Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Huuuu... fyuuuu...
Suara napas duniaku sendiri. Hanya itu yang kudengar. Aku duduk bersila di atas puncak batu runcing yang tingginya cuma pas untuk satu pantat. Di bawahku, jurang sedalam ratusan meter menganga lebar, siap menelan siapa pun yang kehilangan fokus barang sedetik.
Sudah seminggu aku di sini. Bukan untuk mandi es, tapi untuk diam.
"Jangan cuma duduk seperti patung kencing, Qinar! Rasakan aliran itu!"
Tak!
Ki Kusumo menyentil telingaku pakai kerikil. Sakitnya tidak seberapa, tapi kagetnya itu yang bikin aliran Qi di perutku mendadak kacau.
"Ki! Aku sedang mencoba fokus!" protesku tanpa membuka mata. "Rasanya seperti ada belasan ular api yang saling gigit di dalam dadaku. Panas, tahu!"
"Itu karena energimu masih berantakan, Bocah! Kamu punya kulit sekeras besi, tapi isi kepalamu masih selembek bubur," Ki Kusumo duduk santai di udara—ya, dia duduk bersila di udara kosong seolah-olah ada kursi tak kasat mata di sana. "Tutup mulutmu. Tarik napas lewat hidung, bayangkan energi itu bukan api, tapi air yang mengalir tenang ke seluruh nadimu."
Aku mencoba lagi. Huuuu...
Begitu aku memejamkan mata, kegelapan di depanku berubah jadi semburat merah yang berdenyut. Di dalam perut bawahku—pusat Qi—ada gumpalan energi yang sangat padat. Masalahnya, energi ini tidak mau diam. Dia menendang-nendang, mencoba keluar lewat pori-pori kulitku yang sekarang sudah tertutup rapat berkat latihan Kulit Besi.
Deg. Deg. Deg.
Jantungku berdegup kencang. Keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran di dahiku, meski suhu di puncak ini di bawah nol derajat. uap panas mulai mengepul dari pundakku.
"Panas, Ki... rasanya mau meledak!" rintihku. Gigi-gigiku beradu.
"Jangan dilawan! Arahkan!" suara Ki Kusumo mendadak masuk ke telingaku, jernih sekali seolah dia berbisik tepat di gendang telingaku. "Gunakan pikiranmu sebagai kemudi. Bawa 'ular-ular' itu turun ke kaki, lalu naik ke tulang belakang, dan kumpulkan di tengah dadamu. Pelan-pelan..."
Aku menggertakkan gigi. Aku bayangkan tangan imajiner di dalam tubuhku menangkap gumpalan api itu.
Ssssshhhh...
Suara desisan keluar dari mulutku. Perlahan, rasa panas yang menyiksa itu mulai berubah jadi hangat yang nyaman. Aku bisa merasakan energi itu merambat pelan, melewati urat-urat nadiku yang kini terasa lebih lebar dan kuat. Setiap inci tubuhku bergetar halus.
"Bagus... sekarang kunci di sana," bisik Ki Kusumo.
Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang aneh di pergelangan tangan kiriku. Tanda merah itu. Dia berdenyut sinkron dengan detak jantungku. Dug-dug. Dug-dug. Setiap kali dia berdenyut, aliran Qi-ku jadi sepuluh kali lipat lebih murni.
Wush!
Sebuah gelombang energi tak kasat mata meledak dari tubuhku, menyapu salju di sekitar batu tempatku duduk hingga bersih total. Aku membuka mata. Pandanganku mendadak jadi sangat tajam. Aku bisa melihat serat-serat kayu di pohon yang jauhnya puluhan meter.
"Wah... aku merasa... ringan," gumamku sambil menatap telapak tanganku.
"Itu namanya penyempurnaan aliran, Qinar. Kulit Besimu sekarang bukan cuma cangkang kosong, tapi sudah punya mesin di dalamnya," Ki Kusumo mendarat di tanah dengan bunyi tap yang sangat pelan. "Level 1 Kultivasimu sudah stabil. Sekarang kamu tidak akan gampang capek walau harus lari menanjak gunung seharian."
Aku melompat turun dari batu. Bugh! Tanah sedikit amblas kena pijakanku, tapi tubuhku terasa seringan kapas. "Jadi, apa sekarang aku sudah bisa bertarung dengan benar?"
Ki Kusumo menatapku, lalu tiba-tiba dia menyerang. Set! Tangannya bergerak cepat sekali ke arah dadaku.
Aku refleks menyilangkan tangan. Plak! Aku berhasil menangkisnya, tapi kekuatan Ki Kusumo membuatku terdorong mundur tiga langkah.
"Refleksmu bagus, tapi masih kasar," Ki Kusumo nyengir. "Kamu punya tenaga besar, tapi belum punya teknik. Kamu itu seperti raksasa yang bawa palu godam tapi tidak tahu cara memukul lalat."
Aku mengepalkan tangan. "Kalau begitu ajari aku cara memukul lalat itu, Ki."
"Sabar, Bocah. Untuk memukul lalat, kamu harus punya kecepatan kilat. Dan untuk punya kecepatan kilat..." Ki Kusumo menoleh ke arah puncak tertinggi yang selalu disambar petir. "...kamu harus berteman dengan langit."
Aku mengikuti arah pandangnya. Puncak itu terlihat makin menyeramkan. Langit di atas sana selalu hitam, penuh kilatan cahaya yang seolah-olah ingin membelah bumi. Duar! Suara guntur terdengar sampai ke sini, membuat bulu kudukku berdiri.
"Besok kita berangkat ke sana. Malam ini, habiskan ubi bakarmu dan tidurlah," Ki Kusumo melemparkan ubi panas ke arahku.
Aku menangkap ubi itu. Panasnya ubi tidak terasa apa-apa di tanganku yang sudah terlatih. Aku duduk di depan api unggun, menatap tanda merah di tanganku. Ada rasa penasaran yang aneh. Kenapa tanda ini membantuku saat meditasi tadi?
"Ki," panggilku.
"Apa lagi?" sahutnya sambil menenggak arak.
"Siapa sebenarnya yang memberiku nama Qinar?"
Ki Kusumo terdiam. Dia menatap api unggun lama sekali, lalu mendengus. "Ibumu. Sekarang tidur, atau aku akan menjahit mulutmu supaya tidak banyak tanya!"
Aku terdiam. Ibu. Satu kata itu cukup untuk membuat malam di Gunung Sandaran terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Aku berbaring, menatap bintang-bintang, mencoba membayangkan wajah wanita yang memberiku nama ini sebelum akhirnya aku terlelap dalam keheningan gunung.