NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam semakin larut ketika taksi yang membawa Hani akhirnya berhenti di depan pagar rumah tuanya. Jalanan di sekitar perumahannya sudah sepi, hanya menyisakan gemerisik daun yang saling bergesekan ditiup angin malam.

Hani melangkah turun, menutup pintu taksi dengan pelan, lalu berdiri diam memandangi kediaman peninggalan almarhum ayahnya yang tampak gelap gulita.

Pikirannya masih tertinggal jauh di kamar rawat nomor 701 Rumah Sakit Pusat Jakarta. Bayangan wajah murka Reza yang membentak Rachel Adiguna demi membelanya terus berputar di kepala Hani, menciptakan gejolak rasa yang sulit ia definisikan.

Ada rasa hangat yang asing yang sempat menyusup ke dalam hatinya, namun kenyataan pahit dengan cepat memadamkan kehangatan itu. Tatapan mata Rachel yang penuh keangkuhan dan penghinaan dari atas ke bawah seolah menjadi pengingat yang kejam bagi Hani.

Kasta mereka terlalu jauh berbeda. Hani hanyalah seorang karyawan biasa yang masa lalunya bahkan dianggap cacat oleh keluarga Baskara, sementara Rachel adalah putri dari keluarga Adiguna yang terpandang.

Namun, di atas semua drama kecemburuan Rachel, ada satu hal yang jauh lebih besar dan mengerikan yang terus menghantui logikanya.

Sambil melangkah melewati tempat kejadian penusukan di gang samping rumahnya, Hani teringat kembali pada gerakan pria bertudung hitam semalam.

Dingin, cepat, dan terarah. Targetnya mutlak adalah Reza Baskara. Siapa yang begitu membenci pewaris tunggal Baskara Group itu hingga berniat menghabisinya di depan rumah seorang karyawan?

Hani mengunci pintu rumahnya rapat-rapat dari dalam, menyalakan lampu ruang tamu yang temaram, lalu terduduk lemas di sofa. Ia memeluk lututnya, menatap ke arah lantai yang bersih. Malam ini, kesunyian rumah terasa jauh lebih menekan dan mencekam dari biasanya.

...****************...

Keesokan paginya, atmosfer di kantor pusat Baskara Group terasa semakin berat. Desas-desus mengenai penyerangan Reza mulai bocor di kalangan terbatas, meskipun pihak manajemen tingkat atas berusaha keras menutupinya dari kejar-kejaran media demi menjaga stabilitas saham perusahaan yang sedang berada di puncak.

Hani duduk di meja kerjanya, mencoba memfokuskan pandangannya pada layar komputer, namun jemarinya terasa kaku dan dingin.

Bzzz... Bzzz...

Interkom di sudut mejanya berbunyi nyaring, mengejutkan Hani hingga hampir menjatuhkan pulpennya. Ia segera mengangkat gagang telepon tersebut dengan dada yang berdebar.

"Selamat pagi, Hani. Tolong segera menghadap Pak Narendra di lantai paling atas sekarang juga," ucap suara sekretaris utama Narendra dengan nada yang sangat formal.

Jantung Hani seketika berdesir hebat. Apakah ini akhir dari pekerjaannya? Apakah Pak Narendra akhirnya memutuskan untuk memecatnya demi menjaga jarak agar keluarganya tidak terseret dalam masalah lebih lanjut?

Dengan perasaan cemas yang membubung, Hani merapikan pakaiannya dan melangkah menuju lift khusus eksekutif.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Narendra Baskara yang luas dan mewah dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta, Hani mendapati pria paruh baya itu sedang berdiri membelakanginya, menatap lurus ke luar jendela.

Penampilan Narendra hari ini tampak berbeda, bahunya yang biasa tegak lurus kini tampak sedikit turun, menyiratkan keletihan yang teramat mendalam seorang ayah.

"Duduklah, Hani," ujar Narendra tanpa membalikkan badannya terlebih dahulu. Setelah Hani duduk di kursi kulit di depan meja kerjanya, barulah Narendra berbalik dan ikut duduk di hadapannya.

Narendra mengembus napas berat, lalu menyatukan kedua jemarinya di atas meja. Sorot matanya berubah menjadi sangat serius. "Polisi sudah memeriksa seluruh rekaman CCTV di sekitar rumahmu, Hani. Hasil investigasi sementara menunjukkan bahwa penyerang itu bukan orang sembarangan. Dia tahu persis rute pelarian yang tidak terjangkau kamera pengawas, dan gerakannya sangat terlatih. Ini adalah percobaan pembunuhan berencana terhadap anak saya."

Narendra terdiam sejenak, menatap Hani dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dan ada satu hal lagi... tim investigasi internal kami menemukan fakta baru yang mengejutkan. Pola penyerangan ini, serta beberapa ancaman digital yang diterima sistem keamanan perusahaan dalam beberapa minggu terakhir, memiliki tanda-tanda yang sama dengan insiden sabotase besar yang terjadi delapan tahun yang lalu."

Mendengar kata 'delapan tahun yang lalu', tubuh Hani seketika menegang sempurna. Itu adalah tahun di mana ayahnya dituduh melakukan korupsi dan membocorkan rahasia perusahaan hingga akhirnya dipecat dengan tidak hormat.

"Maksud Bapak...?" suara Hani bergetar.

"Saya mulai berpikir, Hani..." Narendra menundukkan kepalanya, suaranya merendah penuh penekanan yang menusuk. "...apakah tuduhan saya kepada ayahmu delapan tahun lalu adalah sebuah kesalahan besar? Apakah ada orang lain di dalam lingkaran internal perusahaan yang sengaja mengorbankan ayahmu sebagai kambing hitam untuk menutupi kejahatan mereka? Dan sekarang, setelah ayahmu tiada, orang yang sama kembali."

