Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: KOPI PAGI DAN "SIHIR" SANG SEKRETARIS
Bagi seorang Bimantara, senyuman Anaya adalah sebuah indikator cuaca kantor hari itu.
Selama lima tahun bekerja bersama, Anaya memiliki beberapa jenis senyum spesifik. Ada senyum "Saya profesional walaupun Anda menyebalkan" ada tarikan tepat dua sentimeter di kedua sudut bibirnya. Ada senyum "Rapat direksi ditunda" senyum tarikan dua sentimeter ditambah dengan matanya yang berbinar lega. Dan yang paling berbahaya: senyum "Sihir Sekretaris".
Jenis senyum terakhir adalah senyum super manis, luar biasa ramah, dan memancarkan aura kebaikan malaikat yang... tentu saja 'palsu;—jenis senyum yang biasanya Anaya gunakan untuk keadaan 'darurat' seperti saat keadaan setelah dia tidak sengaja merusak formula file Excel laporan keuangan kuartal atau tidak sengaja menghapus surel penting dari investor asing.
Hari ini, Anaya memamerkan senyum "Sihir Sekretaris" itu dalam versi paling premium. Gigi-giginya yang rapi terlihat, dan matanya menyipit membentuk bulan sabit yang sangat manis.
Bima yang baru saja hendak menyesap kopinya langsung menghentikan gerakan tangannya di udara. Insting bisnisnya yang genius mendadak mendeteksi adanya sinyal bahaya tingkat tinggi. Pria itu meletakkan kembali cangkir porselennya ke tatakan dengan bunyi ting pelan.
"Anaya," Bima memanggil, suaranya berat dan penuh selidik. Dia melepas kacamata bacanya, lalu memijat pangkal hidungnya yang mancung. "Katakan sejujurnya. Server data kita jebol? Atau kamu baru saja menumpahkan cairan pembersih lantai ke atas maket proyek properti di lobi?"
Anaya mempertahankan senyum manisnya, meski dalam hati dia sedang mengabsen seluruh isi kebun binatang Ragunan untuk dihadiahkan kepada bosnya ini. Dasar pria paranoid narsis, umpat Anaya dalam hati.
"Tidak ada server yang jebol, Pak Bima. Semuanya aman terkendali di bawah pengawasan saya yang kompeten," jawab Anaya, suaranya dibuat selembut sutra. Dengan gerakan anggun yang sudah terlatih, dia menarik amplop putih berbahan concorde itu dari bawah tatakan kopi, lalu meletakkannya tepat di tengah meja kerja marmer Bima, tepat di samping laptop tiga monitornya. "Silakan dibaca, pak."
Bima tidak langsung menyentuh amplop itu. Dia justru bersandar malas pada kursi kulit kebesaran miliknya, menautkan jemari tangannya di depan dada, dan menatap Anaya dengan pandangan menilai yang sangat intens.
Karena jarak mereka yang cukup dekat, dan Anaya sedang menahan napas akibat gugup setengah mati menantikan reaksi sang bos, dada Anaya bergerak naik-turun dengan cepat di balik kemeja kerja satinnya. Potongan kemeja itu sebenarnya sangat sopan, tetapi karena gerakan napas Anaya yang memburu, kain satin itu mengetat di bagian dada, mencetak siluet tubuhnya yang mendadak terlihat... sangat jelas.
Mata elang Bima tanpa sengaja turun, menatap pergerakan dada sekretarisnya selama dua detik penuh, sebelum dia berdeham kecil dan melarikan pandangannya kembali ke wajah Anaya. Ada kilatan aneh yang melintas di bola mata hitam Bima, sebuah letupan asing yang belum pernah dia rasakan selama lima tahun ini. Selama ini, dia selalu menganggap Anaya seperti adik perempuan yang cerewet dan bisa diandalkan. Tapi pagi ini, entah karena efek gerimis atau pencahayaan lampu ruangan yang agak temaram, Bima mendadak menyadari bahwa sekretarisnya ini memiliki leher jenjang yang sangat halus dan... bentuk tubuh yang cukup mengalihkan fokus.
Bima berdeham lagi, kali ini lebih keras untuk mengusir pikiran aneh yang mendadak menyusup ke otak geniusnya. Pria itu mendengus, kembali memasang wajah arogan andalannya.
"Surat pengunduran diri?" Bima terkekeh rendah, suara tawanya terdengar mengejek. Dia mengambil amplop itu dengan dua jari, mengangkatnya sebentar seolah itu adalah kertas sampah, lalu melemparkannya kembali ke atas meja. "Anaya, Anaya. Kamu sudah kerja lima tahun sama saya, tapi kreativitas kamu dalam bernegosiasi ternyata tidak berkembang sama sekali."
Anaya mengerutkan kening. Senyum manisnya mulai retak di sudut-sudut bibir. "Maksud Anda, Pak?"
Bima memajukan tubuhnya, menumpukan kedua sikunya di atas meja marmer, menatap Anaya dengan senyum meremehkan yang sangat menyebalkan. "Kamu sedang memakai trik klasik karyawan korporat untuk meminta kenaikan gaji, kan? Mengancam akan resign di saat perusahaan sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan Initial Public Offering (IPO) bulan depan."
