NovelToon NovelToon
Putri Titipan Mantan

Putri Titipan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Karita Ta

"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.

Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.

"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.

Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.

Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM | BAB 10

"Kak... aku takut."

Suara Jenita terdengar lirih dari seberang telepon. Gadis itu menangis pelan, terdengar sangat lemah setelah melewati persalinannya beberapa jam lalu.

Sedangkan Ervin, hanya memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya ke sofa. Rasanya kepalanya benar-benar penuh.

"Ada mama kamu di sana, kan?" tanyanya pelan.

"Ada..." isak Jenita terdengar lagi. "Tapi mama marah banget sama aku."

Ervin mengusap wajahnya kasar. Ia bahkan tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang.

Di satu sisi, ada bayi yang memang darah dagingnya sendiri. Namun di sisi lain... ada Dinda yang hatinya baru saja ia hancurkan.

"Kak Ervin..." panggil Jenita lagi dengan suara bergetar. "Kakak bakal ninggalin aku sama bayi ini?"

Pertanyaan itu sukses membuat dada Ervin terasa berat. Pria itu langsung menundukkan kepalanya.

"Aku nggak akan ninggalin anak itu," jawabnya lirih.

Dan itu benar. Bagaimanapun juga, bayi tersebut tidak bersalah.

Namun anehnya, saat mengucapkan kalimat tadi, yang muncul di kepalanya justru wajah Dinda. Wajah istrinya yang penuh luka ketika memandangnya di rumah sakit tadi.

"Aku takut..." ulang Jenita pelan. "Aku takut Kak Dinda benci sama anak ini."

Deg.

Jantung Ervin langsung terasa nyeri. Karena ia tahu kemungkinan itu memang ada. Bukan karena Dinda perempuan jahat, namun luka yang ia terima terlalu besar.

"Dinda nggak sejahat itu," gumamnya pelan.

Setidaknya itulah satu-satunya hal yang masih ia yakini. Dinda selalu punya hati yang lembut. Bahkan terlalu lembut sampai sering menyakiti dirinya sendiri.

"Tapi aku salah..." suara Jenita kembali pecah. "Aku tahu aku salah." Ervin terdiam mendengarnya.

Untuk pertama kalinya, ia mendengar penyesalan tulus dari gadis itu. Dan anehnya—semua sudah terlambat. Karena tak ada satupun dari mereka yang bisa mengubah keadaan sekarang.

"Aku capek..." gumam Ervin akhirnya. Kalimat itu membuat Jenita terdiam di seberang sana.

"Kakak istirahat aja dulu," lirih gadis itu pelan.

Namun Ervin justru tertawa hambar. Istirahat? Bagaimana caranya? Sedangkan rumah tangganya berada di ambang kehancuran seperti ini.

"Aku tutup dulu." Panggilan itu langsung berakhir sepihak.

Setelahnya, Ervin menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan lemah. Matanya menatap langit-langit rumah. Sunyi—sangat sunyi.

Dan baru sekarang ia sadar—rumah ini terasa kosong tanpa Dinda.

Tak ada suara langkah kaki kecil wanita itu. Tak ada ocehan random saat memasak. Tak ada suara televisi yang biasanya ditonton Dinda sambil tertidur di sofa. Tidak ada apa-apa.

"Huftt, ternyata seberat ini tanpamu, Din..."

Ervin menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Dadanya terasa sesak—sangat sesak.

Sementara itu, di rumah orang tuanya—Dinda masih belum bisa tidur meski jam menunjukkan pukul dua dini hari.

Wanita itu duduk di depan jendela kamar sambil memandangi jalanan sepi di luar rumah.

Pikirannya benar-benar kacau. Sampai sekarang, semuanya masih terasa seperti mimpi buruk. Namun rasa sakit di dadanya terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Krek.

Pintu kamarnya kembali terbuka perlahan. Kali ini sang ayah masuk dengan langkah pelan sambil membawa selimut tipis.

