Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
"Udah sih, di hug and kisses aja. Percaya sama Ibu, pasti Reiga langsung baik lagi kayak biasanya. Dinner juga udah pasti mau," saran centil Sara membuat Hana yang tengah cuci muka di kamar mandi hotel, mendadak tertawa.
"Ada ya, emak-emak model Ibu, yang terang-terangan suruh anak perempuannya hug and kisses cowok. Istigfhar, Bu!" ledek Hana.
Tawa Sara pun menggelegar dalam video call mereka. Hana ikut tertawa bersamanya. Lalu, hening. Keraguan yang muncul kembali, memenuhi rongga dada Hana.
"Yang Hana lakukan ini benar nggak sih, Bu?" tanya Hana.
Wajah Sara berubah teduh.
"Benar, Sayang! Kamu sudah benar! Jangan menyerah ya, Han. You always make it, rite?" jawab Sara.
Keraguan itu masih menggantung dalam hati Hana.
"Tapi Reiga, sampai detik ini aja nggak telepon, nggak chat. Hana pergi aja, dia tetap di kamar. Dia jelas marah banget sama Hana, Bu," curhat Hana.
"Segalau itu ya kalau Mas Ayang marah?" ledek Sara.
"Ibuuuuuu...." Kedua mata Hana memicing.
Ternyata sifat nyebelin, seperti meledek orang di kala tengah bicara serius itu, menurun dari ibunya.
Sara terkekeh.
"Pacaran tuh emang gitu, nanti pas udah nikah juga gitu siklusnya. Baikkan-berantem-baikkan, yang penting dihadapi dengan hati yang santai dan keyakinan yang tinggi kalau semua badai akan tenang pada waktunya," ucap Sara mendamaikan gemuruh dalam hati Hana.
"Aamiinnn..."
Sara memandang wajah putrinya dari layar handphone. Salut dan bangga. Dari semua keputusan Hana yang selalu all out jika memutuskan sesuatu. Keputusan Hana kali ini, untuk mencampuri urusan keluarga Reishard, masalah pelik antara Reiga dan Sheila, entah mengapa terasa benar bagi Sara.
Anak itu selalu butuh ibunya. Seperti halnya Hana dan dirinya.
"Sayang banget ya sama Reiga?" tanya Sara.
"Sama besarnya seperti Hana mencintai Ayah dan Ibu," jawab Hana jujur.
Karena itu nyata adanya. Perasaan besar yang meluap bagai tsunami dalam dirinya untuk pria bernama Reiga Reishad.
"Percaya sama Mas Ayang kamu itu, Han," cetus Sara.
"...?"
"Syarat dari ayah kayaknya udah dipenuhi Reiga nih ya?" canda Sara tidak ingin menjelaskan maksud kalimatnya pada Hana, meski anak perempuannya itu memasang wajah bertanya.
Hana tersenyum. Ah, dia belum cerita sama Sara, perihal lamaran gendheng yang dilayangkan Reiga padanya di jalan tol.
"Ada cerita apa nih??"
Sara mencium rahasia dibalik senyum Hana.
"Nanti kalau udah di Jakarta, Hana cerita sama Ibu," jawab Hana.
Sara terkesiap.
"Ihhhh! Benar ada cerita???" gemas Sara geregetan.
"Udah dulu ya, nanti Hana telepon lagi. Mau makan sama anak-anak, udah ditungguin," ujar Hana menghindar. Sengaja membuat Sara penasaran. Si jahil satu ini. "Hana! Tunggu! Han??? ??" Video call itu terputus. "Idihhh, nih anak! Jahilnya nggak hilang-hilang," gerutu Sara.
"Yaelah," decak Juni begitu melihat punggung Arnold di depan lift.
Hana yang sedang fokus memantau handphone miliknya sampai mendongak. "Kenapa, Jun?"
tanyanya.
Suara yang membuat Arnold menoleh lalu tersenyum begitu saja.
"Hai," ucap Arnold begitu ramah.
Sayangnya, sapaan ramah itu ditanggapi dingin dan cuek oleh Hana. Gadis itu memilih segera masuk ke dalam lift yang secara kebetulan terbuka. Mereka bertiga masuk dengan posisi Juni selalu ditengah. Biasanya Hana selalu merangsek cepat agar bisa merangkul lengan Arnold, entah itu kiri ataupun kanan.
Kini semuanya berubah, dan sungguh Arnold tidak pernah berpikir bahwa ia akan merindukan momen yang dulu menjadi makanan sehari-harinya itu.
"Aku kira kamu nggak mau ikut makan bareng karena ada aku," ucap Arnold.
Dasar manusia!
Dideketin, diam aja. Dijauhin, malah mati-matian mendekat.
Hana menoleh. Arnold tersenyum menanggapi tatapan dingin bercampur malas itu. Konyol memang, namun mendapati Hana merespon ucapannya meski dengan cara yang sinis aja sudah mampu membuat Arnold menaruh harap bahwa mereka bisa seperti dulu.
What the hell, Nold!
"Kamu sama Lana baik-baik aja kan?!" ketus Hana.
