NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Bertani
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18--Pak Kobayashi Lihat Murid Lokalmu Kaya Ini!

“ASTAGA NAGA!”

Angka di layar kalkulator ponselnya menunjukkan deretan angka yang bikin mata Aris perih: Rp22.500.000!

"Dua puluh dua juta lima ratus ribu rupiah... cuma dari satu sudut lahan dan semalam kerja?" Aris mengusap wajahnya kasar, memastikan dia tidak sedang mengigau.

Uang segitu setara dengan gaji buruh pabrik selama hampir setengah tahun, dan dia mendapatkannya hanya dengan modal sampah dan tidur nyenyak.

Jantung Aris berdegup lebih cepat. Dadanya terasa panas oleh sensasi yang sulit dijelaskan. Selama ini ia selalu dihina karena mengurus tanah kakeknya yang nyaris mati, tapi sekarang? Dalam semalam saja, lahan itu menghasilkan uang yang bahkan sulit dibayangkan oleh sebagian warga desa.

Ini namanya penguraian sampah dengan cerdas, ia jadi tahu kenapa Kosuke Ueki—salah satu MC kartun yang pernah dia tonton, memilih kemampuan mengubah sampah menjadi pohon dari Mr. Kobayashi.

Dulu waktu kecil dia merasa kemampuan itu aneh. Kenapa MC dia gak ambil kekuatan yang keren seperti milik Robert Haydon kemampuan mengubah hal ideal jadi kenyataan, atau sesuatu yang simpel kayak mengubah air minuman botol jadi api dan lain-lain.

Namun sekarang dia paham. Sampah itu jumlahnya gak ada habisnya. Kalau bisa mengubah limbah jadi sesuatu bernilai—maka itu kemampuan absurd.

“Anjir... ternyata MC kartun itu visioner juga.”

Aris sampai terkekeh sendiri di tengah ladang yang masih basah oleh embun. Aroma tanah subur menyeruak ke udara, bercampur dengan bau khas sayuran segar yang baru tumbuh sempurna. Angin pagi berhembus lembut, menggoyangkan daun-daun sawi raksasa hingga terdengar suara gesekan halus seperti ombak kecil.

Ide dari kartun jadul itu bukan sekadar bualan. Kalau Ueki bisa mengubah sampah jadi pohon untuk menyelamatkan bumi, Aris mengubah sampah jadi "pohon uang" untuk menyelamatkan harga dirinya.

"Pak Kobayashi, lihat ini... muridmu versi kearifan lokal sudah jadi miliarder," gumam Aris sambil terkekeh sendiri.

Ia kemudian membayangkan betapa ngerinya jika dia punya gudang sampah seluas TPA Piyungan. Mungkin dia bisa membeli satu gedung pencakar langit di Jakarta hanya dalam seminggu.

Di benaknya mulai muncul gambaran-gambaran liar. Gudang pendingin raksasa. Truk distribusi dengan logo perusahaan miliknya sendiri. Bahkan mungkin supermarket khusus sayuran premium hasil sistem. Untuk pertama kalinya sejak pulang ke Desa Sukacita, Aris merasa masa depannya benar-benar terbuka lebar.

Namun, lamunannya buyar saat mencium aroma manis yang sangat familiar.

"Ris? Kamu... kamu ngapain teriak-teriak pagi buta begini? Nanti Emi marah lagi lho—"

Sari muncul dari balik tembok rumah, masih mengenakan daster rumahan motif bunga yang santai namun tetap menonjolkan lekuk tubuhnya yang proporsional. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan di belakang Aris, kalimatnya terhenti. Ember plastik di tangannya jatuh ke tanah. Prang!

"A-Aris... itu... itu pohon apa?" Sari menunjuk dengan jari gemetar ke arah hamparan sawi raksasa yang daunnya melambai-lambai terkena angin pagi. "Semalam... semalam kan aku lewat sini masih tanah kosong? Atau lahan yang sayurannya setengah jadi!”

Sinar matahari pagi menyelinap dari balik pepohonan desa, menyapu wajah Sari yang masih polos tanpa riasan. Rambutnya sedikit berantakan khas orang baru bangun tidur, namun justru itu yang membuatnya terlihat sangat alami. Daster tipis yang ia pakai bergoyang pelan tertiup angin, sementara matanya yang bulat bening terus membesar karena shock melihat ladang di depan rumah Aris berubah total hanya dalam satu malam.

Aris menoleh, melihat Sari yang berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka. Sinar matahari pagi yang tembus dari celah daster tipisnya membuat siluet aset 32A-nya terlihat jelas, memberikan pemandangan yang tak kalah "ajaib" bagi mata Aris.

Sebagai pria normal, mata Aris jelas sempat khilaf sepersekian detik. Apalagi posisi Sari berdiri tepat membelakangi arah matahari, membuat siluet tubuh mungil gadis itu terlihat samar namun menggoda. Untung saja Aris masih punya sisa harga diri untuk cepat-cepat mengalihkan pandangan sebelum ketahuan bengong seperti orang bego.

Aris melangkah mendekat dengan langkah mantap. Sekarang dia bukan lagi pemuda putus kuliah. Kekayaan di sakunya memberinya aura dominasi yang berbeda. Ia berhenti tepat di depan Sari, mencium aroma segar tubuh gadis itu yang baru bangun tidur.

Ah wanginya!

Aroma tubuh Sari berbeda dengan parfum mahal wanita kota. Wangi gadis desa itu lebih lembut—campuran sabun murah, embun pagi, dan aroma alami kulit bersih yang justru bikin candu. Bagi Aris yang dari tadi berkutat dengan tanah dan pupuk, aroma itu terasa seperti healing gratis.

