Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Lilis yang sedang menyiapkan sarapan kemudian menoleh ke arah suaminya itu.
"Mas, bawa bekal nggak?" tanya Lilis sambil menunjukkan wadah bekal yang sudah disiapkan.
Arka mengangguk sambil memeriksa stetoskopnya. "Bawa saja, Sayang. Sepertinya hari ini jadwal Mas cukup padat di rumah sakit," jawabnya.
"Mungkin Mas nanti pulang lebih lama," lanjut Arka lagi.
"Ada jadwal operasi tambahan dan kunjungan pasien yang harus Mas selesaikan sore nanti."
Lilis memberikan senyum pengertian, menyadari tanggung jawab suaminya sebagai seorang dokter. "Oh, ya sudah kalau begitu."
"Terima kasih ya, Istriku. Ayo berangkat, biar Mas antar sampai depan gerbang sekolahmu dulu," ajak Arka sambil meraih kunci mobil.
Mereka pun keluar rumah bersama-sama. Arka mengemudikan mobil menuju ke arah sekolah TK tempat Lilis mengajar.
Sesampainya di depan gerbang TK, Arka menghentikan mobilnya. Lilis meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim.
"Hati-hati di rumah sakit ya, Mas. Semangat kerjanya," ucap Lilis menyemangati.
Arka mencium kening Lilis dengan hangat. "Kamu juga semangat ya mengajar anak-anaknya. Kalau sudah selesai, tunggu Mas atau kabari ya kalau mau pulang duluan."
"Iya, Mas. Assalamu’alaikum," pamit Lilis sambil turun dari mobil.
"Wa’alaikumussalam," sahut Arka.
Arka memperhatikan Lilis yang melambaikan tangan sebelum masuk ke lingkungan sekolah, lalu ia pun segera mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit.
Lilis baru saja meletakkan tasnya di meja guru saat Hana, rekan sejawatnya, datang menghampiri dengan wajah penuh semangat dan mata yang berbinar-binar.
"Lis, tahu ngga kepala yayasan kita ganti loh. Udah turun sama anaknya. Yang dari Amerika. Ganteng banget tahu!" seru Hana sambil sedikit berbisik.
Lilis hanya tersenyum tipis sambil merapikan beberapa buku materi untuk anak-anak TK.
"Gantengan suamiku," sahut Lilis singkat.
Hana langsung tertawa renyah sambil menyenggol bahu Lilis. "Cie, udah diakui nih suaminya. Pasti udah gol ya?" godanya.
"Istighfar, Han!" tegur Lilis sambil menahan malu. "Mending kamu nikah juga biar nggak sibuk mikirin gantengnya orang lain."
Seketika raut wajah Hana berubah sedikit redup. Ia menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi.
"Aku juga mau, Lis. Tapi kamu tahu sendiri gimana keluargaku. Aku juga harus biayain adikku," ucap Hana lirih.
Lilis terdiam, ia merasa bersalah telah melontarkan candaan itu. Sebagai seorang teman, ia tahu betul perjuangan Hana yang menjadi tulang punggung keluarga. Lilis kemudian mengusap bahu Hana dengan lembut.
"Maaf ya, Han. Aku nggak maksud begitu. Insya Allah, kalau sudah waktunya, Allah pasti kasih jalan dan jodoh yang terbaik buat kamu yang bisa mengerti keadaanmu juga," ucap Lilis tulus mencoba menghibur sahabatnya.
Lilis berjalan dengan tenang menuju kelasnya untuk memulai pelajaran pagi. Di koridor, ia tak sengaja berpapasan dengan seorang pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya di lingkungan sekolah tersebut.
Pria itu menghentikan langkahnya dan menyapa dengan ramah. "Eh Mbak. Ngajar di sini juga?"
Lilis, yang selalu menjaga pandangannya, tetap menunduk dan menjawab dengan suara yang lembut.
"Eh iya, Pak," jawab Lilis singkat tanpa menatap wajah pria tersebut.
Pria itu tersenyum lebar. "Ohhh, saya anaknya Pak Yasir. Elham, Mbak. Semoga betah ngajar di sini ya," ucapnya memperkenalkan diri sebagai anak dari kepala yayasan yang baru.
Lilis hanya mengangguk pelan sebagai tanda hormat. "Terima kasih, Pak. Saya duluan," ucap Lilis yang langsung bergegas menuju kelasnya, tidak ingin berlama-lama mengobrol dengan pria asing tersebut.
