Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan Aset #2
Sambil membawa kopernya, Timur berlari secepat mungkin. Pria itu menghalau orang-orang yang ada di belakangnya. Melihat salah satu pria berjas mengejarnya, dia semakin panik. Timur berlari tanpa memperhatikan arah.
“Fokus, Timur! Segera menuju gerbang tiket otomatis!” Kael memberi pengarahan pada Timur.
Mendengar itu, Timur segera mengubah haluan. Kini dia berlari menuju gerbang tiket otomatis. Pria berjas hitam mempercepat larinya. Tangannya terulur hendak menarik pundak Timur.
Belum sempat tangannya menyentuh pundak Timur, sebuah tendangan mengenai tubuhnya, membuat pria itu terjungkal.
Pria berjas hitam itu mencoba berdiri, tetapi Kael yang sudah berada di dekatnya kembali melayangkan tendangan kencang dan membuatnya tak sadarkan diri.
Usai melumpuhkan lawannya, Kael bergerak menuju gerbang tiket otomatis. Dia harus memastikan Timur berhasil naik kereta dengan selamat.
Tiga pria berjas hitam yang baru saja tiba di stasiun segera berlari menuju gerbang tiket otomatis.
Timur yang sudah lebih dulu tiba, langsung memindai kode QR yang diberikan pegawai toko buku tadi. Pintu kaca terbuka, secepatnya dia menerobos masuk.
Timur berdiri di antara para penumpang yang sedang menunggu kereta. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang.
Kael yang sudah melewati gerbang tiket otomatis berjalan mendekati Timur, tetapi masih menjaga jarak. Dari kejauhan, kereta yang ditunggu muncul.
Tiga pria berjas hitam melihat incarannya sudah melewati gerbang tiket otomatis. Salah satunya segera menghubungi Arman. Hanya tiga menit berselang, mereka bergerak menuju pintu.
Secara otomatis pintu kaca terbuka untuk mereka. Tentu saja akses itu diberikan oleh orang suruhan Arman yang bekerja di stasiun.
Ketika ketiganya melewati pintu kaca, kereta yang ditunggu Timur tiba. Bergegas Timur memasuki kereta bersama penumpang lain. Tiga pria berjas hendak menyusul. Namun langkah mereka segera dihalangi oleh Kael.
Melihat perkelahian yang terjadi, para penumpang yang ada di sana langsung panik. Yang masih menunggu kereta memilih menyingkir. Sementara para penumpang yang hendak naik bergegas memasuki kereta.
Kael menunduk ketika sebuah pukulan mengarah padanya. Pria itu balas melayangkan pukulan ke perut lawannya. Masih dalam posisi setengah menunduk, dia menghantamkan kepalanya ke perut lawan lain. Mendorongnya hingga punggung pria berjas hitam itu menabrak tembok di belakangnya.
Dengan kedua tangan, Kael mengangkat tubuh sang lawan lalu melemparkan ke arah belakangnya. Terdengar erangan pria itu ketika punggungnya menghantam lantai dengan kencang.
Melihat dua rekannya sudah dikalahkan, pria terakhir memilih masuk ke dalam kereta. Prioritasnya sekarang adalah mendapatkan Timur.
Bunyi peringatan menggema di seluruh peron. Perlahan pintu gerbong mulai menutup. Kael berlari cepat menuju salah satu gerbong.
Tepat ketika celah pintu hampir tertutup, Kael berhasil menyelipkan tubuhnya hingga pintu kembali terbuka. Pria itu segera masuk ke dalam gerbong.
Kepala Kael menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari keberadaan Timur. Lebih dulu dia menuju gerbong di samping kanannya. Gerbong itu cukup padat. Banyak penumpang yang terpaksa berdiri.
Sementara itu, Timur yang sudah berhasil masuk di gerbong sembilan, memilih berbaur dengan penumpang lain. Berulang kali dia mengamati sekeliling, khawatir pria yang mengejarnya berhasil menemukannya.
Baru saja pria itu bernapas lega saat kereta mulai bergerak, sudut matanya menangkap seorang pria berjas hitam berjalan ke arahnya. Timur segera berpindah dari tempatnya. Gerbong yang dinaikinya cukup penuh, sampai tubuhnya menyenggol penumpang lain.
“Aduh!” pekik salah satu penumpang yang kakinya terlindas roda koper Timur.
“Maaf, maafkan aku. Aku tidak sengaja,” ucap Timur sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
Kejadian tersebut langsung menarik perhatian pria berjas hitam. Bergegas dia mendekati Timur.
Menyadari kedatangan pria berjas itu, Timur menjadi panik. Dia segera mengangkat kopernya dan menerobos deretan penumpang yang berdiri di depannya. Sesekali terdengar makian penumpang yang terkena senggolan kopernya.
Beberapa kali Timur melihat ke belakang untuk memastikan apakah dirinya masih berada di jarak aman.
Pria itu tampak panik ketika melihat pria berjas hitam semakin mendekat. Karena terlalu panik, kopernya terlepas tepat saat pintu antargerbong terbuka hendak menutup sehingga pintu kembali terbuka.
