NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Awal dari Kesialan Kiano

Kok matanya putih semua? Jangan-jangan...

Pikiran Kiano mulai melantur ke hal-hal mistis. Namun, dasar otaknya terlalu positif, Kiano buru-buru menepis ketakutannya sendiri.

Ah, palingan si Ibu lagi pakai softlens kosmetik buat kebutuhan syuting film horor lokal! Riasannya totalitas banget, gila! batinnya berusaha meyakinkan diri.

"Memang kedah kieu, Ujang. Acuk anu dianggo ku abdi nya kieu... Piraku kedah nganggo karung mah... Hihihi..." ucap wanita itu dengan suara melengking diakhiri kekehan mistis yang membuat jantung Kiano mendadak disko.

Sebagai pemuda yang memiliki darah Sunda dari garis keturunan sang nenek, ditambah sering mendengar obrolan Papi Reno di rumah, Kiano tahu betul arti ucapan si ibu:

"Memang harus begini, Dek. Baju yang saya pakai ya memang seperti ini... Masa iya saya harus pakai karung... Hihihi..."

Kiano menelan ludah yang mendadak terasa seret seperti menelan kerikil. Syutingnya... kok terasa ril banget ya, Gusti?

Belum sempat Kiano membuka mulutnya untuk berteriak histeris, si ibu hantu bergerak secepat kilat. Ia langsung menyumpalkan kain sapu tangan kumal miliknya tepat ke dalam mulut Kiano.

LEP!

Si ibu hantu menempelkan satu jari pucatnya ke bibir, memberikan isyarat dengan tatapan mata putihnya agar pemuda itu tidak membuat keributan.

"Sssuut...! Teu kenging gandeng, Ujang. Pamali..." bisik si ibu. Detik berikutnya, ia tersenyum teramat lebar hingga memperlihatkan sepasang gigi taringnya yang mendadak memanjang ke bawah.

Sontak mata Kiano melotot sempurna. Semua teori softlens kosmetik dan syuting film horor di otaknya langsung menguap seketika. Fix! Si Ibu ini hantu beneran!

Di tengah kepanikannya yang mulai meroket, terdengar suara rem kereta berdecit nyaring. Kereta gaib itu mendadak berhenti total.

"Hayu Ujang, urang lungsur. Tos dugi oge di stasiun. Tong calik wae di dinya, bisi aya nu nyulik..." ajak si ibu hantu dengan nada datar. (Ayo Dek kita turun. Sudah sampai di stasiun. Jangan duduk terus di situ, nanti ada yang menculik).

Boro-boro menjawab, Kiano langsung melompat dari kursinya. Ia menyentak kasar sapu tangan di mulutnya, membuangnya ke sembarang arah, lalu mengambil langkah seribu melesat keluar dari pintu gerbong kereta.

"AAAAA...! SETAAANNNN...!"

Kiano berlari kesetanan tanpa memedulikan arah. Langkah kakinya menghentak brutal menembus kegelapan. Sontak, para penghuni tak kasat mata di sekitar area stasiun gaib itu serentak menengok. Mereka saling tatap dengan pandangan bingung, heran melihat ada anak manusia yang berlari tunggang-langgang seperti dikejar penagih utang.

Napas Kiano mulai habis. Saat staminanya benar-benar menyentuh angka nol, ia terpaksa menghentikan laju larinya. Tubuhnya membungkuk, menumpu kedua tangan di atas lutut yang sudah gemetaran parah.

"Ya Allah... tadi itu apaan, sih? Hah... hah..." Kiano meraup oksigen dengan rakus. "Tapi yang penting... gue sekarang udah sel—"

Belum sempat kata 'selamat' lolos dari tenggorokannya, jantung Kiano rasanya kembali copot dan menggelinding ke empedu. Ketika ia mengangkat kepala untuk melihat situasi sekitar, pandangannya langsung disuguhi hamparan ratusan nisan batu kuno yang berlumut. Kabut tebal nan dingin tampak merayap perlahan menyelimuti area tanah perkuburan sepi tersebut.

"Allahuakbar! Di mana deui ieu, Gusti?!" Kiano mulai panik tingkat dewa. Ia memutar tubuhnya 360 derajat, menyapu pandangan ke sekeliling area kuburan wingit yang tidak memiliki ujung.

"Fix! Ini gue salah turun stasiun! Ini jelas bukan Jakarta Selatan! Apes bener-bener apes nasib gue hari ini!" ratap Kiano frustrasi sambil menjambak rambutnya sendiri.

Kiano buru-buru memutuskan untuk putar balik. Namun, keberaniannya seketika menciut sampai ke ukuran atom saat melihat segerombolan hantu melangkah keluar dari arah stasiun. Wajah mereka benar-benar amburadul, mirip korban malpraktik operasi plastik yang gagal total!

