Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Teratai yang Mengakar dalam Kebohongan
Langit di Ranah Dewa tidak pernah terlihat sekelabu ini. Di puncak Altar Langit Sembilan—sebuah dataran suci yang dibangun selama sepuluh ribu tahun dari batu giok yang ditambang di jantung bintang-bintang mati—darah mengalir di antara sela-sela lantai putih, membentuk pola geometris yang mengerikan. Pola itu bukan sekadar percikan acak. Ia adalah formasi segel kuno, satu-satunya formasi yang mampu menghapus keberadaan seorang dewa dari tatanan alam semesta secara permanen.
Sang Master Tingkat 9, sosok yang kekuatannya dahulu mampu menggetarkan fondasi sembilan ranah sekaligus, kini berlutut dengan satu tumpuan pedang yang telah retak seribu. Pedang itu adalah Langit Pembelah Keabadian—senjata yang ia tempa sendiri selama tiga ribu tahun dari inti bintang yang runtuh. Namun kini, bahkan pedang agung itu pun tak lebih dari sepotong besi yang mengadu pada nasib.
Ribuan Dewa Tingkat 9 berdiri mengelilinginya, membentuk barisan rapat yang mengunci seluruh arah mata angin dalam formasi "Delapan Langit Menutup Bumi". Mereka adalah para penguasa tertinggi dari masing-masing ranah—entitas yang usianya merentang hingga jutaan tahun, wajah-wajah yang seharusnya ia kenal lebih baik dari siapa pun. Beberapa di antaranya adalah sesama dewa yang dahulu pernah berdampingan dengannya di medan perang, mempertahankan keseimbangan kosmos dari ancaman kehancuran. Namun kini, mereka semua berdiri di seberang garis yang sama. Mengepung satu-satunya dewa yang telah kalah di dalam perang ini.
Napas sang dewa tersengal, berat dan putus-putus. Setiap tarikan udara terasa seperti menelan bara api yang membakar tenggorokan dari dalam. Tulang-tulangnya telah hancur sebagian, retak oleh benturan serangan yang jumlahnya tidak lagi dapat ia hitung. Darah berwarna emas mengalir dari sudut bibirnya, meresap ke lantai giok dan mengubah pola formasi menjadi semakin terang, semakin haus menyerap kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya.
Di depannya, berdiri seorang wanita dengan keanggunan yang tiada tara. Jubah putihnya berkibar ditiup angin suci altar, melambai dengan riak yang begitu tenang seolah-olah langit ini tidak sedang menyaksikan sebuah kejahatan terbesar sepanjang sejarah dewa. Wajahnya secantik rembulan yang baru terbit di atas lautan cermin, sempurna tanpa cacat, namun sepasang matanya sedingin es di dasar jurang terdalam yang tidak pernah terjamah cahaya matahari. Di pinggangnya tersampir Pedang Teratai Putih—senjata yang konon diberkati oleh langit, namun kini telah dikotori oleh darah seorang yang pernah ia sebut sebagai rekan.
"Kenapa...?" suara sang dewa parau, bergetar bukan karena takut pada kematian, melainkan karena sebuah kehancuran batin yang jauh melampaui luka fisik mana pun. Di dalam kata tunggal itu, tersimpan ribuan tahun kepercayaan, ribuan tahun perjuangan berdampingan, dan ribuan tahun persekutuan yang kini ia sadari mungkin tidak pernah nyata sejak awalnya.
Sang Dewi hanya menatapnya tanpa riak. Tidak ada kesedihan. Tidak ada keraguan. Tidak ada penyesalan yang tersembunyi di balik kedalaman mata birunya itu. Dia benar-benar tidak menunjukkan sedikit pun emosi, kosong dan abai, sementara jemari lentiknya menggenggam dengan mantap hulu Pedang Teratai Putih yang tertancap tepat di pusat jantung sang dewa—menembus baju zirah langit yang seharusnya tidak dapat ditembus oleh senjata apa pun di bawah tingkat Ilahi.
"Dewa tertinggi telah memerintahkanku dan semua dewa di alam kesembilan untuk menghapus dirimu dari tatanan alam ini," ucap sang Dewi lembut. Nadanya semanis madu yang menetes di musim semi, mengalun indah dan terukur, namun di dalam keindahan itu tersimpan racun kelumpuhan yang absolut—suara yang pernah membuatnya merasa tenang kini terasa seperti belati yang memutar di dalam lukanya. "Kau adalah ancaman yang harus kami hapuskan sesegera mungkin."
Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada pembelaan yang ditawarkan, tidak ada pengadilan yang digelar. Hanya sebuah vonis yang telah diputuskan jauh sebelum pertempuran ini dimulai.
Bersamaan dengan kalimat terakhir itu, formasi kuno yang dirajut oleh ribuan dewa di sekeliling mereka berdengung hebat seperti gong langit yang ditabuh oleh tangan raksasa. Jaringan cahaya keemasan melesat dari telapak tangan masing-masing dewa, mencengkeram tubuh sang dewa seperti jaring yang tak kasat mata, dan menguras paksa seluruh inti Qi yang ia miliki. Kekuatan yang telah ia kumpulkan selama jutaan tahun—setiap tetes pemahaman tentang Hukum Langit, setiap serpih kekuasaan yang ia peroleh dengan harga darah dan pengorbanan—dihapus dari dalam tubuhnya, menyusut drastis seperti api yang disiram lautan, meninggalkannya dalam kondisi yang teramat lemah dan sekarat.
Kesadarannya kian memudar di tepi jurang kegelapan. Namun bahkan di momen terakhirnya, matanya masih menolak untuk terpejam. Ia menyaksikan siluet sang Dewi berbalik dan melangkah pergi—jubah putihnya berkibar satu kali terakhir, anggun dan dingin—tanpa satu pun lirikan ke belakang, tanpa satu pun beban di bahunya. Sedetik kemudian, tangan-tangan tak kasat milik formasi itu menyambar, dan tubuhnya yang hancur dilemparkan ke dalam lubang hitam dimensi. Dibuang ke Dunia Fana, tempat yang dianggap sebagai tumpukan sampah oleh para penghuni langit—sebuah dunia kecil yang berputar di tepian kosmos, jauh dari cahaya peradaban langit.
Tubuh dewa itu jatuh membelah atmosfer seperti meteor yang padam, meninggalkan jejak cahaya merah redup yang memudar sebelum sempat dilihat siapa pun. Ia mendarat di puncak sebuah gunung berbahaya yang terlarang—Gunung Jiwa Mati, begitu penduduk setempat menyebutnya dengan takut-takut. Sebuah tempat yang diselimuti kabut abadi, di mana tidak ada tumbuhan yang mau berakar dan tidak ada binatang yang mau bersarang, seolah alam sendiri menolak untuk hidup di sana.
Sesaat setelah benturan yang menggetarkan bumi dan memecah puncak batu granit menjadi ribuan serpihan, sisa-sisa energi di dalam tubuhnya melakukan sesuatu yang luar biasa. Naluri bertahan hidup yang tertanam jauh di dalam jiwanya—warisan dari jutaan tahun eksistensi sebagai entitas tertinggi—menolak untuk menyerah. Lapisan emas cair keluar dari pori-pori kulitnya, mengalir pelan namun tak terhentikan, membungkus seluruh tubuh sang dewa hingga mengeras perlahan menjadi sebongkah giok emas raksasa. Di dalam kepompong pelindung yang dibentuk oleh sisa terakhir kehidupannya itulah, ia tertidur—bukan dalam kematian, melainkan dalam hibernasi yang dalam demi menyambung nyawa yang hampir padam.
Waktu demi waktu berjalan dengan cuek dan tanpa belas kasihan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Tahun demi tahun terus bergulir, melaju lambat namun pasti hingga lima puluh ribu tahun lamanya. Lima puluh ribu tahun adalah waktu yang cukup bagi sebuah peradaban untuk lahir, berkembang, berjaya, runtuh, dan dilupakan sepenuhnya.
Selama rentang milenia yang panjang itu, sang Dewi beberapa kali turun ke dunia fana demi menyebarkan Ajaran Teratai Putih—sebuah sistem kepercayaan yang ia bangun dengan cermat dan dingin di atas narasi yang telah ia susun sendiri. Di atas permukaan sejarah yang tertulis, kebenaran selalu menjadi milik pihak yang paling kuat untuk bertahan. Sang Dewi pun naik takhta di hati manusia, dipuja dan disembah sebagai "Dewi Kebajikan"—pelindung kaum lemah, pembawa damai, cahaya di tengah kegelapan. Namanya diagungkan di setiap kuil dari ujung timur hingga ujung barat Dunia Fana. Sekte Teratai Putih bertransformasi menjadi pilar keadilan yang tak tergoyahkan, kekuatan spiritual terbesar yang pernah ada di dunia manusia. Mereka mengajarkan kasih sayang dan ketulusan kepada umat, sementara fondasi sekte mereka sebenarnya berdiri di atas genangan darah masa lalu yang telah sepenuhnya dihapus dari ingatan dunia, terkubur rapat di bawah lapisan puji-pujian yang tiada henti.
