NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorong Sumsum Yang Berdenyut

Episode 34

Langkah kakiku bergema secara ritmis di dalam terowongan yang sempit dan panjang ini. Suara detak jantung esensi ku terasa jauh lebih keras karena ruangannya tertutup oleh dinding yang terbuat dari material organik yang padat. Permukaan lantai yang aku injak tidak lagi terdiri dari pasir abu abu melainkan lapisan debu tulang putih yang sangat halus serta terasa sedikit hangat saat bersentuhan dengan telapak kaki baruku. Aku merasakan bagaimana setiap sendi pada pergelangan kakiku yang sudah dilapisi logam Black Iron bergerak dengan sangat presisi memberikan dorongan yang stabil pada setiap langkah yang kuambil.

Dug... dug... dug...

Aku menarik napas panjang melalui paru paru semu ku merasakan aliran udara yang terasa sangat lembap serta memiliki aroma yang sangat kuat menyerupai bau lemak yang sedang dipanaskan. Sebagai seorang pendaki aku selalu memperhatikan tekstur dinding di sekelilingku untuk mencari titik tumpu darurat jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dinding terowongan ini terlihat sangat unik karena ia tidak terbuat dari batu obsidian melainkan dari jalinan pipa pipa syaraf raksasa yang masih berdenyut secara perlahan lahan. Cairan sumsum yang berwarna kuning pucat terlihat merembes keluar dari celah celah dinding tersebut menciptakan lapisan licin yang menutupi sebagian besar jalur perjalananku.

"Goma kau harus berhati hati saat melewati area yang berdenyut itu. Jika denyutannya mendadak berhenti maka itu artinya ada penyumbatan energi yang sedang terjadi serta pipa pipa ini bisa meledak mengeluarkan gas esensi yang sangat panas," bisik Kharis yang kini melayang rendah tepat di samping bahuku.

Cahaya biru dari kristal kristal kecil yang menempel di langit langit terowongan memberikan penerangan yang cukup bagi mataku untuk melihat sejauh sepuluh meter ke depan. Aku melihat adanya formasi kristal yang tumbuh menyamping menyerupai tangga alami yang menempel pada dinding pipa syaraf tersebut. Aku meraba permukaan dinding itu menggunakan tangan kanan ku yang sudah memiliki kulit metalik yang sangat pekat. Rasanya sangat kenyal namun sekaligus sangat kuat seolah olah dinding ini memiliki daya tahan yang melebihi tembok beton di dunia manusia.

[ SISTEM: MEMERIKSA INTEGRITAS STRUKTUR TEROWONGAN ]

[ SISTEM: STATUS ORGANIK: AKTIF (TINGKAT KESEHATAN 70 %) ]

[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI ADANYA ALIRAN ESENSI YANG TIDAK STABIL PADA JARAK 100 METER ]

[ SISTEM: SARAN: TURUNKAN KECEPATAN BERJALAN DAN AKTIFKAN INDERA PERASA TELAPAK KAKI ]

Indera perasa telapak kaki. Sistem ini benar benar mengoptimalkan seluruh jaringan syaraf yang baru saja ku tumbuhkan di Rawa Sumsum kemarin. Dengan cara ini aku bisa merasakan getaran dari aliran cairan esensi yang ada di bawah tanah ini sebelum getaran itu sampai ke telingaku.

Aku merendahkan posisi tubuhku sedikit agar pusat gravitasi ku lebih stabil. Aku menekan jari jari kakiku ke dalam tumpukan debu tulang putih merasakan tekstur butiran kalsium yang sangat lembut. Melalui syaraf telapak kakiku aku menangkap adanya getaran frekuensi rendah yang terus berulang dari arah depan. Getaran itu terasa seperti suara detak jantung mahluk raksasa yang sedang tertidur lelap jauh di dalam labirin ini.

"Kharis apa kau merasakan getaran ini. Rasanya sangat berat serta membuat dadaku terasa sedikit sesak," tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari jalur di depan.