Timur terpaksa menarik kembali kopernya lalu melangkah cepat menuju pintu gerbong berikutnya.
Baru saja kakinya melangkah masuk ke gerbong delapan, sebuah tangan menahan pundaknya. Timur menoleh sekilas, rupanya pria berjas hitam yang menahannya.
Sebisa mungkin Timur melepaskan diri, namun pria di belakangnya tidak mau menyerah. Dia tetap menahan pundak Timur.
Sekuat tenaga Timur melepaskan diri hingga dirinya terjatuh. Pria itu beringsut mundur ketika pria berjas hitam mendekatinya. Penumpang di gerbong langsung menepi saat melihat Timur jatuh terduduk di tengah gerbong.
Pria berjas hitam itu semakin mendekat. Dia sedikit menunduk, tangannya terulur hendak meraih baju yang dikenakan Timur. “Ikut aku baik-baik kalau kamu mau selamat,” ujarnya penuh penekanan.
Timur menelan ludahnya kelat. Wajahnya seketika menjadi pucat. Perlahan tubuhnya bangkit ketika pria itu menariknya.
Tepat di saat itu, Kael datang. Dia menarik pundak pria berjas dengan kencang hingga berbalik dan bertepatan dengan itu sebuah pukulan mengenai wajah sang pria.
Teriakan dan kepanikan langsung terjadi di gerbong delapan ketika pria berjas itu bangun dan melawan Kael.
Pria berjas hitam itu melayangkan dua pukulan berturut-turut, tetapi dengan cepat Kael menghindar. Geram karena pukulannya selalu meleset, pria berjas itu menyerang Kael membabi buta.
Kael menghindar, lalu membalas dengan sebuah pukulan dan telak mengenai wajah pria berjas hitam itu. Kemudian Kael berpegangan pada tiang di dekatnya seraya memutar tubuhnya. Sebuah tendangan mengarah tepat ke kepala pria berjas hitam itu.
Kepala pria berjas tersebut membentur lantai gerbong dengan cukup keras. Seketika pandangannya berkunang-kunang. Tak cukup sampai di sana, Kael kembali memberikan dua pukulan ke wajah lawannya hingga tubuhnya terkulai tak berdaya.
Usai mengalahkan lawannya, Kael menarik Timur menjauh dari gerbong delapan. Keduanya menuju gerbong tujuh dan berdiri di dekat pintu. Begitu kereta tiba di stasiun, pintu gerbong otomatis terbuka. Kael menarik Timur keluar.
Keduanya segera menuju parkiran basement di stasiun. Sebuah mobil sudah disiapkan olehnya. Tak berselang lama, keduanya sudah meninggalkan parkiran basement tersebut. Kael langsung melajukan kendaraan roda empatnya menuju safe house.
***
Setelah Kael berhasil mendapatkan Timur, sekarang giliran Sergio yang akan menjemput Priya. Pesawat yang ditumpangi gadis itu mengalami keterlambatan.
Sergio melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah lewat dua puluh menit dari jadwal kedatangan, tetapi pesawat City Airline yang membawa Priya belum juga mendarat.
Sementara itu, di ketinggian 2000 meter, pesawat City Airline masih mengudara. Maskapai mengalami keterlambatan pemberangkatan karena masalah di bandara asal.
Priya yang duduk di kelas ekonomi terlihat santai. Wanita itu tengah membaca buku. Tidak terganggu dengan dua orang di sebelahnya yang sedang asyik mengobrol.
Di bagian lain, suasana kabin VIP yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Seorang anak perempuan berusia lima tahun tampak meringkuk di atas kursinya. Wajahnya pucat, dadanya naik turun dengan cepat. Setiap tarikan napasnya terdengar bunyi mengi yang jelas.
Di sampingnya, sang ayah tengah mengambil inhaler yang selalu dibawa. Dengan tangan gemetar, dia menyemprotkan inhaler ke mulut sang anak. Setelah beberapa saat, tidak ada perubahan.
Panik melihat kondisi anaknya, pria itu langsung menekan tombol pramugari. Dalam waktu singkat seorang pramugari datang tergesa.
“Ada yang bisa dibantu, Pak?”
“Anak saya terkena serangan asma. Inhalernya tidak bekerja!” jawabnya panik.
Sang pramugari melihat sekilas keadaan sang anak, wajahnya berubah serius. Dia segera mengangkat interphone kabin.
“Perhatian kepada seluruh penumpang. Apabila ada dokter atau tenaga medis di dalam pesawat, kami mohon untuk segera menuju kabin kelas VIP. Kami memiliki penumpang anak yang mengalami keadaan darurat medis. Sekali lagi, apabila ada dokter atau tenaga medis di dalam pesawat, mohon segera menuju kabin kelas VIP."
Pengumuman bergema ke seluruh kabin.
Para penumpang saling berpandangan. Suasana yang semula tenang berubah riuh oleh suara-suara bisikan.
Priya meletakkan buku yang dibacanya. Wanita itu bangun dari duduknya lalu mendekati pramugari yang ada di kabin ekonomi. “Saya seorang dokter.”
***
Priya gimana nih nasibnya?