Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Malam di Manhattan bergerak lambat, seolah sengaja memperpanjang siksaan bagi jiwa-jiwa yang hancur di dalam griya tawang Osborn.
Kamar utama yang beberapa jam lalu dipenuhi atmosfer pesta kini terasa dingin, sempit, dan mencekam. Wangi mawar merah yang menghias sudut ruangan mendadak tercium amis di indra penciuman Adiba Abbey.
Setelah tamparan keras yang mendarat di pipi Raynazh Leon Osborn, keheningan mati kembali merajai ruangan.
Raynazh, pria berusia 27 tahun yang biasanya berdiri tegak dengan wibawa mutlak sebagai putra sulung dinasti Osborn, kini tampak rapuh. Kata-kata dingin Adiba mengenai surat perceraian seolah menjadi vonis mati bagi masa depan yang baru saja ingin dia bangun.
Dengan langkah gemetar, Raynazh bangkit dari ranjang. Dia melihat Adiba yang masih mematung, menatap kosong ke arah dinding dengan tubuh yang dibalut selimut abu-abu. Wanita berusia 23 tahun itu seolah telah menutup rapat pintu jiwanya untuk Raynazh.
Raynazh menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Dia melangkah ke arah kamar mandi, mengambil sebaskom air hangat dan selembar kain handuk putih bersih. Ketika dia kembali ke tepi ranjang, Adiba tidak bergerak sedikit pun. Dia seperti patung lilin yang indah namun tak bernyawa.
"Adiba... maafkan aku," bisik Raynazh, suaranya pecah dan bergetar hebat.
Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, seolah takut memicu histeria baru, Raynazh menyibak sedikit ujung selimut yang menutupi kaki istrinya. Adiba tidak menolak, namun dia juga tidak memberikan respons. Matanya tetap menatap kosong ke depan, membiarkan suaminya melakukan apa pun.
Raynazh memeras kain handuk hangat itu. Dengan tangannya sendiri, dia mulai mengusap perlahan kulit kaki, paha, hingga bagian tubuh istrinya yang ternoda. Dia membersihkan sisa-sisa bercak dan jejak kelakuan liar adiknya dengan ketulusan yang menyakitkan.
Setiap kali kain hangat itu menyentuh tanda kemerahan di tubuh Adiba, hati Raynazh seolah diiris sembilu.
Sepanjang malam, sembari jemarinya bergerak membersihkan tubuh Adiba, bibir Raynazh tidak berhenti merapalkan kata maaf.
"Maafkan aku, Sayang... Maafkan aku. Demi Tuhan, maafkan aku," lirihnya berulang-ulang, menyerupai mantra keputusasaan.
Satu tetes air mata panas jatuh dari pelupuk mata Raynazh, mendarat di atas kulit paha Adiba. Raynazh tersentak.
Dengan cepat dan kasar, dia menghapus air mata itu dari wajahnya sendiri menggunakan punggung tangan. Dia tidak berhak menangis.
Dia tahu, ini adalah karma. Di dalam benaknya yang terdalam, rasa sesal yang teramat sangat menyeruak, mengembalikan memori hitam dari masa lalu yang selama ini dia kubur rapat-rapat. Kejadian kelam bertahun-tahun lalu yang kini mendadak berbalik menghantamnya tepat di ulu hati, melalui tangan adiknya sendiri.
Di dalam kepala Adiba yang membeku, sebuah pertanyaan besar berputar-putar tanpa henti, mengalahkan rasa perih di tubuhnya.
Kenapa? Kenapa Louis melakukan ini padaku?
Louis Enver Osborn, adik iparnya yang berusia 25 tahun itu, selama ini dikenal sebagai sosok yang liar namun selalu memiliki batasan yang jelas di depan keluarga.
Adiba tahu ada ketegangan yang konstan antara Raynazh dan Louis, sebuah persaingan saudara yang dia kira wajar dalam keluarga.
Namun, tindakan Louis malam ini berada di luar nalar. Itu bukan sekadar kenakalan pria berandal; itu adalah serangan terencana.
Sorot mata abu-abu Louis saat merapikan bajunya tadi tidak memancarkan ketakutan seorang pelaku kriminal, melainkan kepuasan yang sadis dari seorang pria yang baru saja menuntaskan sebuah misi balas dendam.
Apa salahnya? Apa salah Raynazh hingga Louis tega menggunakan malam pertama mereka sebagai medan pembantaian harga diri?
Setelah Raynazh selesai dan menjauh, Adiba bangkit tanpa mengucap sepatah kata pun.
Dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, mengunci pintunya, dan menyalakan pancuran air dengan suhu paling dingin. Dia berdiri di bawah guyuran air selama hampir satu jam, menggosok kulitnya dengan kasar hingga memerah, mencoba meluruhkan sisa sentuhan Louis yang terasa membakar.