"Itu adalah Getaran Inti Gehenna Goma. Kita sekarang sedang berada di jalur yang sangat dekat dengan arteri utama dunia bawah ini. Semakin dekat kita ke arah selatan maka getaran ini akan terasa semakin kuat hingga bisa meretakkan tulang mahluk yang jiwanya tidak stabil," jawab Kharis dengan nada bicara yang terlihat lebih serius dari biasanya.

Aku terus melangkah maju dengan sangat sabar. Setiap satu meter kemajuan yang kubuat aku berhenti sejenak untuk memastikan bahwa tidak ada perubahan tekanan udara yang mendadak. Aku melihat adanya beberapa bangkai mahluk kecil yang menyerupai kecoa namun memiliki cangkang yang terbuat dari kristal transparan tergeletak di pinggiran terowongan. Mahluk mahluk itu sepertinya mati karena tidak kuat menahan tekanan esensi yang ada di area ini.

[ SISTEM: ANALISIS BANGKAI MAHLUK SEKITAR ]

[ SISTEM: JENIS: ESSENCE BEETLE (KUMBANG ESENSI) ]

[ SISTEM: PENYEBAB KEMATIAN: OVERLOAD ENERGI PADA INTI JIWA ]

[ SISTEM: STATUS: DAPAT DIKONSUMSI UNTUK PEMULIHAN ENERGI MIKRO ]

Kumbang esensi. Meskipun kecil namun jika jumlahnya banyak maka mereka bisa menjadi sumber energi yang lumayan untuk menjaga kestabilan jantungku selama perjalanan panjang ini.

Aku memungut salah satu bangkai kumbang tersebut menggunakan tangan kiriku. Aku merasakan kepadatan esensi yang ada di dalam cangkang kristalnya. Tanpa ragu aku meremas kumbang itu hingga hancur mengeluarkan cairan biru bercahaya yang langsung aku hisap masuk ke dalam tubuhku melalui pori pori kulit metalik ku. Rasanya sangat dingin serta memberikan sensasi seperti meminum air es di tengah padang pasir yang sangat panas.

Slurp.

Aku merasakan sedikit lonjakan energi pada cadangan esensi ku. Aku mengulangi proses tersebut pada sepuluh bangkai kumbang lainnya yang kutemukan di sepanjang jalan. Setiap tetes esensi yang kumasukkan ke dalam sistem tubuhku membuat penglihatan ku menjadi sedikit lebih tajam serta otot otot kakiku terasa lebih ringan untuk digerakkan.

"Goma kau benar benar tidak membiarkan apa pun terbuang percuma ya. Kau bahkan memakan serangga yang sudah mati kering seperti itu," goda Kharis sambil terbang berputar putar di depanku.

"Di atas gunung aku belajar bahwa satu butir kacang bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati Kharis. Di sini satu tetes esensi biru ini bisa menjadi pembeda antara aku sampai ke Bumi atau hancur di tengah jalan," jawabku dengan suara yang sangat tenang.

Aku sampai di sebuah bagian terowongan yang jalurnya mendadak menurun secara tajam dengan sudut kemiringan sekitar enam puluh derajat. Dindingnya di sini sangat licin karena tertutup oleh cairan sumsum yang membeku menjadi lapisan es organik yang sangat bening. Di bawah sana terowongan terlihat semakin gelap serta kabut ungu mulai memenuhi ruangan yang lebih rendah tersebut.

[ SISTEM: NAVIGASI: TERDETEKSI PENURUNAN KETINGGIAN SEBANYAK 50 METER ]

[ SISTEM: KONDISI PERMUKAAN: SANGAT LICIN (FRIKSI RENDAH) ]

[ SISTEM: REKOMENDASI: GUNAKAN TEKNIK CLIMBING DOWN DENGAN BANTUAN KUKU METALIK ]

Licin ya. Ini mengingatkanku pada jalur gletser di pegunungan Alpen. Aku harus memastikan bahwa aku memiliki tiga titik kontak yang stabil sebelum aku memindahkan seluruh berat badanku ke bawah.

