Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Seminggu berlalu seperti mimpi buruk yang jadi nyata. Akad nikah berlangsung singkat dan sederhana di kediaman Celina, tanpa pesta pora, tanpa perayaan apapun dan tanpa teman-temannya yang biasa menghiasi malam. Sekarang, Celina sudah berada di dalam mobil yang membawanya menuju pesantren di pelosok Jawa Timur.
Celina duduk di kursi samping kemudi dengan wajah ditekuk. Ia sengaja memakai long dress maroon favoritnya—gaun yang sama saat pertama kali bertemu Zuhair—lengkap dengan polesan lipstik merah menyala. Ia ingin menunjukkan bahwa meski statusnya sudah berubah, jiwanya tetap ingin memberontak.
"Kita hampir sampai," ucap Zuhair tenang sambil tetap fokus menyetir. Tangannya tak lepas dari kemudi, tapi sesekali jarinya bergerak pelan seolah sedang menghitung wirid.
"Nggak usah sok asik. Gue di sini cuma karena kartu kredit gue disandera Bunda," semprot Celina sambil menyalakan rokok elektriknya, memenuhi kabin mobil dengan aroma strawberry yang manis namun menyesakkan.
Zuhair tidak marah. Ia hanya membuka sedikit kaca jendela mobil agar udara segar masuk. "Di pesantren nanti, saya harap kamu bisa sedikit menghormati abah dan ummi saya. Mereka tidak tahu seperti apa kehidupanmu di kota."
"Oh, jadi lo malu punya istri kayak gue?" tantang Celina, sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Zuhair.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang kayu besar bertuliskan Pondok Pesantren Al-Akbar. Zuhair mematikan mesin, lalu akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya, ia menatap mata Celina dengan lekat, membuat nyali Celina sedikit menciut karena ketenangan pria itu.
"Saya tidak malu," jawab Zuhair rendah. "Saya hanya sedang berusaha menjaga kamu dari pandangan yang tidak seharusnya. Ayo turun, istriku."
Kata "istriku" yang diucapkan dengan nada datar namun dalam itu sukses membuat jantung Celina berdegup aneh. Tapi rasa gengsinya jauh lebih besar. Begitu turun, Celina langsung disambut oleh ratusan pasang mata santri yang sedang mengaji di selasar.
Suasana seketika hening. Mereka semua menatap tak percaya pada sosok perempuan yang berdiri di samping Gus mereka—perempuan dengan gaun ketat, rambut terurai, dan tatapan angkuh yang seolah siap membakar seluruh pondok itu.
"Selamat datang di duniamu yang baru, Celina," bisik Zuhair tepat di samping telinganya.
Celina hanya mendengus kencang. Liat aja, Zuhair. Seminggu di sini, gue pastiin lo sendiri yang bakal minta cerai sama gue.
Zuhair berjalan di depan, langkahnya tenang namun tegas, sementara Celina mengekor di belakang dengan langkah yang sengaja dibuat berisik. Heels mahalnya beradu dengan ubin koridor pesantren, menciptakan bunyi klak-klak-klak yang memecah keheningan sore itu. Celina sengaja membusungkan dada, membiarkan long dress maroon-nya tersingkap sedikit saat berjalan, menikmati tatapan kaget para santriwati yang langsung menunduk begitu berpapasan dengannya.
"Ini area sekolah, ini aula utama, dan di sana adalah masjid," terang Zuhair tanpa menoleh.
"Bisa dicepetin nggak? Gue gerah, pengen AC," keluh Celina sambil mengipasi lehernya dengan tangan.
Zuhair berhenti di depan sebuah pintu kayu jati ukir yang terletak di bagian belakang rumah utama (ndalem). Ia membukanya perlahan. "Ini kamar kita."
Begitu melangkah masuk, Celina tertegun. Ia mengira akan menemukan kamar yang kaku dengan tumpukan kitab dan aroma minyak urut. Nyatanya, kamar itu luas dan harum aroma terapi sandalwood yang menenangkan. Kasur king size di tengah ruangan sudah dihias dengan kelambu tipis dan taburan kelopak bunga mawar. Ada lampu tidur temaram yang memberikan kesan hangat dan sangat... intim.
Gila, niat banget si Sarungan ini nyiapin ginian, batin Celina.
Zuhair meletakkan koper Celina di pojok ruangan. "Saya tahu ini bukan hotel mewah seperti yang biasa kamu datangi di Jakarta, tapi saya harap kamu bisa istirahat dengan nyaman di sini."
Zuhair kemudian bergerak menuju lemari, mengambil handuk dan baju ganti. Gerakannya sangat efisien, namun Celina bisa melihat otot lengan Zuhair yang sedikit menyembul saat ia menggulung lengan baju kokonya untuk berwudhu.
Celina duduk di pinggir ranjang, memperhatikan punggung lebar Zuhair yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia teringat cowok-cowok club yang biasa ia temui—mereka agresif dan banyak bicara. Sementara Zuhair? Dia sangat tenang, seolah punya kendali penuh atas dirinya sendiri.
Pikiran nakal mulai merayap di otak Celina. Ia memperhatikan hiasan ranjang yang romantis itu, lalu membayangkan Zuhair yang selama ini hidup di lingkungan suci.
Dia kan alim banget ya, kerjaannya cuma ngaji sama doa... tapi apa jago sih dia urusan ranjang? Celina tersenyum miring, menatap pintu kamar mandi dengan pandangan menantang. Atau jangan-jangan, dia malah gemeteran kalau gue sentuh sedikit aja?
"Kita lihat seberapa kuat iman lo malam ini, Gus Zuhair," bisik Celina pelan sambil mulai membuka resleting gaun maroon-nya, sengaja menyisakan sedikit bagian agar terlihat "berantakan" saat Zuhair keluar nanti.