Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG KEHIDUPAN BARU
Aroma kayu cendana yang mahal dan menenangkan adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Kayla yang mati rasa. Rasa dingin yang membekukan tulang perlahan terusir oleh hawa hangat yang keluar dari sistem pendingin kabin mobil.
Di luar, suara hantaman hujan deras terdengar meredam, terhalang oleh kaca kedap suara kendaraan mewah yang tengah melaju membelah malam.
Kayla membuka matanya sedikit. Pandangannya kabur, bergoyang, dan buram. Kesadarannya timbul tenggelam di ambang batas melepas nyawa.
Namun, rasa sakit luar biasa di perut bawahnya langsung menarik paksa kesadaran itu kembali. Rahimnya terasa seperti diremas dengan kejam, memicu rasa ngilu yang luar biasa tajam hingga membuat Kayla mengerang lirih.
"Anak... anakku..." bisik Kayla parau.
Dalam kondisi setengah buta oleh rasa sakit dan ketakutan kehilangan bayinya, jemari tangan Kayla yang dingin dan pucat bergerak reflex mencari pegangan. Tangannya meraba ke samping, lalu mencengkeram erat sebentuk kain wol tebal yang terasa sangat mewah.
Itu adalah ujung jas wol ratusan juta milik pria yang duduk di sampingnya.
Devan Xavier, pria yang dikenal di dunia bisnis sebagai sosok perfeksionis yang sedingin es dan sangat benci disentuh orang lain, tetap bergeming.
Melihat daster batik pudar Kayla yang basah kuyup karena air hujan, bercampur dengan rembesan air ketuban dan bercak darah tipis yang kini mengotori celana bahan serta jas mahalnya, Devan sama sekali tidak menunjukkan rasa jijik. Tidak ada gerakan menepis.
Devan duduk tegak dengan aura dominan yang mengintimidasi. Tatapan matanya lurus menembus kaca depan yang disapu wiper.
"Ngebut. Ke Rumah Sakit Arka Medika. Sekarang," perintah Devan. Suara beratnya rendah, datar, namun sarat akan tekanan absolut yang tidak menerima bantahan.
Saat mobil Rolls-Royce itu melesat memotong jalanan dengan kecepatan tinggi, guncangan hebat hampir membuat tubuh lemah Kayla merosot. Namun, sebuah lengan yang kokoh dan hangat dengan cepat menahan bahu Kayla, menjaganya agar tetap stabil di atas jok kulit yang empuk.
Kayla yang berada di dalam reflex mempererat genggamannya pada jas Devan, menyembunyikan wajah pucatnya di sana sambil terus terisak pelan menahan kram. Dan sepanjang perjalanan yang menegangkan itu, Devan tidak sekalipun melepaskan tangan Kayla.
Ckiiiiit!
Mobil sport mewah itu berhenti darurat tepat di depan lobi IGD VIP Rumah Sakit Arka Medika. Karena status Devan sebagai konglomerat nomor satu, seluruh tim medis terbaik sudah bersiap siaga di luar, lengkap dengan brankar dorong dan peralatan darurat.
Suasana seketika berubah menjadi keos, cepat, dan intens.
Pintu mobil dibuka tergesa-gesa dari luar. Suara derit roda brankar yang bergesekan dengan lantai terdengar nyaring, bersahutan dengan deru angin malam. Lampu neon putih rumah sakit yang terang benderang langsung menyorot wajah pucat Kayla saat tubuh lemasnya diangkat.
Devan sendiri yang menurunkan Kayla dari kabin mobil, membaringkannya dengan hati-hati di atas ranjang dorong tersebut. Seluruh kaus dan jas Devan kini sudah ternoda sepenuhnya oleh sisa air ketuban, namun pria itu tidak peduli.
Seorang staf administrasi dengan seragam rumah sakit mencoba mendekat, membawa papan klip dengan cemas. "Maaf, Bapak Devan... untuk data pasien dan jaminan—"
"Urus semua administrasinya pakai namaku," potong Devan dingin, tatapannya yang tajam mengunci pergerakan sang staf hingga membuat orang itu langsung mengangguk patuh dan mundur tanpa suara.
