Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GRRAAA—!
Di sebuah ngarai yang seperti kerongkongan raksasa yang siap menelan apa pun yang masuk ke dalamnya. Dinding-dinding batu granit menjulang tinggi, mengepung ruang sempit di bawahnya dengan angkuh.
Lantai ngarai tak kalah bengis; permukaannya tidak rata, dipenuhi bongkahan batu lumutan yang licin dan tanah yang jenuh air. Di sinilah, kebanggaan militer Singasari menemui titik nadirnya.
Pasukan berkuda yang dipimpin oleh Jagaraga terjebak dalam formasi linier yang kaku dan rapuh. Kuda-kuda perang yang biasanya gagah di padang terbuka, kini meringkik ketakutan.
Hewan-hewan itu kehilangan pijakan, kaki-kaki mereka gemetar saat mencoba menapak pada bongkahan batu yang tak stabil. Suara napas kuda yang memburu dan denting zirah yang beradu menciptakan simfoni kecemasan yang memekakkan telinga.
Jagaraga, dengan wajah yang memerah akibat amarah dan ketakutan yang terpendam, menghunus kerisnya. Matanya liar menyapu setiap celah di dinding tebing. "Keluar kalian, pengecut! Tunjukkan wajah kalian!" teriaknya, suaranya menggema memantul di dinding ngarai, hanya untuk dijawab oleh kesunyian yang mencekam.
Namun, Pasukan Harimau memiliki filosofi kehormatan yang berbeda dengan prajurit keraton. Bagi para gerilyawan ini, bertempur bukan hanya panggung untuk memamerkan kegagahan dan keperkasaan semata. Mereka adalah manifestasi dari hukum rimba: diam, mengintai, dan menyerang tiba-tiba.
"GRRAAA—!"
Satu auman dari sang Kapok (Ketua Kelompok) merupakan perintah serangan, suaranya parau menggelegar dan menggema dari atas tebing, memutus kesunyian seperti petir yang menyambar di siang bolong.
Seketika itu juga, kegelapan di sekitar tebing seolah-olah bernapas dan bergerak. Tidak ada teriakan perang yang membahana layaknya pasukan Jawa ketika menyerbu. Yang ada hanyalah suara gesekan logam yang halus dan embusan napas pendek yang teratur.
Seorang prajurit Bhayangkara di barisan belakang tiba-tiba terangkat ke udara. Lehernya terlilit tali ijuk yang ditarik dengan kekuatan luar biasa dari atas dahan pohon yang menjorok. Sebelum prajurit di sampingnya sempat berteriak, sesosok pria bertopeng kayu harimau meluncur turun dari dinding batu secepat kilat. Ia mendarat tepat di atas punggung kuda, mencengkeram kepala prajurit kedua, dan menancapkan Kerambit tepat di sela-sela zirah leher yang tak terlindungi.
Sret!
Suara robekan daging itu terdengar begitu jelas. Prajurit itu tumbang tanpa sempat menghunus pedang. Sosok bertopeng harimau itu menghilang kembali ke balik bayangan semak belukar bahkan sebelum kuda yang ditungganginya sempat melompat kaget.
Mereka bergerak secara individu, namun bekerja dalam harmoni yang mengerikan, seolah mereka sudah tahu targetnya masing-masing, jika satu Harimau sedang mengeksekusi target, rekannya yang lain sudah mengunci mangsa berbeda, mereka memang Harimau yang berburu sendirian, bukan Singa apalagi Serigala yang berburu secara berkelompok.
Kepanikan terjadi di kubu pasukan Jagaraga, "Mereka bukan manusia! Mereka iblis!" teriak seorang prajurit muda saat melihat rekannya tewas dengan leher terkoyak oleh kerambit ganda yang digunakan dengan kecepatan yang melampaui batas mata manusia.
Jagaraga mencoba menguasai keadaan, suaranya parau memerintah, "Bentuk lingkaran! Punggung ke punggung! Jangan biarkan mereka masuk ke tengah!"
Namun, taktik Lingkaran Bertahan yang menjadi andalan Singasari di tanah Jawa tidak berguna di sini. Dengan kuda yang panik , di ngarai yang sempit, semakin membatasi ruang gerak mereka.
Pasukan Harimau menyerang dari tiga dimensi sekaligus: dari atas, depan, belakang dan samping, memanfaatkan celah-celah batu yang sempit. Mereka menggunakan medan yang buruk itu sebagai perpanjangan tangan mereka.
Mereka melompat dari satu batu ke batu lain dengan keseimbangan yang luar biasa, seolah-olah hukum gravitasi tidak berlaku bagi mereka yang mengenakan topeng harimau itu.
Kapok Pasukan Harimau—pria tua yang sebelumnya berdiri dengan tenang di dekat Jagu—bergerak seperti air yang mengalir di antara bebatuan. Ia tidak berlari; ia bergerak secara organik. Setiap langkah yang diambilnya adalah posisi strategis untuk membunuh.
Dengan sekali putaran Kerambit yang memiliki ketajaman luar biasa, memutus urat kaki depan kuda paling depan, menciptakan efek domino yang meruntuhkan barisan Jagaraga dalam sekejap.
Jagu, Danta, dan Monti hanya bisa terpaku mengintip di sudut persembuyian. Mereka yang selama ini hanya mendengar kisah para pejuang pasukan Harimau, kini menyaksikan dengan mata mereka sendiri, bagaiamana sang Harimau berburu mangsa.
Jagaraga menyaksikan pasukannya tumbang satu persatu, bukan karena kalah jumlah—mereka sebenarnya unggul secara kuantitas—tetapi mereka kalah dalam kualitas mental dan adaptasi medan yang sempit.
Pasukannya yang terlatih untuk perang terbuka dan disiplin baris-berbaris, hancur lebur melawan para gerilyawan yang memiliki keganasan binatang liar.
"Mundur! Mundur ke dataran terbuka! Keluar dari ngarai ini!" raung Jagaraga, harga dirinya kini sudah hancur bersama dengan mayat-mayat pasukannya.
Namun, jalan keluar dari ngarai sudah tertutup. Sebuah pohon besar yang telah disabotase sebelumnya tumbang melintang, menciptakan barikade alami yang mustahil ditembus kuda.
Di atas batang pohon itu, seorang anggota Pasukan Harimau berdiri dengan tenang, memegang kepala salah satu prajurit yang sudah terpisah dari tubuhnya. Ia memiringkan sedikit kepalanya seolah berkata : “Hanya begini saja kemampuan kalian.”
"GRRAA—GRRAA—!" dua kali auman suara parau itu kembali terdengar, namun kali ini bernada mengejek. Hanya dengan dua auman, para manusia bertopeng Harimau berpencar memasuki kedalaman hutan dan menghilang begitu saja.
Jagaraga menyadari bahwa mereka bukan sedang bertempur; mereka sedang digiring menuju pembantaian.
……..
[Rawa Seribu]
Di belahan lain wilayah itu, di tengah keheningan Rawa Seribu yang mematikan, Puti Kirai berjaga dengan pisau kecil terhunus. Tangannya gemetar hebat, napasnya tertahan di kerongkongan. Sena masih bersandar lemah di pangkuannya, tubuhnya panas membara akibat demam infeksi yang kian parah.
Balun memegang erat parangnya, berkali-kali ia menelan ludah, napasnya berat naik turun, ketiak melihat riak-riak kecil di air rawa dekat mereka.
Tiba-tiba, permukaan air rawa yang tenang di depan mereka terbelah tanpa suara.