NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Kedaulatan Udara

Angka digital merah darah di pergelangan tangan kiri Haena membeku di angka 00:04:59. Koridor luar gedung Pengadilan Arbitrase Internasional Singapura (SIAC) yang megah dan dipenuhi pilar marmer mendadak diselimuti oleh raungan sirine darurat perimeter siber. Pendar lampu putih di langit-langit berkedip tidak stabil, memantulkan ketegangan ekstrem yang kembali memuncak dalam skala militer global setelah kemenangan telak di ruang sidang arbitrase.

Haena berdiri tegak di tengah koridor dengan keanggunan mutlak yang tak terusik sedikit pun oleh ancaman kematian yang berada di ambang pintu. Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat membungkus siluet tubuh tingginya yang memiliki proporsi hourglass figure sempurna. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang bertumpu di hidung mancungnya, mata jernih Haena menatap layar tablet taktis yang dibawa oleh Clarissa. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang sangat konstan sebuah gestur mutlak yang menandakan sirkuit otaknya sedang memproses data balistik musuh menjadi sebuah kalkulasi taktis pertahanan.

"Rudal balistik taktis jarak pendek dengan hulu ledak EMP (Electromagnetic Pulse)diluncurkan dari kapal selam siluman kelas Kilo yang tidak teregistrasi di Selat," suara Haena terdengar teramat jernih, dingin, dan beraura tegas memecah kepanikan tim.

"The Seven Elders tidak hanya berniat melenyapkan kita secara fisik, mereka ingin meledakkan hulu ledak ini di atas distrik finansial Singapura untuk menghapus seluruh jejak manipulasi pasar finansial yang baru saja kita bongkar di dalam persidangan."

Kaelen Arkananta yang berdiri di samping Haena terkekeh rendah sebuah tawa karismatik yang memancarkan kepuasan mutlak sekaligus kegelapan yang mendalam dari seorang predator puncak. Sepasang mata elangnya yang tajam berkilat penuh murka yang luar biasa masif melihat keputusasaan The Seven Elders yang menggunakan kekuatan militer ilegal. Dengan gerakan yang sangat cepat dan posesif, Kaelen menarik pinggang Haena mendekat ke dalam dekapannya, memancarkan aura protektif yang kian kental di antara mereka.

"Mereka menggunakan opsi bumi hangus, Haena," bisik Kaelen dengan suara baritonnya yang berat, rendah, dan sarat akan nada intim yang menantang bahaya.

"Mereka mengira wilayah udara Singapura berada di luar jangkauan pertahanan kita. Gavin! Aktifkan protokol Iron Shield dari kapal komando bayangan Arkananta yang bersandar di Selat Johor sekarang juga!"

"Siap, Tuan Kaelen!" jawab Gavin secepat kilat dengan nada patuh yang teramat dalam. Pria itu langsung menekan serangkaian tombol darurat pada gawai militernya, memobilisasi unit pertahanan udara tak terlihat milik Arkananta Group.

Clarissa yang jemarinya terus bergerak secepat kilat di atas layar enkripsi kuantum berseru tegang, "Waktu benturan tinggal tiga menit dua puluh detik! Sinyal kendali rudal terenkripsi menggunakan frekuensi militer The First Elder. Jika hulu ledak itu meledak di atmosfer atas, seluruh perangkat elektronik dan server database di gedung SIAC ini akan hangus total dalam radius lima kilometer!"

Haena mendongak sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata elang Kaelen tanpa ada riak keraguan sedikit pun di wajah cantiknya yang mengadopsi tren Douyin glass skin. "Mereka mengandalkan enkripsi kuantum untuk mengunci target, Kaelen. Mereka tidak tahu bahwa sirkuit jam tanganku terhubung langsung dengan satelit komunikasi Dirgantara Corp yang memiliki hak akses melompati frekuensi regional maritim."

Haena melepaskan jam tangan berliannya, lalu menyerahkannya kepada Clarissa dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan.

"Clarissa, suntikkan virus Trojan balik yang kita gunakan untuk meretas drone bunuh diri di Selat ke dalam gelombang pemandu rudal tersebut. Gunakan aset lima miliar dolar yang baru saja kita sita di ruang sidang sebagai jaminan daya komputasi server bayangan Singapura untuk mempercepat penetrasi siber."

