Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh
Sehari setelah melahirkan, beberapa teman Daniela datang berkunjung ke rumah sakit bersalin.
Begitu masuk ke dalam ruangan, mereka dibikin takjub oleh kondisi ruangan yang super lengkap dan mewah.
Lalu pada saat mereka melihat wajah bayi Daniela, mereka kembali dibikin takjub.
"Masih bayi merah aja udah kelihatan banget cantiknya, Dan." Puji Syifa dengan wajah berbinar.
"Iya, hidungnya mancung sempurna. Bibirnya mungil dan merah alami. Matanya juga indah." Wati ikut memuji.
Seakan mendengar pujian-pujian yang dilontarkan oleh teman ibunya, bayi cantik itu tersenyum manis sekali. Ada lesung pipi samar namun memanjang di kedua pipinya. Tentu saja lesung pipi itu milik Darren. Hidungnya lebih mirip keduanya namun senyumnya yang tipis juga milik Darren. Kedua bola mata indahnya, sama dengan milik Daniela. Namun jika diperhatikan secara keseluruhan, wajahnya memang lebih condong ke Darren. Itu sangat diakui oleh hati Daniela.
"Pasti Pak Gusti kan, yang memesan kamar ini?"
Celetuk Arni, salah satu teman kerja Daniela yang pernah nyinyirin dia. Entah apa alasan perempuan itu sekarang ikut menjenguk Daniela dengan rombongan Syifa.
"Ya bukanlah. Kamu pikir suaminya Daniela gak mampu apa, sewa kamar ini?" Balas Syifa, sengit.
Arni mencebikkan bibirnya.
"Kalau memang ada suaminya, mana? Kok gak datang sekarang, di saat Daniela melahirkan anaknya?"
Sindiran Arni kali ini lebih pedas lagi. Meski diucapkan pelan, tapi masih terdengar oleh teman-temannya termasuk oleh Daniela.
"Nggak usah didengar Dan, orang sirik tanda tak mampu!"
Kali ini Wati yang menjawab.
"Yang penting bayinya Daniela sangat cantik sekali. Malah di saat masih bayi merah,"
Syifa ikut menimpali dan membuat jawaban yang menohok.
Daniela bukan tak ingin menanggapi ocehan Arni, tapi dia tak mau bertengkar di depan putrinya. Walaupun masih bayi tapi kata orang, perasaan bayi itu sangat sensitif. Jadi sebaiknya dibawa happy aja.
Ia pun hanya mengulas senyum tipis, lalu membetulkan letak selimut merah muda yang membungkus tubuh bayinya. Kehadiran putri kecilnya ini jauh lebih berharga daripada harus meladeni mulut usil Arni.
"Terima kasih ya, kalian sudah menyempatkan datang ke sini," kata Harsiwi yang sejak tadi sibuk membereskan kado-kado yang dibawa teman Daniela.
Ucapan tulus Harsiwi, mengabaikan ketegangan yang sempat tercipta.
"Sama-sama Mak Tua, kami berdua ikut bahagia." Kata Syifa sambil merangkul bahu wati. Tapi matanya mendelik sinis pada Arni yang terlihat masih acuh tak acuh.
Lalu Syifa mendekat ke arah ranjang, menatap penuh gemas pada bayi mungil yang sedang mengarahkan tatapannya pada langit-langit kamar, seakan ia sudah bisa melihat dengan jelas. Syifa sengaja menggeser posisi berdirinya agar tubuhnya menghalangi pandangan Arni yang sejak tadi terus memasang wajah masam.
"Semoga kamu selalu dikelilingi orang-orang baik ya, nak. Tak ada satupun mata jahat yang bisa melihatmu! Semoga kamu juga selalu bahagia." Lanjut Syifa dengan suara yang lebih dikeraskan.
"Panjang umur dan sehat selalu. Memberi kebanggaan pada kedua orang tuamu dan juga sekitarmu." Sambung Wati.
