NovelToon NovelToon
Cinta Bertahan

Cinta Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rati Tiwi

Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.

Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.

Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang Tak Biasa

Setelah setengah jam Ayra berhias dengan sangat cantik. Kini dia mulai merasakan getaran yang amat dahsyat untuk menemui Bagas. Jantungnya serasa mau copot, dag dig dug cukup kencang. Beberapa menit Ayra mencoba untuk menetralisir dirinya agar tidak gugup dan mengambil nafas untuk mengatur jantungnya agar tidak lagi berdetak.

Ini bukan perkara mudah bagi Ayra. Sudah berapa lama Ayra menjalin hubungan dengan Bagas, namun baru kali ini Ayra merasakan hal yang tak biasa yang sangat luar biasa. Apakah benih cinta mulai tumbuh kembali setelah sekian lama mereka berpisah? Ayra masih saja mengelak dan tidak mau mengakui perasaannya bahwa dia tidak bisa melupakan Bagas sedetik pun.

TAK TAK TAK

Langkah kaki Ayra kini melangkah ke arah depan, siapa sangka sosok lelaki yang dia cari kini sudah berada di depan teras. Ayra pikir Bagas masih menunggu di ruang tamu, nyatanya Bagas sama-sama mempunyai perasaan yang tidak karuan alias deg degan. Hal serupa yang dialami oleh Ayra.

Dari belakang Ayra menepuk punggung Bagas untuk memberitahu bahwa dirinya sudah siap dengan penampilannya dan siap untuk berangkat makan malam berdua. Namun satu tepukan tangan ke punggung Bagas tidak terasa bagi lelaki itu, kemudian tepukan kedua juga masih tidak mempan untuk Bagas. Hingga yang ketiga kalinya kini Ayra bukan lagi menepuk punggung Bagas, melainkan memukul cukup keras punggung Bagas sampai lelaki itu merasakan kaget yang luar biasa.

Sebenarnya Bagas ingin marah namun saat berbalik badan, bukannya marah melainkan terpesona melihat kecantikan Ayra yang begitu sangat dirindukannya bertahun-tahun lamanya. Kini Bagas kembali melihat wajah cantik Ayra. Seperti mimpi yang tak pernah dibayangkan oleh Bagas.

"Ay-ra kamu...," ucap Bagas bersuara pelan dengan mata yang tidak berhenti menatap Ayra.

"Sakit ya? Maaf, lagian kamu aku panggil berapa kali nggak ada pergerakan. Makanya aku pukul kuat, emm...maksudnya cukup kuat," ujar Ayra menjelaskan dengan nada suara ragu-ragu karena merasa tidak enak.

"Eng...enggak kok, Ay. Itu...kamu...," ucap Bagas terbata.

"Aku kenapa?" tanya Ayra aneh.

"Itu...kamu...kamu can...," belum sempat menyelesaikan ucapannya, Ayra langsung berkata pada Bagas.

"Udah ayo buruan, aku laper!" Ayra mengadu sambil memegangi perutnya mengkode bahwa dia memang sangat lapar.

Padahal, dalam hatinya Ayra sangat lah gugup dan sangat canggung saat ini. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi saat Bagas menatapnya aneh. Dikira Ayra dirinya tidak secantik dulu saat bersama dengan Bagas. Dia sangat malu dan langsung down bila mengingat wanita yang sekarang dekat dengan Bagas, yakni Baby. Karena Baby sangat lah cantik dibanding Ayra menurut dirinya sendiri.

Namun, lain halnya dengan Bagas. Karena saat ini Bagas sangat tidak berkutik di depan Ayra seperti pertama kali dirinya kencan dengan Ayra, ada getaran rasa yang tak biasa dan sangat tidak bisa diartikan. Ya, bisa dibilang unsur cinta bersemi kembali. Bagas sangat lah takut melihat penampilan Ayra yang membuat Bagas begitu tidak bisa fokus dengan suasana mereka saat ini.

"Ibu kamu udah sehat?" Ayra memecah keheningan diantara mereka.

"Hem, udah!" jawab singkat Bagas, sambil menyetir mobilnya.

"Yang jaga ibu kamu siapa di Jakarta?" Ayra bertanya kembali.

"Ada bibi kok," dijawab singkat kembali oleh Bagas.

Ayra mengerutkan dahinya, serasa ada yang aneh dalah diri Bagas. Tidak seperti pertama kali Bagas datang menjemputnya tadi.

"Kenapa Bagas? Pertanyaan aku dijawab singkat terus sama dia? Hem...bodo amat lah," ucap Ayra dalam hatinya sambil mengedikkan bahunya dan sedikit memainkan bibirnya.

Suasana kembali hening di dalam mobil itu, serasa Bagas keringat dingin, padahal AC mobil sudah dinyalakan. Benar-benar aneh dan asing sekali.

"Shittt, ada apa dengan aku ini. Kenapa begitu konyol nya aku menjawab pertanyaan Ayra. Nanti dia bilang aku aneh lagi. Arghhh, bodo amat lah!" ucap Bagas dalam hatinya sambil sesekali memukul setirnya dengan keadaan tidak sadar bahwa ada Ayra disampingnya.

Ayra kembali menatap kearah Bagas. Kali ini Ayra kaget dengan tingkah Bagas yang benar-benar super aneh.

"Bagas, are you ok?" tanya Ayra.

"Hem...ya, i'm ok...i'm ok," jawab Bagas berulang.