Berkat melihat muka Arnold. Hana jadi ingat ucapan Reiga yang bilang bahwa lelaki ini kini menyesal dan sayang sama dirinya. Aneh ya, dulu Hana berharap akan mendengar hal itu, bersabar selama 4 tahun lamanya, tapi sekarang mendengar fakta itu malah terasa bagaikan melihat kecoa yang tiba-tiba terbang dan muncul didepannya.
Alasan Hana bertanya, tak lain dan tak bukan, ya karena mencemaskan Lana. Dari Nana, Hana tahu kalau Lana tidak lagi tinggal di rumah Pakde Devan. Lana keluar rumah. Tinggal di apartemen sendiri. Tahu nggak alasannya kenapa?
Karena memperjuangkan hubungannya dengan Arnold. Sungguh luar biasa sekali Arnold! Hana sangat mengenal Lana. Sepupunya itu tidak akan stay pada sesuatu yang sifatnya parasit dan menyusahkan. Kalau belum berguna tidak masalah, asal jangan sampai menyusahkan. Di mata Hana, pilihan mempertahankan Arnold adalah sebuah gebrakan besar dalam hidup Alana.
Wajah Arnold yang menunjukkan eskpresi senang sontak jadi kecewa. Ternyata yang dipedulikan Hana bukanlah dirinya, tapi, Lana.
"Ya. Tadi habis teleponan," jawab Arnold jujur.
Walau hatinya kini terang-terangan sayang sama Hana. Namun, hatinya juga tak kuasa berhenti mencintai Lana.
"Baguslah!" tukas Hana.
"Dengar ya, Nold! Jangan pernah sakitin Lana.
Apalagi menyia-nyiakan pengorbanan dia," ucap Hana serius dengan lugas.
Arnold terpaku melihat keseriusan Hana. Dan heran, mengapa ia malah sakit hati mendengarnya. Bukan karena Hana yang sengaja menyindirnya. Tapi, karena Hana yang hanya memberi perhatian pada Lana. "Kebrengsekan kamu, cukup berakhir di aku aja. Jangan kamu lanjutin ke Lana," tambah Hana.
Arnold mengepalkan tangannya. Ia menghela napas pelan yang agak berat. Sungguh sangat ingin memberitahu Hana isi hatinya. Sungguh berharap Hana akan goyah lalu berpaling kembali padanya jika tahu perasaannya sekarang.
"Lu gila sih, Nold! Kemarin lu udah liat sendiri kan, gimana menyeramkannya Reiga Reishard, yang kalau tanpa belas kasih Hana, lo mungkin nggak ada di sini sekarang. Terus sekarang lu mau bilang lu cinta Hana?? Emang nggak tahu diri lu, Nold!"
makinya pada diri sendiri dalam hati.
Namun melihat Hana melangkah keluar lift bersama Juni. Kewarasan Arnold entah hilang kemana. Ia melangkah cepat, keluar, lengan kanannya terulur ingin menggapai lengan kanan Hana.
"Han, aku ..."
Suaranya digemakan agar sedikit mendistraksi langkah menjauh Hana. Lengannya hampir menggapai Hana, tepat saat gadis itu memekikkan nama seseorang yang membuat Arnold sadar, bahwa ia telah terlambat. Kesempatannya telah lewat. Kenyataan itu bagai palu godam yang memukulnya mundur. Membuatnya terpaku dalam diam dan ketidakberdayaan.
"Reisharddddd!" pekik Hana senang bukan main melihat Reiga yang berdiri tidak jauh dari depan pintu lift.
Iya.
Itu Reiga Reishard!
Yang tidak akan pernah bisa dilampauinya. Tak bisa dikalahkannya.
Bukan hanya karena kekuasaan dan kekayaan tak terbatas yang dimiliki Reiga. Tapi, juga
Lengkingan suara Hana, yang menyambut kehadiran Reiga. Cara Hana tersenyum, begitu senang bagai anak kecil bertemu kesayangannya. Mata berbinar Hana yang hanya tertuju pada Reiga. Juga, gerak kaki Hana yang tak sabaran menuju Reiga.
Arnold kalah telak!
Ia terdiam dengan hati yang sesak. Apa ini yang selama 4 tahun dirasakan Hana setiap kali dirinya menyebut Lana?
Juni melirik Arnold, dalam hati berkata, "Mampus lu, Nold! Akhirnya tiba momen yang mana membuat lo merasakan apa yang dirasakan Hana selama ini!"
BRAKK!
Hana menubruk Reiga tanpa ragu di lobi hotel yang lumayan ramai. Tidak mempedulikan beberapa pasang mata yang berbisik, "Itu Adrianne Hana kan?" Hana begitu kegirangan manusia favoritnya ini muncul dihadapannya. Sampai tidak lagi memikirkan kalau mungkin nanti headline berita negara ini, penuh lagi, berisi gosip mengenai dirinya. Bodo amat!!!
Reaksi Reiga?
Ah, pria itu tentu tidak bisa menolak pelukan Hana! Emang dasar cinta sialan! Tangan kanannya seenak jidat, lupa harga diri, malah sudah melingkari pinggang Hana. Sedikit mencengkramnya erat, gemas seperti biasanya. Bibirnya pun belum disuruh sudah tersenyum tipis.
Beginilah Reiga kalau sudah kena virus yang namanya cinta.
"Udah nggak marah?" tanya Hana dengan mata berbinar yang selalu membuat Reiga klepek-klepek tanpa usaha berarti itu.
