NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Mobil SUV hitam milik Jeremy membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata. Sirine darurat buatan yang dipasang Jeremy sesekali meraung, mencoba membuka jalan di antara deretan kendaraan yang padat. Di kursi penumpang, Sheila tidak bisa duduk tenang. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya terus meremas ujung roknya hingga kusut.

"Agak cepet dong, Pak! Lama banget sih! Ini darurat, Pak!" teriak Sheila dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.

Jeremy melirik spidometer, jarumnya sudah menyentuh angka 100 km/jam di jalanan kota. "Iya, kamu sabar. Aku sudah berusaha secepat mungkin. Kalau aku terlalu cepat dan kita kecelakaan atau dikejar polisi, kita malah makin lama sampai ke sana, Sheila. Tarik napas, oke?"

Sheila tidak mendengarkan. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, terus terisak kecil. Mulutnya tidak berhenti menggumamkan doa, memohon pada Tuhan agar Malik diberikan keselamatan. "Ya Allah, tolong Malik... tolong jangan ambil dia dulu..."

Setiap detik terasa seperti jam bagi Sheila. Ia kembali menoleh ke arah Jeremy dengan tatapan menuntut. "Pak, masih lama nggak? Ini sudah hampir dua jam!"

"Sebentar lagi, Sheila. Kita sudah masuk wilayah rumah sakit daerahnya. Kamu yang sabar, jangan panik berlebihan nanti kamu pingsan," sahut Jeremy lembut. Tangannya yang bebas sesekali mencoba meraih tangan Sheila untuk menenangkan, namun Sheila terlalu sibuk dengan dunianya yang sedang runtuh.

Begitu ban mobil mencit di depan lobi IGD rumah sakit daerah tersebut, Sheila bahkan tidak menunggu Jeremy mematikan mesin. Ia langsung membuka pintu dan berlari sekencang mungkin menuju pintu kaca otomatis yang terbuka lebar.

"Sheila! Pelan-pelan, hey!" teriak Jeremy sambil menyusul di belakang, membawa tas Sheila yang tertinggal. "Sheila, pelan-pelan! Lantainya licin, kamu tuh ya! Nanti jatuh!"

Sheila tidak peduli. Ia berlari melewati brankar-brankar pasien, mencari sosok pria yang ia cintai. "Saya mau ketemu Malik, Pak! Di mana Malik?!" teriaknya pada seorang perawat yang lewat.

Jeremy segera menyusul dan memegang bahu Sheila agar gadis itu berhenti berlari tanpa arah. "Iya, sabar! Malik lagi ditangani dokter di dalam. Kamu nggak bisa masuk sembarangan ke ruang tindakan!"

"Tapi dia sendirian di dalam, Jer! Dia pasti kesakitan! Dia pasti cari aku!" Sheila meronta, mencoba melepaskan diri dari pegangan Jeremy. Isak tangisnya pecah lagi, kali ini lebih keras hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar IGD.

Melihat Sheila yang sudah hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri, Jeremy tidak punya pilihan lain. Ia menarik Sheila dengan paksa ke dalam pelukannya, mendekap kepala gadis itu erat di dadanya agar Sheila tidak melihat pemandangan darurat di sekitarnya yang bisa menambah trauma.

"Sstt... diam dulu. Dengerin aku," bisik Jeremy, suaranya berat dan menenangkan di telinga Sheila. "Malik sedang ditangani tim medis terbaik yang ada di sini. Aku sudah telepon direktur rumah sakit ini tadi di jalan. Mereka nggak akan biarkan Malik kenapa-napa. Kamu harus tenang, kalau kamu begini terus, siapa yang bakal kuatin Malik pas dia bangun nanti?"

Sheila akhirnya luluh. Tenaganya habis. Ia menyembunyikan wajahnya di kemeja Jeremy, membasahi kain mahal itu dengan air mata dan riasan yang luntur. Ia meremas kemeja Jeremy seolah-olah pria itu adalah satu-satunya tiang yang membuatnya tidak jatuh ke lantai yang dingin.

"Aku takut, Jer... Aku takut dia pergi..." rintih Sheila.

"Dia nggak akan pergi. Malik itu kuat, kan? Kamu sendiri yang bilang dia pejuang," Jeremy mengusap punggung Sheila dengan gerakan perlahan, mencoba menyalurkan sisa ketenangan yang ia miliki. "Kita tunggu di sini. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku di sini sama kamu."

Satu jam berlalu di ruang tunggu yang berbau antiseptik itu. Jeremy tidak melepaskan Sheila. Ia membiarkan asistennya itu bersandar di bahunya, sementara ia sendiri terus memantau informasi dari orang lapangan melalui pesan singkat.

Tiba-tiba, seorang dokter keluar dari ruang tindakan dengan pakaian yang sedikit terkena bercak darah. Sheila langsung berdiri tegak, matanya yang sembab menatap dokter itu dengan penuh harap sekaligus ketakutan.

"Keluarga Saudara Malik?" tanya dokter itu.

"Saya... saya tunangannya, Dok! Gimana keadaan Malik?" tanya Sheila cepat.

