Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin Retak dan Kebohongan yang Terpahat
*"Kau tahu, Marie, ada satu hal yang paling menyedihkan di dunia ini selain kematian: yaitu menyadari bahwa kau hanyalah sekadar gema dari sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar ada."*
Suara itu—suaraku sendiri—menggema di taman bersalju yang aneh ini, menusuk gendang telingaku lebih dalam daripada pedang manapun. Wanita di depanku, sosok yang persis denganku, melangkah keluar dari balik bayangan pohon pinus yang beku. Langkahnya tidak meninggalkan jejak di salju. Dia mengenakan gaun yang sama dengan yang kupakai, namun gaunnya tampak seperti tenunan dari cahaya bulan dan kegelapan, bukan sutra duniawi.
Aku mengeratkan genggaman pada belatiku, meski jari-jariku terasa kaku karena suhu yang drop secara drastis. *"Siapa kau? Apakah kau adalah sisa kesadaran Marie Vance? Atau kau hanyalah proyeksi sihir yang mencoba mengacaukan pikiranku?"*
Wanita itu tertawa, suara yang terdengar seperti pecahan kristal yang jatuh di atas marmer. Dia berhenti beberapa langkah di hadapanku, wajahnya begitu detail, begitu nyata, hingga aku bisa melihat bekas luka kecil di sudut bibirnya—bekas luka yang juga kumiliki.
*"Aku adalah apa yang tersisa ketika tubuh Marie Vance kehilangan jiwanya,"* ucapnya dingin. *"Aku adalah memori yang dibuang, rasa sakit yang tidak diinginkan, dan kebencian yang menolak untuk mati bersama tubuh itu. Aku bukanlah kau, Marie. Akulah Marie yang seharusnya ada sebelum kau datang dan mencuri tempat ini."*
Darahku terasa membeku. Jadi, aku bukan sekadar reinkarnasi? Aku adalah penyusup?
*"Aku tidak datang untuk mencuri,"* jawabku, mencoba menahan emosi yang mulai meluap. *"Aku terbangun di sini karena sebuah anomali. Dan jika kau adalah sisa-sisa dirinya, maka kau harus tahu bahwa aku tidak membenci kehidupan ini. Aku hanya ingin bertahan hidup."*
*"Bertahan hidup?"* dia mencemooh, melayang mendekat seolah kakinya tidak menyentuh tanah. *"Lihatlah ke sekelilingmu, Istri dari Tuan Syndicate. Kau bahkan tidak tahu siapa yang kau nikahi. Julius Vance tidak menyelamatkanmu karena dia mencintaimu. Dia menyelamatkanmu karena kau adalah kunci untuk membuka segel Penjaga Kota, dan sekarang, setelah kau melakukannya, kau hanyalah cangkang kosong yang siap dia buang."*
*Dia berbohong,* batinku, meskipun logika itu terasa pahit. *Dia hanya ingin memancing kecurigaanku terhadap Julius.*
*"Kau tidak tahu apa-apa tentang Julius,"* kataku tegas.
*"Oh, aku tahu segalanya. Aku adalah bagian dari ingatan Marie yang tertanam di dinding rumah ini. Aku melihat bagaimana Julius memanipulasi ayahmu. Aku melihat bagaimana dia meracuni pikiranmu sejak hari pertama kau terbangun di tubuh yang menyedihkan ini."* Dia mengulurkan tangan, ujung jarinya menyentuh dadaku tepat di mana jantung ayah Marie berdetak. *"Sihir sinkronisasi itu bukan penyelamat. Itu adalah tali kekang. Dan ketika Julius merasa kau sudah tidak berguna, dia akan menarik tali itu, dan jantung di dalam sana akan berhenti berdetak selamanya."*
Tiba-tiba, salju di sekitar kami mulai berubah warna menjadi hitam legam. Langit di atas Oakhaven yang terbelah dua itu mulai meneteskan api cair ke arah taman. Makhluk-makhluk bayangan mulai merangkak keluar dari celah-celah dimensi, membawa aura kehancuran yang sangat kuat. Ini adalah invasi. Dewan Langit tidak lagi sekadar mengirim pembunuh; mereka membuka gerbang untuk melenyapkan seluruh distrik ini.
