NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang yang Tak Pernah Pergi

Sinar matahari pagi menyinari halaman Istana Buckingham, menerangi setiap sudut bangunan tua yang megah itu. Angin berhembus lembut membawa aroma bunga mawar yang mekar di taman, seolah ikut merayakan kebahagiaan yang akhirnya kembali ke dalam keluarga kerajaan. Berita tentang hasil tes DNA telah disampaikan ke seluruh penjuru negeri, bahkan ke seluruh dunia, dan semua tuduhan bohong yang disebarkan oleh Guetta dan Berlin akhirnya runtuh sepenuhnya. Rakyat yang sempat ragu kini kembali memberikan dukungan penuh pada Taylor, dan banyak orang yang mengirimkan ucapan selamat serta doa untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka.

Namun meski dunia luar terlihat damai dan penuh harapan, di dalam hati Taylor masih terasa ada yang mengganjal. Dia tahu bahwa kemenangan yang mereka raih hari ini hanyalah permulaan. Musuh-musuh mereka mungkin telah terdesak dan malu di hadapan banyak orang, tapi dia yakin mereka takkan menyerah begitu saja. Orang yang terbutakan oleh ambisi dan kebencian takkan pernah berhenti berusaha, bahkan saat mereka sudah berada di titik terendah sekalipun.

Hari ini, untuk pertama kalinya, Elizabeth dan Hunter diizinkan masuk dan tinggal di dalam istana secara resmi. Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong-lorong panjang yang dipenuhi lukisan dan hiasan emas, diiringi oleh Raja dan Ratu, serta para pengawal dan pelayan yang berjalan di belakang. Mata Hunter berbinar penuh kekaguman, matanya berkeliling melihat segala sesuatu yang terlihat indah dan megah di sekelilingnya. Bagi anak kecil itu, tempat ini terlihat seperti istana di dalam dongeng yang selalu dibacakan ibunya sebelum tidur.

“Wah, Ayah! Tempat ini indah sekali!” seru Hunter dengan suara keras, membuat semua orang yang berjalan di sekitarnya tersenyum hangat. “Apakah kita akan tinggal di sini selamanya? Apakah aku bisa bermain di taman yang penuh bunga itu setiap hari?”

Taylor tersenyum lebar, lalu menggendong anaknya ke dalam pelukannya, membiarkan anak itu duduk di bahunya agar bisa melihat pemandangan yang lebih luas. “Iya, Nak. Mulai hari ini, ini juga adalah rumahmu. Kau bisa bermain di mana saja yang kau suka, dan tak ada yang akan melarangmu lagi. Ini adalah tempatmu, dan kau adalah bagian dari keluarga ini selamanya.”

Elizabeth berjalan di samping mereka, memandang suami dan anaknya dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya. Setelah bertahun-tahun berjuang, setelah melewati banyak air mata dan ketakutan, akhirnya mereka bisa hidup bersama sebagai keluarga yang utuh di tempat yang seharusnya menjadi milik mereka. Namun meski hatinya dipenuhi kebahagiaan, matanya tak berhenti mengamati sekelilingnya. Dia sadar bahwa di balik dinding-dinding indah ini, masih ada banyak mata yang memandang mereka dengan pandangan yang tak ramah, masih ada banyak hati yang menyimpan kebencian dan kecemburuan, dan masih ada banyak orang yang berusaha mencari celah untuk menjatuhkan mereka kembali ke dalam kegelapan.

Saat mereka berjalan memasuki ruang makan utama yang luas dan megah, semua orang yang sudah menunggu di dalam segera berdiri dan membungkuk sebagai tanda hormat. Namun di antara kerumunan itu, mata Elizabeth langsung menangkap sosok-sosok yang membuat jantungnya berdebar kencang. Di sudut ruangan, berdiri Guetta dan Berlin dengan wajah yang terlihat kaku dan dingin. Senyum yang selalu mereka pamerkan kini telah lenyap, digantikan oleh ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara malu, marah, dan kebencian yang terpendam. Di samping mereka, berdiri Valeria, yang wajahnya terlihat tenang dan anggun seperti biasanya, namun matanya memancarkan kilatan tajam yang seolah bisa menusuk langsung ke dalam hati. Wanita itu tersenyum tipis saat mata mereka bertemu, senyum yang terlihat sopan di luar, namun terasa dingin dan mengancam di dalam.