Aku membalikkan posisi tubuhku sehingga aku menghadap ke arah dinding terowongan. Aku menancapkan kuku kuku hitam di tangan kananku ke dalam jaringan pipa syaraf yang kenyal di dinding tersebut. Sret. Peganganku terasa sangat kuat karena jaringan organik ini mampu mencengkeram kuku kuku ku kembali secara otomatis. Aku menurunkan kaki kiriku mencari tonjolan kalsium yang bisa dijadikan sebagai pijakan sementara.

Satu tarikan satu dorongan. Jaga pinggul tetap dekat dengan dinding.

Aku mulai menuruni lereng licin tersebut dengan gerakan yang sangat lambat dan terukur. Aku merasakan bagaimana otot otot punggungku bekerja keras menahan beban tubuhku agar tidak meluncur jatuh ke bawah. Suara gesekan logam Black Iron di tulangku dengan material dinding organik menghasilkan bunyi yang sangat unik menyerupai suara detak jam dinding yang besar.

"Goma kau terlihat sangat mahir melakukan gerakan ini. Apakah kau dulu juga sering merangkak di dinding rumahmu di dunia manusia," tanya Kharis yang kini melayang di samping kepalaku melihat cara aku bergerak.

"Aku memanjat gunung Kharis. Aku menantang gravitasi setiap hari demi mencari rasa bebas. Tapi di sini aku memanjat untuk merebut kembali hak hidupku yang telah dicuri," jawabku sambil mengatur ritme napas paru paru semu ku.

Setelah menuruni lereng tersebut selama hampir tiga puluh menit akhirnya kakiku kembali menyentuh tanah yang datar. Aku berdiri tegak kembali serta melihat ke arah belakang ke arah jalur curam yang baru saja ku lewati. Aku merasa sedikit bangga karena kemampuanku sebagai pendaki tetap terjaga dengan baik meskipun wujud fisikku sudah berubah total.

[ SISTEM: STATUS DESKRIPSI PETA DIMENSI TERRA: 52 % ]

[ SISTEM: ESTIMASI WAKTU TERSISA: 30 JAM ]

[ SISTEM: STATUS TUBUH: SANGAT STABIL ]

Aku melihat ke arah depan di mana terowongan mulai bercabang menjadi dua jalur yang berbeda. Jalur sebelah kiri terlihat lebih kering serta memiliki banyak ukiran kuno di dindingnya sementara jalur sebelah kanan terlihat lebih lembap serta mengeluarkan suara gemericik air esensi yang cukup deras.

"Kharis mana jalur yang paling aman menurut ingatanmu."

"Jalur kanan Goma. Meskipun berair namun itu adalah jalur aliran sumsum yang langsung menuju ke arah lembah api. Jalur kiri itu biasanya menuju ke arah sarang mahluk mahluk purba yang sudah lama tidak makan," saran Kharis sambil menunjuk ke arah terowongan yang lembap.

Aku mengangguk paham kemudian mulai melangkah masuk ke jalur sebelah kanan. Aku bisa merasakan bagaimana suhu udara di sekitarku mulai meningkat secara perlahan lahan seiring dengan semakin dalamnya posisiku di bawah tanah Gehenna ini. Bau belerang yang tadi sempat menghilang kini mulai tercium kembali namun kali ini bercampur dengan aroma panas yang sangat menyengat.

Ibu Widya aku sudah setengah jalan dalam memahami peta menuju panti asuhan kita. Aku tidak akan membiarkan labirin ini menyesatkan ku. Aku akan terus mendaki menuju arah selatan hingga aku menemukan api yang akan membukakan jalan bagiku.

Setiap langkah yang kuambil sekarang terasa lebih berat namun penuh dengan harapan yang baru. Aku adalah Goma sang pendaki yang kini sedang merayap di dalam pembuluh darah neraka menuju kebebasan yang hakiki. Perjalananku di bawah tanah Hutan Rusuk ini baru saja memasuki tahap yang lebih dalam serta aku siap untuk menghadapi apa pun yang bersembunyi di balik tikungan terowongan berikutnya.

Aku terus berjalan menembus kabut ungu yang semakin tebal membiarkan detak jantung esensi ku menjadi pemandu utama dalam kesunyian ini.

1
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!