Wanita itu tersenyum lebar. *"Lihatlah, Marie. Kekacauan yang kau bangun. Jika kau mati di sini, Oakhaven akan kembali tenang. Jadi, haruskah aku membantumu untuk menyerah, atau akankah kau mencoba melawan takdir yang bahkan tidak menginginkanmu?"*
*"Aku tidak akan menyerah,"* desisku. Aku mengayunkan belatiku ke arahnya, namun belati itu hanya menembus udara kosong. Dia menghilang seperti kabut.
*Sial!*
Aku sendirian di tengah taman yang mulai hancur ini. Suara ledakan terdengar di kejauhan, kemungkinan besar berasal dari kediaman Vance tempat Julius sedang bertarung. Aku harus kembali. Aku harus menanyakan kebenaran ini padanya, meskipun itu berarti aku harus menghadapinya dengan belati di tangan.
Aku mulai berlari kembali ke arah pintu rahasia. Namun, salju di bawah kakiku tiba-tiba retak, dan dari retakan itu muncul tangan-tangan hitam dari dimensi lain, mencoba menarikku ke bawah. Aku mengeluarkan sihir emas dari dalam darahku, membakar tangan-tangan itu, namun jumlahnya ribuan. Setiap kali aku memusnahkan satu, sepuluh lagi muncul.
*"Kau tidak bisa lari dari bayang-bayangmu sendiri, Marie!"* suara wanita itu kembali bergema dari segala penjuru.
Aku terengah-engah, tubuhku semakin melemah karena detak jantung ayah Marie yang mulai tidak sinkron dengan langkahku. *Fokus. Ingat pola sihirnya.* Aku memejamkan mata, memanggil kembali ingatan tentang cara ayah Marie memurnikan energi. Aku tidak memurnikan bayangan-bayangan itu; aku *menyerap* mereka.
Aku membiarkan kegelapan itu masuk ke dalam tubuhku, menggunakannya sebagai bahan bakar untuk memperkuat jantung ayahku. Rasa sakitnya luar biasa, seperti organ dalamku diremas oleh ribuan jarum. Namun, kekuatan yang kurasakan setelahnya adalah murni—kekuatan untuk memanipulasi ruang.
Aku mengayunkan tanganku ke udara, merobek realitas di depanku. *Bruk!* Aku jatuh keluar dari dimensi taman itu dan mendarat dengan kasar di lantai ruang tengah kediaman Vance.
Ruangan itu porak-poranda. Buku-buku kuno terbakar, furnitur hancur berkeping-keping. Dan di tengah ruangan, Julius berdiri di atas tumpukan mayat para pembunuh bayaran Dewan Langit. Dia sendiri terluka parah, jubahnya robek dan darah hitam mengalir dari bahunya. Namun, pedang hitamnya masih terhunus dengan mantap.
Dia menoleh ke arahku, tatapannya menyapu tubuhku dengan cepat, memeriksa apakah ada luka fatal.
*"Kau kembali,"* ucapnya, suaranya terdengar lega, meski matanya tetap waspada. *"Aku hampir berpikir kau tersesat ke dalam saku dimensi yang diciptakan oleh penyusup itu."*
Aku bangkit berdiri, menatapnya dengan pandangan yang tajam. Pertemuan dengan 'diriku yang lain' di dimensi itu masih terbayang jelas. *Apakah dia benar-benar hanya menggunakan aku?*
*"Julius,"* suaraku bergetar namun tegas. *"Apakah benar aku hanyalah wadah? Apakah jantung ini hanya alat untuk membukakan pintu bagi sesuatu yang kau inginkan?"*
Julius terdiam. Dia menyarungkan pedangnya dengan gerakan lambat yang disengaja. Dia berjalan mendekat, melewati genangan darah dan sisa-sisa sihir. Dia tidak menghindar dari pertanyaanku.
*"Jika aku mengatakan 'iya', apakah kau akan menusukku dengan belati itu?"* tanyanya, suaranya begitu tenang hingga terasa tidak nyata.
Aku terdiam. Aku memegang belati perakku, menatap dadanya yang bidang, menatap mata obsidian yang selama ini menjadi satu-satunya petunjukku di dunia asing ini.