Ketika Adiba keluar dari kamar mandi dengan jubah tidur yang tertutup rapat, dia langsung merebahkan diri di sisi ranjang yang jauh dari Raynazh. Dia membalikkan tubuhnya, tidur membelakangi suaminya, menciptakan jarak yang tak kasat mata namun mustahil untuk diseberangi.
Raynazh yang berbaring di sisi lain hanya bisa menatap punggung istrinya dalam kegelapan, meratapi malam pernikahan mereka yang berubah menjadi kuburan bagi cinta mereka yang baru saja mekar.
Di saat yang sama, beberapa blok dari griya tawang Osborn, sebuah mobil sport mewah melesat membelah jalanan Manhattan yang sepi di bawah guyuran salju.
Louis Enver Osborn mencengkeram setir mobilnya dengan urat-urat tangan yang menonjol tegang. Napasnya memburu, matanya yang sehitam malam menatap lurus ke depan dengan kilatan amarah yang tidak lagi bisa dia bendung.
Dia menghentikan mobilnya dengan kasar di tepi pelabuhan yang sepi, menghadap ke arah Sungai Hudson yang gelap dan dingin. Louis keluar dari mobil, membiarkan angin malam New York yang membekukan menerpa kemejanya yang berantakan.
Louis mendongak ke arah langit malam yang kelam, lalu berteriak sekencang-kencangnya, melepaskan seluruh gemuruh yang menyiksa dadanya selama bertahun-tahun.
"AMBAR...!!"
Suara lengkingan penuh luka itu menggema di antara deru angin pelabuhan. Louis mencengkeram pembatas besi dengan kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau bahagia sekarang, hah?! Katakan padaku, Ambar... apa kau bahagia sekarang di sana?!" teriak Louis lagi, suaranya serak, sarat akan kepedihan yang teramat dalam yang dia simpan di balik topeng kelicikannya.
Dia tertawa sumbang, sebuah tawa gila yang berujung pada tarikan napas yang sesak.
Bayangan Adiba yang menangis di atas ranjang tadi melintas di benaknya, namun bayangan itu langsung tergantikan oleh wajah seorang gadis fana dari masa lalunya yang telah hancur menjadi debu.
Pikiran Louis terseret mundur ke enam tahun yang lalu, saat dirinya masih seorang pemuda berusia 19 tahun yang baru menginjak tahun pertama di universitas. Kala itu, Louis adalah sosok yang urakan, mewah, dan berandal—sangat kontras dengan kakaknya, Raynazh, yang saat itu berusia 21 tahun, tampil sempurna, berwibawa, dan menjadi putra kebanggaan yang dipersiapkan untuk memimpin dinasti Osborn. Mereka berdua tinggal bersama di sebuah apartemen mewah di kawasan elite New York.
Malam jahanam itu, Louis baru saja pulang dari sebuah kelab malam menjelang dini hari. Namun, begitu dia membuka pintu apartemen, atmosfer sunyi yang mencekam langsung menyambutnya.
Di atas lantai ruang tengah, dia menemukan seorang gadis bernama Ambar—teman kuliah mereka—tergeletak setengah telanjang dengan kondisi yang sangat mengerikan. Ada pendarahan parah di bagian intinya, dan wajah gadis itu dipenuhi memar serta air mata yang mengering.
Louis yang saat itu masih remaja seketika syok. Seluruh tubuhnya gemetar melihat pemandangan mengerikan itu. Tanpa berpikir panjang, dia membungkus tubuh Ambar dengan mantelnya dan melarikan gadis itu ke rumah sakit terdekat di Manhattan.
Di koridor rumah sakit yang dingin, sembari menunggu dokter menangani Ambar, Louis dengan tangan gemetar menelpon Raynazh.
Ketika Raynazh mengangkat telepon dengan suara khas orang yang terpengaruh alkohol, Louis mencecarnya habis-habisan. Dan jawaban yang keluar dari mulut kakaknya malam itu adalah awal dari kematian nurani Louis.
Dengan nada gila dan tidak bertanggung jawab, Raynazh yang mabuk berkata melalui sambungan telepon, "Aku tidak memaksanya, Louis... Aku mabuk, dan dia sendiri yang minta ditiduri olehku! Jangan membesar-besarkan masalah!"
Kasus pemerkosaan Ambar seketika meledak, menjadi berita utama di seluruh media cetak dan televisi New York. Keluarga Ambar yang bukan dari kalangan elite menuntut keadilan mutlak. Mereka membawa kasus ini ke ranah hukum yang serius.
