Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15: Di Bawah Langit Senja Jakarta
Dua minggu setelah ujian berakhir, sekolah terasa seperti bangunan tua yang sunyi. Belum ada pengumuman nilai, tapi udara di sekelilingku seolah menahan napas. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di bengkel Pak Edi, membantu mengelola sistem inventaris yang kini sudah berjalan sempurna—bahkan Pak Edi sudah tidak pernah lagi mencatat manual.
Sore itu, Jakarta diguyur hujan deras yang membuat suasana bengkel menjadi lembap dan tenang. Pelanggan tidak terlalu banyak, hanya ada satu motor yang sedang dikerjakan Kak Luq di bagian belakang. Aku duduk di kursi plastik kecilku, membuka buku HSK Level 2 yang sudah kucoret-coret dengan catatan tambahan.
"Rea," panggil Kak Luq. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya, mengelap tangan yang berlumuran oli dengan kain majun. Dia berjalan mendekat, menyambar botol air mineral di meja.
"Ya, Kak?"
"Besok pengumuman nilai, kan?"
Aku mengangguk pelan. "Iya. Deg-degan banget. Rasanya kayak nunggu hasil compile kodingan yang kompleks. Kalau error, kacau semuanya."
Kak Luq tertawa kecil. Dia duduk di bangku kayu di sampingku. Jarak kami cukup dekat, hanya terhalang meja kerja kecil yang dipenuhi kunci-kunci pas. "kamu udah belajar mati-matian, Rea. Gue tau gimana lo nahan kantuk tiap malem. Hasil nggak bakal mengkhianati proses. Itu hukum alam, sama kayak mesin. Kalau lo servis dengan benar, dia pasti jalan dengan benar."
Aku menoleh padanya. Wajahnya yang biasanya kaku dan lelah kini tampak lebih santai, bahkan ada senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. Sinar lampu bengkel yang temaram membuat garis rahangnya terlihat tegas. Ada sesuatu dalam tatapannya—sebuah ketulusan—yang membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena aku takut ujian, tapi karena... ah, entahlah.
"Kak Luq sendiri gimana?" tanyaku, mencoba mengalihkan perhatian dari debaran aneh di dadaku. "Persiapan PTN?"
"Gue baru aja dapet nilai tryout tambahan buat pelajaran Matematika. Gue naik lima poin dari sebelumnya," jawabnya bangga.
"Beneran? Wah, hebat!" seruku spontan. Tanpa sadar, aku meraih tangannya dan menggenggamnya dengan antusias.
Saat tanganku menyentuh kulitnya yang kasar namun hangat, aku tersentak. Aku bisa merasakan bekas oli di sela jarinya, tapi itu tidak membuatku menarik tangan. Sebaliknya, Kak Luq pun tidak melepaskannya. Dia justru membiarkan genggamanku bertahan selama beberapa detik. Tatapan matanya yang tadi menatap lurus ke depan, kini perlahan berpindah menatapku.
Ada keheningan yang nyaman di antara kami, diselingi suara rintik hujan yang menghantam atap seng bengkel. Aku merasa pipiku mulai panas. Aku segera melepaskan genggamanku, pura-pura kembali fokus pada buku Mandarin-ku, padahal tulisannya sama sekali tidak masuk ke otak.
"Makasih ya, Rea," suara Kak Luq memecah keheningan. Nadanya lebih rendah, lebih lembut dari biasanya.
"Buat apa, Kak?"
"Buat semuanya. Buat bantuan kodingan kamu, buat motivasi kamu tiap hari, buat... kamu yang selalu ada di sini." Dia terdiam sebentar, lalu melanjutkan, "Kadang gue mikir, kalau nggak ada kamu yang ngerangsang otak gue buat belajar, mungkin gue bakal nyerah dari dulu dan cuma jadi murid biasa selamanya."
Aku menelan ludah. "Kak Luq juga mentor yang hebat. Aku nggak mungkin bisa ngerjain aplikasi BengkelLog kalau nggak ada Kakak yang ngajarin logika mesin."
"kamu bukan cuma murid buat gue, Rea," katanya pelan, hampir seperti bisikan.
