Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Di perusahaan, Jihan menyerahkan proposal miliknya kepada atasannya yaitu pak Toni. Jihan berjalan menuju ruangannya.
Tuk! Tuk!
Jihan mengetuk pintu, di luar ruangan.
Jihan berdiri sambil bersiap mendengar omelan dari atasannya itu.
"Masuk!" ujar pak Toni, sambil terus melihat ponselnya.
Jihan masih sambil memegang proposal miliknya. Kemudian menyerahkan proposal itu kepada atasannya.
"Permisi pak! Ini proposal yang saya buat, harap bapak mau mempertimbangkan nya" ujar Jihan. Tangannya menaruh proposal itu di meja.
Atasannya, meletakkan ponselnya dan mengambil proposal itu. Dia membuka dan melihat-lihat tanpa membacanya.
Tangannya hanya membuka sambil membalik kertas. Inilah yang Jihan tunggu-tunggu yaitu sifat atasnya yang tidak pernah benar-benar berkerja hanya mengandalkan anak buahnya saja.
Plak...! Proposal itu di banting di meja kerjanya.
"Apa-apaan ini! Proposal jelek seperti ini kamu berikan kepada saya! Apakah kamu tidak serius untuk berkerja...?" ujar pak Toni.
Dirinya tampak kesal, karena Jihan telah mengganggu dirinya saat bermain ponsel.
Jihan menundukkan wajahnya, sambil tersenyum tipis. Sama seperti sebelumnya, atasannya sama sekali tidak melihat melirik isi proposal miliknya.
"Kamu kalau buat proposal itu yang benar! Jangan proposal jelek seperti ini kamu berikan kepada saya! HAH?" ucap pak Toni, yang semakin emosi kepada Jihan.
Jihan mengambil proposal itu. "Maaf pak! Jika bapak tidak suka dengan proposal yang saya buat nanti akan saya perbaiki!" ucap Jihan.
"Begini! Begini kalau perempuan! Kalau di kasih tahu malah ngeyel... Sudah kamu keluar dari sini " ucap pak Toni. Menyuruh Jihan segera keluar dari ruangannya.
Teriakkan pak Toni terdengar sampai keluar ruangan, membuat karyawan di ruangan sebelah melihat kearah jendela kaca ruangannya.
"baik pak!" ucap Jihan keluar dari ruangan. Tampaknya perkiraannya benar. Sesuai apa yang terjadi sebentar lagi Regina akan datang menemuinya setelah keluar dari ruangan atasnya.
"satu... Dua... Tiga...! Sebentar lagi Regina akan datang!" ucapnya pelan menghitung waktu.
Dan tepat saja Regina yang baru saja keluar akhirnya datang dan menghampiri dirinya.
" Jihan... Apa yang kamu pegang?" tanya Regina. Melihat proposal yang di pegang oleh Jihan.
"Seperti sebelumnya, kamu menanyakan hal yang sama! Sayang aku tidak akan memberikan nya kepada mu untuk yang kedua kalinya!" ucap Jihan dalam hati.
Jihan menjawab pertanyaan dari Regina.
"Ini... Ini proposal milikku!" jawab nya.
"Bagaimana apa isi proposal itu...? Apa pak Toni suka?" Regina kembali bertanya.
"Proposal nya di tolak! Tapi tidak apa-apa aku akan memperbaikinya...?" jawab Jihan.
Regina kemudian meminta agar Jihan memberikan proposal itu kepada dirinya. Pikirnya Jihan akan menyerahkan proposal itu kepada dirinya.
Flash Back!
"Jihan... Proposal ini untuk ku ya... Nanti aku perbaiki" ucap Regina dengan penuh semangat.
Flash Back Off!
"Sebentar lagi aku akan mendengar kembali perkataan yang sangat aku sesali saat itu " bisik Jihan dalam hati.
Benar saja apa yang ada dalam ingatannya. Regina kembali meminta agar Jihan memberikan proposal itu kepada dirinya.
"Jihan... Proposal ini untuk ku ya... Nanti aku perbaiki" ucap Regina dengan penuh semangat. "Aku rasa proposal ini akan sukses nanti..."
Jihan mempererat genggamannya. "Tidak Regina! Ini proposal ku, nanti kalau aku ada ide yang lebih hebat nanti aku berikan ke kamu!" .
" Dan satu lagi Regina. Tolong jangan sebut namaku di sini. Tolong bersikap formal kita memang berteman dekat, namun tolong panggil aku sesuai jabatan ku, jangan terus memangil ku seperti itu...!" ucap Jihan dengan tegas.