Di sinilah kekejaman dinasti Osborn bermula. Lawrence Osborn, sang ayah, tidak ingin masa depan putra mahkotanya, Raynazh, hancur karena skandal moral.
Dengan kekuasaan dan uang yang tak berseri, Lawrence memanipulasi opini publik dan mengarahkan semua bukti palsu kepada Louis.
Reputasi Louis yang terkenal urakan dan berandal di kampus dijadikan senjata sempurna untuk menggiring opini bahwa dialah pelaku pemerkosaan yang sebenarnya. Ambar yang mengalami trauma berat dan dalam kondisi mental yang tidak stabil akibat alkohol malam itu, tidak membantah karena tekanan dari berbagai pihak.
Keluarga Ambar yang murka menuntut pernikahan sebagai bentuk pertanggungjawaban hukum dan moral.
Louis merasa lehernya tercekik. Dia dipaksa menanggung dosa yang tidak pernah dia lakukan.
Dalam sebuah pertemuan tertutup di ruang kerja Lawrence yang megah, Louis berlutut di depan ayahnya. Dia memohon dengan air mata yang bercucuran agar ayahnya bertindak adil.
"Dad, bukan aku yang melakukannya! Demi Tuhan, itu perbuatan Raynazh! Periksa CCTV, periksa sidik jari! Jangan korbankan aku untuk kesalahannya!" raung Louis remaja saat itu.
Namun, Lawrence Osborn menatap putra bungsunya dengan pandangan sedingin es.
Bagi Lawrence, Louis hanyalah produk gagal yang urakan, sementara Raynazh adalah aset berharga keluarga yang harus diselamatkan dengan cara apa pun.
"Kau yang akan menikahinya, Louis. Atau kau pembusuk di penjara. Pilih salah satu," ucap Lawrence tanpa riak.
Louis mengepalkan tangannya, harga dirinya berontak. "Aku tidak akan menikahinya! Aku tidak melakukannya! Aku siap dipenjara, Dad! Taruh aku di sel, biarkan hukum yang membongkar kelicikan kalian!"
Louis benar-benar dijebloskan ke dalam sel tahanan sementara di New York.
Dia menolak menandatangani surat pernikahan paksa tersebut. Dia berharap hukum masih memiliki mata untuk melihat kebenaran. Dia meminta Raynazh untuk datang dan mengaku, namun kakaknya terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan dan memilih bersembunyi di balik ketiak kekuasaan sang ayah.
Namun, belum genap Sebulan Louis mendekam di balik jeruji besi, sebuah kabar mengejutkan datang memutus seluruh proses hukum. Kasus itu tiba-tiba dihentikan secara total.
Ambar ditemukan tewas bunuh diri di kamar hotel tempat keluarganya menginap. Di samping jasadnya, terdapat selembar surat terakhir yang ditulis dengan tangan yang gemetar. Di dalam surat itu, Ambar mengaku bahwa bukan Louis Enver Osborn yang melakukan perbuatan keji itu padaku.
Dengan kematian korban utama dan adanya surat wasiat tersebut, kasus pemerkosaan terbesar di New York itu tiba-tiba ditutup rapat oleh kepolisian.
Nama Louis dibersihkan dari dakwaan, namun semua orang di lingkaran elite tahu bahwa kasus itu sengaja diredam oleh uang keluarga Osborn. Kasus itu menguap begitu saja, meninggalkan luka yang membusuk di dalam dada Louis.
Kembali ke pelabuhan New York yang dingin, Louis menyeka tetesan air salju yang menerpa wajahnya. Senyuman liciknya kembali muncul di balik kegelapan.
Dia mengingat bagaimana Raynazh hidup dengan tenang selama enam tahun ini, seolah-olah tidak pernah ada darah dan air mata yang tumpah karena perbuatannya.
Raynazh tetap menjadi putra sempurna, dan puncaknya adalah hari ini—saat Raynazh berhasil menikahi Adiba Abbey, wanita suci dari keluarga terhormat yang sangat dicintainya.
"Kau merebut masa mudaku, Ray... Kau menghancurkan hidup seorang gadis dan membiarkannya mati," desis Louis, suaranya sedingin angin yang berembus dari sungai Hudson. "Maka adil, bukan? Jika aku merebut kesucian malam pertama istri yang paling kau cintai."
Louis masuk kembali ke dalam mobil sport-nya. Dia menstarter mesin yang meraung memecah kesunyian malam pelabuhan.
Malam ini, dia telah melempar bom atom tepat di jantung pertahanan Raynazh. Dia tahu, ini baru permulaan.
Dan Louis tidak akan berhenti sampai kakaknya yang pengecut itu merasakan bagaimana rasanya hidup di dalam neraka yang sesungguhnya.