NovelToon NovelToon
Di Balik Seragam Yang Sama

Di Balik Seragam Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tazaya

Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang

dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Disudut kota

Naira segera turun dari mobil setelah bapak tukang tambal ban memastikan bahwa proses perbaikan bannya akan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Dia berjalan cepat menghampiri Rama yang masih duduk tenang di bangku plastik.

"Kita ke sana sekarang ya?" ucap Naira, matanya masih sedikit sembap tapi kilat panik di wajahnya belum hilang.

Rama mendongak, lalu melirik ke arah jalan raya. "Naik apa?" tanya Rama lempeng. "Mobil kamu kan bannya lagi dibuka."

"Naik motor kamu aja ya, Ram," sahut Naira cepat tanpa berpikir panjang.

Rama langsung mengerjapkan mata, ekspresi wajahnya yang biasanya kaku seketika berubah heran. "Naik motor ku?" Rama mengulang kalimat Naira seolah memastikan dia tidak salah dengar. Ditatapnya motor bebek tua miliknya yang bodinya sudah penuh goresan, lalu beralih menatap Naira yang malam ini dandan cantik memakai pakaian bermerek.

"Kamu kan gak biasa naik motor, Ra. Apalagi motor kayak gini. Pasti gak nyaman buat kamu," tambah Rama, mencoba bersikap realistis. Dia tahu betul tipe cewek seperti Naira biasanya hanya terbiasa duduk manis di dalam kabin mobil mewah yang sejuk.

"Udah, gak apa-apa, Ram! Ayoo..." paksa Naira gemas, tidak sabar karena melihat darah di punggung tangan Rama rasanya makin pekat. Dia bahkan refleks memegang ujung jaket parasut Rama, menariknya pelan agar cowok itu berdiri.

"Luka kamu itu gak bisa dibiarkan lama-lama. Kalau infeksi gimana? Mobilnya bisa ditinggal dulu, kita ambil setelah pergi dari klinik aja. Bapaknya juga udah setuju buat jagain," cerocos Naira dalam satu napas, sama sekali tidak peduli lagi dengan citra cool atau gengsi kasta atasnya.

Yang ada di otaknya sekarang cuma satu luka Rama harus segera diobati.

Rama mengembuskan napas pendek. Sadar kalau mendebat Naira yang sedang dalam mode keras kepala seperti ini hanya akan membuang waktu, dia akhirnya berdiri. Dia berjalan ke arah motornya, menyalakan mesin yang langsung mengeluarkan suara kepulan khas motor tua, lalu naik ke atas jok.

"Bisa naik motornya?" tanya Rama, menoleh sedikit ke belakang.

Naira menatap jok belakang motor Rama yang agak sempit. Ini adalah pertama kalinya dia bakal naik motor bebek seperti ini. Dengan sedikit canggung, Naira mengangkat kaki luarnya, lalu duduk menyamping di belakang Rama. Dia merapikan kemeja flanel *oversized*-nya agar tidak tersangkut di ruji roda.

"Udah," cicit Naira pelan.

"Pegangan, Ra. Jalannya agak banyak lubang," kata Rama sebelum menarik gas.

Naira ragu sejenak.

"Pegangan di mana?" batinnya bingung. Gengsi remajanya sempat berbisik, tapi begitu motor bebek itu mendadak melaju dan berguncang karena melewati jalanan yang tidak rata, Naira refleks memegang kedua sisi pinggang Rama erat-erat.

Rama sempat menegang sesaat ketika merasakan sepasang tangan lembut Naira mencengkeram pinggangnya, memotong jarak di antara dua dunia mereka. Aroma vanila dari rambut Naira kembali menyeruak, terbawa angin malam yang dingin, berpadu dengan deru mesin motor yang membelah jalanan kota yang sepi.

Dari balik punggung lebar Rama, Naira memejamkan matanya, merasakan terpaan angin malam langsung di wajahnya. Berada di atas motor tua ini ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan. Di tengah kegelapan dan sisa rasa syok akibat kejadian begal tadi, punggung kokoh Rama yang berada tepat di depannya memberikan rasa aman yang sangat nyata sesuatu yang belum pernah dia temukan, bahkan di dalam mobil termewah sekalipun.

Motor bebek tua Rama berhenti tepat di pelataran parkir sebuah klinik 24 jam berkaca bening. Naira langsung melompat turun dari jok belakang, bahkan sebelum Rama sempat standar motornya dengan benar. Dia setengah berlari menuntun Rama masuk ke dalam ruang instalasi gawat darurat yang sepi malam itu.

Seorang dokter jaga paruh baya dengan jas putihnya segera menghampiri dan meminta Rama duduk di ranjang periksa. Begitu dokter mulai meraih kapas dan cairan antiseptik untuk membersihkan punggung tangan Rama yang berdarah, Naira langsung maju selangkah, berdiri mepet di samping ranjang dengan wajah panik yang tidak bisa disembunyikan.

"Dok... gimana, Dok? Gak parah, kan?" cecar Naira, suaranya naik satu oktav karena cemas.

Dokter itu mendongak sebentar, agak terkejut dengan kedatangan cewek yang napasnya masih memburu ini. Belum sempat sang dokter menjawab, Naira sudah memberondongnya lagi dengan rentetan pertanyaan lain.

