NovelToon NovelToon
AEXDREAM HIGH SCHOOL

AEXDREAM HIGH SCHOOL

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.

Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Setelah pengakuan diam-diam di ruang OSIS itu, sikap Yeri makin berubah. Dia nggak lagi menyembunyikan perasaannya sepenuhnya. Dia makin berani, makin gencar, dan makin pintar memutarbalikkan keadaan. Dia sadar Mark menghargai perasaannya tapi belum mau menerima, jadi dia pakai rasa kasihan, rasa tanggung jawab, dan rasa nyaman yang udah terbangun buat perlahan masuk lebih dalam ke hati Mark.

Yeri memanfaatkan momen di mana Mark dan Gisel mulai sibuk banget. Persiapan ujian masuk kuliah makin padat, rapat OSIS masih sering ada, dan waktu buat berdua jadi makin sedikit. Yeri dengan cerdik mengisi kekosongan itu. Dia selalu ada saat Mark butuh bantuan pelajaran, selalu ada saat Mark butuh teman ngobrol capek, selalu ada dengan senyum ceria dan perhatian yang berlebihan—semuanya dia lakukan di saat Gisel nggak ada, atau dia sengaja atur jadwal supaya berdua aja.

"Kak Mark... capek banget ya hari ini? Ayo istirahat dulu sebentar, gue udah siapin minum sama makanan kesukaan Kakak lho. Kak Gisel kan lagi ada les tambahan, pasti Kakak kelaparan nih sendirian," kata Yeri sambil duduk di sebelah Mark di kantin, menaruh makanan di depannya dengan senyum manis dan akrab banget, seolah dia lah pacarnya.

Mark, yang terlalu lelah dan terlalu baik hati, cuma menerimanya dengan terima kasih. "Wih makasih banyak ya Yer. Iya nih, Gisel lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Kita sama-sama sibuk sih."

Yeri langsung menangkap celah itu. Dia menunduk sedih, suaranya lembut dan menyayat hati. "Iya ya... Kak Gisel emang sibuk banget. Pasti Kakak sering kesepian ya? Pasti sering ngerasa nggak diperhatiin ya? Padahal Kakak kan butuhnya ditemenin, butuhnya diperhatiin. Kalau Kak Gisel nggak sempat, gue ada kok Kak. Gue bakal selalu sempat buat Kakak, apa pun keadaannya."

Kata-kata itu tajam banget, ditusukkan pelan-pelan ke hati Mark, menanamkan benih-benih keraguan soal hubungan dia sama Gisel. Yeri pintar banget, dia nggak pernah jelek-jelekin Gisel secara terang-terangan, tapi dia selalu membandingkan dirinya sendiri sebagai sosok yang 'selalu ada', 'selalu ngerti', dan 'selalu perhatian', sementara Gisel digambarkan sebagai sosok yang 'terlalu sibuk' dan 'jarang ada'.

Berita dan gosip mulai beredar luas di sekolah. Banyak yang mulai bilang kalau Mark dan Yeri lebih cocok, kalau Yeri lebih baik buat Mark, kalau hubungan Mark dan Gisel mulai retak karena jarak dan kesibukan. Semua itu didengar jelas oleh Gisel. Hatinya makin sakit, makin cemas, dan makin takut kehilangan.

Suatu hari, Gisel datang ke ruang OSIS buat ambil berkas yang ketinggalan. Dia masuk, dan pemandangan di depan matanya bikin darahnya serasa berhenti mengalir. Yeri berdiri sangat dekat di depan Mark, wajahnya sedih dan berkaca-kaca, sementara Mark terlihat canggung tapi tetap diam membiarkan jarak dekat itu.

"Kak Mark... kenapa sih Kakak nggak mau kasih gue kesempatan dikit aja? Gue tau gue bukan siapa-siapa dibanding Kak Gisel. Tapi gue sayang banget sama Kakak, gue rela ngelakuin apa aja demi Kakak.