Sari refleks mundur setengah langkah. Bukan karena takut, melainkan gugup. Tatapan Aris sekarang terasa berbeda—lebih percaya diri, lebih tenang, dan entah kenapa membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“R-Ris...” Sari menelan ludah kecil. “Kamu jangan bilang tanaman ini tumbuh... semalam?”

Aris melirik hamparan sawi hijau raksasa di belakangnya. Daunnya besar-besar.

Warnanya hijau segar seperti mengandung cahaya sendiri. Embun pagi di atas daun memantulkan sinar matahari hingga seluruh ladang terlihat seperti kebun fantasi.

Beberapa helai daun bahkan memiliki ukuran hampir sebesar tubuh anak kecil. Permukaannya terlihat sehat tanpa satu pun lubang hama. Urat-urat daunnya memancarkan warna hijau terang yang tampak terlalu sempurna untuk ukuran tanaman biasa. Dari kejauhan, ladang itu terlihat seperti area eksperimen rahasia milik ilmuwan gila, bukan kebun sayur desa.

“Ya kurang lebih,” jawab Aris santai. “Mungkin.”

“Kurang lebih gimana?!” Sari setengah berteriak. “Mana ada tanaman tumbuh segede gini cuma semalam!”

Nada suara Sari naik satu oktaf. Gadis itu sampai mencubit lengannya sendiri untuk memastikan dia tidak sedang mimpi. Ia tumbuh besar di desa dan sudah terbiasa melihat petani bekerja, tapi fenomena di depan matanya benar-benar menghancurkan logika pertanian yang selama ini ia tahu.

Aris mengangkat bahu. “Mungkin tanahnya lagi mood bagus.”

“RIS!”

Melihat Sari mulai gemas sendiri, Aris malah tertawa kecil. Pagi-pagi ditemani gadis cantik sambil lihat ladang emas miliknya sendiri.

Rasanya seperti mimpi dan ada kepuasan pribadi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hidup pas-pasan, Aris merasakan sensasi menjadi “orang berhasil”. Bukan cuma karena uang, tapi karena ia bisa berdiri tegak di tanah milik keluarganya sendiri tanpa merasa rendah diri lagi.

“Udah, lah Sari. Panggil paman Wak Darmo dong, bilang kita siap-siap menuju ke Chef Junaeda lagi, hari ini.”

Sari masih ternganga, matanya bolak-balik menatap Aris dan hamparan sawi raksasa itu seolah sedang memecahkan teka-teki logika yang mustahil. Namun, aura dominasi yang terpancar dari tubuh Aris—yang kini berdiri tegak dengan sisa peluh semalam—membuatnya tak berkutik.

"Tapi Ris... pickup Bapak cuma satu, mana muat kalau sayurnya segede-gede gaban begini?" gumam Sari sambil masih terpaku pada salah satu helai daun sawi yang lebarnya hampir menutupi embernya.

Sari bahkan sempat membayangkan bagaimana ekspresi Chef Junaeda nanti saat melihat ukuran sayuran ini. Mungkin chef hotel itu bakal pingsan di tempat. Soalnya ini bukan lagi sayur normal—ini monster hasil panen.

"Muat-muatin, Sar. Kalau nggak muat, kita bolak-balik. Duitnya banyak ini," jawab Aris santai sembari mengeluarkan ponselnya.

Nada bicara Aris terdengar ringan, tapi kalimat “duitnya banyak” sukses membuat Sari menatapnya berbeda. Dulu Aris selalu pusing soal uang makan, sekarang pemuda itu bicara soal puluhan juta seperti sedang ngomongin uang parkir.

Sari akhirnya mengangguk patuh, meski kakinya masih terasa lemas. Ia berlari kecil menuju rumahnya, meninggalkan aroma manis wangi bak kembang desa yang tertiup angin pagi.

Aris menatap punggung Sari yang menjauh, sungguh gadis mongel.

Daster bunga itu bergoyang mengikuti langkah kecilnya yang tergesa-gesa. Rambut hitamnya memantulkan cahaya matahari pagi, sementara suara sandal jepitnya terdengar pelan menyusuri jalan tanah desa. Entah kenapa, melihat pemandangan sederhana seperti itu membuat sudut bibir Aris terangkat tipis.

Namun sesaat kemudian, tatapan Aris kembali berubah serius saat menoleh ke arah ladang sawi raksasa miliknya. Senyum tipis muncul di wajahnya. Ini baru awal. Kalau satu malam saja hasilnya bisa segila ini, maka beberapa bulan lagi… seluruh Desa Sukacita mungkin benar-benar berubah menjadi kerajaan pertanian miliknya.

1
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
tetap semangat dan Jaga kesehatan /Good/
Manusia Biasa: amin walau otaknya udah agak eror

terimakasih sudah membaca kak🤣
total 1 replies
Mamat Stone
sehat selalu Thor /Ok/
Hajir Pemburu
di tunggu kelanjutanya thor.
Manusia Biasa: baik tunggu besok ya ka. kemungkinan up 4-5 bab
total 1 replies
ラマSkuy
wah Thor masih banyak typo ya dan kadang ada juga penamaan karakter yang kebalik contohnya di bab ini di akhir
Manusia Biasa: waduh baik tak koreksi kak. garap dua novel sekaligus emang resikonya gini/Sob/🙏
total 1 replies
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/💥💥
Mamat Stone
Pejantan Tangguh /CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
sang Dermawan 🤩
Mamat Stone
berbagi itu indah 😍
ラマSkuy
kembali jadi warga biasa, kaya pria so.....
ラマSkuy: maaf gak dilanjut kata katanya, ada tukang bakso bawa HT jadi ngeri 🤣🤣🤣
total 2 replies
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!