Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Keesokan paginya, atmosfer di lantai paviliun VVIP rumah sakit terasa begitu menegangkan. Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca koridor sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang menggelayuti hati keluarga besar Abi Musthofa. Semua anggota keluarga telah berkumpul di depan ruang rawat Kakek Ali. Di sana, tampak pula Tante Silvi, yang baru saja tiba untuk memberikan dukungan moril.
Tak lama berselang, pintu lift terbuka. Syifa melangkah keluar bersama kedua adik kandungnya yang tampak masih bermuka bantal. Pagi-pagi sekali, Syifa memang harus mengurus surat izin dispensasi terlebih dahulu ke pihak sekolah Raihan dan Tasya agar adik-adiknya bisa mendampingi sang kakek di hari krusial ini.
Langkah kaki Syifa mendadak melambat begitu sepasang matanya menangkap sosok Fadhlan yang sudah berdiri tegak di dekat Abi Musthofa. Fadhlan tampak berwibawa namun lelah, masih setia mengenakan kemeja formalnya. Mengingat kembali rentetan serpihan memori masa kecil dan rahasia besar yang ia dengar semalam, dada Syifa bergemuruh hebat. Perasaannya campur aduk antara canggung, bingung, dan sesak yang tidak menentu. Ia benar-benar tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa di depan suaminya sekarang.
Demi menutupi gejolak batinnya, Syifa memilih untuk berjalan menunduk, menggandeng erat tangan kedua adiknya, dan sengaja mengambil posisi duduk di deretan kursi tunggu yang paling ujung, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari jangkauan Fadhlan.
Fadhlan yang menyadari kedatangan sang istri, sempat menoleh dan hendak melangkah menghampiri. Namun, tepat pada saat itu, beberapa perawat keluar dari ruang rawat sembari mendorong brankar Kakek Ali. Waktu operasi telah tiba.
Melihat tubuh Kakek Ali yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya, Abi Musthofa dan Paman Andi seketika runtuh. Air mata dua pria paruh baya itu tak kuasa dibendung lagi. Mereka menggenggam tangan Kakek Ali bergantian, membisikkan kalimat-kalimat penguat.
Paman Romi, yang mengenakan pakaian bedah steril berwarna hijau gelap, melangkah maju mendekati Abi Musthofa dan Paman Andi. Ia menepuk bahu mereka berdua dengan mantap.
"Yang kuat dan tabah, doakan operasi ini berjalan dengan lancar," ujar Paman Romi dengan nada suara yang menenangkan sebelum ia berbalik memasuki area steril ruang operasi.
Ya, Paman Romi adalah salah satu dokter spesialis bedah utama di rumah sakit besar ini. Begitu mendengar kabar mengenai kondisi kritis Kakek Ali dari keponakannya, Paman Romi tanpa keraguan sedikit pun langsung menyanggupi untuk memimpin jalannya operasi. Baginya, Kakek Ali bukan sekadar pasien biasa, melainkan sahabat karib dari almarhum ayahnya yang sudah sepatutnya ia tolong dengan segenap kemampuan.
Di sudut lain koridor, Ummi Salwa, Tante Dini, dan Tante Silvi terlihat duduk merapat, saling menggenggam tangan dan menguatkan satu sama lain di tengah isak tangis yang tertahan. Sementara itu, di ujung kursi tunggu, bibir Syifa tidak pernah berhenti bergerak. Kalimat dzikir, selawat, dan doa keselamatan untuk kesembuhan sang kakek tak luput mengalir dari lisannya.
Meski dari luar Syifa terlihat sebagai sosok yang paling tegar dan tenang di antara wanita lainnya, namun sebenarnya di dalam lubuk hatinya, Syifa lah yang paling rapuh saat ini. Jiwanya terguncang hebat. Di dalam benaknya, berputar ketakutan yang teramat mengerikan, ia sangat takut jika kakek tercintanya ini akan menyerah dan menyusul kepergian sang nenek ke keabadian, meninggalkannya di tengah badai rahasia masa lalu yang baru saja terungkap.
