NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 Pagi yang Ramai

Pagi hari di rumah kecil Ana terasa jauh lebih berisik dari biasanya.

Sinar matahari masuk melalui jendela dapur, menghangatkan suasana rumah yang semalam dipenuhi tangis dan penyesalan.

Namun pagi ini… justru dipenuhi kepanikan.

“MIMA KENAPA NGGAK BANGUNIN AKU?!”

Suara Sabine menggema dari lantai dua.

Disusul suara Dylan yang tidak kalah panik.

“BINE ITU KAMAR MANDI GUE DULUAN!”

Brak!

“Astagaaa…”

Ana yang sedang membuat roti bakar langsung memijat pelipis sambil tertawa kecil lelah.

Semalam semua orang tidur hampir subuh setelah pembicaraan panjang yang melelahkan.

Ajeng tidur memeluk Ana seperti takut kakaknya hilang lagi.

Sementara Damir dan Lavanya memilih menginap di hotel karena Ana belum siap jika mereka tinggal di rumahnya.

Dan sekarang akibat begadang… dua anaknya hampir telat sekolah.

“Mimaaaa rambut aku belum diiket!” teriak Sabine dari atas.

“Aku juga belum nemu dasi sekolah!”

“Astaga…” Dylan ikut mengeluh. “Ini gara-gara ada drama keluarga semalam.”

Ana yang mendengar itu langsung tertawa kecil sambil mengoles selai di roti.

Tak lama Mita masuk ke dapur dengan piyama sederhana sambil menguap kecil.

“Pagi…”

“Pagi Tante.” Ana tersenyum tipis.

Namun senyum itu belum sepenuhnya kembali seperti dulu. Meski begitu, Mita lega karena setidaknya Ana tidak lagi terlihat setegang semalam.

Tiba-tiba Sabine turun tangga dengan rambut berantakan sambil membawa tas sekolah.

“Mima tolong iketin rambut!”

Ana baru saja ingin berdiri saat Mita lebih dulu menarik Sabine duduk di kursi.

“Sini Tante aja.”

Sabine langsung menurut sambil mengunyah roti cepat-cepat.

“Mima tuh lama.”

“Eh enak aja,” protes Ana sambil terkekeh kecil.

Mita mulai menyisir rambut panjang Sabine dengan telaten.

Dan semua orang di ruang makan memperhatikan pemandangan itu diam-diam.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… rumah Ana terasa seperti keluarga besar sungguhan.

“Rambut kamu mirip Mima ya,” gumam Mita sambil mulai menguncir rambut Sabine.

Sabine langsung bangga.

“Iya dong aku kan anak Mima.”

Dylan yang baru turun sambil memakai blazer sekolah langsung memutar bola mata.

“Ya kali anak tetangga.”

“Abang berisik.”

“Yang telat siapa.”

“Yang nyari dasi sambil panik siapa.”

“Astaga si pendek nyolot.”

“BLEEE.”

Sabine menjulurkan lidah sambil bersembunyi di belakang Mita.

Mita hanya tertawa melihat mereka.

Sementara Raka yang baru keluar dari kamar tamu sambil membawa kopi hanya geleng-geleng kepala melihat keributan pagi itu.

“Rumah ini rame banget ya…” gumamnya sambil tersenyum kecil.

“Biasa Om,” jawab Dylan santai. “Kalau pagi pasti chaos.”

Ana menaruh telur dan roti di meja makan lalu menatap dua anaknya lembut.

“Udah ayo makan dulu.”

Tak lama Ajeng juga turun sambil mengucek mata.

Dan seperti biasa… gadis itu langsung duduk dekat Ana sambil manja menyender di bahunya.

“Kak Ela aku masih ngantuk…”

“Kamu tidur jam tiga pagi,” jawab Ana datar namun lembut.

“Hehe.”

Dylan memperhatikan interaksi itu lalu tiba-tiba berkata santai,

“Ngomong-ngomong…”

“Kita manggil Om Raka sama Tante Mita apa sih?”

Semua langsung menoleh ke arahnya.

“Iya juga ya,” Sabine ikut berpikir. “Kalau Tante Ajeng gampang.”

Ajeng langsung mengangguk bangga.

“Karena aku emang masih muda.”

“Padahal beda umur dikit,” celetuk Dylan.

“DIKIT APANYA?!”

Ana hanya tertawa kecil melihat mereka lagi-lagi ribut.

Raka ikut tersenyum sebelum berkata santai,

“Terserah kalian aja.”

Namun Sabine tiba-tiba bersinar semangat.

“Kalau Om Raka jadi Grandpa Sugar gimana?”

“PUK!” Dylan langsung keselek minum.

Raka ikut hampir menjatuhkan kopinya.

“Hah?!”

Sabine malah tertawa puas.

“Soalnya Om suka beliin makanan.”

“Ya ampun…” Ana langsung menahan tawa.

Mita sampai tertawa keras sambil memegang perutnya.

“Aku jadi apa dong?”

Sabine berpikir sebentar lalu menjawab mantap,

“Fairy Godmother.”

Ruangan langsung dipenuhi tawa.

Bahkan Ana ikut tertawa cukup keras sampai matanya berair sedikit.

Dan saat melihat itu…

Raka dan Mita saling menatap diam-diam.

Karena sudah sangat lama mereka tidak melihat Dariela Atlanna Zavira Raespati tertawa sebebas pagi ini.

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!