"Mau-nya sih masih," jawab pria itu setengah ketus, setengah komedi. Hana sungguh luar biasa, Reiga habis dijungkirbalikkan olehnya. "Apa daya, aku tak sanggup," ucap Reiga kesal dengan diri sendiri.
Hana tergelak tawa.
"Buset! Begini nih setiap hari kejadiannya?" celetuk Brandon. "Pantes lu galau sampai sebegitunya ye, Rei," tambah Brandon.
"Ih, gue kapan ya, disambut penuh cinta, pelukan hangat kayak Reiga barusan," ucap Zidane ngenes.
Hana menoleh ke sebelah kirinya. Enam ibu perinya hadir semua. Tersenyum. Dengan tatapan yang bersuara bagi Hana.
"You did it, Han! Maju terus! Pantang mundur!"
Begitulah kira-kira, pesan yang diterima frekuensi otak Hana.
Syein memberikan jempol kanannya pada Hana. Bangga.
"Hai, Rei," sapa Arnold membuat keceriaan singkat itu berubah mencekam.
Rahang Reiga menegang. Cengkraman tangannya pada pinggang Hana, menguat. Arnold melihatnya. Penegasan Reiga bahwa Hana miliknya seorang. Bukan orang lain, apalagi Arnold.
"Hai, Nold," sapa balik Reiga tenang.
Namun siapapun di sana tahu, bahwa hubungan di antara dua pria ini tidak baik-baik saja.
Arnold mungkin telah kehilangan kewarasan, karena sekarang ia tengah berjalan mendekati malaikat maut yang hampir mencabut nyawa kehidupannya kemarin.
"Makasih ya, udah memperlihatkan pada gue bahwa di dunia ini memang masih ada orang yang memanfaatkan kekuasaannya untuk berlaku seenaknya kayak yang lo lakukan pada gue," sinis Arnold.
Hana terhenyak mendengar ucapan berani Arnold pada Reiga. Begitu juga Juni.
"Yaelah, dia pakai mancing megalodon," ujar Brandon.
"Emang tai tuh kampret!" Rama sudah naik pitam duluan. Badannya refleks maju, namun ditahan teman-temannya. "Mau kemana lu, Nyet?!" sergah mereka semua.
Reiga berdecak dengan memasang muka jengah dan muak. Sayangnya ada Hana di sini. Kalau tidak, rasanya ia ingin memberi pelajaran secara langsung sama kutu kupret satu ini.
"Oh, sama-sama," dingin Reiga.
Hana takjub dengarnya. Apalagi kalau melihat ekspresi tengil Reiga sekarang. Arnold saja yang awalnya santai, kini mulai tersulut emosi. Sementara ke enam sahabat Reiga terkekeh mendengarnya.
"Gue suka banget kalau Reiga udah modelan begini," ujar Rama dengan cengiran lebar.
Reiga memang jarang marah. Tapi kalau sudah marah, ah ... nggak usah diomongin deh gimana kacaunya dunia persilatan nantinya.
"Mau gue tunjukkin yang lebih ekstrim lagi nggak?" tawar Reiga dengan sunggingan senyum angkuh yang membuat Arnold menggemeretakkan gigi saking menahan kesal. Kedua tangan pria itu mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Itu peringatan pertama dan terakhir dari gue," ucap Reiga dengan sorot mata tajam.
"Cih! Peringatan... kita lihat, apa Hana akan tetap bersama lo begitu dia tahu kalau gue, lelaki yang dicintainya selama 4 tahun, juga cinta sama dia. Sulit melupakan kebiasaan yang lama ada, Rei," ucap Arnold dalam pikirannya.
Rasanya Reiga ingin langsung melayangkan tinju kearah Arnold. Namun, ia memilih untuk berdecak, memasang wajah meremehkan yang melukai harga diri Arnold, seakan Reiga tahu apa yang diucapkan Arnold barusan, di kepala.
"Jangan sembarangan sama calon istri gue. Paham, Nold?" angkuh Reiga dengan senyum mengejek kearah Arnold yang menatap kesal padanya setengah mati.
"Calon istri?" gumam Arnold dengan suara tercekat. Ia sontak menatap Hana yang secuil pun tidak menyangkal ucapan Reiga.
"Is it true, Han? Secepat itu? Semudah itu kamu berpaling dari aku?" ucap Arnold bagai si paling tersakiti. Seakan Hana adalah pacarnya.
"Kamu mau yang mana? Tinggal dada sama paha atas," ucap Hana seraya melihat kearah bucket makanan all you can eat yang disediakan oleh hotel.
Makan malam yang harusnya biasa aja, mendadak mewah berkat kedatangan Reiga. Pria itu mentraktir semua yang ikut promo di jogja. Jatah dinner yang menu biasa, dinaikkan level menuju executive, vvip, yang biasa dimakan tamu-tamu kamar mahal di hotel ini. Lawan main dan sutradara sih tidak terlalu terkejut dengan perlakuan Reiga. Pria itu sudah melakukan, hal yang menurutnya sederhana ini, sejak mulai menemani Hana promo ke Bandung kemarin.
Cuma ada satu orang yang mukanya kaku sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan Arnold! Sengaja duduk di meja yang bisa dengan mudah membuatnya mengawasi Hana. Membiarkan hatinya sakit hati sendiri.