Sementara itu, di belahan bumi lain, di dalam kegelapan sel isolasi penjara wanita Jakarta, Nyonya Rosalind duduk bersimpuh di lantai semen yang kusam dengan rantai penahanan yang bergemerincing kasar. Wajah penuh riasan tebalnya kini telah hancur oleh keringat dingin, namun sepasang matanya melotot tajam menatap ke langit-langit sel dengan senyuman penuh kegilaan distorsi kebencian yang masif.

Vanya yang duduk di sudut sel, terus memeluk jaket denim longgarnya yang kotor dengan tubuh yang bergetar hebat menahan rasa syok.

"Ibu... hentikan tawa menjijikkan itu! Kita sudah kalah! Haena telah menguasai seluruh aset Dirgantara Corp secara mutlak! Kita tidak akan pernah keluar dari tempat ini!"

"Kamu bodoh, Vanya! Kamu tidak mendengar gemuruh dari Selat Malaka?!" jerit Nyonya Rosalind dengan sisa suaranya yang serak akibat histeria sidang.

"Detik ini juga, hulu ledak kiamat dari The Seven Elders sedang terbang menuju kepala jalang kecil berkacamata itu! Haena boleh saja menang di atas kertas hukum Singapura, tetapi tubuhnya akan terpanggang menjadi debu radioaktif sebelum dia sempat mencairkan uangnya! Hahaha! Tuan Bramasta akan menangis darah melihat putri kesayangannya mati di luar negeri!"

Mendengar kegilaan ibunya yang sudah tidak tertolong lagi, Vanya hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik jaket denimnya, menangis meratapi nasib faksi mereka yang telah hancur berkeping-keping karena kesombongan masa lalu.

Kembali ke koridor SIAC Singapura, waktu hitung mundur di layar siber Clarissa menunjukkan angka kritis: 00:01:15.

"Penetrasi siber berhasil sembilan puluh persen, Nona Haena!" seru Clarissa, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

"Namun, The First Elder mendeteksi peretasan kita dan mengunci sistem navigasi rudal secara manual dari pulau buatan mereka di Laut Cina Selatan! Kita membutuhkan otorisasi identitas bio-metrik tingkat tinggi untuk mengambil alih kendali penuh!"

Pak Baskara yang memantau jalannya krisis melalui umpan video terenkripsi dari markas komando Jakarta menahan napasnya dengan dada yang bergemuruh kencang. Di sampingnya, di dalam ruang perawatan VIP rumah sakit pusat, Tuan Bramasta yang pelipisnya masih dibalut kain kasa memaksakan diri untuk duduk tegak, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam untuk keselamatan putri kandung sejati yang baru saja ditemukannya.

Ibu Aminah yang duduk di kursi roda medis di samping tempat tidur Tuan Bramasta terus menggenggam tasbihnya, bibirnya bergetar merapalkan doa keselamatan dengan air mata yang berlinang.

"Ya Allah... selamatkan Haena... selamatkan anakku..."

"Gunakan tanda tangan digital orisinal milik Papa, Clarissa," perintah Haena taktis, suaranya sarat akan otoritas mutlak seorang direktur utama baru yang tak terbantahkan.

"Klausul merger yang kita tanda tangani di pagi ini mengandung kode identitas korporasi maritim gabungan Dirgantara-Arkananta yang diakui oleh satelit pertahanan regional."

Kaelen Arkananta langsung menempelkan ibu jarinya pada pemindai biometrik tablet Clarissa, disusul oleh Haena yang menekan telapak tangannya pada layar sirkuit tersebut. Dua kekuatan raksasa muda itu menyatu, membentuk satu kunci enkripsi pamungkas yang langsung memutus kendali The Seven Elders atas rudal balistik di udara.

"Akses diterima! Kendali rudal dialihkan sepenuhnya ke tangan Dirgantara Corp!" pekik Clarissa penuh kemenangan.

Haena membetulkan letak kacamata transparannya dengan gerakan yang sangat elegan, seulas senyuman sinis yang teramat menawan namun mematikan terukir di bibir cantiknya.

