Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Aroma obat antiseptik yang tajam langsung menyapa indra penciuman Bianca saat kesadarannya perlahan kembali. Kelopak matanya terasa sangat berat, seolah ada beban berat yang menahannya agar tak terbuka. Cahaya lampu dari langit-langit ruangan terasa begitu menyilaukan, membuatnya harus mengerjap beberapa kali sampai akhirnya pandangannya menjadi jelas dan bisa melihat sekelilingnya.
Ini sama sekali bukan kamarnya. Ruangan ini terasa sangat luas dan mewah, ada sofa kulit empuk di sudut ruang serta jendela besar yang mempertontonkan pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta dari ketinggian. Ini adalah kamar rawat khusus untuk pasien terpenting.
"Bi? Bianca? Lo denger gue?"
Suara itu terdengar rendah, agak serak, dan penuh dengan nada kekhawatiran yang sama sekali tak bisa disembunyikan. Bianca menoleh perlahan ke sisi samping ranjangnya. Di sana, Gwen duduk dengan penampilan yang berantakan. Rambutnya kusam dan tak teratur, ada lingkaran gelap yang jelas di bawah matanya, serta kemeja yang terlihat kusut dan tak disetrika. Dan hal yang paling mengejutkan, Gwen sedang menggenggam tangan Bianca dengan erat seolah-olah jika ia melepaskannya barang sedetik saja, Bianca akan lenyap pergi ke dunia lain.
"Kak... Gwen?" suara Bianca keluar sangat pelan dan lemah, nyaris tak terdengar seperti bisikan angin.
"Ya Tuhan, akhirnya lo bangun!" Gwen mengembuskan napas panjang yang terasa begitu melegakan, bahunya yang sedari tadi tegang kini tampak sedikit lebih rileks. "Lo bikin gue mau mati serangan jantung, tau nggak? Gue pikir lo nggak bakal bangun lagi."
Bianca hanya diam. Kenangan tentang kejadian sore kemarin mulai berputar di kepalanya berulang kali persis seperti rekaman yang rusak. Bayangan gunting tajam, potongan rambut panjang yang berserakan di lantai, garis merah di lengannya, hingga suara gedoran pintu yang keras dari Gwen. Semua itu kembali menghantam ingatannya dengan kuat. Ia menatap lengannya yang kini sudah terbalut perban putih bersih dan rapi.
Melihat wajah Gwen yang begitu tulus, melihat sorot mata yang penuh kekhawatiran nyata tanpa ada niat tersembunyi apa pun, entah mengapa ada sesuatu yang berdenyut aneh di dalam dada Bianca. Itu adalah rasa bersalah. Perasaan itu muncul begitu saja, mencoba merayap masuk ke celah hatinya yang selama ini ia kunci rapat-rapat dan pertahankan sekuat tenaga.
'Nggak. Jangan sekarang,' batin Bianca dengan tegas, lalu ia memejamkan mata sejenak untuk menepis perasaan mengganggu itu.
Ia kembali mengingatkan dirinya sendiri akan tujuan utamanya. Gwen adalah bagian dari keluarga Anderson. Darah yang mengalir di tubuh pria ini adalah darah yang sama dengan orang yang telah menghancurkan hidup ayahnya. Keramahan Gwen, ketulusan yang ditunjukkannya ini... bisa jadi hanyalah bagian dari permainan takdir untuk melunakkan hatinya dan membuatnya lupa diri. Bianca tidak boleh goyah sedikit pun. Apapun alasannya, pembalasan dendam ini adalah hal yang harus ia tuntaskan sampai tuntas. Rasa bersalah adalah kemewahan yang tidak boleh ia miliki sekarang juga.
"Bi? Kok diem aja? Ada yang sakit? Kepala lo pusing?" Gwen bertanya bertubi-tubi sambil mencondongkan tubuhnya lebih dekat, tangannya masih setia menggenggam jemari Bianca. "Ngomong dong, jangan bikin gue makin parno."
Bianca menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa tenaga yang ada di tubuhnya. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, senyum lemah yang biasanya selalu berhasil membuat orang lain merasa iba padanya.
"Aku nggak apa-apa, Kak... cuma sedikit lemas aja," jawab Bianca pelan. Ia lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela besar itu. "Kenapa aku bisa di sini? Kakak yang bawa?"
Gwen mendengus pelan, meski matanya masih terlihat sangat cemas dan khawatir. "Ya iyalah! Emang siapa lagi? Kalau gue nggak dobrak pintu apartemen lo tadi, mungkin lo udah... ah, udahlah. Jangan dibahas lagi. Yang penting sekarang lo aman dan ada di sini."
Gwen melepaskan genggamannya sebentar hanya untuk mengambil segelas air putih di meja samping ranjang, lalu membantu Bianca minum dengan sangat hati-hati dan lembut.
"Bi, jujur sama gue," nada suara Gwen berubah menjadi serius setelah ia meletakkan kembali gelas itu ke tempatnya. "Kenapa lo nekat kayak gitu? Apa ini gara-gara Rebecca?! Cewek itu ngapa-ngapain lo lagi di sekolah sampe lo frustrasi gini?!"
