NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 25.

Setelah drama di kamar mandi berakhir, Liora akhirnya memanggil Codet seperti biasa untuk membantu Dewangga berpakaian. Meski kini mereka sudah menikah, wanita itu masih belum terbiasa mengurus semua kebutuhan Dewangga seorang diri. Lagipula, selama setahun terakhir Codet memang orang yang paling sering membantu pria itu dalam kesehariannya.

Namun baru saja Codet masuk ke kamar sambil membawa setelan pakaian yang sudah disiapkan, Dewangga langsung memeluk lengan Liora dan menggeleng kuat-kuat.

"Nggak mau."

Codet langsung berhenti melangkah.

"Kenapa lagi, Tuan?"

"Aku maunya Liora."

Liora langsung memejamkan mata sesaat.

"Dewangga..."

"Maunya Liora."

Codet menunduk, berusaha keras menahan tawanya. Dewangga sendiri malah diam-diam menikmati ekspresi pasrah istrinya yang semakin sering muncul karena ulahnya.

Liora memandang Dewangga dengan ekspresi tak terbaca, pria itu masih memeluk lengannya erat seperti anak kecil yang takut mainannya direbut.

"Maunya Liora."

"Dewangga, pakai baju itu gampang."

"Nggak gampang."

"Kamu tinggal masukin tangan ke lubang lengan."

"Nggak bisa."

Codet langsung berbalik badan, pura-pura memperhatikan lukisan di dinding. Bahu pengawal pribadi itu bergetar pelan, jelas sedang menahan tawa.

Liora menyipitkan mata. "Codet."

"Ya, Nyonya?"

"Kalau ketawa, saya potong bonus kamu."

Seketika Codet berdiri tegak. "Maaf, Nyonya."

Dewangga justru makin menyembunyikan wajahnya di bahu Liora.

"Lihat, Codet jahat."

"Codet nggak jahat."

"Jahat."

Codet memijat pelipisnya sendiri, kadang ia lupa kalau secara usia pria yang sedang merengek itu sebenarnya lebih tua darinya.

"Ya sudah." Liora akhirnya menyerah.

Perempuan itu mengambil kemeja putih yang dibawa Codet. "Ayo sini."

Mata Dewangga langsung berbinar, dengan patuh ia berdiri tegak. Liora membuka kancing kemeja itu lalu membantu memakaikannya seperti sedang mengurus anak besar.

"Masukkan tangan."

Dewangga langsung menurut.

"Yang satunya lagi."

Ia menurut lagi.

"Nah, sekarang berdiri diam. Aku pasangkan kancingnya dulu."

"Oke." Dewangga benar-benar diam, tidak bergerak. Tidak protes, dan sangat patuh.

Codet sampai mengangkat alis, karena biasanya sang Tuan akan bergerak ke sana kemari saat dibantu berpakaian. Tapi kalau yang membantu Liora, Tuan-nya itu mendadak berubah menjadi manusia paling penurut di dunia.

Sejak awal, Dewangga diam-diam memperhatikan wajah Liora dari jarak yang sangat dekat. Bulu mata istrinya itu panjang, kulit wajahnya putih bersih. Bahkan untuk sesaat, Dewangga hampir lupa kalau Codet masih berada di dalam ruangan.

"Liora, kamu cantik."

Tangan Liora yang sedang mengancingkan kemeja Dewangga mendadak berhenti sesaat, sementara wajahnya sedikit menghangat.

Codet langsung menoleh ke arah jendela, Ia merasa tidak seharusnya berada di sana.

Liora berdehem pelan. "Kamu sudah bilang itu tadi."

"Soalnya memang cantik."

Codet menggigit bibir bagian dalam. Kalau bukan karena tahu kondisi Dewangga, ia pasti mengira Tuan-nya itu sedang menggoda istrinya.

Dan Dewangga sendiri hampir tertawa, karena kali ini ia tidak sedang berpura-pura. Ia memang sedang mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.

Tak lama kemudian kemeja itu sudah terpasang rapi. Dengan handuk yang masih melilit pinggangnya, Dewangga berdiri patuh sementara Liora mengambil celana panjang kasual berwarna hitam yang sudah disiapkan Codet.

"Angkat kaki."

Dewangga kembali menurut.

"Satunya lagi."

Codet sampai geleng-geleng kepala melihat pemandangan itu.

Namun saat tangan Liora hendak bergerak ke arah resleting celana Dewangga, ia mendadak berhenti. Seketika ingatan Liora melayang ke kejadian beberapa hari lalu, saat ia tanpa sengaja menyentuh milik Dewangga yang berukuran besar, wajahnya sontak memanas.

Untungnya, saat di kamar mandi tadi ia berada di belakang pria itu. Dan ketika Dewangga tiba-tiba berdiri, matanya hanya sempat menangkap sekilas punggung dan bokong pria tersebut sebelum buru-buru memalingkan wajah.

Namun semakin berusaha melupakan kejadian itu, justru bayangan tersebut kembali muncul di kepalanya. Membayangkan harus menyentuh bagian itu lagi membuat wajah Liora semakin merah. Perempuan itu segera menarik tangannya, lalu mundur selangkah dan menoleh ke arah Codet.

