silet, Pak."
Bramantyo terdiam lama.
Kata-kata Bu RT menghunjam langsung ke lubuk hatinya.
Di dalam kesendiriannya pasca-kehilangan harta bendanya, ia merasa bahwa takdir membawanya bertemu Sekar bukan sekadar kebetulan.
Kehadiran Sekar seolah menjadi ujian sekaligus penebusan dosa atas masa lalunya yang kelam.
Ia ingin melindungi wanita ini, bukan dengan uang atau kekuasaan, melainkan dengan kehormatan seorang pria.
Malam harinya, suasana di dalam rumah petak Bramantyo terasa sangat khidmat. Di ruang tengah yang hanya diterangi oleh lampu pijar lima watt yang temaram, sebuah pertemuan sakral diadakan secara rahasia.
Hanya ada Pak Joko selaku Ketua RT, Bu RT, seorang ustaz setempat, serta Bramantyo dan Sekar yang duduk beralaskan tikar pandan.
Bramantyo menatap mata Sekar yang tampak berkaca-kaca.
"Sekar... hidupku sekarang tidak seperti dulu lagi. Aku hanya seorang pemilik toko kelontong kecil di kampung ini. Masa depanku penuh ketidakpastian. Apakah kamu bersedia berjalan di sampingku, menjadi istriku yang sah?"
Sekar mengatur napasnya yang terasa sesak oleh rasa haru. Ia menatap ketulusan yang memancar dari sepasang mata Bramantyo, pria yang semalam rela terluka demi melindunginya dari preman jalanan. Dengan anggukan pelan, air mata Sekar luruh.
"Saya bersedia, Pak Bram. Saya tidak butuh harta. Saya hanya butuh seseorang yang tidak akan meninggalkan saya sendirian di dunia ini," jawab Sekar lirih.
Setelah pembicaraan siang tadi, setelah melewati pergolakan batin yang panjang dan matang, Bramantyo mengambil sebuah keputusan besar yang akan mengunci jalannya takdir baru. Di hadapan Pak RT, Bu RT, dan beberapa tetua adat kampung sebagai saksi yang sah, Bramantyo resmi menikahi Sekar secara teramat sederhana, murni melalui ikatan ijab kabul yang sakral tanpa ada pamer kemewahan sepeser pun.
Pernikahan itu dilangsungkan secara rahasia, tanpa ada pemberitahuan atau surat elektronik yang dikirimkannya kepada ayahnya, Wirawan, maupun anak kandungnya, Elang, di Jakarta.
Bramantyo memilih untuk mengunci rahasia kebahagiaan barunya ini di dalam kesunyian kampung, bertekad untuk membangun kembali martabat hidupnya dari dasar tanah bersama wanita pilihan jiwanya yang baru.
***
Jakarta - Malam Sebelumnya
Di sisi lain kota Jakarta, kegelapan malam telah sepenuhnya menguasai sebuah taman yang terletak di bagian belakang kompleks kos-kosan Surya. Tempat itu dikelilingi tembok beton tinggi yang sudah retak dan ditumbuhi tanaman rambat liar, menjadikannya lokasi yang sangat terisolasi dari keramaian luar.
Elang duduk bersandar pada sebuah undakan semen yang dingin. Napasnya memburu dengan ritme yang berat, keluar dalam bentuk uap tipis dari mulutnya. Keringat dingin membasahi seluruh kaus oblong hitam yang ia kenakan. Otot-otot di paha dan betisnya masih berkedut hebat, meninggalkan rasa kram yang luar biasa menyiksa akibat hukuman posisi kuda-kuda rendah ekstrem yang dipaksakan oleh Citra sejak tengah malam hingga fajar menyingsing tadi pagi. Setiap kali ia mencoba menggeser posisi kakinya, rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum langsung menjalar ke pinggangnya.
Tak jauh dari tempat Elang duduk, Citra berdiri tegak. Ia mengenakan jaket jins longgar dan celana hitam, tangan kanannya memegang sebilah ranting pohon kecil yang baru patah. Wajahnya yang cantik tampak sedingin es, tanpa ada sedikit pun rasa iba melihat penderitaan fisik yang sedang dialami oleh muridnya.
"Rasa sakit itu adalah tanda bahwa energimu sedang mencari jalan keluar dari sumbatan egomu, Elang," kata Citra dengan suara yang jernih namun penuh dengan penekanan yang mutlak. "Jika tamparan semalam belum cukup untuk meruntuhkan kesombonganmu, maka carilah kekuatan dari rasa sakit yang kau rasakan sekarang."
Elang hanya bisa mendengus hambar.
Ia menatap langit malam dengan pandangan yang kosong.
Ego lamanya sebagai pangeran kampus yang dipuja banyak wanita kini telah runtuh berkeping-keping. Namun, di balik keruntuhan itu, ada sebuah fondasi baru yang mulai mengeras di dalam batinnya.
Ia mulai memahami apa yang dimaksud oleh Citra tentang esensi bela diri yang murni untuk perlindungan, bukan untuk ajang pamer kekuatan di pasar induk.
Keheningan malam di taman mati itu mendadak pecah ketika suara raungan mesin mobil terdengar mendekat. Cahaya lampu sorot yang sangat terang memotong kegelapan, menembak langsung ke arah tempat Elang dan Citra berada.
Sebuah sedan hitam mewah berukuran besar melaju pelan menerobos jalan tanah yang bergelombang, lalu berhenti tepat di tepi taman mati.
Pintu kemudi terbuka dengan cepat.
Banyu Permana keluar dari dalam mobil dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Penampilannya yang biasanya sangat rapi kini tampak sangat berantakan.
Jasnya tidak dikancingkan, dasinya miring, dan wajahnya dipenuhi oleh peluh yang bercucuran meskipun udara malam itu cukup dingin.