Melihat Syifa duduk sendirian dan termenung menatap lantai dengan pandangan kosong yang menyakitkan, Fadhlan akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Ia melangkah lebar membelah koridor, mengabaikan ketegangan di sekitar ruang operasi, lalu mendudukkan diri di kursi kosong tepat di samping istrinya.
"Semalam kenapa tidak pulang ke rumah, Dek? Kenapa Om Andi yang memberitahu saya?" tanya Fadhlan dengan nada suara yang teramat lirih, sarat akan rasa khawatir dan kebingungan yang berkecamuk sejak semalam.
Syifa tersentak kecil mendengar suara parau suaminya yang begitu dekat. Ia meremas ujung gamisnya kuat-kali.
‘Tolong jangan dekat-dekat dulu. Sepertinya aku harus menyiapkan hatiku lebih besar lagi untuk bisa menerima kenyataan bahwa kamu adalah Kak Fadhlan, yang sangat aku kenal dan aku sayangi dulu,’ batin Syifa menjerit pedih, matanya berkedip cepat menahan desakan air mata.
"Syifa?" panggil Fadhlan lagi dengan lembut. Tangan kekarnya terangkat, berniat untuk menyentuh dan menggenggam telapak tangan Syifa yang tampak dingin di atas pangkuan.
Melihat pergerakan tangan suaminya, Syifa refleks menarik kedua tangannya mundur, menyembunyikannya di balik lipatan khimar syar'inya.
"Tidak apa-apa," sahut Syifa singkat, langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding pembatas lain, menolak untuk menatap manik mata Fadhlan.
Fadhlan tertegun di tempatnya, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya ia turunkan kembali. Sorot matanya meredup, menangkap sinyal penolakan yang begitu kentara dari sang istri. "Kamu marah?" tanya Fadhlan menebak, suaranya terdengar sedikit terluka.
"Tidak," jawab Syifa cuek, tetap pada posisinya yang enggan menoleh.
Fadhlan menghela napas panjang, mengusap tengkuknya kasar melihat perubahan sikap istrinya yang mendadak berubah menjadi sedingin es. Otak rasionalnya berputar mencari alasan di balik aksi bungkam Syifa sejak sore kemarin.
‘Apa dia marah karena menciumnya secara tiba-tiba di depan ruangan Kakek kemarin malam? Apa tindakanku waktu itu terlalu agresif hingga membuatnya tersinggung dan merasa tidak dihormati?’ pikir Fadhlan menerka-nerka dalam hati, mengira itu adalah penyebabnya.
Mengingat jam dinding koridor yang terus berputar dan kewajibannya di tempat lain yang tidak bisa ditinggalkan, Fadhlan akhirnya melirik jam tangannya dengan berat hati.
"Saya ada urusan di kampus, tidak apa kalau saya pergi dulu?" tanya Fadhlan lagi, mencoba mencairkan kekakuan di antara mereka.
"Hmm, iya."
"Saya pamit. Assalamu'alaikum," ujar Fadhlan lembut, mengulurkan telapak tangan kanannya di depan Syifa, menunggu sang istri menyambutnya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Syifa lirih.
Dengan perasaan yang bergemuruh hebat dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Syifa akhirnya mengulurkan tangannya, menyambut jemari kokoh suaminya lalu mencium punggung tangan Fadhlan dengan takzim, sebuah rutinitas wajib yang selalu ia lakukan sebagai bentuk bakti, meski kini ada sekat tak kasatmata yang membatasi hati mereka.
Fadhlan meremas pelan jemari Syifa sebelum benar-benar melepaskannya. "Jaga dirimu baik-baik di sini, Dek. Kalau ada apa-apa dengan Kakek, langsung hubungi saya," pesan Fadhlan lekat, menatap wajah istrinya dari samping. Syifa hanya mengangguk samar tanpa sepatah kata pun.
Setelah berpamitan dengan istrinya, Fadhlan melangkah menghampiri Abi Musthofa dan Ummi Salwa. Ia juga tidak lupa untuk berpamitan dengan takzim kepada paman dan tantenya yang lain sebelum akhirnya melangkah cepat menuju lift, meninggalkan area rumah sakit dengan pikiran yang sepenuhnya tertinggal pada diri Syifa.