Bianca tersentak sedikit. Ia menatap Gwen dengan tatapan bingung yang sengaja dibuat-buat agar terlihat wajar. "Kenapa Kakak bawa-bawa Rebecca?"
"Ya karena gue tau dia itu tukang bully lo yang paling parah di sekolah!" Gwen menggeram pelan, rahangnya mengeras menahan marah. "Gue nggak buta, Bi. Dia selalu nindas lo dengan cara apa aja. Apa dia neror lo sampe ke luar sekolah juga? Gue beneran nggak abis pikir ada orang sejahat itu."
Bianca menundukkan wajahnya. Ia teringat betul bahwa Gwen sama sekali tidak tahu kalau ia dan Rebecca sebenarnya tinggal di satu atap, apalagi kalau mereka berdua adalah saudara kandung. Bagi Gwen, Rebecca hanyalah siswi populer yang hobi menyiksa dan mengganggunya di lingkungan sekolah. Strategi Bianca untuk tetap terlihat sebagai pihak yang menjadi korban perlakuan Rebecca ternyata bekerja sangat sempurna di mata Gwen.
"Bukan cuma dia, Kak. Semuanya terasa berat banget," bisik Bianca, membiarkan Gwen tetap berpikir sesuai asumsi sendiri. "Aku cuma ngerasa dunia ini nggak adil sama aku."
"Gue beneran bakal kasih pelajaran ke siapa pun yang bikin lo kayak gini," desis Gwen penuh amarah. "Lo nggak sendirian, Bi. Gue nggak bakal biarin cewek kayak Rebecca atau siapa pun nyentuh lo lagi sedikit aja."
Bianca menatap lekat-lekat wajah Gwen, mencoba mencari celah kepalsuan atau niat buruk di mata pria itu, tapi yang ia temukan hanyalah ketulusan yang justru menyakitkan hatinya. 'Kenapa lo harus sepeduli ini, Gwen? Sikap lo itu cuma bakal bikin kehancuran keluarga lo makin sakit rasanya nantinya,' pikirnya dengan perasaan yang mulai dingin kembali.
"Makasih ya, Kak... udah nyelamatin aku," ucap Bianca lirih. "Kakak nggak kasih tahu siapa-siapa kan kalau aku di sini?"
"Belum. Gue belum kabarin siapa pun, termasuk Kiyo," Gwen menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, terlihat sangat frustrasi dan lelah. "Gue nggak mau ada gangguan apa pun. Gue pengen lo tenang dulu tanpa ada drama dari adek gue atau orang-orang sekolah."
"Iya, Kak. Tolong jangan kasih tahu siapa-siapa ya," pinta Bianca dengan nada memohon.
"Gitu dong," Gwen tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak mereka sampai di rumah sakit ini. Ia lalu mengelus puncak kepala Bianca yang kini rambutnya terasa pendek dan kasar karena potongan yang tidak beraturan. "Soal rambut lo... jangan sedih ya. Lo tetep cantik kok, malah kelihatan makin segar dan beda. Nanti kalau udah sehat, kita bawa ke salon terbaik buat dirapiin lagi, oke?"
Bianca mengangguk pelan, ia membiarkan tangan Gwen mengusap kepalanya. Ia harus tetap bersikap menjadi Bianca yang rapuh, Bianca yang butuh perlindungan, agar Gwen tetap menjadi tameng paling kuat baginya untuk melawan seluruh keluarga Anderson sendiri, bahkan jika nanti harus berhadapan dengan adik kandungnya sekalipun.
"Kak, aku mau istirahat lagi," pinta Bianca pelan.
"Oke, oke. Gue di sini terus. Gue nggak bakal pergi ke mana-mana," Gwen membetulkan letak selimut agar menutupi tubuh Bianca dengan nyaman. "Gue bakal jagain pintu ini biar nggak ada satu nyamuk pun yang ganggu lo."
Bianca memejamkan matanya, berpura-pura sudah tertidur lelap. Namun di balik kelopak matanya yang tertutup rapat itu, pikirannya sedang bekerja menyusun langkah dan rencana selanjutnya. Kejadian ini mungkin terlihat seperti tanda kelemahannya, tapi Bianca akan menjadikannya sebagai senjata paling tajam untuk menusuk tepat ke jantung keluarga Anderson. Gwen sudah masuk terlalu dalam ke dalam hidupnya, dan itu berarti satu bidak catur lagi sudah siap untuk dikorbankan demi memuaskan rasa dendam yang belum tuntas.
'Maafin aku, Kak Gwen. Tapi Anderson harus bayar semuanya,' bisik hatinya di tengah kegelapan pikiran sendiri.
Suasana di kamar rawat khusus itu kembali menjadi sunyi, hanya terdengar suara detak mesin pemantau jantung yang berjalan stabil, seiring dengan rasa dendam Bianca yang kembali mengeras sekeras baja. Gwen tetap duduk diam di sana, menggenggam jemari Bianca, sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang menjaga dan melindungi seseorang yang justru akan segera meruntuhkan seluruh dunianya.