Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.
Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.
Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.
Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).
Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-27 Pertemuan tiga keluarga
Beberapa hari kemudian…
Rumah Edward tampak begitu ramai oleh tamu-tamu dari keluarga Mr. Darwin dan Mr. Arthur. Tapi yang berkumpul di dalam rumah hanya orangtua-orangtua saja. Sedangkan para anak-anak mereka menunggu diteras.
Keempat muda mudi itu tidak ada yang bicara, seakan menunggu vonis yang akan mereka terima dari rembukan orangtua di dalam.
Jonathan yang terlihat serba salah menghadapi Agatha dan Amanda, karena siapapun yang dia pilih akan ada yang tersakiti.
“Mr.Edward, aku benar-benar minta maaf atas kelancangan Vincent melamar Agatha, aku benar-benar merasa malu,” ucap Mr. Arthur.
“Aku juga minta maaf atas kesalahfahaman Jonathan dengan Agatha sampai-sampai Agatha meminta dibatalkan pernikahannya dengan Jonathan,” kata Mr. Darwin.
Edward manggut-manggut mendengarkan permintaan maaf dari teman-temannya juga rekan bisnisnya itu.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Kami sudah menyiapkan acara pernikahan Jonathan dan Agatha, keluarga besar juga sudah tahu,” ucap Mr. Darwin. Suasana hening mendengarkan perkataan Mr. Darwin.
“Aku tidak mau kalau sampai pernikahan ini batal, aku akan malu,” keluh Mr. Darwin.
“Aku juga sama, aku tidak mau dicemooh rekan –rekan bisnisku karena gagalnya pernikahan ini,” kata Mr. Arthur.
“Jadi kita akan melanjutkan pernikahan ini?” tanya Edward, mulai bicara.
“Aku harap begitu,” jawab Mr.Darwin.
“Aku juga ingin tetap melanjutkan pernikahan ini,” jawab Mr.Arthur yang diangguki oleh istri-istri mereka.
“Baiklah kalau begitu kita panggil anak-anak untuk masuk, kita dengar pendapat mereka,” ucap Edward. Diapun melirik pada Elsa, yang sudah mengerti langsung bangun dari duduknya menuju ke teras menemui putri-putrinya dan kedua calon menantunya.
“Kalian masuklah,” ucapnya, keempat muda mudi itu menolah kearah Elsa, lalu mereka mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Vincent dan Jonathan duduk dekat orangtua masing-masing. Si kembar duduk dekat Edward dan Elsa. Tapi mereka tidak duduk berdampingan. Agatha duduk dekat Elsa sedangkan Amanda duduk dekat ayahnya, Edward.
“Anak-anak, sebelumnya aku ingin tahu apa yang sebenarnya yang terjadi diantara kalian, silahkan siapa yang mau bicara lebih dulu,” kata Edward, menatap Vincent dan Jonathan.
“Aku akan bicara lebih dulu,” kata Vincent.
“Baiklah, silahkan,” ucap Edward.
“Sebelumnya aku minta maaf Mr. Edward, Mr. Arthur juga pada Daddyku. Aku telah melakukan kecerobohan. Sesuai yang sudah aku jelaskan pada Mr. Edward juga pada Daddyku, bahwa aku salah mengira calon istriku, aku tidak tahu kalau Amanda punya saudara kembar, aku mengira Agatha adalah Amanda, dan aku sudah terlanjur menyukainya, jadi aku ingin menikah dengan Agatha bukan Amanda,” ucap Vincent yang duluan bicara.
Ibunya melirik pada anaknya, dia takut putranya itu mengatakan sesuatu yang akan membuat serangan jantung pada suaminya. Sifat Vincent yang blak-blakan kadang seperti tidak memikirkan perasaan orang lain.
Edward menoleh pada Jonathan.
“Kau bicaralah, nak,” ucapnya.
“Aku juga minta maaf Mr. Edward, aku sudah melakukan kesalahan mengira Amanda adalah Agatha calon istriku dan sebenarnya aku sudah menyukai Amanda,” kata Jonathan.
Kemudian Jonathan menoleh pada Elsa.
“Mrs, aku minta maaf kemarin aku tidak jujur padamu tentang perasasanku, banyak yang aku pertimbangkan, karena akupun harus memikirkan keluargaku,”kata Jonathan.
“Ya aku mengerti,” ucap Elsa sambil mengangguk.
Mendengar pengakuan Jonathan, Amanda langsung menatap pria itu yang juga menatapnya. Sebenarnya ada rasa senang dihatinya ternyata Jonathan sebenarnya menyukainya. Tapi dia kemudian menunduk, saat melirik Agatha yang terdiam seribu bahasa.
Hati Agatha sakit dan kecewa mendengar kejujuran dari Jonathan sekarang. Apa yang dia curigai ternyata benar, Jonathan menyukai saudara kembarnya, Amanda.
Edward menoleh pada Mr. Darwin dan Mr Arthur.
“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?”tanya Edward.
“Kalau aku sebenarnya, siapapun putri yang akan menikah dengan putraku, tidak masalah, hanya saja jangan sampai pernikahan ini batal,” jawab Mr. Darwin.