"Maunya kamu," jawab Reiga membuat Hana menoleh ke belakang, lantas mendelikkan mata, namun bibirnya tersenyum gemas.
"Ih seriusannn, Rei! Tangan aku pegel nih pegang piring dari tadi," protes Hana walau sebenarnya ia tidak keberatan mengurus pria yang sedari tadi memeluknya dari belakang ini.
Bukannya langsung menjawab, Reiga malah mendaratkan kecupan di ujung bahu kanan Hana yang terbungkus blouse biru yang dipakai pacarnya itu.
"Reishard, astaga!" gemas Hana.
Reiga cuma tersenyum jahil.
Zidane dan Niyo berdiri berjejer tepat di samping kanan duo bucin itu.
"Gue baru tahu, Yo," ucap Zidane dengan suara lemas.
"Tahu apaan, Dane?"
"Kalau ambil ayam teriyaki aja bisa terasa sangat ngenes begini," ujar Zidane.
Kening Niyo mengerut.
"Ha?"
"Si Anying! Kemarin main cipok kepala, sekarang main back hug, terus cipok bahu, pengen gue toyor tapi banyak orang. Liat terus-terusan, gue-nya juga nggak tahan," curhat Zidane tanpa melepas pandangan dari Reiga dan Hana.
Niyo bengong. Lalu, detik selanjutnya tawanya menggelegar. Zidane sendiri sampai kaget. Bahkan, Reiga dan Hana jadi ikut menoleh.
"Anjir lu, Dane! Gue belom makan malah dibikin sakit perut!" tukas Niyo masih tidak bisa berhenti ketawa.
Zidane memicing sebal. Baginya keluhannya barusan sama sekali tidak lucu.
"Ada apaan nih? Sampai Niyo ketawa kayak orang kesurupan," Tristan sudah mendekat dengan wajah penasaran. Secara Arniyo yang kalem itu meledak tawa. Sungguh momen yang langka dan luar biasa.
"Si Zidane tuh kerjaannya!" jawab Niyo.
"Idih! Gue ngapain???"
Zidane tak terima disalahkan.
"Elu tuh, Rei!" sembur Zidane sambil menunjuk Zidane.
Baru Reiga mau angkat bicara, Hana sudah mendahuluinya.
"Dih! Jangan asal tuduh cowok gue lo, Dane!" galak Hana.
Bibir Reiga mengulum senyum mendengar Hana langsung membelanya. Sesuatu yang belum pernah ia dapat, kecuali dari enam sahabatnya ini.
"Buset! Majikan lu galak banget, Rei!" ciut Zidane.
Hana memeletkan lidah.
Niyo dan Tristan tertawa renyah melihat komedi di depan mereka. Sementara itu tiga orang lainnya yang duduk di meja, turut memperhatikan dari jauh.
"Muka lu biasa aja sih, Nyet! Nggak usah senyam-senyum, geli gue liatnya! Nggak cocok juga sama brewok dan kumis lu itu, Ram!" seru Brandon sudah tidak kuat melihat Rama yang kebetulan duduk dihadapannya. Dan Rama memang tengah senyam-senyum ala orang jatuh cinta melihat kearah Reiga dan Hana sejak tadi.
"Sialan!" runtuk Rama sudah balik ke mode normalnya. Jutek all of day.
Syein cuma menggelengkan kepala seraya tertawa pelan, meski celetukan Brandon tadi nyaris membuatnya tersedak steak yang tengah dikunyahnya.
"Gue bahagia, Ndon, liat Reiga! Emangnya lu nggak?"
"Lah gue juga bahagia. Cuma masalahnya, lu ngeliatin Reiga kayak lagi cari target, njir! Disangka homo baru ngehe lu!" sembur Brandon dengan muka usil.
Kali ini Syein tidak bisa menahan ledakan tawanya. Ia menoyor kepala belakang Brandon. Mereka memang duduk samping-sampingan.
"Anjing banget lu, Ndon! Berantem aja yuk sama gue sekarang!" galak Rama.
Yang diajak berantem malah cengengesan. Rama makin senewen.
"Nyet, dia kapan gilirannya sih, biar adem dikit itu 19 sutet-nya si Rama," ledek Brandon pada Syein, mengajak join pada per-plonco-an ini.
"Bentar lagi juga di-release sama Rama," sahut Syein.
"Kampret ya lo berdua!" seru Rama sambil menunjuk Syein dan Brandon.
"Dengar ya! Gue nggak bakal sebucin dan semenggelikan Reiga sekarang. Pegang tuh kata-kata gue!!" yakin Rama, ngotot untuk hal yang tak perlu. Padahal sudah nyaris 3 hari, ia menyatroni rumah Krisa, cuma karena nggak tahu gimana caranya minta maaf tapi hati kadung tertawan.
Syein dan Brandon malah memasang wajah sangsi, yang makin menggilas kesabaran Rama yang bagai tisu satu helai dipotong jadi 25 bagian itu. Rama berdiri, setelan mukanya galak. "Mampus lu, Ndon, T-rex Jurrasic park ngamuk!" tukas Syein, tapi mukanya cengengesan.
"Sini lo ber ..." Dering handphone Rama menghentikan ucapannya. Mereka bertiga sontak melihat ke arah meja. Karena handphone Rama memang tengah ditaruh di meja.