Dokter itu menghela napas panjang, lalu menatap Jeremy dan Sheila bergantian. "Pasien mengalami luka bakar tingkat dua di lengan dan dada akibat ledakan trafo, serta benturan di kepala. Untungnya, kondisi vitalnya mulai stabil. Kami sudah melakukan tindakan darurat, tapi dia masih belum sadar karena efek trauma dan obat bius."

Sheila lemas, ia terduduk kembali di kursi tunggu. Air mata syukurnya mengalir. "Dia hidup... dia masih hidup..."

"Boleh kami melihatnya, Dok?" tanya Jeremy dengan nada yang sangat sopan.

"Setelah dipindahkan ke ruang rawat inap, silakan. Tapi hanya satu orang yang boleh masuk bergantian," jawab dokter tersebut sebelum pamit pergi.

Sheila menoleh ke arah Jeremy. Ia melihat kemeja Jeremy yang kusut dan kotor karena air matanya, juga wajah Jeremy yang tampak sangat lelah setelah menyetir gila-gilaan dan mengurus segalanya.

"Jer... makasih," bisik Sheila tulus. "Makasih sudah bawa aku ke sini. Makasih sudah bantu Malik."

Jeremy tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mengandung ketengilan sama sekali. Ia merapikan rambut Sheila yang acak-acakan dengan ujung jarinya. "Sama-sama. Sekarang kamu masuk duluan. Temui dia. Aku tunggu di sini, aku mau urus administrasi dan kamar terbaik buat Malik."

Sheila menatap Jeremy lama, seolah baru pertama kali melihat sisi pria ini yang sesungguhnya. "Bapak... Bapak beneran baik ya ternyata."

Jeremy terkekeh pelan, meski matanya tampak sedikit redup melihat betapa besarnya cinta Sheila untuk pria di dalam sana. "Hanya untuk kamu, Sheila. Sudah, masuk sana. Jangan lama-lama nangisnya, nanti Malik sedih lihat mukamu bengkak begitu."

Sheila mengangguk dan perlahan masuk ke dalam ruangan tempat Malik terbaring. Sementara itu, Jeremy bersandar di dinding koridor rumah sakit, menghela napas panjang sambil menatap langit-langit. Ia tahu, dengan menyelamatkan Malik, ia mungkin baru saja menghancurkan kesempatannya sendiri untuk memiliki Sheila. Namun, melihat Sheila tersenyum syukur tadi, Jeremy merasa itu adalah denda paling layak yang pernah ia bayar dalam hidupnya.

***

Cahaya lampu neon di ruang rawat inap kelas satu itu berpendar pucat, memantul di permukaan lantai marmer yang dingin. Suasana sunyi hanya dipecah oleh suara monitor detak jantung yang berbunyi teratur, biip... biip... biip..., seolah menghitung setiap detik kecemasan yang tersisa.

Sheila tertidur dalam posisi duduk di kursi kayu di samping ranjang Malik. Kepalanya bersandar di atas lipatan tangannya di tepi kasur, tepat di samping jemari Malik yang terbalut perban. Wajahnya yang kelelahan tampak sangat damai dalam tidurnya, meski sisa-sisa air mata masih membekas di sudut matanya yang sembab.

Di dekat jendela besar yang menghadap ke lampu-lampu kota yang buram, Jeremy berdiri mematung. Ia sudah menggulung lengan kemejanya, dasinya sudah lama menghilang, dan rahangnya mengeras. Ia menatap punggung Sheila dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara kasih sayang yang mendalam dan rasa sakit karena tahu posisi siapa yang sedang ia jaga.

Tiba-tiba, sebuah gerakan kecil menarik perhatian Jeremy. Ia menoleh ke arah ranjang dan mendapati mata Malik sudah terbuka sedikit. Malik tidak sanggup bersuara; masker oksigen masih menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Namun, tatapan Malik sangat tajam. Pria itu mengkode Jeremy dengan gerakan kepala yang lemah, memintanya mendekat tanpa membangunkan Sheila.

Jeremy melangkah sangat pelan, hampir tanpa suara di atas karpet. "Ada apa, Malik?" bisik Jeremy rendah. Suaranya terdengar asing bagi dirinya sendiri—tidak ada nada angkuh, hanya ada nada sesama pria yang sedang memperebutkan satu napas yang sama.

Malik meringis, tangan kirinya yang tidak terluka memegang dadanya yang terbalut perban di balik baju rumah sakit. Napasnya tersengal, namun matanya menunjuk ke arah ponselnya yang tergeletak di atas nakas kayu di samping bantalnya.

Jeremy mengerutkan kening, lalu mengambilkan ponsel itu. Ia menyalakan layarnya dan membukakan aplikasi catatan karena Malik tidak bisa bicara. Dengan jemari yang gemetar hebat, Malik mulai mengetik sesuatu dengan sangat lambat.

Jeremy menunggu. Setiap ketikan Malik terasa seperti dentuman palu di dadanya. Setelah beberapa saat, Malik menyodorkan layar ponsel itu ke arah Jeremy.

