NovelToon NovelToon
Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.

Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.

Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.

"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.

Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Tengah Malam, Kargo yang Basah, dan Bahu yang Pegal

Musim hujan akhirnya tiba di Sukaasih, membawa angin dingin yang kontras dengan hawa gerah biasanya. Namun bagi para pemilik ruko, hujan lebat sering kali berarti kecemasan baru—terutama untuk bangunan-bangunan tua yang atapnya mulai rapuh.

Malam itu, sekitar pukul sebelas. Langit Sukaasih seperti tumpah, diguyur hujan badai yang sangat dahsyat disertai petir yang menyambar-nyambar.

Ghea sedang meringkuk di bawah selimutnya di kamar kosan lantai bawah, mencoba membaca novel digital untuk mengalihkan perhatiannya dari suara petir yang menggelegar. Tiba-tiba, suara dering telepon dari kamar mandi umum lantai bawah terdengar sayup-sayup. Itu adalah suara telepon Bu Retno yang sedang mengobrol panik dengan salah satu tetangga ruko tentang selokan yang meluap.

Pikiran Ghea mendadak melayang ke arah ruko sebelah.

Ghea tahu betul bahwa garasi Arka-Logistics milik Arkan memiliki satu kelemahan besar: sudut belakang atapnya terbuat dari seng tua yang agak renggang. Jika hujan biasa saja airnya bisa merembes, apalagi jika badai sedahsyat ini. Dan yang paling krusial, Ghea ingat tadi sore melihat Arkan menumpuk belasan kardus besar berisi bahan makanan kering milik CV Suka Maju tepat di bawah sudut rapuh tersebut, bersiap untuk pengiriman subuh.

Ghea melirik ponselnya. Arkan belum pulang dari pengiriman luar kota sejak sore tadi.

"Ah, masa bodoh. Biarin aja kardus-kardus itu basah biar dia bangkrut sekalian!" gumam Ghea kesal, menarik selimutnya lebih tinggi.

Namun, hanya butuh waktu tiga detik bagi rasa tidak tega di dada Ghea untuk mengalahkan ego besarnya. Mengingat bagaimana Arkan membelikan blender mahal untuknya kemarin, Ghea menghela napas panjang, mendengus frustrasi pada dirinya sendiri yang terlalu lembek.

Ghea langsung menyambar jaket antiair tipisnya, mengambil senter kecil, dan berlari keluar kosan menembus badai malam menuju ruko dengan payung yang nyaris patah ditiup angin kencang.

Sesampainya di garasi Arka-Logistics, gerbang besi depannya terkunci rapat dari luar. Ghea tidak punya kuncinya. Namun, Ghea tahu pintu penghubung antara dapur belakang kedai Kopi Karsa dan garasi Arkan hanya dibatasi oleh sekat tripleks longgar yang biasanya digunakan untuk mengalirkan kabel listrik darurat.

Dengan sisa tenaganya, Ghea mendobrak tripleks tersebut hingga terbuka cukup lebar untuk dilewati tubuh rampingnya.

Saat senter kecilnya menyorot ke dalam garasi Arkan, mata Ghea langsung membelalak.

Air hujan sudah mulai mengalir deras dari celah atap seng yang bocor, jatuh tepat di atas tumpukan kardus kargo bagian atas. Kardus-kardus pembungkus bahan makanan kering itu sudah mulai melunak dan hampir jebol karena basah. Jika dibiarkan setengah jam lagi, seluruh kargo berharga bernilai puluhan juta itu akan hancur total, dan Arkan harus membayar denda ganti rugi yang bisa membangkrutkan bisnis logistiknya yang baru merintis.

"Dasar tiang listrik bodoh! Naruh barang berharga teledor banget sih!" umpat Ghea panik.

Ghea meletakkan senternya di atas meja kerja Arkan, lalu segera bergerak cepat. Dia mulai mengangkat kardus-kardus besar itu satu per satu. Kardus-kardus itu ternyata jauh lebih berat dari yang dia duga, setidaknya masing-masing berbobot lima belas kilogram.

Ghea, yang seumur hidupnya di Solaria tidak pernah mengangkat beban lebih berat daripada tas belanjaannya, kini harus memeras seluruh tenaganya. Wajah cantiknya memerah menahan lelah, napasnya terengah-engah, dan keringat bercampur dengan cipratan air hujan mulai membasahi tubuhnya.

Dia menyeret, mengangkat, dan menyusun kembali kardus-kardus itu ke sudut garasi yang kering dan aman. Beberapa kali jemari lentiknya tergores pinggiran kardus yang kasar, dan bahunya mulai terasa sangat ngilu karena memaksakan ototnya bekerja keras.

Setelah hampir dua jam berjuang sendirian di tengah kegelapan dan dinginnya malam, belasan kardus itu akhirnya berhasil dia pindahkan seluruhnya ke area yang kering dan dilapisi terpal plastik pelindung.

Ghea terduduk lemas di atas lantai semen yang dingin, memijat lembut bahu kanannya yang terasa sangat pegal dan gemetar karena kelelahan. Dia menyeka keringat di dahinya dengan lengan jaketnya yang kotor terkena debu kardus.

Tiba-tiba, suara deru mesin pikap hitam Arkan terdengar dari arah luar gerbang ruko.

Ghea tersentak panik. Dia segera bangkit, menyambar senternya, lalu merangkak kembali melewati celah tripleks penghubung ke kedainya dengan terburu-buru, merapikan kembali tripleks tersebut agar tampak tidak mencurigakan sebelum Arkan sempat masuk ke dalam garasi.