Ayra memasati betul Bagas, dan dia kaget bahwa ada bulir air di kening Bagas. Ayra masih penasaran dan tanpa basa-basi Ayra menyentuh kening Bagas dengan tangannya, ingin memastikan suhu tubuh Bagas.

"Kamu sakit, Bagas?" tanya Ayra yang tiba-tiba menyentuh kening Bagas.

CKITTTTT

"Awww," jerit Ayra.

Ternyata Bagas rem mendadak hingga seketika tangan yang ditempelkan Ayra ke kening Bagas, kini malah tubuh Ayra yang memeluk Bagas karena adanya rem mendadak itu.

Alhasil mereka saling pandang, saling menatap dengan pandangan yang tak biasa. Jantung pun mulai berdetak, sangat terasa di masing-masing mereka. Ada rasa rindu bercampur menjadi satu. Rasa benci pun kini sudah tak tampak dalam diri mereka. Mereka begitu hanyut dalam suasana yang tak seperti biasanya.

Bagas dengan pelan menyentuh rambut Ayra yang terlihat berantakan. Dia selipkan di belakang telinga Ayra hingga kini Bagas bisa sangat jelas menatap kedua bola mata Ayra yang sangat cantik jelita itu.

TIN TIN TINNN

Mereka berdua kini sadar dengan keadaan mereka kembali dengan adanya mobil di belakang mereka yang membunyikan klakson dengan cukup kencang.

"Bagasss!" kesal Ayra.

"Ayra, maaf...aku tadi nggak sengaja nginjek rem," kata Bagas.

Bagas pun akhirnya menepikan mobilnya ke sebelah kiri. Dia kini menatap Ayra dengan sangat tidak enak hati dan merasa bersalah.

"Kamu nggak apa-apa kan, Ay?" tanya Bagas khawatir.

"Kamu kalau sakit mending kita pulang aja," ucap Ayra tanpa menjawab pertanyaan Bagas.

"Aku nggak sakit, Ay!" bantah Bagas.

"Terus kenapa kamu keringatan tadi?" tanya Ayra.

"Itu...karena aku...," Bagas tidak bisa menjawab pertanyaan Ayra, karena sesungguhnya yang membuat dia berkeringat adalah Ayra.

Bagas malu dan tidak mau jika harga dirinya terlihat lemah di depan Ayra. Makanya Bagas tidak bisa menjawab pertanyaan Ayra. Hingga Bagas berkata dengan perkataan lain.

"Aku nggak sakit, kita jalan lagi, bentar lagi kita sampai," ucap Bagas yang kembali menjalankan mobilnya.

Perlahan Bagas menarik nafasnya untuk menetralisirkan dirinya agar normal kembali, tidak canggung dan gugup lagi.

Sedangkan Ayra sedikit lega dengan keadaan Bagas yang mulai membaik. Tapi masih penasaran kenapa Bagas bisa seaneh seperti tadi.

Tanpa aba-aba, entah mengapa tiba-tiba Bagas begitu saja menarik tangan Ayra untuk dia genggam. Kali ini Bagas ingin memastikan dirinya bahwa tidak ada rasa yang berbeda seperti tadi.

"Bagas, apa-apaan kamu!" Ayra mencoba menarik tangannya. Namun sayangnya tidak bisa karena Bagas menggenggam tangan Ayra cukup kuat.

"Please, tetap seperti ini dulu ya. Nggak tahu kenapa tiba-tiba tanganku sedikit keram," pinta Bagas dengan alasan yang dia buat.

"Ta-tapi kamu lagi nyetir, loh!" ucap Ayra sedikit terbata, sebab tangannya sedikit gemetar karena gugup.

"Tunggu sampai tangan ku tidak kebas lagi," kata Bagas sambil tersenyum.

Ayra hanya diam tanpa kata, dia malah menatap senyuman Bagas yang terlihat begitu indah dimatanya.

Bagaimana tersengat oleh senyuman Bagas, lantas Ayra membiarkan tangan Bagas menggenggam tangannya, sedangkan Bagas memperlambat sedikit laju mobilnya, karena Bagas tidak ingin melewati momen dirinya saat ini berdua dengan Ayra yang juga bisa menggenggam kembali tangan halus gadis pujaan hatinya.

Bersambung....

1
Dedek Gemes
lanjut thor
Dedek Gemes
hajar trus ay💪💪
Dedek Gemes
wuasekkk🤣🤣
Dedek Gemes
😲😲😲😲😲
Pink Ky
tuh skali2 liat yg bening, wihhh Bagas paling bisa, mantul👍
Pink Ky
sikat Bagas ada rezeki syg ditolak😂
Pink Ky
aku juga ada kenangan dgn pizza hehe
Pink Ky
👍👍👍👍👍
Pink Ky
Bagas wkwkwk
Pink Ky
usaha sndri lah bagas
Happy Love
matanya tolong dikondisikan bagas😂
Rati Tiwi: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Happy Love
novelnya bagus, ceritanya seru lucu dan menggemaskan sperti kata Bagas ke ayra😁❤️
Happy Love: sama2❤️
total 2 replies
Happy Love
GK ada kapok ny nih Bagas, msh aja ngeselin ayra, lanjut kak ❤️
Happy Love
egois krna cinta sama loe ay
Happy Love
aku pinisirin juga
Rati Tiwi: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Happy Love
bos GK ada akhlak, wkwkwkw🤣
Happy Love
bagus👍👍👍
Happy Love
KLO bos ya gitu, suka maksa seenaknya dia aja gitu
Happy Love
ayo terima terima terima ay😁
Happy Love
ngakakkkkkk🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!