"Bapak lihat lampu kamar kamu masih nyala," ucap pria paruh baya itu lembut. Dinda langsung buru-buru menghapus air matanya. Namun tetap saja sang ayah menyadarinya.

"Kemari."

Suaranya pelan, terdengar sangat hangat.

Seketika Dinda berjalan mendekat dan duduk di samping sang ayah di tepi ranjang. Pria itu mengusap kepala putrinya lembut. Persis seperti waktu Dinda kecil dulu.

"Kalau mau nangis, nangis aja." Kalimat sederhana itu langsung membuat air mata Dinda jatuh lagi.

"Bapak..." lirihnya serak.

"Ada masalah sama Ervin?"

Wanita itu langsung menundukkan kepala, lalu mengangguk pelan. "Dia selingkuh..."

Suasana kamar mendadak hening. Sang ayah terlihat membeku beberapa detik.

Mungkin tak menyangka menantunya yang selama ini terlihat baik, justru menyakiti putrinya seperti ini.

"Dinda udah lihat semuanya sendiri..." tangisnya pecah lagi. "Dia punya anak sama perempuan lain."

Pria paruh baya itu langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tatapannya berubah gelap.

Sebagai seorang ayah, hatinya jelas hancur melihat putri semata wayangnya diperlakukan seperti ini.

"Kurang ajar..." gumamnya penuh emosi. Pria itu memejamkan mata sesaat, berusaha meredam emosinya. Ia tak ingin menunjukkan amarah dihadapan putrinya.

Namun, detik berikutnya, pria itu kembali menatap putrinya dengan lembut.

"Kamu mau gimana sekarang?"

Pertanyaan itu membuat Dinda terdiam. Jujur saja... Ia tidak tahu. Semuanya terlalu mendadak, terlalu menyakitkan, dan terlalu rumit.

"Aku nggak tahu, Pak..." lirihnya jujur. "Aku bingung." Sang ayah mengangguk pelan.

"Tapi satu hal yang harus kamu ingat." Tangannya menggenggam tangan Dinda hangat. "Kesalahan suami kamu bukan salah kamu."

Air mata wanita itu kembali jatuh.

"Aku cuma takut..." suaranya bergetar. "Takut semua orang bakal nyalahin aku, karena nggak bisa kasih dia anak."

"Biar orang ngomong apa aja." Sang ayah menatap putrinya tegas. "Kamu tetap anak bapak yang paling berharga."

Deg.

Tangisan Dinda langsung pecah semakin keras. Ia langsung memeluk sang ayah erat-erat. Dan malam itu... untuk pertama kalinya sejak semua terbongkar, Dinda merasa dirinya tidak sendirian.

Sementara di rumah sakit—Jenita terbangun pelan saat mendengar suara bayinya menangis.

Dengan tubuh yang masih lemah, gadis itu menoleh ke arah box bayi di samping ranjangnya.

Air matanya langsung jatuh lagi. Bayi perempuan kecil itu terlihat begitu mungil. Sangat cantik, dan tidak bersalah.

"Maafin mama..." lirih Jenita sambil menyentuh pipi bayinya pelan.

Krek.

Pintu ruangan terbuka perlahan. Bu Indri masuk sambil membawa beberapa barang keperluan bayi. Namun, wajah wanita itu masih terlihat dingin.

"Mama..." panggil Jenita pelan.

Bu Indri langsung meletakkan barang-barang tersebut di meja tanpa menjawab. Suasana di antara ibu dan anak itu terasa sangat canggung sekarang.

"Mama masih marah ya?" tanya Jenita hati-hati.

"Menurut kamu?" Jawaban singkat itu membuat Jenita langsung menunduk.

"Aku tahu aku salah..."

"Bukan cuma salah." Bu Indri menatap putrinya tajam. "Kamu menghancurkan rumah tangga orang." Air mata Jenita langsung jatuh lagi.

"Aku nggak pernah niat—"

"Semua pelakor pasti bilang begitu."