Arkan masuk ke dalam garasinya dengan kondisi basah kuyup dan wajah yang sangat panik. Dia baru saja terjebak macet total di jalan lingkar luar karena ada pohon tumbang akibat badai, membuat pikirannya terus-menerus didera rasa bersalah dan ketakutan bahwa kargo milik CV Suka Maju akan hancur terkena bocornya atap garasi.

Arkan langsung berlari menuju sudut belakang garasi tempat dia menaruh kardus-kardus tersebut tadi sore.

Namun, langkah kakinya mendadak terhenti.

Seluruh kardus kargo miliknya kini sudah tertumpuk rapi di sudut depan yang kering, lengkap dengan selimut terpal pelindung di atasnya. Di bawah atap yang bocor, air hujan menetes deras menghantam lantai semen yang kosong melompong.

Arkan mematung, menatap pemandangan itu dengan dahi berkerut dalam. Jantungnya berdegup kencang karena rasa lega yang teramat sangat, sekaligus rasa heran yang luar biasa besar.

"Siapa yang mindahin ini semua?" bisik Arkan heran.

Arkan berjalan mendekati tumpukan kardus tersebut. Saat dia merapikan sudut terpal, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di atas salah satu kardus.

Sebuah jepit rambut kecil berwarna merah muda dengan hiasan mutiara tiruan—jepit rambut murah yang sangat sering dia lihat terpasang di rambut panjang Ghea saat cewek itu sedang sibuk membuat kopi di kedai sebelah.

Arkan mengambil jepit rambut itu, menatapnya di telapak tangannya yang basah. Pandangan lempengnya perlahan melunak, digantikan oleh senyuman tipis yang sangat tulus dan hangat yang meluluhkan dinginnya malam badai Sukaasih.

Arkan melirik ke arah dinding sekat tripleks penghubung ruko mereka yang tampak sedikit bergeser dari posisi biasanya.

"Dasar manja keras kepala... repot-repot banget sih lo," gumam Arkan sangat pelan, menyimpan jepit rambut kecil itu ke dalam saku jaketnya yang paling aman tepat di bagian dada.

Keesokan paginya.

Sukaasih kembali cerah seolah-olah tidak ada badai besar yang melanda semalam. Ghea sedang duduk lemas di balik meja bar kedainya dengan wajah yang sangat mengantuk, sesekali meringis pelan sambil memijat bahu kanan dan pergelangan tangannya yang terasa luar biasa pegal dan kaku.

Tiba-tiba, pintu garasi sebelah terbuka. Arkan berjalan keluar sambil merapikan kerah kaus hitamnya, memutar kunci pikapnya di jari telunjuk dengan gaya angkuh seperti biasa.

Begitu melihat Ghea yang sedang meringis kesakitan, Arkan menaikkan sebelah alisnya lempeng. Dia berjalan mendekati meja bar Kopi Karsa.

"Heh, manja," panggil Arkan datar. "Muka lo pagi ini kenapa ditekuk begitu? Pegal-pegal ya? Kebanyakan gaya sih lo kalau tidur, palingan salah bantal."

Ghea langsung mematikan ringisannya, memasang wajah judes andalannya dengan cepat, lalu melipat kedua tangan di dada meskipun bahunya terasa sangat perih saat digerakkan.

"Sirik aja lo, tiang listrik!" ketus Ghea galak. "Gue cuma lagi malas gerak aja hari ini! Lagian ngapain lo ke sini pagi-pagi? Mau minta kopi gratisan lagi?!"

Arkan mendengus sinis, bersandar di meja bar sambil melipat tangannya di dada. Matanya menatap lurus ke arah tangan Ghea yang tampak sedikit memerah di bagian pergelangan.

"Siapa juga yang mau kopi buatan lo," ejek Arkan lempeng. "Gue cuma mau ngasih tahu aja, bisnis logistik gue hari ini dapet bonus besar karena kargo semalam aman tanpa cacat sedikit pun. Ini namanya kejeniusan pengusaha sukses yang selalu dilindungi keberuntungan."

Ghea memutar bola matanya malas, menahan tawa geli sekaligus rasa kesal di dalam dadanya sekuat tenaga mendengar kesombongan Arkan, sama sekali tidak menyadari bahwa "keberuntungan" Arkan semalam adalah hasil dari bahunya yang kini terasa hampir copot karena menyeret belasan kardus berat.

"Halah! Keberuntungan lo bilang?!" semprot Ghea galak. "Palingan tikus-tikus ruko lo yang kasihan lihat muka gembel lo, terus mereka gotong-royong mindahin kardus lo semalam!"

"Mungkin aja," sahut Arkan santai dengan senyum misterius di sudut bibirnya. Dia kemudian meraba sakunya, meletakkan sebuah koyo pereda pegal premium bermerek terkenal di atas meja bar tepat di depan Ghea.

Ghea mengernyit bingung menatap koyo tersebut. "Apaan nih? Lo salah alamat ya?"

"Itu koyo sisa di laci pikap gue," bohong Arkan dengan wajah lempeng andalannya. "Daripada gak kepake terus kedaluwarsa, mending gue kasih ke lo. Muka lo kelihatan butuh koyo banget pagi ini, manja."

"Heh! Muka eksotis gue gak butuh koyo ya! Dasar tiang listrik aneh!" ketus Ghea galak, langsung memalingkan wajahnya membelakangi Arkan dengan bibir mengerucut rapat.

Arkan mendengus geli, lalu berbalik kembali menuju pikap hitamnya untuk bersiap melakukan pengiriman harian dengan perasaan yang sangat ringan dan bahagia.

Setelah mobil Arkan melaju pergi meninggalkan ruko, Ghea perlahan berbalik. Dia menatap koyo premium di atas meja bar kayu tersebut, lalu perlahan meraihnya dengan senyuman lebar yang sangat manis di bibirnya di bawah hangatnya matahari pagi Sukaasih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!