Kata-kata Narendra hari itu laksana bom waktu yang meledak di dalam kepala Hani. Sepanjang sisa jam kantor hingga ia pulang ke rumah sore harinya, kalimat itu terus berputar-putar tanpa henti. Apakah ayahnya benar-benar tidak bersalah?

Rasa penasaran dan amarah yang membuncah membuat Hani tidak bisa tinggal diam. Jika ayahnya dijebak, dan orang yang sama kini mencoba membunuh Reza, maka kunci dari semua misteri ini pasti ada pada peninggalan terakhir ayahnya.

Hani ingat, setelah dipecat dari Baskara Group, ayahnya menghabiskan waktu berbulan-bulan mengurung diri di kamar kerja tuanya, menulis sesuatu di sebuah buku catatan yang tidak pernah diizinkan untuk dilihat oleh siapa pun.

...****************...

Setibanya di rumah, Hani tidak menyalakan lampu ruang tamu. Dengan berbekal senter dari ponselnya, ia langsung melangkah cepat menuju kamar kerja almarhum ayahnya yang terletak di sudut paling belakang rumah. Kamar itu terasa dingin, berdebu, dan dipenuhi aroma kertas tua yang menyengat.

Hani mulai membongkar lemari buku yang rapuh, memeriksa setiap tumpukan kertas kerja, dan membuka laci-laci meja satu per satu. Namun, ia tidak menemukan apa pun yang mencurigakan. Di tengah keputusasaannya, Hani tidak sengaja menyenggol bagian bawah laci paling bawah meja kayu jati tersebut.

Tok... Tok...

Suara ketukan itu terdengar berongga. Hani tertegun. Ia berlutut di lantai yang kotor, meraba bagian bawah kolong laci dengan saksama. Benar saja, ada sebuah papan kayu ganda yang sengaja dipasang sebagai kompartemen rahasia. Dengan kuku jari yang gemetar karena tegang, Hani mencungkil papan tersebut hingga terbuka.

Sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat jatuh ke lantai.

Hani mengambil kotak itu dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Menggunakan obeng kecil yang ia temukan di atas meja, ia memaksa kunci kotak besi itu hingga patah. Di dalamnya, terletak sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam yang sudah usang, bersama dengan sebuah flashdisk tua berwarna perak.

Hani membawa buku catatan itu ke bawah sorot lampu meja kerja yang remang-remang. Ia membuka halaman demi halaman dengan napas yang memburu.

Tulisan tangan ayahnya yang rapi namun terkesan ditulis dengan terburu-buru mulai terpampang di hadapannya. Halaman-halaman awal berisi rincian proyek delapan tahun lalu, diikuti oleh catatan penderitaan sang ayah yang menyadari bahwa semua akses komputernya telah diretas dan dimanipulasi dari luar.

Hingga akhirnya, mata Hani terpaku pada halaman terakhir yang bertanggal tepat tiga hari sebelum ayahnya dipecat dari perusahaan.

"Mereka tidak hanya ingin menjatuhkanku. Mereka ingin menguasai seluruh aset tersembunyi Baskara Group dari dalam. Narendra terlalu buta untuk melihat siapa ular yang sebenarnya. Jika sesuatu terjadi padaku, biarlah catatan ini menjadi saksi. Dalang dari semua sabotase ini, orang yang mengatur transfer dana ilegal dan menjebakku, adalah..."

Jantung Hani berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Matanya melebar sempurna, dipenuhi rasa tidak percaya yang teramat sangat saat membaca nama yang tertulis dengan tinta hitam tebal di baris berikutnya.

Nama itu adalah sosok yang sangat ia kenal, seseorang yang memiliki pengaruh luar biasa besar dan saat ini berada sangat dekat dengan lingkaran internal keluarga Baskara. Nama yang menjelaskan secara mutlak mengapa Reza harus dieliminasi semalam.

Belum sempat Hani mencerna kebenaran yang mengerikan itu sepenuhnya...

Prek!

Suara sentakan listrik padam seketika terdengar dari arah luar. Lampu meja kerja yang meneranginya langsung mati total, melemparkan seluruh ruangan kerja yang sempit itu dan seluruh sudut rumah tuanya ke dalam kegelapan pekat yang mencekam. Hanya ada sedikit semburat cahaya bulan yang samar menembus celah gorden jendela.

Hani membeku di kursinya, mencengkeram buku catatan hitam itu erat-erat ke dadanya. Napasnya tertahan di tenggorokan. Keheningan yang luar biasa dingin mendadak merayap di sekelilingnya, membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

Krieeek...

Suara gesekan halus dari pintu depan rumahnya yang terbuka perlahan terdengar memecah keheningan dari arah ruang tamu. Seseorang telah berhasil membobol masuk ke dalam rumahnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Di tengah kegelapan yang sunyi itu, terdengar langkah kaki yang sangat pelan namun mantap.

Drap... Drap... Drap...

Langkah kaki itu berjalan menyusuri lorong rumah yang gelap, bergerak lurus menuju kamar kerja tempat Hani berada.

Hani tidak berani bergerak seujung jari pun, matanya menatap dengan horor ke arah ambang pintu kamar yang setengah terbuka. Di sana, di bawah siluet cahaya bulan yang samar, berdiri sesosok tubuh jangkung berpakaian serba hitam, memegang sebilah benda logam panjang yang berkilat tajam di tangan kanannya.

Sebuah suara berat, dingin, dan tanpa emosi mendadak memecah keheningan, menggema di ruangan itu dengan nada yang sangat mengerikan.

"Kamu sudah membaca terlalu banyak, Hani."

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!