NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:37.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Serangan Balik

Shanaya melepas kacamata antiradiasi. Jemarinya menekan pangkal hidung kuat-kuat. Udara pendingin ruangan membekukan ujung jarinya.

Kopi di cangkir sudah dingin sejak tiga jam lalu.

Shanaya memutar leher pelan. Tulang punggungnya berdenyut nyeri setelah duduk tegak belasan jam tanpa henti.

Di atas meja, map merah terbuka lebar. Kertas mutasi rekening berjejer rapi. Jejak racun yang ditinggalkan Alvian Restu dan Anastasia Lim.

Shanaya mengambil pena. Ujung logamnya menunjuk deretan transfer dari kas perusahaan ke vendor tekstil di Lyon.

Tiga miliar rupiah.

Uang itu tidak pernah berubah menjadi kain sutra kualitas premium.

Semuanya mengalir ke rekening cangkang di Singapura, lalu berubah jadi tas edisi terbatas dan perhiasan berlian di lemari Anastasia.

Mati satu kali akibat kelicikan mereka sudah cukup.

Shanaya melempar pena ke meja. Bunyi benturannya memecah sunyi. Dia menelungkupkan wajah di lipatan tangan. Dingin meja mahoni menembus kulit pipinya.

Kelelahan memukul pertahanannya malam ini. Dia sendirian. Dinda sudah pulang sejak pukul delapan malam. Mama Kesuma masih tertidur di rumah sakit.

Jari Shanaya melayang di atas tombol daya laptop.

Dia bisa menjual sisa aset Kesuma Fashion besok pagi. Membawa Mama pindah ke luar negeri. Mengganti identitas. Hidup tenang.

Biarkan Alvian dan Anastasia berebut bangkai perusahaan sampai saling menghancurkan.

Ponsel di sebelah keyboard bergetar keras.

Shanaya melirik layar dengan mata setengah terpejam.

Rio Pramana.

Dia membiarkan panggilan itu mati sendiri.

Tiga detik kemudian, layar menyala lagi.

Rio memang tidak pernah tahu batas. Terlalu hangat, terlalu persisten. Shanaya tidak butuh bunga. Dia butuh peluru.

Shanaya menekan tombol terima dan mengaktifkan pengeras suara.

"Kamu tahu ini jam berapa, Rio?" suaranya serak.

"Dua pagi. Waktu yang pas buat mastiin kamu belum pingsan." Suara Rio ringan. "Aku ada di lobi bawah."

Shanaya berjalan ke jendela kaca raksasa dan melihat sedan sport hitam terparkir di depan gedung Kesuma Group.

"Aku sibuk, Rio. Pulang."

"Aku bawa nasi goreng gila kesukaan kamu. Masih hangat."

Ingatan lama berdesir di dada Shanaya. Rio adalah bagian bersih dari masa lalunya. Pria yang dulu menemaninya makan di pinggir jalan sebelum Alvian menghancurkan hidupnya perlahan.

Tapi Shanaya yang sekarang sudah terlalu kotor untuk menerima perhatian seperti itu.

"Jangan titip apa-apa ke satpam. Aku tidak lapar."

"Naya—"

"Aku tutup."

Shanaya memutus sambungan sepihak.

Dia kembali ke meja kerja. Matanya jatuh pada dokumen legal Kesuma Tekstil.

Jika dia memblokir dana talangan besok pagi, proyek fiktif Alvian akan kolaps.

Tapi tiga ratus buruh pabrik tidak akan menerima gaji bulan ini.

Dulu Shanaya pasti memilih menyelamatkan mereka.

Hasilnya? Dia mati karena terlalu peduli.

Rahang Shanaya mengeras. Tangannya meraih stempel direksi.

Tiga ratus buruh itu akan menderita sementara. Tapi setelah Alvian jatuh, dia akan mengambil alih pabrik dan membayar semuanya dua kali lipat.

Perang selalu meminta korban.

Shanaya menekan stempel di atas surat pemblokiran dana.

Keputusannya bulat.