Deg.

Kalimat itu terasa begitu menusuk. Jenita langsung menangis semakin keras. Sedangkan Bu Indri memejamkan matanya lelah.

Sebenarnya hatinya juga sakit melihat putrinya seperti ini. Namun, ia terlalu kecewa.

"Kamu tahu nggak, siapa yang paling kasihan sekarang?" tanya wanita itu lirih. "Istri sahnya."

Hening.

"Perempuan itu terlihat sangat baik," lanjut Bu Indri pelan. "Dan kamu merebut kebahagiaannya."

Jenita menutup wajahnya sambil menangis. Karena untuk pertama kalinya—Ia benar-benar menyadari sebesar apa luka yang sudah ia ciptakan.

Dan di tempat lain—

Ervin masih duduk sendirian di ruang tamu sambil menatap layar ponselnya. Foto Dinda memenuhi galeri di sana.

Foto istrinya saat tertawa, saat tidur di sofa, saat memasak sambil manyun karena diganggu... Semua terlihat begitu hangat.

Dan sekarang terasa sangat jauh. Sampai akhirnya—sebuah pesan masuk muncul di layar ponselnya.

Dari Dinda.

Napas Ervin langsung tertahan.

Dengan tangan sedikit gemetar, pria itu segera membuka pesan tersebut. Namun detik berikutnya—wajahnya langsung memucat.

Karena isi pesan itu hanya satu kalimat pendek.

"Aku mau kita pisah dulu."

1
vita
jd penasaran apa yg d lakukan raka, apa berobat ya.
Happy Kids
pertanyaan macam apa ini
Happy Kids
inget bukkk.. yg bikin dinda gini ya anakmuuu.. gila ibuknya bener bener
Happy Kids
pret
Happy Kids
asli ni perempuan muna bgt. gatau malu.
Happy Kids
krn dirimu dah nemu yg baru wkwkkw jenita ups
Happy Kids
caper. aslinya bersorak soraii. orang kl emng nyesel nyakitin rumah tangga org lain hrs nya sadar diri. bukan malah living together 🤣 inimah nikmati aja dia alurnya 😅
Happy Kids
kasih tau tu anaknya. jgn kumpul kebo mulu
Happy Kids
apasiiii kepoo. bukan istri tp kaya nuntut laporan mulu. sbnernya dah niat bgt tu jenita ngerebut. tp sok sok an aku gamau nyakitin orang. hilih
Happy Kids
kan uda ada jenita yg masih kinyis kinyis trs kasih anak ke dia..
Happy Kids
kalau kaya gtu, dirimu yg semena mena dong wkwk slalu anggap bakal dimaafin mulu
Happy Kids
mreka tinggal bareng? kumpul kebo?
Happy Kids
munak aja ni anak org 🤣
Happy Kids
pulang? wajib bgt gtu? lagian ibu nya jenita katanya kecewa, tp dianya sendiri ngebiarin anaknya sering2 interaksi sama bojo orang 😅 pada ga punya pendirian dan prinsip. hrsnya dg gt dia ajak anaknya pulang dan awasi biar gausa aneh aneh. kl ngebiarin gini ya sama aja dia ga didik. pake sok sok an bilang gagal didik anak.
Happy Kids
anak org caper bgt
Happy Kids
nah mulai dia ga bisa lepas dr jenita. itulah. dahlah sama jenita aja
Happy Kids
katanya lelah nyakitin org. tp dianya nempelin ervin mulu dan berharap dicintai ervin. muna bgt dah
Happy Kids
punya otak? menurutmu?
vita
hanya bs kasih secangkir kopi n seiket bunga buat nemenin nulis ceritanya 💪💪💪💪
Karita Ta: Hai kaak vitaa, salam kenal dari karitaa yaa. Terimakasih sudah menyempatkan mampir dan tinggalkan jejaknya. Semoga hari-harimu menyenangkan yaa 😍🫰
total 1 replies
vita
sll suka sama ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!