Dan di pinggiran tebing Gunung Jiwa Mati, di sudut dunia yang tidak dikunjungi manusia, sebongkah giok emas tetap membatu tak tersentuh selama lima puluh ribu tahun.
Krak.
Satu retakan halus muncul di permukaan giok yang mulai kusam dan ditumbuhi lumut tipis berwarna abu. Retakan itu merambat dengan cepat, membelah struktur giok secara perlahan seperti cangkang telur purba yang dipaksa pecah dari dalam oleh sesuatu yang terlalu lama terkurung. Kepingan-kepingan giok emas berjatuhan satu per satu, mengungkap sosok yang terbungkus di dalamnya.
Tubuh dewa itu terjatuh ke atas tanah berbatu saat gioknya hancur berantakan menjadi debu keemasan yang langsung ditiup angin dingin gunung. Kesadarannya bangkit secara bertahap dan menyakitkan, seperti seseorang yang memaksa dirinya keluar dari dasar sumur yang sangat dalam. Ia memaksa kelopak matanya yang terasa berat seperti batu untuk terbuka. Seluruh badannya lemas, hampa, dan sama sekali tidak bertenaga—tidak ada satu pun simpanan energi spiritual yang tersisa, bahkan untuk sekadar menghangatkan tubuhnya sendiri.
Ia merangkak dengan bertumpu pada kedua telapak tangannya di atas batu yang dingin dan tajam, mencoba bangkit berdiri meski lututnya gemetar hebat menopang beban tubuh yang terasa asing. Langkah pertamanya tertatih-tatih seperti bayi rusa yang baru lahir. Pakaiannya yang dulu megah, ditenun dari benang cahaya bintang dan ditempa dengan embun fajar dewa, kini telah luruh menjadi abu selama tidur panjangnya, menyisakan selembar jubah hitam kasar yang koyak di beberapa bagian, sewarna dengan malam yang paling pekat.
Tubuhnya terasa asing—lemah, ringkih, dan kosong dari energi spiritual seperti kuali yang telah dikikis hingga ke dasarnya. Kepalanya berdenyut mengerikan, menghantam syarafnya berulang kali dengan rasa sakit yang menusuk seperti jarum-jarum besi yang dibakar. Ia tidak ingat apa pun. Siapa dirinya? Di mana dia sekarang? Bahkan nama dirinya sendiri terasa seperti sesuatu yang ia dengar dalam mimpi yang telah lama terlupakan.
Ia melangkah turun dari gunung, matanya menyipit perih saat cahaya matahari yang masih rendah di ufuk timur menyengat penglihatannya yang telah terbiasa dengan kegelapan total selama lima puluh milenia. Setiap batu yang ia injak terasa seperti penghinaan yang nyata bagi kakinya yang pernah melangkahi awan.
"Di mana... ini?" suaranya pecah keluar dari tenggorokan yang kering, terdengar asing dan kasar di telinganya sendiri—suara seorang pemuda biasa, bukan gema seorang penguasa semesta.
Ia terus berjalan tanpa arah yang jelas. Ingatannya serupa cermin mahal yang sengaja dihempaskan ke lantai batu, pecah menjadi jutaan kepingan tajam yang berserakan. Setiap kali ia mencoba memaksa otaknya untuk bekerja keras mengingat identitas diri, setiap kali ia memejamkan mata dan mencari ke dalam dirinya sendiri, bayangan kabur seorang wanita berpakaian putih selalu muncul berkelebat—indah, tenang, dan entah mengapa terasa seperti pisau yang mengiris dari dalam.
"Akh!" Secara spontan ia mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan, merintih saat rasa sakit luar biasa menusuk bagian pelipisnya seperti kilat yang tidak mau berhenti. "Siapa... wanita itu?!"
Ia benar-benar bingung dan didera rasa frustrasi yang menggerogoti nalarnya. Namun, sensasi di dadanya—tepat di titik di mana jantungnya berdetak—terasa begitu nyata dan begitu parah. Seolah-olah ada bekas luka yang tak kasat mata di sana, luka yang ditinggalkan oleh sesuatu yang lebih tajam dari pedang mana pun, seolah-olah hatinya telah diremas hingga hancur berkeping-keping oleh tangan yang paling ia percayai di seluruh dunia ini.