"Dok, tolong obatin yang bener ya. Kasih obat yang paling bagus, yang paling paten! Berapa pun biayanya gak apa-apa, saya yang bayar. Terus itu... apa perlu rawat inap aja, Dok? Biar dipantau terus? Sudut bibirnya juga lebam gitu, takutnya ada gegar otak ringan atau bagian dalam yang luka, Dok!"

Rama yang sedang dibersihkan lukanya langsung menepuk dahinya pelan menggunakan tangan kiri yang sehat. Dia benar-benar salah tingkah sekaligus heran melihat Naira yang biasanya dingin dan jago jaim, sekarang malah mendadak berubah seperti ibu-ibu yang panik kehilangan anaknya.

"Naira... ini cuma baret," bisik Rama pelan, mencoba menenangkan, tapi langsung dibalas dengan pelototan tajam dari gadis itu yang menyuruhnya untuk diam.

Melihat kepanikan Naira, dokter paruh baya itu justru terkekeh pelan. Beliau dengan telaten melanjutkan pekerjaannya mengoleskan salep dan membalut tangan Rama dengan perban kasa yang rapi.

"Tenang, Mba..." ucap dokter itu hangat, nadanya sangat santai untuk meredakan ketegangan Naira. Beliau membetulkan posisi kacamata kerjanya lalu melirik Rama sambil tersenyum penuh arti. "Pacarnya baik-baik saja, kok. Enggak ada yang patah, enggak ada gegar otak juga. Luka robek di tangannya memang agak lebar, tapi untung segera dibawa ke sini dengan cepat, jadi belum sempat infeksi."

Kata 'pacarnya' yang keluar dengan begitu natural dari mulut dokter itu seketika membuat atmosfer di ruangan IGD yang dingin langsung berubah drastis.

Naira membeku di tempat. Kata-kata lanjutan yang sudah mengantre di tenggorokannya mendadak tertelan bulat-bulat. Wajahnya yang semula pucat karena panik, dalam hitungan detik langsung berubah warna menjadi merah padam sampai ke ujung telinga.

"Eh? B-Bukan, Dok... dia bukan—" Naira mencoba meralat dengan gugup, lidahnya mendadak kelu dan mendadak lupa cara menyusun kalimat angkuh andalannya.

Rama sendiri langsung membuang muka ke arah dinding sebelah kiri, berdeham berkali-kali karena ikut salah tingkah mendengar sebutan itu. Sialnya, lebam di sudut bibirnya bikin dia meringis pas mencoba menahan senyum canggung.

Dokter itu kembali terkekeh, mengemasi peralatan medisnya tanpa sadar kalau dua remaja di depannya ini sedang mengalami krisis emosi tingkat tinggi akibat gengsi. "Ini saya resepkan obat antibiotik dan pereda nyeri ya. Harus diminum teratur biar lebamnya cepat kempes. Sekarang silakan ditebus di apotek depan."

"I-Iya, Dok. Terima kasih," jawab Naira buru-buru. Dia langsung menyambar kertas resep dari tangan dokter, lalu melangkah cepat keluar ruangan menuju meja administrasi lebih karena ingin melarikan diri dari rasa malu yang luar biasa daripada sekadar buru-buru bayar.

Rama memperhatikan punggung Naira yang menjauh dari balik tirai IGD. Sambil memandangi tangan kanannya yang kini terbalut perban putih rapi, cowok itu mengembuskan napas pelan. Detak jantungnya malam ini terasa jauh lebih melelahkan daripada saat dia harus menghadapi tiga begal di jalanan sepi tadi.

1
Wawan
Sepertinya ini sama persis degan bab di depan 💪✍️
Wawan
Nah kena Amor lu 😍😄✍️
tazayaa: hahaha🤭
total 1 replies
Wawan
Kok mirip ceritaku ya ... "Pada Suatu Masa" 💪✍️
Wawan: Panjang kalau di ceritaku 😄 ... But ide tulisamu menarik dan menyenangkan Thor 💪✍️
total 2 replies
Wawan
Satu ilklan plus mawara buat yang lagi klepek klepek 😄✍️
tazayaa: hihii terimakasih 💪😄
total 1 replies
Wawan
Suit suiiit 😍
tazayaa: hihiii🤣
total 1 replies
Wawan
Rama dan Naira 😍😍😍
tazayaa: jangan lupa baca kisah selanjutnya yaa😍😍😍
total 1 replies
Protocetus
Bibit2 timnas 💪
Protocetus
Gk sekolah mau kerja apa bossku 😂
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa: siapp, sama-sama👍
total 3 replies
Dhatu Lukita
terus semangaattt 💪💪💪
tazayaa: terimakasih kak, semangat jugaa 💪
total 1 replies
Dhatu Lukita
haloo thor aku mampir nih, semangat terus berkarya ya 💪💪💪
tazayaa: siapp kak, makasihh yaa
total 1 replies
tazayaa
bantu follow ya supaya admin semangat update niii🤭🤭
cila_aa
aduhh ada yang mulai tumbuh tapi bukan pohon nihh 🤭
tazayaa: wkwkw
total 1 replies
tazayaa
BAGUSSS POLLL!!!🩷🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!