Itu sebuah pesan. Dari tak lain dan tak bukan, Andriyani Krisa. Ajaibnya, muka Rama berubah dari merah padam pengen nonjok orang, langsung santai kayak nggak ada apa-apa. Syein sudah ngakak tanpa suara. Brandon takjub melihat perubahan emosi Rama.
Krisa
Kamu di mana? Aku mau ketemu.
Sekarang, di rumah.
Pucuk di cinta ulam pun tiba! Bak menang lotre, wajah Rama berseri. Ia meraih handphone. "Gue cabut duluan!" galaknya kembali.
"Dih! Cabut kemana?" Brandon heran.
"Emang harus lu tanya lagi, Ndon??? Ya cabut menuju rumah majikan lah. Lu baca sendiri kan??" ledek Syein.
Wajah Rama merah padam. Kali ini bukan karena marah. Tapi perasaan malu yang menggelikan. Sialan!
"Tai lah, katanya nggak bakal kayak Reiga. Sama akutnya lu!" ledek Brandon berkoalisi dengan Syein.
"Bodo amat!" seru Rama lalu langsung pergi tanpa pamitan lagi.
Syein dan Brandon tertawa riang melihat Rama pergi sambil menelepon seseorang. Syein menebak yang ditelepon Rama adalah Tommy, asisten pribadinya, persis seperti Dimas bagi Reiga. Mungkin sekarang, Rama tengah menyuruh Tommy untuk menyiapkan jet pribadi Radiputrodiningrat untuk bisa segera kembali ke Jakarta.
*
Sekarang Hana paham mengapa Reiga menyuruhnya memakai jaket yang lumayan tebal dan celana panjang, begitu melihat pria itu menyambutnya di depan lobi hotel, seraya bersandar pada motor gede, didominasi warna merah dengan secuil garis hitam dan putih di setiap sisinya.
Terdapat nama Ducati di badan motor tersebut.
Hana memang tidak terlalu paham otomotif, tapi yang satu ini pernah dilihatnya di garasi Om Derma, Ayahnya Nana, waktu itu dengan bangga Om Derma memamerkannya pada Hana, motor impiannya, katanya cuma dijual 500 unit di dunia. Si Superleggera, begitulah Om Derma menyebut motor kesayangannya.
Tentu yang paling tidak disangka Hana adalah . Mas Ayang ternyata naik motor juga.
"Do you ride on it?" tanya Hana sangsi sambil berjalan kearah Reiga.
Reiga yang tadinya mau bilang Hai jadi tersenyum dibuatnya.
"Nggak sesering waktu SMA sih," jawab Reiga.
Hana masih memasang wajah tidak percaya.
Lalu, Reiga men-transfer ingatannya pada Hana.
"Oh, naiknya sama Cyila!" sebal Hana.
Reiga terkekeh. Sengaja ia memilih ingatan kala membonceng Cyila. Reiga ingin tahu reaksi Hana.
Persis seperti yang diduganya, menggemaskan.
Kedua mata gadis itu menyipit. "Ini baru baikkan udah mau ajak ribut lagi??" sinis Hana.
Ah, cemburu itu terlanjur menyebar dalam dirinya.
Reiga tertawa. Sukes menjahili Hana.
"Enggak lucu, Reishard!" seru Hana.
Namun Reiga mengacuhkannya. Pria itu malah meraih satu helm full face hitam yang ditaruh di atas motornya. Ia buka kuncinya lalu memakaikannya pada Hana.
"Aku nggak bilang mau pakai helm! Dan kayaknya aku juga berubah pikiran, nggak mau ikut kamu!!" sewot Hana meski ia tidak berbuat apapun untuk menghentikan Reiga memakaikannya helm.
Reiga membuka kaca helm yang dipakai Hana.
Tersenyum begitu menawan.
"Kamu perempuan pertama dan satu-satunya yang akan naik motor ini, Adrianne Hana," ucapnya.
"Idih! Sialan! Mempesona banget sih nih laki satu! Herannnn," frustasi Hana dalam hati.
Reiga tersenyum mendengar isi hati Hana.
"Ready for the ride, My Queen?" tanya Reiga sudah melingkari pinggang Hana dengan tangannya lagi.
Hana berdecak.
"Udah dipakein helm begini, ya masa nggak jadi!" tukas Hana masih sebal dengan perkara Cyila yang bahkan disadarinya bukan naik motor yang ini.
Reiga terkekeh.
"Kenapa ya, candu banget digalakkin sama kamu, Han?" ledek Reiga.
"Dih!" sewot Hana.
Reiga memandanginya penuh cinta. "Kita mau kemana? Besok aku ada jadwal interview di salah satu radio loh, Rei. Pagi pula," keluh Hana mengingat titipan pesan Juni yang takut disampaikannya langsung pada Reiga.
"Dekat kok. Cuma He Ha Sky View, paling lama satu jam perjalanan. Dan aku rasa..." Reiga mendekatkan wajahnya pada Hana. "Kamu lah yang akan menolak pulang nantinya," ucap Reiga dengan tatapan yang membuat dua pipi Hana merah bersama datangnya ratusan kupu-kupu fiktif.
Reiga naik ke atas motornya. Setelah memakai semua atribut keselamatan lengkap.