Langkah kakinya menembus hutan demi hutan yang lebat. Pepohonan purba yang ia lewati terasa sangat asing, dan energi alam di udara terasa sangat tipis sekaligus kotor jika dibandingkan dengan apa yang samar-samar diingat oleh instingnya yang paling dalam tentang sebuah tempat yang pernah ia sebut "rumah".
Tanpa ia sadari, setiap langkah kakinya meninggalkan jejak hitam samar di atas rumput hijau yang ia injak—efek dari sisa-sisa energi Yin Asura yang merembes keluar dari jiwanya yang rusak, tumpah ke permukaan dunia seperti racun yang mencari jalan keluar dari wadah yang telah retak. Rumput yang ia injak layu dalam hitungan detik, mengering dan menghitam seolah umurnya terkuras habis dalam sekali sentuh.
Di sebuah puncak bukit terbuka yang menghadap langsung ke arah lembah subur di bawah, langkahnya terhenti tiba-tiba. Di kejauhan, di antara hamparan kabut tipis pagi hari, ia melihat sebuah kota besar yang dikelilingi tembok tinggi berwarna putih bersih. Bendera-bendera putih berkibar pongah di setiap menara, dan di atas gerbang utamanya yang megah, terpahat sebuah simbol bunga teratai berukuran raksasa dari batu pualam impor.
Begitu sepasang matanya menangkap bentuk simbol itu, sesuatu meledak di dalam kepalanya. Kepala sang dewa berdenyut sangat hebat seakan hendak pecah dari dalam. Kilasan-kilasan visual menyerbu tanpa permisi—sebilah pedang putih yang menembus dada, tangan-tangan ribuan dewa yang merajut formasi penghancur, dan gema tawa dingin seorang wanita yang bergema di antara dinding-dinding giok putih. Semuanya datang sekaligus, tanpa urutan, tanpa penjelasan, hanya kepedihan yang mentah dan tanpa nama.
"Agh!" Ia berteriak tertahan, ambruk berlutut di atas tanah yang lembap. Di bawah lututnya, tanah mengering dan membatu dalam lingkaran kecil yang melebar perlahan.
Sebuah kemarahan raksasa yang tidak memiliki nama bangkit dari lubuk hatinya yang paling dalam—emosi paling primitif dan paling jujur yang masih tersisa dalam dirinya. Kemarahan itu memicu segumpal energi merah pekat jauh di dalam inti tubuhnya untuk bergejolak liar, seperti binatang buas yang telah lama terkurung mencium aroma rantainya sendiri. Namun, fisiknya yang lemah tidak sanggup menanggung beban emosi dan energi asing yang meledak tiba-tiba itu. Tubuh manusia ini terlalu rapuh.
Pandangannya mulai kabur secara drastis. Kota putih di kejauhan, bendera-benderanya, dan simbol bunga terkutuk itu meredup bersama-sama. Langit biru di atasnya perlahan berubah menjadi hitam kelam.
Siapa aku? Dan kenapa hatiku terasa begitu sakit... begitu hancur hanya karena melihat bunga itu?
Sebelum satu pun jawaban sempat muncul ke permukaan, kegelapan merenggut kesadarannya untuk kedua kalinya. Ia ambruk tak berdaya ke atas tanah, pingsan di bawah bayang-bayang dunia baru yang kini menyembah sang pembunuh dirinya sebagai sosok Tuhan yang paling suci.
Sang Penghancur Sembilan Ranah kini hanyalah sesosok pemuda tak dikenal berbaju hitam yang tergeletak di antara semak belukar—tak berdaya, tak bernama, tak dikenal.
Namun nasib, rupanya, belum selesai bermain.
Karena di saat yang sama, di kaki bukit itu, terdengar derap langkah kaki kuda yang semakin mendekat. Dan di antara kesunyian hutan, sebuah suara muda yang jernih memecah udara—suara seseorang yang sedang terburu-buru, mengejar sesuatu, atau mungkin... melarikan diri dari sesuatu.
Suara itu semakin dekat.
Dan di tangan orang yang belum terlihat itu, tersampir sebuah benda yang memancarkan kilau familiar—kilau emas redup yang persis sama dengan warna kepompong giok yang baru saja hancur di puncak gunung. Sebuah kepingan. Serpihan dari masa lalu yang seharusnya sudah terkubur.
Takdir, sepertinya, tidak pernah benar-benar membiarkan hutang darah terlupakan.