"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Tembok Pertahanan Keysa
"Ya. Kamu melempar vas kristal itu hingga hancur berkeping-keping, dan salah satu pecahannya merobek pipiku," jawab Keysa sangat tenang. Nada suaranya datar, tanpa ada getaran tangis sedikit pun. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata suaminya yang masih membelalak ngeri.
Keysa menoleh ke arah depan. "Jalan terus menuju hotel. Batal ke rumah sakit," perintah Keysa pada sopir yang mengemudi di kursi depan.
Mobil sedan mewah itu membelah jalanan malam kota Surabaya dalam keheningan yang menyiksa. Arga bersandar kaku di jok kulit, matanya terus terpaku pada bekas luka tipis di wajah istrinya. Napas laki-laki itu masih memburu, mencoba mencerna kepingan memori brutal yang baru saja menghantam otaknya. Rasa sakit di tengkoraknya perlahan mereda, namun digantikan oleh ngilu luar biasa di rongga dadanya.
Setengah jam kemudian, mobil berhenti mulus di lobi Hotel Grand Mutiara. Keysa melangkah keluar dari mobil lebih dulu. Ia berjalan tegap dengan gaun malam sutranya seolah pertengkaran hebat dan batalnya proyek triliunan tadi sama sekali tidak pernah terjadi. Arga mengekor di belakangnya dalam diam, langkahnya terasa sangat berat. Para staf hotel menunduk hormat, namun tak ada satupun dari mereka berdua yang membalas sapaan itu.
Mereka masuk ke dalam lift khusus VIP yang meluncur mulus ke lantai atas. Pintu logam terbuka. Keysa menempelkan kartu akses dan mendorong pintu kayu ganda ruangan Presidential Suite (Kamar Presidensial) tersebut.
Keysa melangkah masuk, meletakkan tas kecilnya di atas meja kaca ruang tamu, lalu membalikkan badan menghadap suaminya. Arga baru saja menutup pintu ganda itu perlahan. Laki-laki itu masih terlihat sangat terguncang. Jas hitamnya sudah ia lepas sedari tadi di dalam mobil, menyisakan kemeja yang sedikit berantakan.
"Duduklah. Wajahmu masih sangat pucat. Mau aku ambilkan air putih atau obat pereda nyeri?" tawar Keysa, menjalankan fungsi asistennya secara mekanis. Tangannya menunjuk ke arah sofa kulit di tengah ruangan.
"Aku tidak butuh obat," tolak Arga serak. Laki-laki itu melangkah mendekat, berhenti tepat dua langkah di depan Keysa. "Aku butuh kebenaran. Ceritakan semuanya padaku, Keysa. Seberapa jauh sifat kejamku di masa lalu menghancurkanmu?"
Keysa menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Ia menatap laki-laki tinggi besar di depannya ini dengan tatapan menilai. Dulu, Arga adalah sosok tiran yang tidak pernah sudi meminta maaf apalagi mengakui kesalahan. Melihat Arga memohon kebenaran dengan wajah penuh penyesalan seperti ini terasa sangat ironis bagi Keysa.
"Kamu sungguh ingin mendengarnya?" Keysa memastikan, suaranya sedingin angin malam.
"Katakan semuanya. Jangan ada yang kau tutupi satu huruf pun," tuntut Arga, menahan gemuruh di dadanya.
"Baik." Keysa menarik napas pendek. Matanya menatap lurus tanpa berkedip. "Kamu bukan sekadar suami yang dingin, Arga. Kamu adalah monster gila kerja yang tidak punya empati. Kamu menikahiku murni karena kamu butuh tembok hidup untuk menghalau keluargamu yang terus mencampuri urusan pribadimu, terutama ibumu yang selalu memaksa menjodohkanmu dengan anak rekan bisnisnya."
Arga menelan ludah paksa. Fakta itu menampar kewarasannya.
"Selama dua tahun, kamu memperlakukanku lebih buruk dari robot," lanjut Keysa datar. "Kamu memaksaku bekerja dua puluh jam sehari menyortir kekacauan perusahaan. Saat aku jatuh sakit karena tipes dan harus dirawat dengan infus, kamu justru melempar tumpukan map laporan ke atas ranjang rumah sakitku dan menyuruhku tetap mengecek data saham. Kamu bilang, orang sakit tidak ada gunanya bagi perusahaan jika otaknya tidak ikut bekerja. Kamu sama sekali tidak punya rasa kasihan padaku."
Tangan Arga yang tergantung di sisi tubuhnya mengepal sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku... aku sungguh melakukan hal sekejam itu saat kau sedang sakit terbaring di rumah sakit?"
"Itu belum seberapa," potong Keysa tanpa ampun. "Puncaknya adalah saat kilasan memori yang baru saja kamu ingat di mobil tadi. Hari itu, jadwal rapat dewan direksi sangat kacau. Ibumu tiba-tiba menerobos masuk ke lobi kantor pusat, berteriak membuat keributan karena menolak kehadiranku sebagai istrimu. Petugas keamanan tidak berani menahannya."
Keysa melangkah maju satu tindak, mempersempit jarak mereka. "Saat ibumu berhasil masuk ke ruanganmu dan mulai memaki kita berdua, kamu meledak marah. Tapi kamu tidak melampiaskan amarahmu pada ibumu. Kamu melampiaskannya padaku. Kamu melempar vas kristal itu ke dinding. Kamu menyalahkanku karena tidak becus menjadi tameng. Pecahan kacanya merobek pipiku, darah menetes mengotori kemejaku. Dan tahukah kamu apa yang kamu lakukan saat melihat istrimu berdarah?"