"Ayo, Mrs. Reishard," goda Reiga membuat Hana tidak mampu menahan senyum.
Uluran tangan pria ini. Hana menyambutnya, lalu naik.
"Ini pertama kalinya aku naik motor gede loh.
Tinggi juga ya," aku Hana jujur. Rasanya agak menakutkan.
"Senang deh, selalu jadi yang pertama buat kamu," sahut Reiga.
"Idih! Aku toyor dari belakang nih!" sewot Hana.
Reiga tertawa.
"Kualat loh, toyor yang lebih tua," ujar Reiga tak pernah bosan meledek Hana.
Hana mendesis.
Reiga menarik tangan Hana agar memeluknya.
Aksi yang sukses mendebarkan jantung gadis itu
hingga Hana kehilangan kata-kata.
"Makasih ya, Sayang," ucap Reiga pelan.
"Untuk? Ngeladenin hobi ngeledek kamu tanpa putus urat sabar?"
Tawa Reiga kembali terurai.
Lantas setelah tawa itu selesai. Reiga mengelus pelan tangan Hana yang sudah memeluk pinggangnya.
"Untuk selalu percaya dan nggak pernah takut mencoba hal baru dalam hidup kamu, sama aku," tulus Reiga mengucapnya.
Haru itu menyelimuti hati Reiga seperti malam di mana ia melamar Hana secara dadakan di jalan tol. Haru yang sama tengah menjalar pada Hana. Menyambarnya bagai petir. Ia memeluk Reiga erat.
"Udah buruannnn. Kapan berangkatnya???
Keburu malam ini!!" seru Hana sok judes, meski kini dibalik helm, bibirnya tengah melengkungkan sebuah senyum.
Reiga terkekeh pelan.
Mesin motor dinyalakannya. Standar dinaikkannya. Ducati merah itupun meninggalkan hotel yang diinapi Hana selama promosi film. Berjalan menelusuri jalan yang dijuluki kota pelajar ini. Masih cukup ramai, meski tidak seramai Jakarta. Kesunyian yang tak senyap. Hana terpana dengan keindahan malam. Suasana yang baru dirasakannya. Mungkin jika bukan karena Reiga, ia tidak akan pernah mengalami semua ini.
"Cinta itu harus menyenangkan, Han. Bahkan di tengah kesusahan dan keputusasaan yang kamu hadapi, akibat cinta yang kamu pilih itu."
Ingatan mengenai ayahnya muncul begitu saja.
"Apa ini yang Ayah maksud? Dulu Hana nggak paham. Tapi sekarang, Hana kayaknya sedikit paham deh, Yah,"gumam Hana dalam hati dengan sebuah senyum tercetak diwajahnya. Pelukan Hana pada pinggang Reiga makin erat.
"Dear God, haruskah Engkau mematahkan hati hamba dulu, mengombang-ambingkan hamba selama 4 tahun dalam cinta bersama si kunyuk itu, sampai baru bisa bertemu manusia super bernama Reiga Reishard ini?"
Reiga tertawa mendengar ucapan Hana dihatinya. Tak tahan lagi untuk menanggapinya.
"Manis amat sih pemikirannya Neng Hana," puji Reiga tulus.
Hana tertawa dalam pikirannya.
Lantas Reiga meracau dalam dirinya sendiri.
Yang tak akan pernah terdengar oleh Hana.
"Yang manusia super itu kamu, Hana. Aku udah nggak tahu lagi, letak batas yang aku buat yang seharusnya nggak pernah dilewati siapapun itu. Kamu bukan hanya melewatinya, tapi menghapus batasnya, mengobrak-abrik semua yang ada didalamnya, bukan untuk memilah dan membuangnya. Tapi kamu dengan berani, menyatakan ingin memperbaikinya. Luar biasa... aku salut sama nekatnya kamu, Adrianne Hana..."
Perasaan lapang dan tenang yang kini menyelimuti Reiga, terasa asing sekaligus familiar.
"Lucunya, Han sekalipun aku terlihat kontra dan menolak, namun jauh dalam hati, aku berharap dan mendoakan kemenangan mutlak kamu atas kesedihan dan trauma aku yang memuakkan ini."
Ducati itu pun memasuki kawasan bertuliskan He Ha Sky View. Terparkir rapi nan gagah. Reiga membantu Hana melepaskan helm. Lalu, melepas helm-nya sendiri.
"Aku kira bakal rame," ucap Hana celingukan.
Reiga tersenyum.
"Emangnya nggak masalah tampil di public place sama aku?"
Hana malah menatap Reiga dengan tatapan bertanya.
"Kenapa harus jadi masalah?" bingung Hana.
Jawaban yang melelehkan Reiga. Kedua lengannya meraih kepala Hana, lalu dikecupnya lama pucuk kepala kesayangannya itu.
"Gemes banget aku sama kamu," ujarnya.
Kening Hana mengerut. "Apa sih!? Nggak jelas," ujar Hana yang kadang tidak memahami Reiga, namun terlanjur candu menikmati tingkah usil pria ini.
Cinta itu mungkin memiliki salah satu rupa seperti ini kali ya? Sekalipun kurang paham, tetap iya ... iya ... aja. Membuat seseorang secara sukarela menjadi bodoh dan melakukan kebodohan.