Ada hantu yang mulutnya robek cuma tersisa sebelah, ada yang rahangnya copot hingga bergelantungan, ada yang matanya bolong menghitam, bahkan ada juga yang bola matanya keluar dari kelopak dan menggantung konyol seperti mainan kunci. Pemandangan super gore itu sukses membuat siapa pun yang melihatnya akan langsung pingsan di tempat.

Tanpa pikir panjang, Kiano langsung berbalik arah dan berlari pontang-panting. Ia memilih tiarap, bersembunyi di balik batang pohon beringin raksasa yang tumbuh angker di tengah-tengah area perkuburan.

"Sialan! Gue harus pulang lewat mana, sih?!" umpat Kiano dengan napas satu-satu.

Kiano mencoba mengintip dari balik pohon. Nyalinya makin amblas saat menyadari stasiun tempatnya turun tadi perlahan menghilang ditelan kabut. Jalur rel kereta cepat fusi nuklir yang ia naiki tadi sama sekali tidak berbekas.

Yang tersisa di pandangannya saat ini hanyalah lautan makhluk mistis dari berbagai bentuk, ukuran, dan warna yang sedang berkeliaran di antara nisan kuno.

Kiano terjebak di tengah fashion show makhluk halus, tanpa ada satu pun petunjuk jalan pulang menuju peradaban modern tahun 2050!

Di saat genting dan menegangkan seperti itu, mata Kiano tak sengaja melirik ke arah salah satu gundukan tanah kuburan tua. Di tengah-tengah makam tak bernama itu, ada sebuah golok misterius yang tertancap kokoh.

"Wih... goloknya keren banget, Cuy!" gumam Kiano takjub.

Entah korsleting di bagian mana, rasa takut Kiano yang tadinya sudah di ubun-ubun mendadak menguap seketika. Jiwa anak kolektor barang antik di dalam dirinya langsung meronta-ronta. Menurut pandangan matanya, golok ini jauh lebih estetik dan kelihatan mahal dibanding koleksi bokapnya, bahkan mengalahkan ketajaman Golok Pusaka milik si Mbah di rumah.

"Gue liat dikit gapapa kali ya? Lumayan buat oleh-oleh Papi," pikirnya polos.

Menggunakan gaya jalan berjinjit ala maling jemuran kompleks, Kiano melangkah pelan mendekati kuburan tersebut.

Sret!

Kiano refleks menggenggam gagang golok berukiran emas itu. Namun, sedetik kemudian ia langsung menarik tangannya kembali sambil mengaduh kesakitan. Ada sensasi mirip sengatan listrik statis berkekuatan tinggi yang menyengat telapak tangannya.

"Waduh! Kok pusaka zaman purba bisa ada aliran listriknya begini, sih? Pake teknologi baterai nano apa gimana?" tanyanya heran sambil mengibas-ngibaskan tangan.

Rasa kepo yang sudah telanjur mendarat di level maksimal membuat Kiano nekat. Ia kembali mencengkeram gagang emas itu. Beruntung, kali ini tidak ada kejutan listrik misterius seperti sebelumnya.

"Gue penasaran pengen liat bilah goloknya. Ngintip dikit gapapa kali ya? Nanti janji deh gue tancepin lagi ke tempat semula," bisik Kiano bernegosiasi dengan angin malam. "Siapa pun penunggu di sini... mau Mbah, Om, Tante, Ibu, Bapak, Abang, Teteh, atau Akang... Kiano minta izin buat cabut goloknya bentar, ya. Jangan di-smash, punten."

Kiano berkomat-kamit membaca doa selamat, lalu menarik napas dalam-dalam. Menggunakan seluruh kekuatan otot remajanya, ia menarik gagang golok emas itu ke atas dengan satu sentakan kuat.

SRETTT!

Golok itu berhasil tercabut dari tanah. Namun, tepat pada milidetik berikutnya...

DUARRR! BOOM!!!

Tanah kuburan itu meledak dahsyat bagai dihantam bom raksasa. Gelombang energi mistis berwarna hitam pekat melesat keluar, menghantam tubuh Kiano hingga terpental sejauh lima meter ke udara. Tubuhnya meluncur bebas, menabrak beberapa batu nisan kuno di belakangnya hingga hancur berantakan. Sebelum kesadarannya hilang total dan matanya terpejam, Kiano sempat melihat golok emas di genggamannya mendadak raib begitu saja, menguap menjadi kepulan asap hitam yang pekat.

Bersamaan dengan ledakan dahsyat dan kepulan asap hitam pekat itu, sesosok makhluk raksasa perlahan bangkit merayap keluar dari dalam belahan tanah kuburan.

"HA-HA-HA! Akhirnya... akhirnya aku bebas! Aku bisa membalaskan dendam keenam temanku pada nenek lampir sialan alias Nini Kalingking!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!