"Amiin..." Jawab Daniela dan Harsiwi bersamaan.
***
Malam harinya giliran Gusti yang datang. Ia sendirian tanpa ditemani siapapun.
"Selamat ya Daniela, sekarang sudah menjadi ibu." Ucap Gusti sambil menyalami Harsiwi dan menyerahkan kado pada wanita paruh baya itu.
"Terima kasih." Jawab Daniela singkat.
Gusti mendekati box bayi dan menatap wajah mungil yang sedang tertidur pulas itu. Bibirnya bergerak-gerak seperti sedang berdoa. Lalu setelah itu kembali pada Daniela.
"Maaf Pak Gusti, saya mau tanya." Kata Daniela sedikit ragu.
"Tanya apa?"
"Apakah Pak Gusti yang membawa saya ke sini dan menyewakan kamar ini?"
Gusti mengerutkan kening sambil menggeleng.
"Bukan saya." Jawabnya cepat. Daniela terkejut. Jantungnya semakin berdegup kencang.
"Tapi..."
"Tapi apa, Pak?" Sambar Daniela tak sabaran.
"Pemilik mal tempat kita bekerja, datang dan menanyakan kamu. Beliau mendengar berita kalau kamu sudah berhasil menghidupkan kembali area bermain anak, yang akhir-akhir ini terpantau kurang peminat."
"Lalu, apa hubungannya dengan pertanyaan saya tadi?"
Gusti tersenyum menenangkan. Lalu duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Daniela.
"Beliau sempat menanyakan alamatmu, Dan. Lalu saya kasih. Mungkin saat kamu kontraksi itu bertepatan dengan kedatangan beliau."
"Kalau boleh tahu, pemilik mal itu siapa namanya dan berasal dari mana?" Tanya Daniela. Ia menegakkan punggungnya di antara tumpukan bantal sebagai penyangganya.
"Namanya Mr. Darren Arkhanio Callister. Asalnya dari..."
Seketika tubuh Daniela menegang, kepalanya terasa pening dan jantungnya melompat-lompat seperti ingin keluar dari dalam dadanya. Ia tak lagi mendengarkan kelanjutan ucapan Gusti.
Darren, laki-laki bajingan itu? Laki-laki yang sudah merenggut harga diri dan melecehkannya?
"Kamu kenapa Daniela?" Tanya Gusti kaget saat melihat wajah bawahannya itu pucat pasi. Daniela hanya menggeleng dengan wajah syok.
"Apa kamu mengenal Pak Darren atau pernah mendengar namanya?"
Daniela kembali menggelengkan kepalanya. Bahkan sampai berkali-kali seakan ingin menegaskan kalau dia memang tidak mengenal nama itu.
"Lalu, kenapa wajahmu jadi pucat seperti itu?"
"Tidak apa-apa Pak. Mungkin saya hanya masih kelelahan saja."
Daniela membuat alasan dan untungnya bisa diterima oleh Gusti. Karena memang melahirkan secara normal sangat menyakitkan dan melelahkan.
"Baiklah Daniela sebaiknya kamu memang masih harus banyak istirahat. Saya pulang dulu, sekali lagi selamat sudah melahirkan bayi cantikmu dengan selamat."
Daniela mengangguk dan merasa lega, Gusti segera pulang. Bukan karena ia tidak suka pada manajernya itu, atau merasa takut dilabrak lagi oleh Sukma. Tapi karena ia harus segera berbicara pada Harsiwi, tentang siapa orang yang sudah menolongnya.
***
"Mak, aku mohon, kita harus segera pindah dari kota ini."
Daniela langsung panik setelah kepulangan Gusti. Matanya berkaca-kaca dan tubuhnya gemetar. Tentu saja Harsiwi kaget melihatnya. Tak ada angin tak ada hujan, Daniela berniat ingin pindah lagi. Padahal baru saja melahirkan.
"Pindah ke mana, Daniela? Kita kan baru pindah ke sini dan kamu juga baru saja melahirkan. Ada apa ini?"