“Aku juga sama Mr. Edward, yang penting pernikahan ini tetap berlangsung,” ucap Mr. Arthur.
Edward menoleh pada kedua putrinya.
“Sayang, apa ada yang ingin kalian sampaikan?” tanya Edward.
Agatha dan Amanda tidak ada yang menjawab. Keduanya merasa serba salah.
Edward menoleh pada Amanda.
“Sayang, apa kau mau menikah dengan Jonathan?” tanya Edward.
Amanda bingung kalau dia mengakui menyukai Jonathan dia merasa tidak enak pada Agatha.
“Kau harus menjawabnya supaya masalah ini selesai,” ucap Edward.
Amanda diam sejenak lalu diapun mengangguk. Jonathan merasa lega Amanda mau menikah dengannya. Tinggal jawaban dari Agatha.
Edward menoleh pada Agatha.
“Sayang, apa kau mau menikah dengan Vincent?” tanya Edward.
Agatha diam. Menikah dengan Vincent? Yang benar saja, masa dia harus menikah dengan pria playboy begitu? Dia juga suka memaksakan kehendaknya pada orang lain, dia tidak menyukai sifatnya Vincent, meskipun dari penampilan dia sangat tampan,tapi sifatnya itu akan membuatnya pusing jika menjadi istrinya.
Vincent menatap gadis yang dicintainya itu. Dia berharap Agatha menerima lamarannya. Dia hanya ingin menikah dengan Agatha.
Tiba-tiba Vincent bicara.
“Agatha, maukah kau menikah denganku? Aku berjanji aku akan berubah, aku akan berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab untukmu,” ucap Vincent, dalam hatinya dia sadar Agatha tidak menyukainya dan dia tidak mau Agatha sampai menolaknya lagi.
Vincent menatap Agatha yang menunduk. Semua orang gelisah menunggu jawaban dari Agatha.
“Sayang kau harus menjawabnya,” ucap Elsa.
Agatha mengangkat kepalanya, menatap Vincent sebentar lalu menoleh pada Elsa.
“Baiklah Mommy aku setuju,” jawab Agatha.
Hati Agatha sangat hancur saat mengatakannya. Segala harapannya impiannya hilang musnah dimalam ini. Keinginannya bertemu dengan sosok Jonathan ternyata bukan membawa kebahagiaan malah kekecewaan dan patah hati yang dia rasakan. Tapi apakah dia ada pilihan lain? Dia juga tidak bisa berkeras hati ingin menikah dengan Jonathan karena pria itu tidak mencintainya. Mungkin sudah tadir dirinya harus patah hati, menyukai pria yang menyukai saudara kembarnya.
Mendengar jawaban dari Agatha, Vincent merasa senang, dia berjanji dalam hati akan berusaha membuat Agatha menyukainya. Dan dia yakin seiring waktu berjalan, Agatha akan bisa menerimanya menjadi suaminya.
Edward menoleh pada Mr.Darwin dan Mr. Arthur.
“Baiklah Mr. Darwin dan Mr. Arthur, kalian sudah mendengar jawaban dari putriku. Dan mereka setuju untuk bertukar pasangan jadi pernikahan tetap akan dilanjutkan hanya dengan calon pengantin yang berbeda,” kata Edward.
“Biklah Mr. Edward, saya setuju menikahkan Jonathan dengan Amanda,” ucap Mr Darwin.
“Saya juga setuju menikahkan Vincent dengan Agatha,” kata Mr. Arthur.
Merekapun memperbincangkan rencana pernikahan selanjutnya.
Jonathan menoleh pada Amanda, dia tersenyum pada gadis itu. Wajah Amanda langsung merah, dia merasa malu tenyata Jonathan menyukainya dan dia tidak menyangka akhirny akan menikah dengannya, dia merasa bahagia.
Begitu juga dengan Vincent yang merasa bahagia akhirnya dia akan menikah dengan Agatha. Tapi tidak dengan Agatha. Mungkin dia satu-satunya yang bersedih di ruangan ini. Hari-hari bahagianya mempersiapkan pernikahan dengan Jonathan harus kandas ditengah jalan. Dia malah harus menikah dengan pria yang tidak dicintainya, Vincent.
Elsa menoleh pada Agatha, dia merasa sedih salah satu putrinya tidak bahagia. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, Jonathan berhak menentukan wanita yang disukainya.
**************
Keesokan harinya…
Elsa keheranan melihat Agatha turun dari tangga membawa kopernya.
“Sayang, kau mau kemana?” tanya Elsa pada putrinya.
“Aku mau pulang ke perkebunan, Mommy, aku akan tinggal disana,” ucap Agatha.
“Tapi sayang, kau kan harus mempersiapkan pesta pernikahanmu dengan Vincent,” ucap Elsa lagi.
“Aku serahkan semuanya pada keluarga Vincent, aku tidak mau ikut campur apapun,” jawab Agatha, sambil berjalan melewati ruangan tengah dengan membawa kopernya.