Lilis segera mempercepat langkahnya menuju ruang kelas, tidak ingin berlama-lama berhenti di koridor. Di dalam pikirannya, ia hanya ingin menjaga diri dan menghindari segala bentuk fitnah, apalagi ia baru saja memulai kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama Arka.
Tepat di depan pintu Hana sudah menunggu dengan wajah penasaran.
"Lis, tadi aku lihat kamu papasan sama Pak Elham di koridor! Ngobrolin apa? Dia beneran ganteng kan kalau dilihat dari deket?" tanya Hana dengan nada berbisik yang antusias.
"Cuma sapaan biasa, Han. Dia memperkenalkan diri sebagai anaknya Pak Yasir, itu saja," jawab Lilis dengan nada datar.
"Masa cuma gitu? Pak Elham itu jarang banget loh langsung negur guru kalau nggak tertarik," goda Hana lagi.
Lilis menatap Hana dengan serius, mencoba memberikan pengertian pada sahabatnya itu. "Han, tolong jangan dibahas lagi ya. Aku nggak mau ada fitnah atau omongan yang nggak enak di sekolah ini. Aku sudah punya Mas Arka, dan aku harus menjaga kehormatannya juga sebagai suamiku."
"Iya, Lis. Maaf ya, aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma kagum aja sama dia, nggak ada maksud lain."
"Iya, aku paham. Tapi lebih baik kita fokus sama anak-anak saja sekarang," pungkas Lilis sambil tersenyum tipis.
Malam harinya, Arka pulang ke rumah dengan wajah yang tampak begitu lelah setelah seharian menangani pasien dan jadwal operasi yang padat di rumah sakit. Lilis, yang memang sudah menunggu kepulangan suaminya, langsung bergegas menuju pintu untuk menyambutnya.
"Baru pulang, Mas?" sapa Lilis.
Arka hanya mengangguk pelan sambil menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa penat yang menggelayuti pundaknya. Lilis dengan sigap meraih tas kerja dan jas putih dokter milik Arka, lalu mencium tangan suaminya dengan takzim.
"Mas pasti capek banget ya hari ini. Langsung mandi pakai air hangat ya, Mas, biar badannya lebih enak. Aku sudah siapkan makan malam juga," ucap Lilis sambil membimbing Arka masuk ke dalam rumah.
Melihat perhatian istrinya yang begitu tulus, rasa lelah Arka seolah berkurang seketika. Ia menyempatkan diri untuk mengusap kepala Lilis sebelum melangkah menuju kamar mandi.
Setelah Arka selesai mandi dan merasa lebih segar, mereka berdua duduk bersama di meja makan untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan Lilis.
Lilis sibuk menyendokkan nasi dan lauk ke piring Arka dengan telaten. Namun, Arka memperhatikan bahwa Lilis masih mengenakan jilbabnya dengan rapi, seolah siap untuk menerima tamu kapan saja.
Arka meletakkan sendoknya sejenak dan menatap Lilis dengan lembut.
"Lis, Mas mau bicara sebentar," ucap Arka pelan.
Lilis mendongak, sedikit khawatir. "Ada apa, Mas? Masakannya kurang pas?"
Arka tersenyum kecil lalu menggeleng. "Bukan soal makanan, Sayang. Tapi soal ini," ucap Arka sambil menyentuh lembut pinggiran jilbab Lilis.
"Jika kita sedang di rumah dan cuma ada kita berdua saja, kamu nggak usah pakai cadar dan jilbabnya, boleh kan?" tanya Arka.
"Mas ingin melihat wajah istri Mas sepenuhnya. Mas ingin kamu merasa santai dan bebas di rumah kita sendiri tanpa perlu merasa terbebani. Ini area privasi kita, tempat kamu bisa menjadi dirimu yang paling nyaman."
"I-iya, Mas. Maaf, aku terbawa kebiasaan saja," jawab Lilis malu-malu sambil mulai perlahan melepas penutup kepalanya, menuruti permintaan suaminya yang ingin menikmati momen kebersamaan mereka.
Arka tersenyum puas melihat wajah cantik istrinya kini terlihat jelas di bawah temaram lampu ruang makan. "Terima kasih, Sayang. Sekarang, mari kita lanjut makan malamnya," ucap Arka.