Lelah kembali menyerang saat dia hendak menutup laptop.

Layar ponselnya menyala lagi.

Steven Aditya.

Pesannya singkat.

"Belum tidur."

Shanaya langsung menarik keyboard mendekat.

"Banyak laporan masuk. Kamu sendiri kenapa masih bangun, Tuan Produser?"

Centang biru muncul.

"Tidur. Haryo tidak akan berani menagih laporan jam delapan pagi setelah melihat kalkulasimu tadi siang."

Sudut bibir Shanaya terangkat tipis. Penat di pundaknya mencair perlahan.

Pesan kedua masuk.

"Mobil Rio Pramana masih di depan lobimu."

Alis Shanaya bertaut.

"Kamu memata-matai gedungku?"

"Satpam lobi gedungmu dulu anak buahku."

Shanaya menggeleng pelan. Steven memang punya mata dan telinga di mana-mana.

"Dan Rio menelepon kantorku sore tadi. Bertanya apakah jadwalmu kosong akhir pekan ini."

"Kamu jawab apa?"

"Aku bilang kamu sedang mengurus pemakaman karier lawan bisnismu."

Tawa kecil lolos dari tenggorokan Shanaya.

"Kamu mengusir orang yang mau mentraktirku makan."

"Kamu butuh tidur. Bukan makan malam dengan anak anjing yang tidak tahu cara menggigit."

Shanaya bersandar di kursinya. Ruangan yang tadi terasa menyesakkan kini jauh lebih ringan.

"Aku belum bisa tidur," balasnya. "Alvian masih punya kartu di media."

"Dia cuma punya sisa uang receh," balas Steven cepat. "Sekarang dia sedang panik menghancurkan barang di rumahnya."

Sebuah file PDF masuk.

"Artikel tentang presentasimu tayang besok pagi. Baca sebelum publik."

Shanaya membuka dokumen itu.

Isinya tajam dan mematikan.

Steven membedah skandal vendor palsu Alvian tanpa ampun. Rumor kebangkrutan Kesuma Group dihancurkan dalam tiga paragraf pertama. Alvian dicetak sebagai pembual panik, sementara Shanaya digambarkan sebagai sosok yang baru saja mencabut parasit dari perusahaan.

Ini serangan balik pertama mereka.

Publik akan segera tahu siapa yang memegang kendali.

Jemari Shanaya menggulir layar perlahan sampai ke bagian paling bawah artikel.

Ada satu kalimat penutup yang membakar sisa keraguannya sampai habis.

Kesuma Group bukan mewarisi masa depan. Ia membangunnya.

1
sukensri hardiati
waaaaaahhh.....judulnya panjaaaaàaang
INeeTha: sepanjang jalan kenangan kak🙏
total 1 replies
sukensri hardiati
tamat jugaa.....makasiiih 👍🙏💪/Watermalon//Rose//Ok/
sukensri hardiati
waktu cepet banget lewat ya shan...dah mau lahiran aja....
sukensri hardiati
tak kira dah mau tamat ...wong shanaya dah mau nikah....eeee...lha kok ujug2 ada kerikil baru....
sukensri hardiati
kok anastasia membusuk dipenjara sih thor....?
sukensri hardiati
salah tebakanku....tak kira steven juga mengulang hidup...
gina altira
👍👍👍
gina altira
Shanaya sudah bertransformasi
Itoh
AQ suka novell yg ini KA kehidupan kedua
Itoh
aku suka aku suka
gina altira
seruuu
gina altira
kok bisaa
gina altira
jgn terlalu banyak mikir Shanaya
gina altira
lanjut
gina altira
Siapakah Hartono?
gina altira
Guru dan murid bertarung, wow seruuu
gina altira
ternyata konfliknya serumit ini.
Nanik Normaidah
karakter tokoh tokohnya kuat
sukensri hardiati
wadhuuuuh.....
sukensri hardiati
ni shanaya nggak pakai pengacara ya....
INeeTha: ia ka, logi mode songong dia🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!