Reiga meraih tangan kanan Hana lalu digenggamnya erat.
"Aku sewa tempat ini, makanya sepi," aku Reiga.
Hana terperanjat mendengarnya.
"Whattttt!?" pekiknya, lalu secara spontan BUK! Memukul lengan Reiga yang menggenggam tangannya.
"Astaga, Hana! Kaget tahu!" Reiga memang beneran kaget atas pukulan tahu bulat dari Hana.
"Lah kamu kira aku nggak kaget!? Dengar kamu sewa tempat ini!??? How much money you spent for this, Reishard!?" omel Hana.
Reiga bengong melihat reaksi Hana yang jauh dari skenario marketing Brandon.
Habis ini dia akan menoyor Brandon yang mengomporinya untuk menyewa tempat ini, malam ini.
"Ini beneran mau tahu, aku habisin uang berapa???"
Muka meledek yang membuat mata Hana memicingkan mata.
"Enggak lucu!!" semprot Hana.
Reiga terkekeh.
Mereka kembali terus berjalan. Lalu berhenti pada spot bernamakan skybridge. Ekspresi sewot Hana berhenti, berganti terpana akan keindahan kota Jogja yang terlihat jelas dari atas sini. Bagai lautan bintang. Hana terhipnotis sendiri.
"Indah banget ya," gumam Hana yang dengan sendirinya tersenyum.
Reiga puas melihat reaksi terpukau Hana.
Lengannya mengitari Hana, memegang jeruji besi pegangan di balkon sky bridge. Membuat Hana berdiri dalam dekapannya.
"How can you find this?" Hana heran.
"Playboy cap kapak di Looney-silly-weirdo,"
jawab Reiga seraya menaruh dagunya di bahu kanan Hana.
Hana terkekeh. Tahu banget siapa yang dimaksud Reiga.
"Nggak aneh sih kalau Brandon tahu tempat ini," ujar Hana setengah menyindir pria dibelakangnya ini.
Yang disindir menahan tawa sampai menggigit bibir bawahnya.
"Maksudnya??" tanya Reiga hilarius.
Hana berbalik.
"Ya mana mungkin, Reiga Rahardian Reishard yang bahkan ngelamar anak orang aja di tengah jalan tol aja bisa menemukan hidden gem romantic place kayak begini?? Sungguh nggak masuk akal," ledek Hana dengan dua mata berbinarnya.
Reiga tak kuasa menyangkalnya. "Ampun, Neng Hana!" ucapnya lalu mengecup kening Hana.
Hana tertawa puas atas kemenangannya.
"Rei," panggil Hana sambil memeluk pinggang Reiga.
"Apa, Sayangku?" tanggap Reiga seraya mendekap pinggang Hana dengan lengan kirinya.
Hana menimbang, suasana indah ini mungkin akan langsung hancur begitu ia mengatakan kalimat yang sungguh ingin diucapkannya ini. Bisa jadi Mas Ayang-nya itu akan marah seperti tadi pagi.
Tapi, yang namanya Hana, sekalipun sudah tahu resikonya, tetap saja diterjang tanpa ragu.
"Beneran udah nggak marah?" tanya Hana, sedikit mendongak saat menanyakannya.
Bertatapan dengan Reiga.
Pria itu tak langsung menjawab, ia membelai rambut Hana, membereskan helaian anak rambut yang jatuh di wajah kesayangannya itu.
"Hmm," jawab Reiga.
"Hmm-nya nggak ikhlas banget," timpal Hana membuat Reiga tersenyum.
"Reishardddddd!!!!!!" Hana si manusia kenapa yang menyambi gelar si manusia kudu harus pasti, meneror Reiga atas pertanyaannya.
Reiga terkekeh.
"Aku heran sama diri sendiri, susah amat ya marah sama kamu," aku Reiga.
Hana nyengir. Ia lantas mendekap Reiga erat.
"Does it means yes for the dinner????"
Teror kedua menyerang Reiga.
Pria itu menghela napas panjang. Agak berat. Benci akan dirinya yang nggak bisa menolak Hana.
"Yes," jawabnya kalah.
Hana sontak sumringah. Matanya berbinar, sama gemerlapnya dengan lampu-lampu rumah penduduk di bawah sana.
"I know you will say yesssss," senang Hana mendekap Reiga kembali.
"I know you will say yesss," ujar Reiga menirukan Hana dengan ekspresi menyebalkan yang kalau dalam keadaan biasa, bisa jadi akan membuat Hana naik darah. Tapi, karena lagi senang, Hana masa bodo saja.
"Udah senang kan? Udah puas?" jengkel Reiga yang bertolak belakang dengan bibirnya yang selalu ditempelkannya pada kening mulus milik Hana.
Hana menggeleng.
"Apalagi, Sayangkuuuu? Astaga! Untung cinta," ujar Reiga.
Hana terkekeh.
"Aku mau kamu yang ajak Tante Sheila makan malam sama kita," ucap Hana.
Sontak Reiga menatap Hana lekat. Belum pernah dia adu keras kepala dengan orang lain, tanpa keluar sebagai pemenangnya. Tapi dengan Hana, beda cerita
Reiga menghela napas. Menyerah. Terlalu lelah untuk berdebat. Karena jelas ia akan kalah.
