NovelToon NovelToon
Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Balas Dendam
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: AbdulRizqi60

Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manusia Ular

Di Desa bernama Desa Lestari.

Ada dua pasangan yang sedang memadu kasih di sebuah gubuk yang sepi dan berada di tengah perkebunan. Mereka saling memeluk dan saling memadu kasih layaknya suami istri. Tanpa mereka sadari seorang bujang lapuk bernama Atmo sedang mengintip mereka.

Mata Atmo sampai tidak berkedip mengintip pasangan itu yang sedang saling memadu kasih, hingga secara tidak sengaja Atmo yang hendak berpindah posisi malah menginjak ranting.

Kratak!

"Siapa itu?!" Teriak Jantra kaget.

"Kang Jantra pasti ada yang mengintip kita kang." Ucap Ambarwati yang terlihat panik.

"Kurang ajar, akan aku pukuli pengintip itu!" Ucap Jantra yang langsung memakai celananya dan keluar mengejar Atmo yang lari masuk ke dalam perkebunan..

Atmo berlari masuk ke dalam perkebunan hingga Akhirnya dia terhenti karena menabrak tubuh seorang pemuda dengan topi caping di kepalanya.

"To-- tolong aku tuan, aku mau di bunuh!" Ucap Atmo kepada Samudra yang ada di depannya.

"Siapa yang mau membunuhmu?" Tanya Samudra.

Hah... hah...

Sebelum Atmo menjawab siapa yang hendak membunuhnya, Jantra sudah tiba dengan nafas terengah-engah.

"Rupanya kalian berdua yang mengintipku dan kekasihku di gubuk itu!" Ucap Jantra yang terlihat emosi.

"Mengintip? Aku sama sekali tidak mengintip, aku baru saja sampai di sini." Ucap Samudra mencoba menjelaskan.

"Hala, tidak usah mengelak!" Marah Jantra dan langsung memajukan tinjunya hendak meninju wajah Samudra.

Samudra menghindari serangan Jantra dengan mata tertutup, dia sedang melatih indra pendengarannya ketika bertarung.

"Sialan!! Berani sekali kamu meremehkanku!" Teriak Jantra dia semakin membabi buta menyerang Samudra sementara Atmo hanya bisa bersembunyi di balik pohon.

Jantra terus menyerang Samudra, sedangkan Samudra terus menghindari serangan Jantra, Hingga akhirnya Samudra memukul rusuk kanan Jantra dan membuat Jantra terpelanting.

Bersamaan dengan itu Ambarwati datang dengan pakaian yang hanya mengenakan kain jarik yang di lilitkan.

"Kakang!?" Seru Ambarwati melihat kekasihnya jatuh tersungkur.

Samudra dan Atmo menatap melongo tubuh Ambarwati yang hanya memakai kain jarik dan terlihat belahan putih.

"Pantas saja orang ini mengintip, aku juga kalau ada di sana pasti juga ikut mengintip." Batin Samudra.

Ambarwati mendekati Jantra yang terduduk sembari memegangi rusuk kanannya.

"Makanya lain kali tanya baik-baik dulu, aku hanya seorang penyihir yang hendak lewat di hutan ini untuk menuju desa selanjutnya." Ucap Samudra..

Jantra, Ambarwati dan Atmo langsung percaya dengan ucapan Samudra, karena dari pakaian Samudra memang mencerminkan seorang Penyihir sejati.

Namun apa yang tidak di ketahui Samudra, Atmo dan Jantra terlihat Ambarwati mengigit bibir bagian bawahnya ketika melihat Samudra.

"Hehehe, mangsa baru." Batin Ambarwati.

"Maafkan aku Jantra, Ambarwati, aku sama sekali tidak bermaksud mengintip kalian di gubuk itu, aku hanya ingin beristirahat di gubuk itu eh aku malah melihat kalian.. hehe.." Ucap Atmo sambil tersenyum cengengesan.

"Hala... dasar bujang tua! Bilang saja kamu memang sengaja mengintip!" Ucap Jantra yang sepertinya masih emosi.

Samudra yang sudah tak memperdulikan mereka segera pergi.

Saat ini Samudra berjalan seorang diri sesekali bersenandung kecil menyusuri jalan perdesaan Desa Lestari.

Ketika Samudra berjalan seorang diri di sana, ia melihat seorang pria paruh baya dengan topi caping tampak duduk dan memegangi dadanya seolah kesakitan.

Sebagai Penyihir Samudra mampu mendeteksi dengan mudah bahwa pria itu bukan pria sembarangan, melainkan seorang penyihir yang sedang membaur dengan warga biasa.

