Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menemukanmu
Bab 22 – Aku Menemukanmu
“Buka pintunya, Alya.”
Suara berat dan rendah itu terdengar jelas dari balik pintu kayu tipis motel reyot itu.
Tubuh Alya langsung kaku bagaikan patung. Jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak.
“Tidak mungkin… secepat ini?” bisiknya tak percaya.
Wajah Serena yang tadi tegang kini berubah masam dan mendesis kesal.
“Dasar anjing pelacak. Cepat sekali dia melacak kita.”
Alya menatap pintu, lalu menatap Serena tajam.
“Kamu bilang ini tempat persembunyian rahasia! Aman!”
“Ini memang tempat persembunyian! Cuma memang agak… mudah dicari sedikit!” bela Serena panik.
“Jelek lagi!” omel Alya.
“Diam! Fokus!”
Tok…
Tok…
Tok…
Ketukan kedua terdengar jauh lebih keras dan tegas. Pintu kayu itu bergetar hebat.
“Alya,” suara Kael kembali terdengar, tenang namun penuh ancaman tersirat. “Kalau aku yang membuka pintu ini… percayalah, suasana hatiku akan sangat buruk.”
Alya menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu pria itu tidak main-main.
Dengan gerakan cepat, Serena mengeluarkan pistol kecil dari balik jaketnya dan siap sedia.
“WADUH!” Alya melompat kaget. “Kamu bawa itu dari mana?! Jangan bawa-bawa senjata makan tuan!”
“Aku bukan penjual kue keliling, Alya. Tentu saja aku bawa perlindungan diri,” jawab Serena dingin.
“Kamu lebih cocok jual drama sih kalau menurutku,” gumam Alya.
Serena mendelik tajam. “Menjauh dari pintu! Minggir ke belakang!”
Di luar, suara Kael kembali terdengar, mulai menghitung.
“Satu.”
“Aduh, aku benci banget kebiasaan orang-orang keluarga ini kalau lagi menghitung-mengitung!” gerutu Alya panik.
“Dua.”
Serena mengarahkan laras pistol tepat ke arah pintu, jarinya siap di pelatuk.
“JANGAN TEMBAK DIA!!!” teriak Alya panik menangkap tangan Serena.
Serena menoleh tajam. “Kenapa? Takut pacar kesayanganmu terluka?”
“DIA BUKAN PACARKU!” bentak Alya.
“Menarik sekali. Kau membela pria yang mengejarmu sampai lintas kota padahal kau baru saja kabur darinya,” ejek Serena.
“TIGA.”
BRAAAAKK!!!
Pintu kayu itu jebol seketika! Hancur lebur terhempas keras oleh kekuatan luar biasa.
Kael melangkah masuk diikuti dua orang bodyguard besar di belakangnya. Wajahnya sedingin es, aura marahnya terasa begitu pekat hingga membuat udara di kamar kecil itu terasa sesak.
Tanpa membuang waktu, Serena langsung menodongkan pistolnya tepat ke arah dada Kael.
“BERHENTI DI SANA! JANGAN MAJU!” teriaknya.
Namun Kael… Kael bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah pistol yang menodonginya itu.
Seluruh perhatiannya, seluruh tatapan matanya yang tajam dan gelap… hanya tertuju pada satu orang.
Pada Alya.
“Aku menemukanmu,” ucap Kael pelan. Hanya untuk didengar Alya.
Jantung Alya berdegup kencang bukan main, campuran antara takut, marah, dan juga perasaan aneh yang tak bisa dijelaskan.
“KAMU MERUSAK PINTU ORANG! BAYAR LOH NANTI!” seru Alya mencoba mengalihkan suasana.
“Aku akan bayar. Ganti yang baru lebih bagus,” jawab Kael santai tanpa mengalihkan pandangan.
“Itu bukan poinnya!”
Kael kembali melangkah masuk perlahan.
“CUKUP!” Serena mengokang pistolnya lagi. “Satu langkah lagi, kutembak kepala kamu, Kael!”
Kael berhenti.
Ia lalu menoleh perlahan ke arah Serena. Tatapannya begitu dingin dan menakutkan.
“Coba saja.”
Nada suaranya begitu tenang dan rendah hingga membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya akan meremang ketakutan.
Serena mengepalkan rahangnya kuat-kuat. “Kau pikir aku tidak berani?”
“Aku tahu kau tidak akan meleset tembakannya,” jawab Kael santai. Ia bahkan melirik pistol itu sekilas saja. “Tapi aku juga tahu persis… kau tidak akan berani menembak saat Alya berdiri tepat di garis tembak di belakangmu.”
“Huh!” Serena mengumpat pelan karena ketahuan. Ia memang tidak berani mengambil risiko.