"Okay," ucapnya menyanggupi.
Kedua mata Hana kembali berbinar. Rasa senang bukan main menyeruak dalam hatinya.
"Makasih ya, Sayangku, Reiga Reishard," ujar Hana setengah meledek.
"Sama-sama," jawab Reiga sok judes.
Hana terkekeh melihat sikap Reiga yang dimatanya menggemaskan itu.
"Terus aku mau ..."
"Mau apalagiiii????" potong Reiga.
Hana memandang Reiga sambil tersenyum. Jadi ini wujud setengah emosi, setengah tidak berdaya milik Reiga.
"Mau dicium kamu," ucap Hana membuat Reiga bengong seketika.
Mood-nya sudah berubah. Kini ia bahkan menahan senyum noraknya sendiri seraya menggigit bibir bawahnya. Reiga sungguh takluk pada Hana. Habislah dia! Tentunya di jalan yang benar.
Mereka bertatapan.
"Can i have my desert now?" tanya Hana dengan mimik menggoda Reiga.
"No, you have to taste the appetizer first, Mrs. Reishard," jawab Reiga lalu meraih wajah kiri Hana dan membubuhkan bibirnya pada bibir Hana.
Serindu itu. Bertengkar dengan Hana sungguh menyebalkan. Kacau dan membuat Reiga uring-uringan. Jadi biarkan dirinya meretas rindu bercampur hasrat, lalu mencium bibir Hana sesuka hatinya.
Yang dicium juga kerjaannya senyam-senyum aja, membuat Reiga takut lupa diri.
"I'm not yet Mrs. Reishard! And by the way, kok bisa-bisanya kasih tahu Arnold, aku ini calon istri kamu, padahal cincin aja belum ada," sindir Hana membuat ciuman itu terhenti.
Reiga tersenyum.
Ia merogoh saku dalam jaket kulitnya yang retsleting-nya terbuka. Sebuah kotak kecil berwarna hitam muncul bersama tangannya. Kedua mata Hana terkunci melihatnya.
Reiga membuka kotak kecil dengan tulisan Harry Winston itu di depan Hana. Sebuah cincin berlian berbentuk bunga matahari. Cantik dan elegan.
"Ini Dimas yang pilih. Sepulangnya aku nganterin kamu pulang malam itu, aku suruh dia langsung terbang ke Singapura, buat cari cincin yang merepresentasikan kamu di mata aku, then here it comes," ucap Reiga.
Hana sudah terharu.
"Semoga kamu suka ya, Han," ucap Reiga seraya menatap Hana penuh sayang.
"Bagi aku, kamu itu mirip bunga matahari, selalu bersinar kearah penuh cahaya, nggak peduli segelap apapun bagian yang ada di hidup kamu. Kamu akan kembali menatap semuanya tanpa prasangka, tanpa rasa takut. Aku kagum banget sama kamu..."
Kedua mata Hana sudah berkaca.
"Nikah yuk," ajak Reiga seperti ia mengajak Hana kemarin malam. Tersenyum begitu menawan.
Hana berdecak. Senewen dengan dua matanya yang berkaca.
"Ihh!!!!! Pembukaannya udah bagus, suasana udah oke, cincin udah beli, akhirannya malah down grade!" ucap Hana geregetan ingin menguyel wajah Reiga yang sudah ditangkupnya.
Reiga terkekeh.
"Kamu mau aku berlutut terus bilang will you marry me? Di kala, satu Indonesia udah tahu, aku udah jadi budak cintanya Adrianne Hana??" ledek Reiga.
Hana sontak tersenyum malu.
"Aku berjanji akan jadi majikan yang baik,"
konyol Hana menjawabnya.
"Heh!?" sahut Reiga.
Hana memberikan cengiran kebahagiaan yang tidak pernah dikenalinya sebelumnya.
Mereka saling bertatapan dan tenggelam dalam sorot mata satu sama lain.
"Nggak dipakein?"
"Cium dulu boleh?"
"Heh!?" Ganti Hana yang sewot.
Reiga terkekeh.
Ia mengambil cincin tersebut, meraih jemari kiri Hana, dimasukkannya cincin berlian berbentuk bunga matahari di jari manis Hana. Lantas, Reiga mengecup khidmat jemari tangan kiri Hana. Setelahnya ia mendekap pinggang Hana dengan kedua tangan Hana didadanya.
"I love you, Adrianne Hana. Sepenuh hati aku. Sejiwa raga aku. So, mau nikah nggak sama pria menyedihkan yang nggak percaya cinta sejati ini?" tanya Reiga lagi sambil menatap Hana dalam sayu penderitaan yang selalu disembunyikannya dari orang lain.
Hana memandangi Reiga dengan senyum terkulum. Menyadari betapa ia sangat menyayangi manusia didepannya ini, sampai tanpa sadar airmata mengalir dari kedua ujung matanya. Haru yang menyelimutinya ini.
Semua terasa menyenangkan dan menenangkan ini. Hana baru tahu ada cinta jenis ini di muka bumi.
"Mau bangetttttttt," ucap Hana lalu meraih wajah Reiga dan mencium bibir pria itu sesuka hatinya.
Reiga tersenyum dalam ciuman mereka.
"Buat kamu, Han, aku akan melakukan apapun.
Apapun Hana..."