"Ubah koordinat targetnya, Clarissa. Jangan jatuhkan rudal itu di daratan Singapura. Putar balik arah terbangnya seratus delapan puluh derajat, dan hantamkan hulu ledak EMP tersebut tepat di atas kapal selam siluman milik mereka yang sedang mencoba melarikan diri di perairan internasional Selat Malaka."

"Perintah dilaksanakan!" Clarissa menekan tombol eksekusi akhir.

Di langit malam Singapura yang pekat, rudal taktis yang semula menukik tajam menuju distrik finansial mendadak melakukan manuver vertikal yang ekstrem. Seluruh jurnalis finansial global yang berada di luar gedung SIAC mendongak ke atas dengan kamera yang terus berkelebat, menyaksikan seberkas cahaya merah yang berputar balik dengan kecepatan supersonik menuju lautan lepas.

Dua puluh detik kemudian, sebuah kilatan cahaya biru raksasa tanpa suara berdenyut di ufuk barat Selat Malaka. Gelombang kejut elektromagnetik dari hulu ledak EMP tersebut seketika mematikan seluruh fungsi sirkuit, radar, dan mesin kapal selam siluman milik The Seven Elders, membuat monster besi itu lumpuh total dan tenggelam perlahan ke dasar palung laut tanpa bisa mengirimkan satu pun sinyal bantuan.

Suara nafas lega terdengar serempak dari markas komando Jakarta. Tuan Bramasta kembali bersandar pada bantalnya dengan air mata kebahagiaan yang mengalir, sementara Ibu Aminah bersujud syukur di atas lantai rumah sakit, menangisi keselamatan putri angkatnya yang luar biasa jenius. Pak Baskara segera mengusap keringat di dahinya, langsung mempersiapkan dokumen pengamanan aset internasional berikutnya.

Di koridor SIAC, ketegangan siber perlahan menguap, digantikan oleh kesunyian yang teramat dalam. Haena mengambil kembali jam tangan berliannya dari tangan Clarissa, mengenakannya kembali pada pergelangan tangan kirinya dengan keanggunan seorang dewi perang yang baru saja memenangkan pertempuran langit.

Kaelen Arkananta menatap gadis di hadapannya dengan sepasang mata elang yang memancarkan kekaguman tak terbatas yang tak mampu lagi dia sembunyikan. Pemuda penguasa bayangan itu merapikan kerah blazer hitam Haena dengan gerakan yang sangat lembut dan intim.

"Menghancurkan tiga puluh pengacara internasional, menyita aset lima miliar dolar, dan menenggelamkan kapal selam siluman penguasa dunia... semua dalam waktu kurang dari satu jam," bisik Kaelen dengan suara baritonnya yang berat, matanya berkilat penuh gairah kemenangan mutlak.

"Kamu benar-benar sesosok monster intelektual yang paling indah yang pernah terlahir di dunia ini, Haena."

Haena menarik sudut bibirnya tipis, menatap Kaelen dengan ketenangan ekstrem yang menawan.

"Pertempuran sejati baru saja dimulai, Kaelen. The Seven Elders telah kehilangan bidak finansial dan militer pertama mereka di Singapura. Sekarang, saatnya kita membalas budi."

Haena berbalik dengan anggun, memimpin aliansinya berjalan menuju pintu keluar gedung dengan langkah kaki yang mantap dan punggung yang sangat tegap. Sang putri sejati yang dulu sempat dibuang dan dihancurkan karakternya, kini telah bertransformasi menjadi kekuatan paling menakutkan yang siap meruntuhkan dominasi para penguasa bayangan dunia.

(Cliffhanger)

"Tepat saat mereka melangkah keluar dari pintu gerbang utama gedung SIAC di bawah kawalan ketat unit Gavin, seluruh gawai taktis milik delegasi Arkananta mendadak menerima satu notifikasi darurat massal dari markas besar Jakarta. Suara panik Pak Baskara terdengar bergetar hebat dari pelantang suara earphone terenkripsi Haena: "Nona Haena... ini bencana internal! Seseorang di dalam jajaran dewan komisaris inti Dirgantara Corp di Jakarta baru saja menandatangani surat penyerahan hak veto korporasi kepada faksi 'The Second Elder' saat sidang arbitrase Singapura berlangsung! Kita... kita dikhianati dari dalam rumah kita sendiri!"

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!