Arga menggeleng pelan, napasnya seakan terhenti di tenggorokan.
"Kamu membuang muka," bisik Keysa telak. "Kamu membuang muka dan menyuruhku keluar dari ruanganmu karena kamu muak melihat wajahku yang berdarah."
Keheningan yang luar biasa mencekam langsung membekap ruang tamu mewah tersebut. Tidak ada suara apa pun selain detak jam dinding dan napas berat Arga.
Kaki Arga terasa kehilangan tulang penyangganya. Laki-laki itu mundur selangkah, menabrak pinggiran sofa kulit di belakangnya. Arga meraup wajahnya kasar dengan kedua tangan. Kengerian luar biasa menyapu habis seluruh sisa egonya. Bayangan dirinya membuang muka saat Keysa berdarah membuat perutnya mual hebat.
"Bagaimana mungkin..." Arga bergumam parau, nyaris tidak terdengar. "Bagaimana mungkin aku menjadi bajingan sekotor itu pada wanita yang selama ini melindungi punggungku?"
"Karena itu memang sifat aslimu, Arga Dirgantara. Kamu arogan, memikirkan dirimu sendiri, dan melihat semua manusia di sekitarmu hanya sebagai alat ukur keuntungan." Keysa membongkar semua fakta itu tanpa meneteskan air mata setetes pun. Matanya tetap kering dan tajam. Dua tahun hidup di neraka telah membunuh kemampuannya untuk menangis.
Arga mendongak, menatap istrinya dengan sorot mata hancur. Ia melangkah maju dengan cepat, berniat meraih kedua pundak Keysa. "Key, dengarkan aku. Pria brengsek di masa lalu itu sudah mati. Ingatan buruk itu tidak ada! Aku yang berdiri di depanmu sekarang sangat menghargaimu. Aku peduli padamu. Rasa cemburuku tadi, rasa takutku saat melihatmu ketakutan di pesawat... semua itu nyata! Tolong, biarkan aku menebus semuanya!"
Keysa menepis tangan Arga dengan sangat kasar sebelum jari-jari suaminya sempat menyentuh kain gaunnya.
"Jangan membodohi dirimu sendiri, apalagi mencoba membodohiku," desis Keysa, mundur menjauh untuk mempertahankan batas amannya.
"Aku tidak membodohimu! Perasaanku padamu sekarang ini nyata!" balas Arga setengah berteriak, frustasi melihat tembok pertahanan istrinya yang sama sekali tidak bisa diruntuhkan.
"Perasaanmu saat ini hanyalah glitch (kerusakan sistem) sesaat," bantah Keysa rasional. Otaknya menolak mempercayai secercah harapan apa pun. "Benturan keras di kepalamu saat kecelakaan itu merusak sirkuit logikamu. Pria protektif yang ada di depanku saat ini hanyalah ilusi dari otak yang rusak. Kamu kehilangan kontrol atas masa lalumu, jadi kamu melampiaskan insting kepemilikanmu padaku karena hanya aku orang yang paling sering berada di dekatmu saat kamu bangun di rumah sakit. Itu bukan cinta, Arga. Itu insting bertahan hidup orang yang kehilangan arah."
"Ini bukan ilusi! Kau pikir aku tidak bisa membedakan mana insting dan mana rasa peduli?!"
"Tentu saja kamu tidak bisa!" Keysa balas membentak. Emosinya akhirnya ikut tersulut melihat betapa keras kepalanya laki-laki ini menolak realita. "Kamu hanya sedang tersesat, Arga! Saat ini kamu merasa butuh padaku karena otakmu kosong. Kamu bersandar padaku karena kamu tidak tahu siapa musuh dan kawanmu. Tapi itu tidak akan bertahan lama."
Keysa menghela napas panjang, menetralkan ritme jantungnya yang berpacu liar. Ia kembali menyilangkan lengan di depan dada, menatap Arga dengan pandangan sangat dingin dan final. Tidak ada celah untuk negosiasi perasaan.
"Operasi kepalamu berjalan sangat sukses. Kilasan memori di mobil tadi adalah bukti bahwa ingatanmu sudah mulai kembali sedikit demi sedikit," ucap Keysa memberikan fakta medis yang tak terbantahkan.
Arga terdiam kaku. Ucapan rasional istrinya menghantam kesadarannya tanpa ampun. Tembok pertahanan yang dibangun perempuan itu sungguh terbuat dari baja murni yang dilapisi es.
"Penyembuhanmu berjalan jauh lebih cepat dari dugaan dokter. Mungkin dalam beberapa minggu, atau mungkin saja besok pagi, kamu akan bangun dan mengingat seluruh masa lalumu secara utuh," lanjut Keysa tajam.
Perempuan itu memutar tubuhnya, bersiap melangkah masuk ke dalam kamar tidur untuk mengakhiri perdebatan yang menguras mental ini. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh melewati bahunya untuk memberikan pukulan terakhir pada sisa harapan suaminya.
"Saat ingatanmu kembali seratus persen, kau akan kembali menjadi monster es itu, Arga. Dan aku memastikan diriku sudah pergi dari hidupmu saat hal itu terjadi."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..