NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Pertanyaan Berbahaya

Malam turun perlahan di lantai tiga puluh satu Alvero Group, membawa warna gelap yang memantul di dinding kaca koridor eksekutif. Satu per satu lampu meja padam seiring para staf menutup laptop, merapikan berkas, lalu bergegas menuju lift dengan langkah lelah namun lega. Suara keyboard yang sejak sore saling bersahutan kini berganti dengan keheningan gedung setelah jam kantor.

"Selamat malam, Bu Elvara."

"Malam."

"Masih lembur?"

Elvara menoleh dan memberi senyum tipis yang lebih sopan daripada tulus. "Sedikit lagi."

Padahal bukan sedikit. Revisi presentasi untuk klien regional belum selesai, jadwal pertemuan dua negara harus diatur ulang karena perubahan zona waktu, dan ringkasan rapat vendor yang diminta Zayden harus masuk malam ini juga. Sejak pagi pria itu memberinya pekerjaan dengan ritme seolah ia sudah duduk di posisi tersebut selama bertahun-tahun.

Saat pegawai terakhir keluar, area eksekutif terasa lebih luas dan terlalu sepi. Hanya tersisa dua sumber cahaya yang masih bertahan, lampu meja Elvara di luar ruang CEO dan lampu utama dari balik pintu kaca buram milik Zayden. Jarak antara dua titik terang itu tidak jauh, tetapi cukup untuk membuatnya merasa sedang diawasi.

Ia melirik jam di layar laptop. Pukul delapan lewat dua belas.

Ponselnya bergetar pelan. Pesan dari Nira muncul bersama foto Rheon yang tertidur sambil memeluk robot biru bernama Sentinel. Rambut bocah itu acak-acakan, satu kaki keluar dari selimut, wajahnya damai seperti tak ada masalah di dunia.

Rheon sudah tidur. Tadi makan banyak. Jangan khawatir ya Bu.

Dada Elvara menghangat sesaat. Ia membalas ucapan terima kasih, lalu menatap foto itu beberapa detik lebih lama. Kalau bukan demi anaknya, ia sudah menyerah sejak hari pertama dipindahkan ke lantai ini.

"Bu Elvara."

Suara interkom memotong pikirannya.

"Ya, Pak?"

"Masuk."

Ia menutup ponsel, menarik napas panjang, lalu berdiri sambil membawa tablet. Setelah mengetuk singkat, ia membuka pintu dan masuk ke ruang yang sejak pagi terasa seperti wilayah musuh.

Ruangan Zayden tetap rapi seperti biasa. Meja besar tanpa barang berlebihan, rak kayu gelap berisi map tersusun lurus, jendela tinggi yang menampilkan lampu kota, dan aroma kopi hitam yang nyaris menjadi identitas pemiliknya. Segalanya tampak teratur sampai terasa dingin.

Zayden duduk tanpa jas. Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku, dasi sudah dilepas, dua kancing atas terbuka. Penampilan yang lebih santai justru membuatnya terlihat lebih berbahaya, seolah lapisan formalitasnya sedang dikesampingkan.

"Ringkasan rapat vendor?" tanyanya.

Elvara menyerahkan tablet. "Sudah saya kirim ke email Bapak dan grup terkait. Poin utama juga saya cetak."

Ia membaca cepat beberapa halaman digital, matanya bergerak tajam dari baris ke baris. Setelah beberapa detik, ia meletakkan tablet di meja.

"Rapi."

"Itu memang tugas saya."

Zayden mengangkat kepala. "Anda selalu defensif saat dipuji."

"Saya hanya realistis."

"Anda takut saya sedang baik."

Elvara menatapnya datar. "Saya justru khawatir Bapak sedang punya tujuan."

Sudut bibir pria itu bergerak tipis. "Duduk."

Nada perintah itu membuatnya kesal, tetapi ia tetap menarik kursi dan duduk di seberang meja. Menolak hal kecil seperti ini hanya akan memberinya alasan memperpanjang permainan.

Zayden menautkan jari di atas meja. "Masih banyak kerjaan?"

"Kalau Bapak berhenti memanggil saya untuk percakapan yang bisa lewat email, pekerjaan saya jauh berkurang."

"Berarti kita bicara cepat."

Ia bersandar santai, seolah malam masih panjang dan ia punya seluruh waktu di dunia.

"Sudah menikah?"

Pertanyaan itu datang tiba-tiba dan begitu pribadi sampai Elvara butuh sepersekian detik untuk menata wajah.

"Belum."

"Tidak pernah?"

"Itu pertanyaan lanjutan yang tidak relevan."

"Jawabannya."

Elvara menahan napas sebentar. "Belum pernah."

Zayden mengangguk kecil tanpa melepas pandangan. Sorot matanya tidak kasar, justru tenang. Itu yang membuatnya lebih sulit dihadapi, karena ia tampak seperti sedang sekadar mengobrol padahal sedang menekan.

"Punya anak?"

Jantung Elvara berdetak lebih keras. Ia sudah menduga arah pertanyaan ini, tetapi tetap saja tenggorokannya terasa kering saat mendengarnya langsung.

"Saya rasa Bapak sudah tahu."

"Saya ingin dengar dari Anda."

"Satu."

"Laki-laki."

"Ya."

"Usia?"

"Lima."

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Ia tahu kesalahannya saat melihat tatapan Zayden berubah tipis, seolah mencatat sesuatu di kepala.