Raja yang berjalan di depan seolah menyadari ketegangan di udara, lalu berjalan maju dan berbicara dengan suara yang tegas namun tenang. “Hari ini adalah hari bersejarah bagi keluarga kita. Setelah melalui banyak rintangan dan ujian, akhirnya kebenaran menang, dan keluarga kita bersatu kembali. Mulai hari ini, Elizabeth akan diakui secara resmi sebagai pendamping hidup Pangeran Taylor, dan Hunter akan diakui sebagai cucu kandung keluarga kerajaan serta pewaris takhta berikutnya. Tak ada lagi yang boleh meragukan kedudukan mereka, dan tak ada lagi yang boleh memperlakukan mereka dengan cara yang tidak hormat. Semua peraturan dan keputusan ini berlaku untuk semua orang, tanpa terkecuali.”

Suasana di dalam ruangan menjadi hening sejenak, sebelum akhirnya semua orang bersorak dan memberikan tepuk tangan sebagai tanda persetujuan. Namun di antara mereka yang bertepuk tangan, ada beberapa tangan yang bergerak dengan kaku dan perlahan, dan ada beberapa mata yang tak menampakkan sedikit pun rasa senang atau dukungan.

Setelah jamuan makan selesai, Taylor mengajak Elizabeth berjalan berdua menyusuri taman istana yang luas dan indah, meninggalkan Hunter yang sedang bermain dan berkenalan dengan para pelayan dan anak-anak staf istana. Angin berhembus lembut menerpa wajah mereka, dan bunga mawar yang mekar di sepanjang jalan memancarkan aroma yang harum dan menenangkan. Namun meski suasana terlihat damai, wajah Elizabeth masih terlihat gelisah dan penuh kekhawatiran.

“Kau masih memikirkan mereka, bukan?” tanya Taylor lembut, saat dia memegang tangan wanita itu erat-erat dan menatap mata wanita itu dalam-dalam. “Kau masih takut mereka akan melakukan sesuatu yang buruk, bukan?”

Elizabeth mengangguk pelan, lalu menundukkan wajahnya sejenak sebelum kembali menatap wajah suaminya. “Aku tak bisa menahannya, Taylor. Aku tahu kita sudah menang, aku tahu kebenaran sudah terungkap, tapi aku tak bisa melupakan pandangan mata mereka. Mereka terlihat seperti orang yang takkan pernah berhenti. Mereka terlihat seperti orang yang akan terus mengawasi setiap langkah kita, menunggu saat yang tepat untuk menyerang saat kita lengah. Aku takut untuk keselamatanmu, aku takut untuk keselamatan Hunter, dan aku takut bahwa kebahagiaan yang kita rasakan hari ini bisa hancur dalam sekejap mata kapan saja.”

Taylor menghela napas panjang, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dadanya agar bisa mendengar detak jantungnya yang teratur dan menenangkan. “Aku juga tak buta, sayang. Aku juga melihat pandangan mata mereka, dan aku juga tahu bahwa mereka takkan pernah berhenti berusaha. Tapi kau tak perlu takut lagi. Selama aku hidup, aku takkan membiarkan siapa pun menyakiti kalian berdua. Aku sudah memerintahkan Savero dan Briant untuk memperketat keamanan di sekitar istana, dan aku sudah memerintahkan mereka untuk mengawasi setiap gerak-gerik Guetta, Berlin, dan Valeria. Mereka takkan bisa melakukan apa pun tanpa sepengetahuan kita, dan jika mereka berani mengambil satu langkah pun untuk menyakiti kita, mereka akan menyesalinya seumur hidup mereka.”

Namun kata-kata penghiburan itu tak sepenuhnya bisa menghapus kekhawatiran di hati Elizabeth. Dia tahu betul sifat orang-orang yang mereka hadapi. Mereka bukan orang yang akan menyerah begitu saja hanya karena mereka sudah kalah dalam satu pertempuran. Mereka adalah orang yang berhati licik, yang pandai menyembunyikan niat buruk di balik senyum dan kata-kata manis, dan yang pandai menyerang dari arah yang tak disangka-sangka.