"Ternyata yang bawa kita ke sini... dia... laki-laki itu, Mak."
Tangis Daniela pecah. Ia menutup wajahnya dengan bantal, membuat Mak Tuanya melongo antara kaget dan tak percaya. Tapi ada yang aneh. Kalau memang betul laki-laki yang membawa Daniela itu suaminya, kenapa dia seakan tak mengenalinya?
"Tapi nak..."
"Gak ada tapi, tapi, Mak Tua. Dia cuma pura-pura tak mengenalku di depan Mak Tua. Aku takut nanti dia akan membawa anakku, Mak."
Harsiwi menghela napas berat, mencoba menenangkan Daniela. Ia mengusap lembut punggung keponakannya itu, berusaha menyalurkan ketenangan yang ia sendiri pun sebenarnya sulit rasakan.
"Tenang dulu, Daniela. Jangan panik begini. Ingat, kamu itu baru satu hari melahirkan, kondisi fisikmu belum pulih benar. Kalau kamu stres, nanti bayimu juga ikut merasakan," ucap Harsiwi dengan suara serendah mungkin, takut obrolan mereka terdengar sampai luar kamar perawatan.
"Bagaimana aku bisa tenang, Mak? Dia sudah tahu di mana aku tinggal, dia bahkan tahu aku melahirkan di rumah sakit ini," sahut Daniela, suaranya parau, menyisakan ketakutan yang teramat besar.
"Lalu kalau kita pindah sekarang, kamu mau bawa bayimu yang masih merah ini ke mana? Kamu bahkan belum bisa berjalan tegak, Daniela," bisik Harsiwi, mencoba menyadarkan Daniela pada kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk kabur mendadak.
"Aku tidak peduli dengan kondisi fisikku, Mak. Yang penting anakku aman," cetus Daniela keras kepala. Ia benar-benar dibutakan oleh rasa takutnya.
Harsiwi hanya bisa terdiam menatap keponakannya dengan iba. Ia menoleh ke arah boks bayi, menatap wajah suci putri Daniela yang masih tertidur lelap tanpa tahu badai apa yang sedang melanda hati ibunya. Rasanya sesak sekali, menyadari bahwa pelarian yang dilalui Daniela dengan susah payah ternyata tetap berujung di bawah bayang-bayang laki-laki yang sama.
"Kalau begitu, untuk sementara kita akan kembali ke desa." Putus Harsiwi dengan tegas.
"Tapi..."
Daniela tak melanjutkan ucapannya, karena untuk sementara itu memang jalan terbaik. Beruntung rumah itu tidak dijual.
***
Sepulang dari Medan, jadwal Darren memang sangat padat. Dia hampir tak pernah memikirkan mimpi anehnya lagi.
Tapi setelah lebih dari seminggu, Darren tiba-tiba teringat pada Daniela. Ia pun meminta Reymond untuk mencari tahu.
"Tolong cari tahu tentang kasir itu. Bagaimana persalinannya, apa dia sudah melahirkan?"
Reymond yang tidak tahu apa-apa, hanya mengernyitkan dahinya.
"Maksud anda, kasir yang mana?"
"Kasir yang sudah membantu mendesain wahana anak-anak di mal Medan. Waktu aku ke sana dia sedang kontraksi dan akan melahirkan."
"Oh, baiklah akan saya tanyakan sekarang. Maaf, namanya siapa?"
"Kalau tidak salah, Daniela... Arden Atmaja."
mungkin di masa lalu Darren org yg arogan Daniela ,,
tp saat ni Darren sosok ayah yg merindukan keluarga kecil ny ,,
mungkin sulit tuk melupakan masa lalu yg menyakitkan ,, tp fikirkan juga daphnee ,, dy juga merindukan papa ny ,,
ayooo darreeen berusaha teruus ,, bukti kan klo km uuddh berubah
belum waktu ny mereka ketemu niih ,, ad aj halangan ny ,, 🤭🤭🤭