Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Zayyan masih berdiri di tempatnya beberapa detik setelah gadis itu pergi. Angin dingin bandara menerpa wajahnya, membuat ujung hidungnya sedikit memerah. Tatapannya mengikuti sosok perempuan itu yang semakin jauh di antara kerumunan orang-orang yang lalu lalang.
Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa aneh.
Bukan karena gadis itu cantik, melainkan karena cara perempuan itu berjalan sambil terus menunduk, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat. Tapi dia merasa familiar dengan wajah gadis itu.
Zayyan menghela napas pelan. Kepalanya sendiri juga sedang penuh. Perjalanan panjang dari Swiss, rasa kecewa yang belum benar-benar hilang, dan pengkhianatan Lolly masih seperti batu besar yang menekan dadanya.
Namun saat hendak melangkah, tiba-tiba ujung sepatunya menginjak sesuatu.
“Hmm?”
Dia menunduk, lalu sedikit membungkuk.
“Dompet,” gumamnya pelan.
Sebuah dompet wanita berwarna cokelat muda tergeletak di lantai. Bentuknya sederhana, tapi terlihat mahal. Zayyan mengambil benda itu lalu mengamatinya sekilas.
Tatapannya langsung kembali mencari sosok gadis tadi. Namun sudah menjauh.
“Punya dia?” gumamnya.
Zayyan menimbang-nimbang sejenak. Kalau dia memanggil sekarang, belum tentu gadis itu mendengar. Bandara terlalu ramai. Dia menghela napas panjang sambil memutar dompet itu di tangannya.
“Apa aku buka aja ya…” ucapnya pelan.
Setidaknya dia bisa melihat identitas pemiliknya.
Namun tepat saat ibu jarinya hendak membuka resleting dompet itu, suara nyaring dari kejauhan membuatnya menoleh.
“BANG ZAY!”
Zayyan mendongak.
Seorang gadis berlari kecil sambil melambaikan kedua tangannya heboh. Wajahnya cerah sekali, seolah tidak peduli kalau semua orang menatap tingkahnya.
“Bang Zayyyy!”
Bruk!
Tubuh kecil itu langsung menabrak Zayyan dan memeluk pinggang kakaknya erat-erat.
Zayyan yang awalnya murung spontan sedikit terhuyung. Dia menatap adiknya datar beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh pelan.
“Kamu ini,” gumamnya sambil mengacak rambut Zalia.
“Kangen banget!” seru Zalia dramatis. “Abang lama banget sih di luar negeri. Aku sampai lupa muka abang.”
“Cuma tiga hari Jeli, kemarin juga kita video call" gemas Zayyan dengan sang adik. Dia tetap memanggil adiknya Jeli, meskipun sang adik selalu protes tapi Zayyan tidak peduli.
“Itu beda.”
“Apa bedanya?”
“Kalau video call abang nggak bisa dicubit.”
Tanpa dosa, Zalia langsung mencubit pipi kakaknya sampai Zayyan meringis.
“Sakit, bocah.”
“Biar yakin asli.”
Zayyan menggelengkan kepalanya, dia merangkul sang adik dan berjalan menuju ke mobil yang sudah menunggunya di depan bandara.
"Kemana kak Lolly? Kenapa kakak pulang sendirian" tanya Zelia sambil melangkah.
Zayyan menghela nafas lelah, malas sekali dia membahas mantan kekasihnya itu. "Tidak tau" jawab Zayyan cuek.
Zelia yang awalnya masih berjalan santai langsung menoleh cepat ke arah kakaknya.
“Tidak tahu gimana?” tanyanya bingung.
“Ya nggak tahu.”
“Loh… bukannya kalian pergi bareng?”
“Iya.”
“Terus pulangnya kenapa nggak bareng?”
Zayyan membuka pintu mobil dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menggenggam kopernya. Wajahnya terlihat malas menjawab.
“Karena dia milih cowok lain.”
Deg.
Zalia membeku di tempat.
Sopir keluarga mereka yang berdiri di dekat mobil bahkan sampai pura-pura sibuk melihat jalanan, takut ikut terseret drama keluarga kedua saudara itu.
Sedangkan Zalia menatap kakaknya dengan mata membulat lebar.
“Hah?”
Zayyan memasukkan kopernya di bagasi, setelah itu masuk ke dalam mobil lebih dulu lalu menyandarkan kepalanya ke kursi.
“Dia nolak lamaran abang.”
“HAAAAAH?!”
Suara Zalia menggema sampai beberapa orang menoleh.
“Pelan dikit,” desis Zayyan.
“Tapi ini shocking!” bisik Zalia heboh walaupun volumenya tetap keras. “Kak Lolly nolak abang? Yang benar aja!”
Zayyan menutup mata malas. “Kalau bohong ngapain aku pulang sendirian, Jeli” gemas Zayyan.
Zelia langsung masuk ke mobil sambil terus menatap kakaknya tidak percaya.
“Dia buta ya?”
“Jeli…”
“Serius! Abang itu ganteng, kaya, tinggi, baik—”
“Baik dari mana?”
“Ya lumayan lah.”
Zayyan mendecih kecil. Mobil mulai berjalan meninggalkan area bandara. Terlihat kendaraan berlalu lalang memadati jalan.
“Tunggu.” seru Zayyan pada sopirnya.
Zalia menyipitkan mata ke arah tangan kakaknya.
“Itu dompet siapa?”
Zayyan ikut melihat benda di tangannya lalu mengangkat bahu pelan.
“Nemu di bandara.”
“Punya Kak Lolly?”
“Bukan. Kan Lolly belum pulang, masih di Swiss"
“Lalu punya siapa? Kenapa ada di tangan abang?”
Zalia yang penasaran langsung meraih dompet itu, dan melihatnya.
“Coba lihat.”
“Eh, jangan sembarangan—”
Terlambat. Zalia sudah membuka resleting dompet tersebut dengan gerakan super cepat khas tukang kepo profesional.
“Wah…” gumamnya.
Di dalamnya ada beberapa kartu, uang, dan foto kecil seorang perempuan dengan kedua orang tuanya sambil tersenyum lebar.
“Cantik,” komentar Zalia spontan sambil melihat foto pemilik dompet di kartu identitas.
Zayyan refleks melirik sekilas. Dan detik itu juga alisnya berkerut. “Eh…”
Dia langsung mengambil kartu identitas itu dari tangan adiknya. Nama yang tertulis di sana membuat tatapannya berubah.
"Alina…”
Zayyan kembali teringat wajah gadis yang tadi berjalan sambil menunduk di bandara.
Pantas terasa familiar. Dia seperti kenal wanita itu. Zayyan mencoba mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian matanya sedikit membesar.
“Ah dia....”
“Apa?” tanya Zalia cepat.
“Sepertinya dia pernah satu sekolah dengan abang"
“Hah serius?”
Zayyan mengangguk pelan.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