Begitu sosok Fadhlan menghilang di balik pintu lift, Syifa mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Untuk menyembunyikan rasa canggung dan bingung yang mendera, Syifa hanya bisa menunjukkan sikap cuek dan menutup diri dari sekitar. Entah kenapa, ia merasa sangat kewalahan memikirkan bagaimana ia harus bersikap di depan Fadhlan setelah ini.
Setelah ingatan masa kecilnya pulih, egonya seolah terbentur pada dua kenyataan yang bertolak belakang. Harus senang atau sedihkah? Di satu sisi, pria yang menikahinya adalah sosok pelindung masa kecilnya yang dulu sangat ia rindukan. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa mereka telah berpisah kurang lebih tiga belas tahun lamanya membuat sosok Fadhlan yang dewasa ini terasa seperti orang asing yang mengenakan topeng masa lalu. Hubungan suami istri yang mulai tumbuh di antara mereka mendadak terasa begitu membingungkan bagi logika Syifa.
...----------------...
Setelah menunggu selama hampir empat jam yang terasa bagai berabad-abad, lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Paman Romi keluar dengan wajah yang menyiratkan kelelahan namun segaris senyuman lega terukir di bibirnya. Beliau mengabarkan bahwa operasi pengangkatan penyumbatan dan perbaikan pembuluh darah Kakek Ali berjalan dengan sangat lancar tanpa ada kendala medis yang berarti. Namun, karena pengaruh dosis obat bius total yang cukup kuat, beliau menegaskan bahwa Kakek Ali saat ini belum sadarkan diri dan masih harus dipantau secara intensif di ruang pemulihan sebelum dipindahkan kembali.
Mendengar penjelasan tersebut, seluruh anggota keluarga yang menunggu seketika mengembuskan napas lega yang amat sangat. Isak tangis kesedihan di koridor itu seketika berubah menjadi tangis haru penuh syukur. Mereka semua saling berpelukan, berharap dalam hati agar Kakek Ali bisa segera melewati masa kritisnya dan pulih seperti sedia kala.
Dua jam kemudian, Kakek Ali akhirnya dipindahkan kembali ke ruang perawatan paviliun VVIP. Sejak tubuh kakeknya diletakkan di atas ranjang, Syifa sama sekali enggan untuk beranjak atau berada jauh dari sisi ranjang tersebut. Ia menarik kursi terdekat, duduk diam di samping tempat tidur sambil kedua telapak tangan kecilnya menggenggam erat tangan keriput sang kakek yang masih terasa dingin.
Sepanjang siang hingga sore hari, Syifa lebih banyak memilih diam. Ia mengunci rapat mulutnya dan tidak ingin berbicara atau berinteraksi dengan siapa pun, termasuk dengan kedua orang tua kandungnya sendiri. Pikirannya benar-benar masih kalut, dipenuhi potongan-potongan gambar masa kecilnya yang terus berputar tumpang tindih. Syifa bimbang, haruskah ia memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Abah dan Ummi demi memastikan seluruh kebenaran sejarah masa lalu itu, atau tetap diam menyimpannya sendiri dalam kepura-puraan seperti ini?
Di sudut ruangan yang agak jauh dari ranjang, Paman Andi tampak berdiri menyandar di dekat jendela kaca besar, memperhatikan gerak-gerik diam keponakannya dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa iba. Karena Paman Andi adalah satu-satunya orang yang sudah mengetahui fakta bahwa ingatan masa kecil Syifa telah pulih semalam, beliau merasa beban ini terlalu berat jika dipikul sendiri.
Maka, beberapa saat yang lalu saat berada di kantin bawah, Paman Andi memutuskan untuk membagi rahasia tersebut kepada Abi Musthofa. Tentu saja, Paman Andi harus memberitahukan hal krusial ini kepada ayah kandung dari keponakannya itu, supaya ada langkah bijak yang bisa diambil oleh keluarga dan hal ini tidak terus menjadi duri dalam daging bagi rumah tangga Syifa dan Fadhlan.