Saat mereka sedang berdiam dalam pelukan satu sama lain, tiba-tiba Fransiskus datang berjalan mendekat dengan langkah terburu-buru, wajahnya terlihat serius dan penuh kekhawatiran. Laki-laki itu berhenti di hadapan mereka, lalu membungkuk sedikit sebagai tanda hormat, sebelum berbicara dengan suara yang rendah agar tak ada orang lain yang bisa mendengar.

“Maafkan aku mengganggu, Yang Mulia, Nyonya. Tapi ada hal yang harus aku sampaikan segera. Baru saja aku mendengar dari salah satu teman yang bekerja di bagian administrasi istana. Guetta dan Berlin baru saja mengadakan pertemuan tertutup di kamar tamu, dan ada banyak tokoh penting dari partai politik dan kelompok bangsawan yang hadir di dalamnya. Mereka berbicara dengan suara pelan, tapi teman aku berhasil mendengar sedikit isi pembicaraan mereka.”

Jantung Taylor berdebar kencang, tangannya mengepal erat mendengar laporan itu. “Apa yang mereka bicarakan? Apa rencana mereka kali ini?”

“Mereka sadar bahwa mereka takkan bisa lagi menyerang secara langsung, karena semua orang kini tahu bahwa mereka adalah orang yang berbohong. Jadi mereka memutuskan untuk menggunakan cara yang lebih halus dan berbahaya. Mereka berencana untuk menyebarkan desas-desus dan kabar terselubung di kalangan bangsawan dan tokoh masyarakat. Mereka takkan lagi menyebutkan nama kalian secara terang-terangan, tapi mereka akan membuat cerita-cerita yang bisa menimbulkan keraguan, ketidakpercayaan, dan ketidakstabilan. Mereka akan mengatakan bahwa meski hasil tes DNA terbukti benar, masih ada hal-hal lain yang mencurigakan. Mereka akan mengatakan bahwa kau terlalu lembut dan mudah dipengaruhi, sehingga kau takkan bisa memimpin negeri ini dengan tegas. Mereka akan mengatakan bahwa kehadiran keluarga kita akan membawa perubahan yang berbahaya bagi tradisi dan adat kerajaan yang sudah berjalan selama ratusan tahun. Dan yang paling berbahaya, mereka berencana untuk mengajak banyak orang untuk menentang rencana penobatanmu sebagai Raja di masa depan.”

Darah di tubuh Elizabeth terasa membeku mendengar kata-kata itu. Dia tahu bahwa serangan yang dilakukan secara halus dan terselubung jauh lebih berbahaya daripada serangan yang dilakukan secara terang-terangan. Kabar dan desas-desus yang tersebar di kalangan orang-orang berkuasa bisa menimbulkan keraguan dan ketidakpercayaan yang sulit untuk dihapuskan, dan hal itu bisa membuat posisi Taylor menjadi semakin lemah, bahkan meski secara hukum dan kedudukan dia adalah pewaris takhta yang sah.

“Mereka benar-benar orang yang tak punya hati nurani,” geram Taylor dengan suara rendah dan dingin, matanya menyala oleh amarah yang mulai membara di dalam dadanya. “Mereka sudah terbukti berbohong, mereka sudah terbukti berbuat salah, tapi mereka masih tak puas. Mereka masih berusaha menghancurkan kita dengan cara apa pun yang mereka bisa. Mereka pikir dengan cara menyebarkan kabar dan desas-desus, mereka bisa memutarbalikkan keadaan dan membuat orang-orang melawan kita lagi.”

“Masih ada lagi, Yang Mulia,” tambah Fransiskus dengan suara yang semakin rendah dan cemas. “Valeria juga terlibat dalam rencana ini. Dia tak hadir dalam pertemuan itu secara langsung, tapi dia mengirimkan utusannya sendiri untuk berbicara dengan mereka. Dan aku mendengar bahwa dia sedang berusaha mendekati salah satu anggota keluarga kerajaan yang memiliki pengaruh besar, untuk memintanya membantu mempengaruhi pendapat Ratu. Dia berharap bisa membuat Ratu mulai ragu dan khawatir, sehingga akhirnya Ibu sendiri yang akan memintamu untuk memisahkan diri dari Elizabeth dan Hunter demi kebaikan kerajaan.”

