Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: UMPAN BERACUN
Pagi hari di Hutan Terlarang selalu diselimuti kabut yang menyesakkan. Namun, di dalam gua persembunyian, suasananya justru penuh dengan ketegangan yang terukur.
Elysia sedang menata jalinan sihir tak kasat mata di sekitar mulut gua, sementara Valeria duduk di atas dahan pohon besar di luar, menyatu sempurna dengan bayangan. Reynarda berdiri di sudut gua, pedangnya sudah dicabut setengah, bersiap untuk gerakan cepat.
"Mereka sudah masuk ke radius satu kilometer," bisik Valeria melalui komunikasi bayangan. "Dua tim pemburu. Total enam orang. Semuanya Inquisitor tingkat menengah dengan senjata penyegel sihir."
"Bagus," Axel berbisik. "Ingat, jangan bunuh mereka terlalu cepat. Kita butuh informasi."
Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat terdengar di atas dedaunan kering. Keenam Inquisitor itu bergerak sangat rapi, senjata mereka sudah terhunus, memancarkan cahaya biru pucat yang dirancang khusus untuk mematikan aliran mana.
Pemimpin tim, seorang pria bertopeng perak dengan lambang gereja yang lebih mencolok, memberi isyarat tangan. Mereka berhenti tepat di depan mulut gua yang tampak kosong.
"Energi sisa dari portal dimensi terdeteksi di sini," ucap sang pemimpin dingin. "Sisir area ini. Cari buronan itu hidup atau mati."
Saat mereka melangkah masuk, jebakan Elysia aktif. Bukan ledakan sihir, melainkan sebuah ruang hampa yang tiba-tiba tertutup rapat. Keenam Inquisitor itu terkejut, namun sebelum mereka sempat bereaksi, bayangan di lantai gua mendadak melompat tinggi, melilit kaki mereka seperti tentakel hitam.
"Apa-apaan ini?!" teriak salah satu dari mereka.
Reynarda melesat dari kegelapan. Dengan satu hantaman keras, ia melumpuhkan tangan sang pemimpin tim hingga senjata penyegelnya jatuh ke tanah. Dalam sekejap mata, Valeria sudah berada di belakang mereka, menodongkan belati tepat di urat nadi para Inquisitor yang tersisa.
"Satu gerakan salah, kepala kalian lepas dari bahu," suara Valeria sedingin es.
Keenam Inquisitor itu terdiam. Mereka tahu, meski mereka pemburu elit, menghadapi Ksatria Suci dan Ratu Dunia Bawah dalam kondisi terpojok adalah tindakan bodoh.
Axel melangkah maju dari balik bayangan gua. Dia tidak membawa senjata, namun kehadirannya membuat para Inquisitor itu menegang lebih hebat daripada saat ditodong pedang.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Axel datar.
"Kami tidak akan bicara pada sampah seperti—"
Belum sempat sang pemimpin menyelesaikan kalimatnya, Valeria menekan belatinya lebih dalam, hingga darah segar mengalir tipis.
"Kau salah paham," potong Axel dengan nada tenang namun mengintimidasi. "Aku tidak sedang meminta informasi. Aku sedang memberimu pilihan: Bicara sekarang, atau aku akan membiarkan rekan-rekanmu di luar sana menemukan apa yang tersisa dari tubuh kalian setelah Valeria selesai bermain."
Reynarda melangkah maju, memamerkan pedangnya yang kini menyala tipis dengan aura emas yang ditekan. "Kami tahu tentang Parasit Jiwa itu. Uskup Agung pasti sudah mulai panik karena 'mainan'-nya dihancurkan, kan?"
Mata sang pemimpin Inquisitor membelalak di balik topengnya. "Kalian... kalian sudah tahu tentang itu?"
"Jawab pertanyaanku," desak Axel. "Siapa yang memberi perintah langsung untuk perburuan ini?"
"Itu... itu perintah langsung dari Dewan Inkuisisi Tertinggi," suara pria itu bergetar. "Tapi kami hanya pion. Mereka bilang... mereka bilang ada rencana pembersihan besar-besaran untuk 'membersihkan' ibu kota dari orang-orang yang tidak setuju dengan agenda gereja sebelum upacara penobatan uskup baru bulan depan."
"Host," suara AI muncul, "Data ini sinkron dengan memori parasit yang kita hancurkan kemarin. Upacara penobatan bulan depan hanyalah kedok untuk ritual pengorbanan massal menggunakan artefak kuno yang mereka curi dari menara sihir."
"Ritual apa?" tanya Axel lagi.
"Saya tidak tahu! Hanya Uskup Agung dan beberapa petinggi tinggi yang tahu lokasinya!"
Axel menatap Reynarda. Ksatria itu mengangguk paham.
"Bawa mereka ke sudut gua," perintah Axel. "Valeria, beri mereka 'hadiah' sebelum kita lepas."
Valeria menyeringai lebar. Dia melepaskan mereka, namun sebelum para Inquisitor itu sempat melarikan diri, Valeria meninggalkan segel bayangan di punggung mereka.
"Sekarang pergilah," perintah Axel. "Katakan pada tuanmu, jika mereka mengirim orang lagi, aku tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk bicara."
Para Inquisitor yang ketakutan itu berlari tunggang-langgang keluar dari gua.
"Kenapa dilepaskan?" tanya Reynarda.
"Karena mereka adalah kurir terbaik," jawab Axel. "Mereka akan kembali pada Uskup Agung, dan lewat segel bayangan Valeria, kita bisa melacak lokasi persembunyian utama dan gudang artefak mereka."
Valeria tertawa pelan, memejamkan mata sejenak. "Mereka sedang menuju ke arah Katedral Terlarang di bawah tanah ibu kota. Aku bisa merasakannya. Segalanya tertulis di sana."
"Host," AI bersuara kembali, "Pintu masuk ke pusat operasi mereka sudah terbuka. Namun, tingkat bahaya di sana adalah 99%. Anda siap untuk serangan langsung?"
Axel menatap langit mendung di luar gua. "Tidak ada jalan lain. Jika kita menunggu, mereka akan melakukan ritual itu dan seluruh kota akan hancur. Kita serang malam ini."
"Sesuai perintahmu, Axel," ucap Reynarda dengan penuh hormat.
"Kali ini, kita tidak lagi bersembunyi," tambah Elysia, mantap.
Axel mengangguk. "Malam ini, kita akan meruntuhkan gereja itu hingga ke fondasi terdalamnya."