"Jaga Sheila. Jangan biarin dia sendirian."

Itu tulisan Malik. Singkat, padat, dan menghujam.

Jeremy tertegun. Ia menatap Malik dengan pandangan tak percaya, lalu beralih menatap Sheila yang masih terlelap. "Maksud lo apa sih?" desis Jeremy, suaranya sedikit meninggi namun tetap terjaga agar tidak membangunkan Sheila. "Lo yang jaga dia, Malik. Bukan gue. Gue bukan tempat penitipan ya... meskipun... meskipun gue cinta mati sama dia, tapi bukan begini caranya."

Malik tidak membalas dengan suara. Ia hanya menatap Jeremy dengan mata yang mulai berkaca-kaca, penuh kepasrahan yang menyakitkan. Ia kembali mengetik di ponselnya dengan susah payah.

"Kondisi gue nggak pasti. Gue tahu lo sanggup kasih dia segalanya yang gue nggak punya. Jangan buat dia nangis lagi gara-gara gue."

Jeremy mengepalkan tangannya di samping tubuh. Amarahnya mendadak bangkit melihat kepasrahan Malik. "Jangan gila ya, Malik! Sheila itu cinta mati sama lo! Bukan gue! Dia bakal marah kalau tahu lo nyerah begini dan malah 'menyerahkan' dia ke gue seolah-olah dia itu barang!"

Jeremy mencondongkan tubuhnya ke arah Malik, wajahnya memerah karena emosi yang tertahan. "Gue memang brengsek, gue memang pengen milikin dia pakai segala cara, tapi gue nggak mau dapet dia karena lo kasihan sama dia! Lo harus bangun, lo harus sehat, dan lawan gue secara jantan buat dapetin dia kembali!"

Suara Jeremy yang penuh penekanan itu rupanya mengusik tidur lelap Sheila. Gadis itu bergerak gelisah, lalu perlahan mengerjapkan matanya. Ia mengumpulkan nyawa sejenak, menatap langit-langit, sebelum akhirnya menyadari ada dua pria yang sedang bersitegang di atas kepalanya.

"Ada apa sih rame-rame?" gumam Sheila serak. Ia mengucek matanya, lalu terlonjak kaget saat melihat Malik sudah sadar dan Jeremy berdiri sangat dekat dengan ranjang.

"Loh... Bapak kok masuk? Kalau dokter lihat gimana? Kan katanya cuma boleh satu orang!" Sheila langsung berdiri, merapikan rambutnya yang berantakan dengan gugup. Ia kemudian melihat Malik yang sedang menatapnya dengan pandangan sedih. "Malik! Sayang, kamu sudah bangun? Mana yang sakit? Biar aku panggil dokter ya?"

Sheila hendak menekan tombol darurat, tapi tangannya ditahan oleh Jeremy.

"Dia sudah bangun dari tadi, Shei. Dia cuma mau... titip pesan," ucap Jeremy dengan nada bicara yang aneh, matanya melirik ke arah ponsel di tangan Malik yang buru-buru disembunyikan pria itu di balik selimut.

Sheila mengerutkan kening, menatap Jeremy dan Malik bergantian. "Pesan apa? Kok muka kalian berdua aneh banget? Malik, kamu kenapa nangis? Ada yang sakit banget ya?"

Malik hanya menggeleng lemah, ia meraih tangan Sheila dan mengecupnya pelan melalui masker oksigennya. Ia mencoba tersenyum, meski matanya terus melirik ke arah Jeremy dengan tatapan memohon.

"Bapak keluar sekarang," perintah Sheila pada Jeremy, kali ini dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Bapak istirahat saja di hotel dekat sini atau pulang ke Jakarta. Bapak sudah bantu banyak, tapi sekarang aku mau berdua saja sama Malik. Tolong, Pak."

Jeremy menatap Sheila lama. Ada rasa sakit yang nyata saat melihat cara Sheila menggenggam tangan Malik. "Oke. Aku keluar. Tapi ingat, Sheila... ponselku aktif 24 jam. Kalau ada apa-apa, atau kalau kamu butuh 'sandaran' lain, hubungi aku."

Jeremy melangkah keluar ruangan dengan bahu yang tampak sedikit turun. Begitu pintu tertutup, ia bersandar di tembok rumah sakit, menghirup napas panjang yang terasa sangat sesak. Ia tahu Malik sedang mencoba melakukan pengorbanan terbesar, tapi Jeremy juga tahu, hati Sheila bukan sesuatu yang bisa dipindahtangankan begitu saja melalui catatan di ponsel.

Di dalam ruangan, Sheila membelai kening Malik dengan lembut. "Tadi Pak Jeremy ngomong apa sama kamu? Jangan dengerin dia ya, dia memang suka ngaco kalau lagi stres."

Malik hanya memejamkan mata, membiarkan sentuhan Sheila menenangkannya. Ia tahu, mulai malam ini, sebuah rahasia besar dan beban berat telah ia letakkan di pundak pria yang paling ia benci sekaligus ia percayai: Jeremy Nasution.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!