Regina sontak terkejut mendengar perkataan Jihan. Baru kali ini dia mendengar Jihan menegur dirinya.
"Jihan kamu kenapa...?" tanya Regina dengan suara lebih.
"Tidak... Aku hanya ingin mengingatkan bahwa posisi kita berbeda saat di kantor, jangan terus memangil ku, sesuai kesenangan mu saja!" ucap Jihan kembali dengan tegas, agar Regina bisa menyesuaikan posisi mereka saat di perusahaan.
Jihan kemudian pergi menuju meja kerjanya. Regina yang sedikit kesal dengan perkataan Jihan berniat untuk memberikan pelajaran kepada Jihan karena telah membuat dirinya marah.
"Tunggu saja Jihan, aku akan memberikan kamu pelajaran karena telah membuat ku kesal!" ucap Regina dalam hati, matanya menatap sinis kearah Jihan.
Saat itu Hendrick yang baru saja datang dari tugasnya menyiapkan barang-barang di bagian penjualan datang dengan membawa kopi untuk Jihan.
"Sayang... Aku bawa sesuatu untuk mu! Tara!" ucap Hendrick, menunjukan kopi kesukaan Jihan.
"Wah! terima kasih sayang!" ucap Jihan, memeluk Hendrick. Dia sengaja terlihat mesra agar Regina semakin cemburu terhadap dirinya.
"Sekarang aku tahu kamu akan semakin panas saat melihat ku bahagia Regina!" ucap Jihan dalam hati sambil memamerkan kemesraan mereka.
Regina semakin cemburu terhadap Jihan dengan apa yang Jihan milik. Dia kemudian pergi mengambil secangkir kopi panas untuk nya.
Setelah mengambil secangkir kopi panas itu. Regina berjalan menuju Jihan dan Hendrick.
Dia kemudian berpura-pura tersandung dan menumpahkan secangkir kopi panas itu kearah Jihan.
"A-aaaa!" teriak Regina berpura-pura tersandung kursi.
Flash Back On.
"A-aaaa..!" teriak Regina berpura-pura tersandung kursi. " Astaga... Maaf Jihan aku tidak sengaja... Kakiku tersandung kursi, bagaimana ini...?" ucap Regina, terlihat sangat tulus meminta maaf namun tersenyum licik di dalam hatinya.
" Tidak apa-apa! Aku hanya terkena sedikit saja!" ucap Jihan, walaupun secangkir kopi panas itu mengenai badannya dan langsung memerah.
" Jihan dasar bodoh kenapa kamu tidak menghindar...?" ujar Hendrick.
Flash Back Off.
"Namun kali ini berbeda, Hendrick rasakan apa yang dulu aku rasakan, nikmatilah secangkir kopi panas dari Regina untuk mu" ucap Jihan dalam hati.
Tangan Jihan menarik tubuh Hendrick untuk menghadang secantik kopi panas yang akan mengenai dirinya.
Plok!
Secangkir kopi itu tumpah dan mengenai Joni milik Hendrick. Hendrick langsung berteriak saat Joni miliknya tersiram secangkir kopi panas.
"HAAAA!!!" terima Hendrick, wajahnya langsung memerah menahan panas dan rasa sakit pada joninya.
Regina terkejut bukan main saat Hendrick berteriak kesakitan. Wajahnya juga langsung panik seketika.
"Kak Hendrick! Aduh maaf kak! Aku tidak sengaja!" ucap Jihan, tangannya refleks mengusap bagian celana.
Saat itu Regina kembali terkejut saat tangannya menyentuh Joni milik Hendrick.
"Hmmm-p!" Regina, terkejut dan berhenti.
"Ah... Sial!" ucap Hendrick, kemudian pergi menuju kamar mandi.
Regina yang panik bertanya kepada Jihan apa yang harus dia lakukan. Dia takut Hendrick akan marah kepada dirinya.
"Jihan bagaimana ini !" ucap Regina terlihat panik.
"Tidak apa-apa! Hendrick tidak akan marah!" ucap Jihan, dirinya puas melihat kejadian tadi.
"Akh..." Regina kemudian pergi entah kemana.
Melihat wajah Hendrick yang kesakitan dan Regina tampak ketakutan membuat Jihan semakin bersemangat untuk membuat Regina mengambil takdirnya.
"Sekalian kalian berdua lihat saja! Aku akan membuat kalian berdua membayar atas semua yang kalian lakukan!"
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