"Den Elang!" panggil Banyu dengan suara serak yang dipenuhi oleh kepanikan yang luar biasa.
Elang mencoba memaksakan tubuhnya untuk berdiri, bertumpu pada tembok beton di sampingnya dengan kaki yang gemetar.
"Om Banyu? Untuk apa lagi Anda datang ke sini? Bukankah semuanya sudah Anda ambil? Rumah, mobil, aset... tidak ada lagi yang tersisa dari kami yang bisa Anda sita."
Banyu menggelengkan kepalanya dengan cepat, napasnya memburu seolah-olah ia baru saja berlari bermil-mil jauhnya. Ia melangkah mendekati Elang, mengabaikan tatapan mata Citra Kencana yang langsung beralih mengunci pergerakannya dengan tingkat kewaspadaan tertinggi.
"Ini bukan soal penyitaan, Den! Ini soal keselamatan nyawa! Kakek Anda... Pak Wirawan Dirgantara, diculik pagi tadi saat sedang lari pagi oleh kelompok profesional yang sangat berbahaya!" seru Banyu dengan suara yang bergetar.
Deg.
Dada Elang serasa dihantam oleh palu gada yang sangat besar. Seluruh otot tubuhnya yang tadi lemas mendadak menegang seketika.
"Diculik? Bagaimana bisa? Kakek sudah tidak punya apa-apa lagi! Mengapa ada orang yang mau bersusah payah menculik seorang tua yang sudah jatuh miskin dan bangkrut?!"
Banyu menghela napas panjang, menatap langsung ke dalam manik mata Elang dengan keseriusan yang belum pernah Elang lihat sebelumnya selama hidupnya.
"Karena semua itu tidak nyata, Den Elang. Perusahaan Dirgantara Perkasa tidak pernah bangkrut atau mengalami kepailitan finansial. Likuidasi saham, penyitaan rumah mewah Anda, hingga pengusiran yang Anda alami... semuanya hanyalah sebuah panggung sandiwara besar yang dirancang dari awal."
Kata-kata Banyu seperti sebuah ledakan bom yang menghancurkan seluruh logika berpikir di dalam kepala Elang. Otaknya mendadak macet, mencoba mencerna setiap suku kata yang baru saja keluar dari mulut tangan kanan kakeknya itu.
"Apa... apa maksudmu?" tanya Elang dengan suara yang mendadak parau.
"Pak Wirawan sengaja melakukan semua itu untuk menempa mental Anda dan Pak Bramantyo agar kembali menjadi manusia yang tangguh, bukan pria manja yang dilemahkan oleh kemewahan korporasi," jelas Banyu dengan cepat, air matanya hampir menetes karena frustrasi.
"Tapi sekarang, musuh lama kita mengetahui bahwa kepailitan itu palsu. Mereka menculik Pak Wirawan untuk merebut Dirgantara Perkasa. Saat ini, perusahaan sedang mengalami kepanikan dan terancam benar-benar lumpuh total jika tidak ada pemimpin dari garis keturunan resmi."
Amarah yang luar biasa besar, yang belum pernah dirasakan oleh Elang sepanjang hidupnya, mendadak membubung tinggi dari dasar perutnya menuju dada.
Rasa lapar yang ia tahan selama berminggu-minggu di kosan sahabatnya, penghinaan dari teman-teman kampusnya, keringat darah yang ia keluarkan saat mengangkat karung di pasar induk... semuanya hanyalah bagian dari sebuah eksperimen mental yang dirancang oleh kakeknya sendiri?
"Jadi..." Elang mendesis, suaranya terdengar sangat mengerikan. Tangan kanannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan suara gemertak yang jelas.
"Kami semua hanya dianggap sebagai bidak mainan di atas papan catur Kakek? Saya tidak tahu dimana ayah saya sekarang berada. Dan, perlu Om tahu saya harus merangkak seperti an-jing di jalanan... hanya untuk mempertahankan hidup. Menerima semua penghinaan?!"
Banyu Permana langsung menjatuhkan lututnya ke atas tanah merah yang basah, bersimpuh di depan anak muda yang usianya belum genap dua puluh tiga tahun itu.
"Saya tahu Anda kecewa, Den. Saya tahu Anda marah. Tapi saya mohon dengan sangat, kesampingkan dulu ego Anda. Kembali ke Menara Dirgantara sekarang juga. Ambil takhta Anda yang sah sebagai CEO! Hanya dengan kekuasaan tertinggi itu, Anda bisa menggerakkan seluruh jaringan rahasia dan satelit perusahaan untuk melacak keberadaan Kakek Anda sebelum terlambat!"
Ditawari posisi tertinggi yang dulu sangat ia dambakan di tengah rasa pengkhianatan yang begitu mendalam, Elang justru tertawa hambar. Suara tawanya terdengar sangat getir dan dipenuhi oleh rasa frustrasi yang memuncak.
"CEO?" Elang menatap Banyu yang bersimpuh di bawahnya dengan tatapan mata yang merah menyala akibat amarah yang tertahan.
"Setelah membiarkan kami membusuk di jalanan demi sebuah pelajaran hidup, sekarang saat kalian butuh, kalian datang mengemis padaku untuk menjadi tameng? Cari Kakek dengan caramu sendiri! Aku tidak akan pernah sudi kembali ke Menara keparat itu!"
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Banyu yang masih mematung putus asa, Elang memutar tubuhnya dengan kasar. Ia melangkah pergi membelah kegelapan malam, mengabaikan rasa sakit di kakinya, membiarkan amarahnya membakar keheningan taman mati tersebut.
[BERSAMBUNG]
like+ bunga🌹🤭
kalo berkenan mampir ya thor😉