Brankar Kayla didorong cepat memotong koridor, menembus pintu ganda ruang tindakan darurat. Di sana, mereka langsung diintersep oleh seorang pria muda dengan jubah putih dokter.
Pria itu adalah dr. Raditya Arka, Sp.OG. Dokter spesialis kandungan muda yang memancarkan aura hangat dan teramat tenang.
Saat Raditya mendekat, aroma mint dan eukaliptus yang menenangkan langsung mengusir bau amis di sekitar Kayla. Gerakannya sangat profesional namun teramat lembut saat memeriksa denyut nadi dan memeriksa kondisi perut Kayla.
Namun, ekspresi teduh di wajah Raditya seketika berubah serius saat melihat daster Kayla yang sudah basah oleh air ketuban keruh bercampur bercak darah segar. "Tekanan darahnya turun drastis. Pembukaannya sudah lengkap, tapi posisi janin tidak menguntungkan akibat syok trauma fisik."
Sebelum brankar Kayla didorong masuk lebih dalam ke ruang operasi, Devan menahan lengan Raditya sebentar. Hubungan erat di antara keduanya sebagai sesama lingkaran elit terlihat dari cara mereka berkomunikasi lewat tatapan mata.
"Selamatkan wanita ini dan bayinya, Radit. Jangan sampai ada kesalahan," ucap Devan dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman terselubung.
Raditya mengangguk tegas. "Aku akan lakukan bagianku, Devan."
Di dalam ruang tindakan yang dingin, Kayla berada di ambang pingsan. Ketakutan yang luar biasa besar mencengkeram jiwanya. Dia menangis lemah, meremas sisi ranjang dengan sisa tenaga yang hampir habis.
"Anakku... tolong selamatkan anakku, Dokter... jangan biarkan dia mati..." rintih Kayla, suaranya putus-putus di balik tangisnya yang memilukan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hidup dalam siksaan verbal, ada seseorang yang memperlakukannya dengan sangat lembut.
Raditya berjalan mendekati sisi kepala Kayla. Tangan dokter itu yang hangat menggenggam jemari Kayla yang gemetar, memberikan sebuah pegangan kokoh yang sangat menenangkan. Dia memasangkan masker oksigen di wajah Kayla dengan gerakan yang amat hati-hati.
"Ibu dengar suara saya? Tarik napas pelan-pelan melalui hidung," ucap Raditya. Suaranya terdengar begitu lembut, seperti sebuah jangkar di tengah badai yang sedang mengadang Kayla.
"Saya janji akan lakukan apa pun untuk menjaga bayi Ibu tetap aman. Percaya sama saya, ya? Ibu sudah aman di sini."
Air mata Kayla mengalir semakin deras menembus masker oksigennya. Selama berbulan-bulan di mansion Wijaya, dia selalu dianggap sebagai parasit, istri gagal, dan beban yang memalukan. Namun malam ini, seorang dokter asing justru memperlakukannya seperti manusia yang sangat berharga, berjanji untuk melindungi darah dagingnya.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah mencekam.
Saat tubuh Kayla mulai dipindahkan menuju meja operasi untuk tindakan sesar darurat, mesin pemantau jantung janin (cardiotocography) yang terpasang di perut Kayla tiba-tiba mengeluarkan bunyi peringatan yang sangat cepat.
Bip-bip-bip-bip-bip!
Suara tempo monitor itu naik drastis, tidak stabil, sebelum akhirnya grafiknya menurun secara ekstrem di layar digital. Seorang perawat senior langsung memekik panik, "Dokter! Detak jantung janin melambat drastis! Angkanya turun di bawah batas aman!"
Ekspresi hangat di wajah dr. Raditya lenyap seketika, digantikan oleh gurat ketegangan darurat medis yang teramat pekat. Dia berbalik cepat, memberikan instruksi dengan suara keras dan tegas kepada tim bedah di sekelilingnya.
"Detak jantung janin turun drastis! Gawat janin di dalam rahim! Kita tidak punya waktu lagi, siapkan pembiusan total sekarang juga!"
Kelebatan lampu ruang operasi dan wajah panik para perawat menjadi pemandangan terakhir yang Kayla tangkap, sebelum akhirnya gas bius dingin memaksa seluruh pandangannya berubah menjadi hitam sempurna tepat saat pisau bedah pertama siap diturunkan.