"Yeri... cukup. Gue udah tau semuanya dari dulu. Gue tau lo suka sama Mark, gue tau lo deketin dia diam-diam, gue tau lo manfaatin kesempatan pas gue sibuk, dan gue tau semua kata-kata manis yang lo bisikin ke dia buat ngeracuni pikiran dia," suara Gisel bergetar tapi tegas banget. "Gue selama ini diam karena gue hargai lo sebagai adik kelas, sebagai teman kerja, dan gue percaya lo punya batasan. Tapi ternyata gue salah. Lo nggak cuma mau deket, lo mau ngerusak apa yang udah kita bangun bertahun-tahun cuma demi keinginan lo sendiri."

Yeri mengangkat wajah, air mata menetes deras, tapi di balik tangis itu ada kilatan kebencian dan kegigihan yang menakutkan. Dia sama sekali nggak merasa bersalah, malah merasa dirinyalah yang paling menderita.

"Kenapa sih Kak Gisel yang marah-marah?! Gue cuma sayang sama Kak Mark! Gue nggak pernah minta apa-apa selain dilihat! Kakak punya segalanya, punya waktu, punya kasih sayang, punya tempat di hati dia... sementara gue cuma bisa ngeliat dari jauh! Apa salahnya gue berjuang? Apa salahnya gue pengen bikin Kak Mark lebih bahagia? Kakak sibuk terus, Kakak jarang ada, Kakak nggak ngerti dia kayak gue ngerti dia!" bentak Yeri, suaranya meninggi, hilang sudah sifat sopan santunnya.

Mark yang sejak tadi diam kaku, akhirnya bergerak maju, berdiri di samping Gisel, memegang lengan ceweknya erat buat menenangkan sekaligus menegaskan posisinya.

"Yer, udah cukup! Lo salah besar kalau ngomong gitu. Gisel emang kadang sibuk, Gisel emang kadang nggak ada... tapi dia selalu ada pas gue jatuh, pas gue susah, pas gue lagi nggak punya siapa-siapa. Cinta itu bukan cuma soal ada di sebelah pas seneng aja. Cinta itu soal setia, soal percaya, soal saling nunggu. Gue udah berkali-kali bilang sama lo, tempat lo cuma adik gue, teman kerja gue. Nggak bakal lebih dari itu. Gue pikir lo ngerti, ternyata lo malah makin keterlaluan."

Wajah Yeri berubah merah padam karena marah dan sakit hati. Dia menatap mereka berdua bergantian, lalu menatap Mark dengan pandangan yang tajam dan penuh tekad gelap.

"Oke... kalau gitu. Kalau Kakak tetep kekeuh sama dia, kalau Kakak nggak mau ngasih gue kesempatan baik-baik... maaf ya Kak. Gue bakal ambil apa yang jadi hak gue pake cara gue sendiri. Gue rela ngelakuin apa aja asal bisa dapetin Kak Mark. Apa aja!" ancam Yeri dengan nada dingin, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat dan penuh amarah, meninggalkan Mark dan Gisel yang saling pandang cemas.

Gisel menghela napas panjang, dadanya naik turun menahan emosi. "Mark... gue ngerasa dia nggak main-main sama omongannya. Tatapannya tadi... seram banget. Gue takut dia bakal ngelakuin hal nekat, hal yang bisa nyakitin salah satu dari kita."

Mark mengusap bahu Gisel lembut, wajahnya penuh kekhawatiran. "Gue tau, Sayang. Gue juga ngerasa gitu. Mulai sekarang, ke mana pun gue pergi, gue bakal sama lo atau sama teman-teman yang lain. Gue nggak bakal kasih dia celah sedikit pun. Gue bakal pastiin dia nggak bisa ganggu kita lagi."

Tapi mereka terlambat menyadari seberapa jauh Yeri berani melangkah. Hati perempuan itu sudah tertutup rasa cinta yang berubah jadi obsesi buta. Dia merasa dia berhak memiliki Mark, dan kalau tidak didapatkan dengan cara baik, dia akan menggunakan cara apa pun, sekalipun itu cara kotor dan berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!