Samudra merasa ada yang aneh dengan penyihir itu, karena Samudra merasakan energi sihir pria itu hitam pekat.

Indra kepekaan Samudra sangat tajam, ia bisa merasakan adanya sihir gelap yang menyelimuti jiwa pria paruh baya itu.

"Ternyata benar apa yang di ucapkan oleh Guru Jaludoro, walaupun fraksi penyihir gelap sudah di anggap musnah faktanya masih banyak penyihir gelap yang berkeliaran..." Samudra terdiam dan mengingat pesan gurunya kala itu.

Flashback...

3 tahun yang lalu....

"Ihhh.... imut imut ular ular ini guru...." ucap Samudra, matanya berbinar menatap puluhan ular ular kecil hitam di antara celah celah tebing.

Kala itu Samudra sedang berlatih sihir ilusi bersama Resi Jaludoro di antara celah celah tebing. Tampak Samudra berdiri di daratan antar celah tebing, ia menatap lama puluhan ular hitam yang menggeliat di balik bebatuan.

Sedangkan Sang Resi tampak duduk bersila di atas batu.

"Kau cukup unik, nak. kebanyakan orang akan jijik melihat ular, namun kau menganggapnya lucu. Hmmm... bagaimana kalau suatu saat nanti kau bertemu dengan manusia ular?" Tanya Resi Jaludoro..

"Manusi ular? Maksud guru manusia setengah ular? Atau penyihir dengan monster pemanggil ular?" Tanya Samudra kebingungan.

Resi Jaludoro menggeleng, "bukan itu yang aku maksud, melainkan kalimat manusia ular memiliki arti manusia yang licik, penipu dan bermuka dua atau suka menjelek-jelekan dirimu tanpa kau ketahui. Ketahuilah manusia tersebut lebih menjijikan dari ular, dan lebih sulit di kalahkan dari pada musuh terberatmu.

Karena manusia seperti itu biasanya adalah seseorang yang sangat dekat denganmu, seperti pamanmu. Di depanmu ia tampak baik, namun di belakangmu ia merencanakan pembunuhanmu, sampai saat ini apakah kau tega membunuh pamanmu?"

Samudra termenung sesaat kemudian menjawab, "didalam hatiku aku jujur ingin sekali membalas perbuatan pamanku, namun aku tidak kepikiran untuk sampai membunuhnya." Jawab Samudra menunduk.

"Itulah yang aku maksud, manusia tidak akan tega melukai orang terdekatnya walaupun orang itu memberikan luka yang teramat dalam. hilangkan semua keraguan dalam dirimu Samudra, kamu tidak tega membunuh pamanmu karena masih memiliki rasa kasih sayang dan kenangan di masa lalu. Oleh karena itu pisahkan "kenangan" dan "kenyataan" kenangan paman baikmu yang dahulu sudah tidak ada, yang ada saat ini hanyalah kenyataan, kenyataan bahwa paman yang berniat menghabisimu.

Balaslah perbuatan pamanmu sesuai dengan apa yang kau inginkan. Jika kau memang tidak tega membunuh pamanmu, maka balas dengan cara yang lain agar pamanmu merasakan rasa sakit yang sama."

"Aku paham guru, untuk membalas itu semua artinya aku harus menjadi kuat dan singkirkan keraguan di hati termasuk rasa ragu menyakiti karena kasih sayang." Ucap Samudra yang langsung menyatukan kedua tangannya.

"Sihir ilusi jeratan pikiran!" Ucap Samudra.

Seketika itu juga puluhan ular itu berhenti menggeliat, seolah ada akar pohon yang menahan pergerakan mereka.

"Bagus sekali, kau cepat memahami apa yang aku ucapkan...."

"Sifat pamanmu nak, entah mengapa mengingatkan aku pada seseorang." Ucap sang resi.

"Siapa orang itu, Guru?"

"Diajeng Keswari, ia adalah rekan Guru dahulu yang tersesat, ia mengamalkan sihir gelap yang sangat berbahaya. Sifatnya sama persis seperti pamanmu, licik dan bermuka dua. Nak, penyihir gelap itu sangat berbahaya, apabila suatu saat kau bertemu dengan mereka maka bunuh mereka tanpa ampun..."

1
anggita
nama ilmu yg keren. mantra api jiwa👏
anggita
ikut dukung ng👍like, 2x☝☝iklan. moga novelnya lancar.
anggita
novel laga lokal👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!