Kata-kata itu membuat napas Elizabeth tercekat. Selama ini dia selalu berpikir bahwa Ratu sudah menerimanya dengan tulus, bahwa dia sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga. Tapi kini dia sadar bahwa Ratu adalah orang yang sangat memikirkan tradisi dan masa depan kerajaan, dan jika dia mulai mendengar banyak kabar dan pendapat yang membuatnya ragu, perasaan ibu itu bisa berubah, dan dia bisa mulai melihat kehadiran mereka sebagai ancaman dan bukan sebagai berkah.

“Mereka menyerang kita dari segala arah,” bisik Elizabeth dengan suara yang bergetar. “Mereka menyerang melalui politik, mereka menyerang melalui pendapat orang lain, dan mereka bahkan berusaha memecah belah keluarga kita dari dalam. Mereka takkan berhenti sampai mereka berhasil, dan mereka takkan berhenti sampai kita hancur sepenuhnya.”

Taylor menoleh menatap wanita di sisinya, lalu menatap Fransiskus, dan di dalam matanya kini tak lagi terlihat amarah atau ketakutan, melainkan tekad yang kuat dan tak tergoyahkan. Dia menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka duga. Mereka sedang berhadapan dengan orang yang pandai memainkan kata-kata, yang pandai memainkan perasaan orang lain, dan yang pandai menyembunyikan niat buruk di balik wajah yang sopan dan ramah.

Namun dia juga sadar satu hal penting. Selama mereka bersatu, selama mereka saling percaya dan saling mendukung, tak ada rencana jahat apa pun yang bisa memisahkan mereka. Kebohongan dan desas-desus mungkin bisa menyebar dan menimbulkan keraguan di hati orang lain, tapi mereka takkan pernah bisa mengubah kebenaran yang ada di dalam hati mereka.

“Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau,” ucap Taylor dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan. “Mereka bisa menyebarkan kabar, mereka bisa membuat rencana, mereka bisa berusaha mempengaruhi siapa saja yang mereka bisa. Tapi mereka takkan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa Elizabeth adalah wanita yang aku cintai, bahwa Hunter adalah anakku, dan bahwa kita adalah keluarga yang takkan pernah bisa dipisahkan. Mereka bisa memutarbalikkan kata-kata, tapi mereka takkan pernah bisa memutarbalikkan hati dan perasaan kita.”

Dia memegang tangan Elizabeth erat-erat, lalu menatap mata wanita itu dalam-dalam. “Mereka pikir mereka sedang bermain permainan politik dan kekuasaan. Mereka pikir mereka sedang berjuang untuk mendapatkan posisi dan kekuasaan. Tapi mereka salah besar. Yang mereka lawan bukanlah sekadar orang atau kedudukan. Yang mereka lawan adalah cinta, kebenaran, dan ikatan keluarga yang jauh lebih kuat daripada apa pun yang mereka miliki. Dan pada akhirnya, seperti sebelumnya, mereka akan kalah lagi. Karena kebenaran mungkin terlihat lemah dan tak berdaya untuk sementara waktu, tapi ia selalu memiliki kekuatan untuk bertahan dan menang pada akhirnya.”

Namun meski kata-kata itu terdengar penuh keyakinan, di dalam hati Elizabeth masih terasa ada ketakutan yang tak bisa hilang sepenuhnya. Dia tahu bahwa pertempuran mereka kini berubah bentuk. Mereka tak lagi berhadapan dengan kebenaran dan kebohongan yang terang-terangan, tapi mereka kini berhadapan dengan bayang-bayang yang tersembunyi di balik setiap sudut istana, yang bergerak dalam kegelapan, dan yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Mereka telah menang dalam pertempuran yang lalu, tapi perang mereka baru saja memasuki babak yang paling gelap dan berbahaya. Dan kini, mereka harus bersiap untuk menghadapi musuh yang tak lagi terlihat secara jelas, dan bahaya yang datang dari arah yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!