NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Penolakan ke-10 dan 1 Air Mata Editor

Kandang ayam sekarang jadi kantor redaksiku.

Di dinding triplek kutempel 10 kertas. Bukan ijazah. Bukan piagam. Tapi surat penolakan dari koran dan majalah se-Indonesia.

"Maaf, naskah Anda belum sesuai dengan visi kami."

"Terima kasih, tapi kami tidak menerbitkan kisah personal."

"Silakan coba lagi tahun depan."

Setiap surat kutempel pake lakban. Setiap malam kubaca ulang. Bukan untuk nangis. Tapi untuk bakar dendam.

Hari ke-30 setelah aku mulai menulis, kertas bungkus semen habis. Aku robek kardus Indomie. Aku tulis lagi. "Wasiat Untuk Anakku Nisa" jilid 2.

Istriku bawa semua tulisanku ke kota. Ke kantor pos. Dikirim ke 10 alamat redaksi. Ongkosnya dari uang jual cincin kawin terakhirnya.

"Mas, kalo ditolak lagi gimana?" tanyanya pelan waktu pulang.

Aku tatap mata Nisa yang lagi main masak-masakan pake tanah.

"Kalo ditolak 10 kali, kita kirim 11 kali. Kalo ditolak 100 kali, kita kirim 101 kali. Sampai satu manusia di dunia ini percaya kalau ayah lumpuh juga bisa bersuara."

Minggu depan, 9 amplop coklat balik lagi ke kandang ayam. Isinya sama: PENOLAKAN.

Tetangga ketawa lebih kencang. "Tuh kan. Udah dibilangin. Halu!"

Tapi ada 1 amplop yang gak balik. Dari Koran "Cahaya Hati". Koran kecil di kota sebelah.

Dua minggu gak ada kabar. Aku udah ikhlas. Anggap aja surat ke-10.

Sampai suatu sore, ada motor butut berhenti depan gang. Lelaki kurus, kacamata tebal, bawa tas lusuh turun. Nanya ke warung.

"Rumah Bapak Galih yang penulis mana ya?"

Satu kampung heboh. "Wartawan! Galih diciduk polisi kali!"

Lelaki itu jalan ke kandang ayamku. Badannya bau rokok dan tinta cetak. Matanya merah.

Dia diam lama. Liat aku. Liat Nisa. Liat 10 surat penolakan di dinding. Liat tumpukan kardus Indomie penuh tulisanku.

Lalu dia buka tas. Ngeluarin naskahku. "Wasiat Untuk Anakku Nisa". Kertasnya lecek. Ada bekas air mata kering di halaman terakhir.

"Pak Galih..." suaranya bergetar. "Saya editor Koran Cahaya Hati. Naskah bapak... saya baca 3 kali. Tiga kali juga saya nangis di meja redaksi."

Dia jongkok. Sejajar sama aku yang lagi di lantai tanah.

"Pemimpin redaksi nolak. Katanya gak laku. Katanya siapa mau baca kisah ayah lumpuh. Tapi saya lawan, Pak. Saya taruhan jabatan saya. Minggu depan, tulisan Bapak naik cetak di halaman satu."

Dunia berhenti berputar Jendral.

Untuk pertama kalinya setelah vonis itu, ada orang asing yang percaya. Bukan karena kasihan. Tapi karena tulisan.

Hari itu aku belajar: Satu air mata editor, lebih mahal dari 1000 tawa tetangga.

Perangku baru dapat sekutu pertama. Namanya Pak Arman. Senjatanya bukan pena. Tapi keberanian percaya sama lelaki lumpuh dari kandang ayam.Seniatanya bukan pena. Tapi keberanian percaya sama lelaki lumpuh dari kandang ayam yang diremehkan dunia.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidur bukan sebagai beban. Tapi sebagai penulis. Sebagai seorang ayah yang tangannya masih bisa mencipta masa depan.

Nisa tidur di sampingku. Tangannya menggenggam jariku lagi. Tapi kali ini bukan karena mimpi buruk. Karena dia mimpi indah.

Di luar, 10 surat penolakan masih tertempel di dinding triplek. Menatapku. Mengejekku. Tapi sekarang mereka terlihat kecil. Kalah telak sama satu air mata Pak Arman.

Aku berbisik ke langit-langit bocor: "Ini baru pemanasan. Tunggu gebrakan selanjutnya."

Perang belum menang Jendral. Tapi malam ini,

1
Raihan
mampir juga lah di novel ku
Raihan: ya sama kan kita harus saling support mampir juga ya di novel ku 😄
total 2 replies
Raihan
kak bagus cerita
Tuti irfan
maaf mo nanya bukannya lumpuh pas ijab kabul ya kok udah punya anak
ELNARA: Halo Kak Tuti, terima kasih sudah mampir dan bertanya ya, izin saya jelaskan sejelas-jelasnya ya Kak 🤗

Betul sekali Kak, kejadiannya memang tepat pas hari ijab kabul, saya ambruk dan lumpuh saat itu juga. Tapi di cerita "KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM" ini ceritanya baru di bagian awal kejadian itu, jadi di sini BELUM ADA Balqis sama sekali.

Balqis itu anak saya, dia lahir dan ada bertahun-tahun SETELAH kejadian sakit itu. Kisah perjuangan saya membesarkan Balqis, berjuang demi dia sampai bangkit dan sukses, itu diceritakan di karya saya yang lain, judulnya "AYAH BALQIS".

Jadi urutan ceritanya begini Kak:

1. 📕 Cerita ini: Sakit pas nikah → orang bilang masa depan saya suram → belum ada anak.

2. 📘 Cerita Ayah Balqis: Bertahun-tahun kemudian → saya berjuang hidup → dikaruniai Balqis → berjuang demi dia sampai berhasil buktikan semua orang salah.

Memang beda judul dan beda fokus ceritanya, tapi itu satu perjalanan hidup saya yang dibagi jadi dua buku biar lebih jelas alurnya. Makasih banyak ya Kak sudah perhatikan detailnya, semoga sekarang sudah paham ya. Sehat selalu dan bahagia ya Kak 🙏✨
total 1 replies
Tuti irfan
mampir Thor, Bru baca selamat berkarya 💪
ELNARA: "Alhamdulillah, makasih banyak ya Kak Tuti! 🥰 Senang banget sekali ceritaku bisa diterima dan dibaca saksama sama Kakak. Semoga makin betah, makin penasaran, dan ceritanya makin menyentuh hati Kakak sampai akhir nanti. Lanjutkan ya Kak, masih banyak perjuangan dan kejutan selanjutnya! Sehat selalu dan bahagia ya Kak, terima kasih banyak sudah mampir dan dukung terus karyaku 🙏✨"
total 1 replies
ELNARA
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!