Jantungku berhenti sejenak. Bukan murid? Apakah itu berarti...?
"kamu itu partner," lanjutnya sambil tersenyum lebar, senyum yang membuat matanya menyipit. "Partner terbaik yang pernah gue punya."
Aku ikut tersenyum, meski ada sedikit rasa kecewa yang kututup rapat-rapat. Tentu saja, aku hanya anak SMP, dan dia adalah kakak kelas yang sedang berjuang menata masa depan. Tidak seharusnya aku berharap lebih dari ini. Tapi, pengakuan itu—bahwa aku adalah "partner terbaiknya"—sudah cukup untuk membuat duniaku terasa jauh lebih cerah.
Keesokan harinya, pengumuman nilai tiba.
Aku berdiri di depan papan mading sekolah bersama Vino dan Hazel yang menemani ku kesekolah sebagai Perwakilan Orang tua karena Orang tua Aku Sibuk Di luar kota. Tanganku gemetar saat mencari namaku di daftar peringkat. Dan di sana, namaku tertulis dengan angka yang memuaskan. Aku masuk lima besar. Peringkatku naik drastis dibandingkan semester lalu.
"Rea! Lo masuk sepuluh besar!" teriak Vino sambil memeluk bahuku.
"Beneran?" aku masih tidak percaya.
"Beneran! Gila, kerja keras lo terbayar!" Hazel ikut bersorak.
Aku segera mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan singkat pada Kak Luq: [Kak! Aku masuk sepuluh besar! Nilai Mandarin-ku A!, Semuanya A!]
Hanya butuh waktu satu menit sampai ponselku bergetar.
Kak Luq: [Gue juga dapet nilai bagus di ujian sekolah. Partner kamu emang nggak bisa diremehin. Nanti malem, gue traktir es krim. Rayakan!]
Malam itu, kami duduk di depan bengkel yang sudah tutup. Luq benar-benar membeli dua cup es krim cokelat. Kami duduk di trotoar, memandang lampu jalanan Jakarta yang mulai sibuk.
"Kamu tahu, Rea?" Luq memulai pembicaraan sambil menyendok es krimnya. "Dulu, gue ngerasa dunia ini sempit banget. Cuma ada rumah sakit, kafe, Kerja itulah inilah dan lelah. Gue nggak pernah berani bayangin gue bisa duduk di sini, ngerayain nilai bagus sambil mikirin kuliah."
"Sekarang?"
"Sekarang dunia gue rasanya luas banget. Kayak mesin yang udah di-tuning ulang, siap buat dibawa ngebut." Dia menoleh ke arahku. "Dan kamu adalah alasan utamanya."
Aku tersipu. Angin malam bertiup pelan, memainkan rambutku. Aku merasa sangat beruntung. Di tengah kerasnya kota ini, di antara tumpukan besi bengkel dan baris kode, aku menemukan seseorang yang bisa kuandalkan—dan seseorang yang membuatku merasa berharga.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin aku akan pergi ke China, mungkin Luq akan kuliah di universitas yang berbeda. Tapi momen ini, di bawah lampu jalanan, dengan rasa manis es krim cokelat di mulut dan rasa hangat di hatiku, adalah sesuatu yang ingin kusimpan selamanya.
"Kak Luq," panggilku.
"Ya?"
"Kita janji ya. Apapun yang terjadi, kita bakal tetep jadi partner. Sampai kita sukses bareng-bareng."
Luq menatapku lekat. Dia tidak langsung menjawab. Dia meletakkan cup es krimnya, lalu tangannya terulur, mengacak rambutku pelan—sebuah gestur yang sederhana, tapi terasa sangat intim dan penuh kasih sayang.
"Janji," katanya mantap.
Aku tersenyum menatap langit Jakarta yang gelap, namun bagi mataku, tampak penuh dengan bintang. Aku tahu jalanku masih panjang. Ujian kenaikan kelas hanyalah bab pertama. Tapi dengan Luq di sampingku, aku merasa siap menghadapi episode berikutnya. Aku siap menghadapi dunia dengannya.