"Codet, kau saja yang bantu dia," katanya cepat sambil menunjuk ke arah celana Dewangga tanpa berani menatap pria itu.

Codet sempat terlihat bingung, tetapi beberapa detik kemudian ia mengangguk seolah mengerti. "Baik, Nyonya."

Liora segera memalingkan wajah, berusaha terlihat tenang meskipun pipinya masih terasa panas. Sementara itu, Dewangga sempat menatap istrinya beberapa saat. Awalnya ia ingin Liora yang membantunya lagi, namun melihat reaksi malu wanita itu... ia akhirnya memilih diam.

Meski suka mengerjai Liora, ia tahu ada batas yang tidak boleh dilewati.

Beberapa menit kemudian, Dewangga sudah berpakaian lengkap. Kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku dipadukan dengan celana hitam kasual membuat penampilannya terlihat santai, tetapi tetap rapi.

Liora merapikan sedikit kerah kemeja pria itu yang miring. "Nah! Sudah."

Begitu selesai, pria itu terlihat jauh berbeda. Tinggi, tampan dan sangat rapi. Aura seorang pewaris keluarga besar sebenarnya masih terlihat jelas jika diperhatikan baik-baik. Bahkan beberapa pengawal yang berjaga di luar tanpa sadar menoleh saat Dewangga keluar kamar.

Liora memperhatikan suaminya dari ujung kepala sampai kaki, kemudian mengangguk kecil. "Cocok, suamiku memang ganteng."

Pujian Liora membuat senyum Dewangga semakin lebar. Tanpa jas dan pakaian formal sekalipun, penampilan pria itu tetap mencolok. Tubuhnya yang tinggi dan proporsional membuat pakaian sederhana pun terlihat bagus saat dikenakan.

Bahkan Codet yang melihatnya diam-diam berpikir, seandainya Tuan-nya tidak berkelakuan seperti anak kecil setiap hari, mungkin banyak wanita yang akan jatuh hati hanya karena wajahnya saja.

"Sudah selesai?" tanya Keivan yang tiba-tiba muncul di depan pintu, bocah itu membawa tablet di tangannya.

"Aku belum siap-siap, tunggu tiga puluh menit lagi," kata Liora.

"Oke," jawab Keivan.

Liora lalu menunjuk Dewangga yang masih berdiri di dekatnya. "Tolong bawa dulu ayahmu, dan jangan sampai dia tahu kalau aku mau ke rumah sakit menjenguk ibuku."

Keivan melirik ayahnya sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis karena tahu persis Dewangga sebenarnya sudah kembali normal dan pasti mengerti jika Liora akan pergi ke rumah sakit.

"Oke, Mama tiri kesayanganku."

Ucapan itu langsung membuat tatapan Dewangga berubah, pria itu menoleh ke arah putranya dengan sorot mata tajam.

Keivan yang menangkap perubahan itu justru tersenyum semakin lebar, ternyata dugaannya benar jika ayahnya itu mulai memiliki perasaan pada Liora. Bahkan sampai menunjukkan rasa tidak suka ketika orang lain memanggil wanita itu dengan sebutan sayang, meski orang itu adalah putranya sendiri.

"Cih." Keivan berdecak pelan.

"Ada apa?" tanya Liora yang sedang mengambil handuk untuk mandi.

"Nggak ada apa-apa." Keivan melirik ayahnya sekali lagi sebelum menjawab santai, "Aku cuma baru sadar kalau ada orang yang gampang cemburu."

Liora mengernyit. "Cemburu? Siapa?"

"Nggak penting."

Keivan tidak berniat menjelaskan lebih jauh. Liora semakin bingung, tetapi akhirnya memilih tidak memikirkan ucapan bocah itu. Ia berbalik menuju kamar mandi lalu menutup pintunya.

Begitu suara pintu tertutup terdengar, Keivan langsung menarik lengan ayahnya.

"Ayo."

Dewangga mengikuti tanpa banyak bicara, mereka berjalan menuju kamar Keivan. Sebelum masuk, anak itu menoleh ke arah Codet dan beberapa pengawal yang berjaga.

"Jangan ikuti kami! Aku dan Ayahku mau bicara sebentar."

"Baik, Tuan Muda," jawab Codet.

Pintu kamar tertutup rapat.

Keivan melipat kedua tangannya di depan dada lalu menatap ayahnya tajam.

"Sudah! Jangan berpura-pura di depanku. Kenapa Papa masih pura-pura idiot padahal sudah sembuh?"

Setelah pertanyaan itu keluar, Dewangga langsung menghentikan semua tingkah kekanak-kanakannya. Ekspresi polos di wajahnya lenyap. Tatapannya berubah tenang dan tajam, sementara sikap tubuhnya kembali tegak seperti biasanya.

Tak ada lagi Dewangga si pria bermental lima tahun di ruangan itu, yang ada hanyalah Dewangga Salendra yang sebenarnya.

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!