Alya yang melihat situasi makin panas langsung berlari maju dan berdiri di tengah-tengah di antara mereka berdua. Ia merentangkan tangan.
“CUKUP UDAH!!!”
Kael dan Serena sama-sama menatapnya.
Alya menunjuk mereka satu per satu dengan wajah kesal dan lelah.
“Kalian berdua ini benar-benar gila! Gila semua!”
Diam.
“Aku capek! Capek diculik, capek dikejar, capek diperebutkan kayak barang loakan, capek dibohongin, dan sekarang kalian mau perang tembak-tembakan di motel kumuh penuh kecoa begini?! PANTAS APA SIH?!”
Serena melirik lantai. “Itu bukan kecoa, itu kumbang.”
“AAAAA!!!” Alya menjerit frustrasi. “MASIH PEDULI NAMA HEWAN!!!”
Kael mengabaikan celetukan itu dan berjalan mendekat perlahan ke arah Alya.
“Kemarilah.”
“TIDAK!”
“Alya.” Suaranya rendah dan memerintah.
“JANGAN PAKAI SUARA SERIUSMU ITU! AKU TAKUT TAPI AKU MARAH!”
Kael berhenti tepat satu langkah di depannya. Tatapannya menelusuri seluruh wajah dan tubuh Alya, seakan sedang memastikan tidak ada satu goresan luka pun di tubuh gadis itu.
“Kau kabur dariku,” tuduhnya pelan.
“KARNA KAU TERLALU POSESIF DAN MENYEBALKAN!”
“Kau pergi kabur bersama wanita yang pernah menamparku dan berusaha membunuhku,” balas Kael tajam melirik Serena.
“Itu nilai plus dong! Dia berani sama kamu!” sahut Alya.
Serena di belakang menyeringai puas dan mengangkat dagunya bangga.
Kael menatap Serena dengan tatapan mematikan. “Kau akan kubahas tuntas nanti. Bersabarlah.”
“Aku menunggu. Jangan cuma omong,” tantang Serena.
Alya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. “Aduh pusing. Aku mau pingsan saja rasanya.”
Seketika tangan Kael langsung memegang pinggangnya erat, menopang tubuhnya.
“Kau tidak boleh pingsan. Jangan berani-berani.”
“Aku bisa kok pingsan kalau aku mau! Apalagi nanti lihat tagihan ganti pintu!” elak Alya.
Kael mengabaikan omongannya yang ngelantur. Ia menundukkan wajahnya sedikit, membuat jarak mereka sangat dekat sekali.
“Kau membuatku sangat marah, Alya.”
Alya menahan napas. Jantungnya berdegup kencang.
“Bagus. Serves you right.”
“Dan juga… sangat khawatir.” bisik Kael.
Jantung Alya seakan mencelos jatuh ke perut. Suara itu… suara tulus yang keluar dari hati.
“Itu… itu masalahmu sendiri,” jawabnya terbata-bata.
“Tapi sekarang… jadi masalahmu juga.”
Di belakang mereka, Serena tiba-tiba bersuara sambil menutup mulut seolah mau muntah.
“UEKK! BISA GAK ROMANTIS-RUMAHANNYA NANTI AJA? LAGI PERANG NI BOS!”
Kael meluruskan badannya kembali dan menatap Alya tegas.
“Kau ikut denganku sekarang. Pulang.”
Alya menggeleng kuat-kuat.
“TIDAK! Tidak sebelum kamu jujur sama aku!”
Mata Kael menyipit. “Jujur soal apa?”
“SEMUA! Tentang ayahmu! Tentang ibuku! Tentang siapa aku sebenarnya! Jawab semuanya sekarang juga!”
Ruangan itu mendadak hening total.
Kael menatap mata Alya lama sekali, seakan menimbang-nimbang. Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baik. Aku janji. Aku akan ceritakan semuanya.”
Alya terbelalak kaget. “Serius? Nggak bohong?”
“Ya.”
“Tanpa ancaman dan culik-menculik?”
“Untuk saat ini… ya,” jawab Kael.
Alya baru saja merasa sedikit lega dan napasnya mulai teratur…
Tiba-tiba ponsel milik Serena berdering keras memecah keheningan.
Serena buru-buru mengambilnya dan melihat layar. Wajahnya yang tadi tegang seketika berubah pucat pasi.
“Ada apa?” tanya Alya curiga melihat perubahan wajah itu.
Serena mengangkat kepalanya perlahan, menatap Alya dengan mata terbelalak.
“Orang-orang kepercayaan Tuan Besar… mereka berhasil menemukan keberadaan Mira.”
Tubuh Alya membeku kaku. Darah seakan berhenti mengalir.
“Ibuku?” bisiknya nyaris tak terdengar.
Serena menelan ludah susah payah.
“Mereka… mereka menangkapnya dan membawanya langsung ke mansion Lorenzo sekarang.”