Abi Musthofa yang mendengar cerita Paman Andi sempat terduduk lemas di kursi kantin, terkejut bukan main. Dan kini, melihat putri sulungnya terus-menerus mengurung diri dalam diam di samping ranjang Kakek Ali, hati Abi Musthofa terasa seolah diiris-iris.
Dengan langkah perlahan dan penuh kelembutan seorang ayah, Abi Musthofa berjalan mendekati ranjang, lalu berdiri tepat di samping kursi Syifa.
"Nak, dari kemarin kamu belum pulang ke rumah suamimu. Hari ini lebih baik kamu pulang dulu ya, Nak. Istirahat di rumah. Di sini sudah ada Abi, Ummi, dan juga Om Andi yang akan menjaga Kakek bergantian," nasihat Abi Musthofa dengan suara baritonnya yang tenang, sembari tangannya terangkat mengusap lembut kepala jilbab putrinya.
Syifa tidak mendongak, ia hanya menggelengkan kepala pelan dengan tatapan mata yang tetap terkunci pada wajah tertidur Kakek Ali. "Syifa mau di sini saja, Abi. Syifa mau menunggu sampai Kakek sadar."
Abi Musthofa menghela napas pendek, lalu mengulurkan tangannya untuk memegang pundak ringkih putrinya, meremasnya lembut.
"Abi sangat tahu betapa besarnya rasa sayang dan kekhawatiranmu pada Kakekmu ini, Nak," imbuh Abi Musthofa dengan nada suara yang bergetar menahan haru. "Tetapi, kamu juga harus ingat, saat ini kamu sudah memiliki kehidupan baru. Kamu harus tetap menjalankan kewajiban utamamu sebagai seorang istri, Nak. Ridha Allah sekarang ada pada suamimu, bukan lagi pada Abi atau Kakek."
Syifa tertegun, kalimat Abi seolah menyentil ego dalamnya. Sebenarnya, Abi Musthofa sudah tahu betul dari cerita Paman Andi bahwa putrinya saat ini sengaja menjaga jarak dan melarikan diri dari Fadhlan karena gejolak masa lalu.
Ummi Salwa yang ikut mendekat, mengusap punggung Syifa dengan tatapan mata seorang ibu yang sarat akan permohonan. "Betul, Nduk. Beberapa hari ini Nak Fadhlan juga sudah sangat sibuk ke sana kemari mengurus administrasi dan memastikan dokter terbaik untuk Kakekmu, di samping pekerjaan yang menumpuk. Ummi lihat wajah suamimu tadi pagi sangat pucat, dia pasti kurang istirahat karena memikirkan kondisi Kakek dan dirimu yang tidak pulang semalam. Pulanglah, Nak."
Mendengar kalimat Ummi yang begitu menyudutkan rasa bersalahnya sebagai istri, Syifa akhirnya mengembuskan napas panjang, mengalah. Ia tidak ingin dicap sebagai istri yang durhaka hanya karena ketakutan pribadinya.
"Hmm, ya sudah Ummi, Abi. Syifa pamit pulang ke rumah dulu. Nanti kalau Kakek sudah sadar, jangan lupa segera beri kabar pada Syifa ya?" jawab Syifa dengan nada pasrah, perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Kakek Ali.
"Iya, Nduk. Ummi pasti akan langsung meneleponmu," sahut Ummi Salwa tersenyum lega.
"Pulang naik apa kamu, Syif? Mau Om antar sampai rumah?" tanya Paman Andi menawarkan bantuan dari dekat pintu.
"Tidak usah, Om. Syifa naik taxi online saja dari lobi depan. Syifa pamit dulu... Assalamu'alaikum," pamit Syifa sembari bangkit berdiri.
Sebelum benar-benar melangkah meninggalkan ruangan paviliun, Syifa berjalan memutar, menyalami dan mencium takzim punggung tangan kedua orang tua kandungnya, serta pamannya. Dengan langkah yang terasa berat dan hati yang dipenuhi keraguan, Syifa melangkah keluar menuju lobi rumah sakit untuk bergegas mencari taxi guna pulang ke rumah suaminya, rumah yang kini terasa penuh dengan teka-teki emosional.
...****************...