*"Aku ingin kebenaran, Julius. Jangan mencoba memanipulasiku lagi,"* kataku, air mata panas mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku merasa dikhianati, tidak hanya oleh situasi, tapi oleh satu-satunya orang yang kuanggap sekutu.
Julius menghela napas panjang. Dia berhenti tepat di depanku, lalu melakukan sesuatu yang tidak pernah kuduga. Dia menjatuhkan pertahanannya, membuka lengannya lebar-lebar.
*"Silakan,"* ucapnya. *"Jika kau merasa aku hanyalah monster yang memanfaatkanmu, silakan tusukkan belati itu ke jantungku. Tapi ketahuilah satu hal: begitu aku mati, detak jantung ayahmu akan berhenti sinkron dengan jiwamu, karena akulah yang secara sadar menahan detak itu agar tetap hidup di dalam tubuhmu dengan sihir pribadiku."*
Jantungku berdegup kencang—bukan karena sinkronisasi, melainkan karena kaget. *Jadi dia adalah pengikatnya?*
*"Kau tidak hanya menyimpan jantung itu di dalam cawan,"* lanjutnya, suaranya kini sedikit bergetar. *"Aku menghubungkan nyawaku dengan detak jantung itu setiap malam, Marie. Aku membagikan usiaku, membagikan darahku, agar kau bisa terus hidup di dunia ini. Jadi, katakan padaku, apakah aku sedang memanfaatkanmu, atau apakah aku sedang perlahan-lahan menghabiskan nyawaku sendiri untuk memastikan kau tetap bernapas?"*
Ruangan menjadi sunyi, hanya suara kayu yang terbakar yang mengisi kesunyian. Aku menatapnya, mencari kebohongan. Tidak ada. Matanya hanya menunjukkan kelelahan yang luar biasa—kelelahan seorang pria yang telah memikul beban rahasia selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba, suara retakan keras terdengar dari atap gedung. Bukan dari dimensi lain, melainkan dari langit asli Oakhaven. Sesuatu yang jauh lebih besar dari Penjaga Kota sedang turun. Sebuah kapal perang sihir—milik Dewan Langit—telah muncul di balik awan, menargetkan kediaman Vance dengan meriam cahaya murni.
*"Mereka tidak akan membiarkan kita pergi,"* kata Julius, meraih tanganku dengan genggaman yang sangat kuat. *"Pilihan ada padamu sekarang, Marie. Apakah kau akan membunuhku dan berakhir di sini, atau apakah kau akan percaya padaku untuk terakhir kalinya agar kita bisa keluar dari kota ini bersama?"*
Langit di atas kami meledak. Meriam cahaya murni itu menghantam kediaman Vance, menghancurkan seluruh dinding ruangan. Aku ditarik ke dalam pelukan Julius saat reruntuhan gedung mulai runtuh menimpa kami.
Dalam gelapnya debu dan api, aku membuat keputusan. Aku tidak menusuknya. Aku menggenggam tangannya erat-erat, menyatukan energi sihir emas dari jantung ayahku dengan energi kegelapan Julius.
*"Kita tidak akan mati malam ini,"* kataku di tengah dentuman ledakan. *"Bukan oleh tangan mereka!"*
Kami melompat ke dalam lubang yang terbuka di lantai, menuju ke terowongan terdalam yang bahkan tidak ada dalam peta Oakhaven. Saat kami jatuh ke dalam kegelapan, aku merasakan sentuhan dingin di leherku. Sebuah tangan—tangan yang bukan milik Julius—mencekikku dari belakang, menarikku ke arah yang berbeda.
Aku berteriak, namun suaraku tertelan oleh desingan sihir yang memekakkan telinga. Julius mencoba meraihku, namun dia terlempar oleh sebuah perisai sihir yang kuat.
Aku ditarik ke dalam kegelapan total, dan hal terakhir yang kudengar sebelum kesadaranku hilang adalah suara wanita tadi—wanita yang menyerupai diriku—berbisik di telingaku.
*"Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Marie. Selamat datang di neraka yang sesungguhnya."*
Saat aku membuka mata, aku tidak berada di Oakhaven. Aku berada di sebuah sel penjara yang terbuat dari cahaya murni, di puncak menara yang melayang di atas awan. Dan di hadapanku, duduk seorang pria dengan topeng emas yang sangat familiar—pria yang membunuh ayah Marie di ingatan itu.