Anaya terperangah. Mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya dengan tingkat kenarsisan dan kepicikan berpikir pria di depannya ini.
"Maaf, Pak Bima. Tapi saya sama sekali nggak sedang bercanda atau mencari trik," tegas Anaya, suaranya naik satu oktav. Sikap "Sihir Sekretaris"-nya lenyap seketika, digantikan oleh mode Anaya yang asli: tegas dan siap berdebat. "Saya benar-benar mengajukan pengunduran diri secara resmi. Saya ingin mengejar mimpi saya yang lain."
"Mimpi? Mimpi apa? Menjadi kurator klip kertas internasional?" Bima memotong dengan sarkasme tingkat dewa.
Dia berdiri dari kursinya, membuat tubuhnya yang setinggi 185 sentimeter itu menjulang dominan di depan Anaya. Karena suhu ruangan yang mendadak terasa gerah baginya—entah karena pendingin ruangan yang rusak atau karena efek menatap dada Anaya tadi—Bima secara refleks mengangkat tangan kanannya.
Dengan gerakan lambat yang sangat kasual namun mematikan bagi hormon Anaya, Bima melonggarkan simpul dasi hitamnya, lalu membuka kancing pertama kemeja putihnya.
Satu.
Anaya menelan ludah. Matanya secara otomatis terkunci pada pergerakan jemari panjang Bima.
Dua.
Jakun Bima naik-turun saat pria itu menghela napas. Kulit lehernya yang bersih dan tegas mulai terekspos.
Tiga.
Kancing ketiga terbuka, memperlihatkan sedikit bagian atas dada bidangnya yang kokoh dan berotot, hasil dari ritual gym mahal setiap akhir pekan. Aroma parfum maskulin perpaduan sandalwood dan musk yang mahal langsung menguar dari balik celah kain kemeja Bima, menyerang indra penciuman Anaya tanpa ampun.
Jantung Anaya seakan langsung melompat. Saraf-saraf di tubuhnya berteriak histeris: COBAAN APA LAGI INI DI PAGI HARI, YA TUHAN!.
Emosi dan hormonnya mendadak berperang hebat di dalam dada. Dia ingin sekali berteriak protes karena Bima sengaja melakukan aksi "pamer aset" di tengah perdebatan serius mereka.
"Dengar, Anaya," Bima berkata, suaranya melembut namun tetap terdengar sangat posesif dan tidak menerima bantahan. Dia berjalan memutari meja marmernya, melangkah perlahan hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu langkah kaki. "Saya tahu saya menuntut. Saya tahu saya perfeksionis. Tapi saya juga tahu kalau saya membayar kamu tiga kali lipat dari standar gaji sekretaris direksi di Kota ini. Jadi, lupakan drama resign ini. Kembali ke kubikel kamu, buatkan saya jadwal ulang dengan vendor dari Singapura, dan saya akan pura-pura nggak pernah melihat amplop murahan ini."
Anaya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Rasa pegal di paha dan lututnya akibat berdiri terlalu lama tidak sebanding dengan rasa dongkol yang membakar dadanya. Dia menatap tepat ke bola mata hitam Bima, menolak untuk diintimidasi oleh pesona fisik dan kekuasaan pria itu.
"Pak Bima yang terhormat dan paling genius se-Asia Tenggara," kata Anaya, nadanya bergetar menahan kekesalan yang sudah di ujung tanduk. "Uang Anda memang banyak. Tapi uang Anda nggak bisa membeli keputusan hidup saya lagi. Surat itu tetap berlaku. Bulan depan, saya keluar dari kantor ini, dan Anda harus mencari sekretaris baru yang mungkin harus memiliki kesabaran setingkat nabi untuk menghadapi Anda."
Bima tertegun. Selama lima tahun, Anaya mungkin sering mengomel dalam hati (Bima tahu dari gerak-gerik bibir Anaya yang sering berkomat-kamit tanpa suara), tapi Anaya tidak pernah menentangnya dengan tatapan seberani dan sekeras ini. Ada sesuatu yang berubah dari sekretaris cupunya ini, dan sialnya, perubahan itu membuat Bima merasakan letupan gairah aneh yang semakin bergejolak di dalam perutnya.
Bima menyipitkan matanya, menatap bibir Anaya yang mengerucut kesal karena menahan amarah. "Kamu serius?"
"Sangat serius, Pak."
Bima terdiam beberapa saat, memproses situasi dengan otak superkomputernya. Gengsinya terluka, egonya terusik, dan ada rasa tidak rela yang amat sangat mendadak menyergap hatinya saat membayangkan kursi di depan ruangannya tidak akan lagi ditempati oleh wanita beraroma vanilla ini.
"Oke," Bima berbisik, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. Dia melangkah maju satu langkah lagi, memaksa Anaya mundur hingga punggung wanita itu membentur pinggiran meja marmer yang dingin. Bima menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Anaya, mengunci gerakan sekretarisnya dalam jarak yang sangat intim hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Kita lihat... seberapa lama kamu bisa bertahan menolak saya, Anaya."
Napas Anaya tercekat. Di bawah kungkungan tubuh besar Bima yang wangi dan sangat seksi dengan tiga kancing kemeja terbuka.
Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu
-
-
-
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...