“Nak, jangan begini, Mommy tidak setuju kau tinggal diperkebunan sendirian,” ucap Elsa, menghalangi jalannya Agatha.
“Tidak ada pilihan lain Mommy, aku lebih baik tinggal disana,” kata Agatha.
“Sayang! Sayang! Edward!” teriak Elsa, dia merasa panik, berteriak-teriak memanggil suaminya yang ada diruang kerja.
Mendengar istrinya berteriak- teriak, Edward segera keluar dari ruang kerjanya.
“Ada apa?” tanya Edward menatap ke bawah. Dilihatnya Agatha membawa kopernya. Diapun buru-buru turun.
“Sayang, kau mau kemana dengan membawa koper itu?” tanya Edward, menatap Agatha.
“Aku akan pulang, aku akan tinggal diperkebunan,” jawab Agatha.
Elsa menatap Edward dia merasa bingung.
“Sayang, kau kan harus mempersiapkan pernikahanmu. Pernikahanmu sebentar lagi, kau lahir duluan dari Amanda, jadi kau akan menikah lebih dulu dengan Vincent,” ucap Edward.
“Aku akan ke London kalau sudah mendekati hari H,” jawab Agatha.
“Tidak sayang, Mommy tidak mengijinkan kau ke perkebunan,” kata Elsa.
“Maaf Mommy aku tidak bisa tinggal disini lagi,” ucap Agatha.
“Sayang jangan seperti ini,” kata Elsa, matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menyentuh bahunya Agatha.
Amanda yang sedang ada di kamarnya mendengar ada percakapan diruang tengah, diapun melongokkan kepalanya melihat ke bawah. Dia terkejut melihat Agatha dengan kopernya. Amanda buru-buru turun menghampiri mereka.
“Kau mau kemana?” tanya Amanda pada Agatha yang diam saja tidak menjawab.
Amanda menoleh pada orangtuanya, kemudian menatap Agatha lagi.
“Kau akan pergi?” tanya Amanda. Hatinya menjadi sedih dan merasa bersalah pada Agatha.
“Agatha akan tinggal diperkebunan,” jawab Elsa.
Agatha yang tidak mau melihat kea rah Amanda, rasanya begitu sakit dia sangat menyayangi saudara kembarnya itu tapi sekarang saudara kembarnya itu serasa telah merebut kebahagiaannya, karena walau bagaimanapun yang dijodohkan dengan Jonathan sejak bayi adalah dirinya.
“Kau pergi karena gara-gara aku?” tanya Amanda menatap Agatha.
“Tidak, aku hanya ingin sendiri saja,” jawab Agatha, dia kembali melangkah membawa kopernya menuju pintu keluar. Elsa dan Edward segera mengejarnya.
“Sayang, kau tidak boleh pergi,” larang Elsa sambil mengikuti Agatha keluar rumah.
“Tidak apa Mommy, aku hanya ingin menenangkan diri saja sebentar,” kata Agatha.
Dia terus berjalan menuju mobil yang sudah siap berangkat, supir sudah ada didalamnya. Kepala pelayan membantu memasukkan kopernya Agatha.
Agatha menatap ibunya.
“Mommy, aku pergi dulu,” ucap Agatha, sambil memeluk Elsa dan mencium pipinya. Elsa balas memeluk putrinya dengan mata yang mulai memerah.
“Jangan menangis Mommy, aku baik-baik saja,” ucap Agatha sambil menghapus airmata yang menetes dipipi ibunya.
Kini Agatha menoleh pada Edward yang diam memantung, menatapnya dengan sedih.
“Daddy aku pulang dulu,” ucap Agatha, lalu memeluk ayahnya. Edward balas memeluknya.
“Hati-hati dijalan, kabari segera jika kau sudah sampai,” kata Edward.
“Iya Daddy,” jawab Agatha.
Sekilas Agatha melihat Amanda berdiri dijendela menatapnya dengan sedih. Tapi dia tidak bereaksi apa-apa, Agatha langsung masuk ke dalam mobil itu. Tidak berapa lama mobil itu melaju menuju gerbang. Elsa melambaikan tangannya, airmata kembali menetes dipipinya.
Edward memeluk bahu istrinya mengajaknya masuk ke rumah. Mereka melihat Amanda yang masih berdiri dekat jendela sambil menagis.
“Sayang, kau kenapa?” tanya Edward, menghampiri putrinya.
“Daddy aku merasa bersalah, aku sudah menyakiti Agatha,” jawab Amanda.
“Sudahlah sayang, Agatha hanya butuh sendiri, nanti juga semua akan normal kembali, semua akan baik-baik saja, percayalah,” hibur Edward.
Elsa menghampiri Amanda, dan mengusap rambutnya.
“Kau juga berhak bahagia,” ucapnya.
“Tapi kebahagiaanku ini menyakiti Agatha,” ucap Amanda.
“Tidak sayang, Agatha juga akan bahagia,” kata Elsa lagi.
“Benar, kau jangan menyalahkan dirimu sendiri,” sahut Edward.
Elsa menatap putrinya dan mengangguk tanda setuju dengan perkataan suaminya.
****************
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