"Tinggal sendiri?"

"Saya tinggal dengan anak saya."

"Dan babysitter."

Elvara menatap tajam. "Bapak menyelidiki saya."

"Saya membaca data yang tersedia."

"Itu tidak memuat babysitter."

"Hm."

Satu suku kata itu cukup menjelaskan bahwa ia tahu lebih banyak dari yang seharusnya. Elvara menyatukan jari di pangkuan agar tangannya tak terlihat gemetar.

Zayden menatap gerakan kecil itu. "Kenapa gugup?"

"Saya lelah."

"Bohong."

Kalimat itu diucapkan datar, tanpa nada meninggi, tanpa ekspresi. Namun justru karena itulah terasa menusuk.

Elvara mengangkat dagu. "Kalau Bapak ingin menuduh, sekalian saja jelas."

"Saya tidak menuduh. Saya mengamati."

"Dan saya tidak wajib nyaman diamati."

Keheningan singkat terbentang di antara mereka. Dari balik kaca jendela, lampu kota berkelip seperti dunia lain yang jauh lebih sederhana.

Zayden berdiri, membawa cangkir kopi ke dekat jendela. Punggungnya tegak, satu tangan di saku celana, tangan lain memegang cangkir.

"Kamu masih sama."

Perubahan kata ganti itu membuat napas Elvara tersangkut.

"Bapak salah orang."

Ia menoleh setengah badan. "Dulu kalau gugup, kamu bicara lebih formal."

Masa lalu yang selama ini ia kubur tiba-tiba berdiri di tengah ruangan modern itu. Elvara ikut berdiri karena merasa duduk membuatnya terlalu lemah.

"Kalau tidak ada pekerjaan lain, saya keluar."

"Masih ada."

"Tentu saja."

Zayden kembali ke meja dan berhenti di depannya. Jarak mereka masih pantas, tetapi cukup dekat untuk mengacaukan ritme napasnya.

"Ayah anakmu di mana?"

Pertanyaan itu lebih tajam daripada semua sebelumnya. Elvara menahan ekspresi dengan susah payah.

"Bukan urusan kantor."

"Bukan."

"Bukan urusan pribadi Bapak juga."

"Kalau saya ingin tahu?"

"Simpan rasa ingin tahu itu."

Tatapan mereka bertabrakan. Ia bisa melihat sesuatu yang lebih dari curiga di mata pria itu. Ada gangguan ego karena tak memegang jawaban, ada rasa terganggu karena bagian hidupnya mungkin dihilangkan, dan ada naluri mengejar sesuatu yang disembunyikan darinya.

Zayden menurunkan suara.

"Dia meninggalkanmu?"

Elvara hampir tertawa karena ironi yang terlalu kejam.

"Kenapa Bapak peduli?"

"Saya tidak suka pria yang lari dari tanggung jawab."

Kalimat itu membuat dadanya sesak. Karena pria yang berdiri di depannya sama sekali tidak sadar mungkin sedang berbicara tentang dirinya sendiri.

"Saya baik-baik saja tanpa dia."

"Jawaban aman."

"Itu jawaban cukup."

"Masih mencintainya?"

"Sudah selesai."

Mata Zayden menyipit tipis. Ia jelas menangkap sesuatu, bukan dari isi jawaban, melainkan dari cara Elvara menjawab. Dari jeda napasnya, dari bahu yang menegang, dari pandangan yang sempat bergeser.

"Kamu buruk sekali saat berbohong," katanya pelan.

Elvara membeku. "Maaf?"

"Dulu juga begitu."

"Dulu?"

Ia melangkah sedikit lebih dekat. "Kamu benar-benar mau pura-pura kita belum pernah berbagi malam yang sama?"

Udara terasa lebih berat. Elvara memaksa wajahnya tetap dingin walau jantungnya berdebar tak terkendali.

"Banyak orang pernah Bapak temui. Saya bukan siapa-siapa."

"Justru itu masalahnya."

"Apa maksudnya?"

"Saya jarang mengingat orang. Tapi kamu tertinggal."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang ia mau akui. Ada bagian kecil dalam dirinya yang pernah ingin mendengar sesuatu seperti itu lima tahun lalu, bukan sekarang saat segalanya sudah rumit.

Ia memalingkan wajah. "Kalau hanya nostalgia murahan, saya kembali kerja."

Zayden tertawa pelan, rendah, hampir tak terdengar.

"Kamu marah saat terpojok."

"Saya marah karena ini melewati batas profesional."

"Dan kamu selalu pintar memilih istilah."

Ia mengambil satu map dari meja lalu menyerahkannya.

"Dokumen ini selesai malam ini."

Elvara menerima map itu dengan gerakan tegas. "Senang akhirnya kita kembali ke pekerjaan."

Saat ia berbalik menuju pintu, suara Zayden menghentikannya lagi.

"Elvara."

Ia berhenti tanpa menoleh.

"Anakmu suka robot."

Ia menggigit bagian dalam bibir agar tetap tenang. "Ya."

"Saya juga suka robot waktu kecil."

Ia tetap diam.

"Lucu, ya."

Kini ia menoleh. Mata pria itu tenang, terlalu tenang.

"Apa yang lucu?"

"Kesamaan kadang muncul di tempat tak terduga."

Elvara membuka pintu dan keluar tanpa menjawab.

Begitu pintu tertutup, lututnya hampir lemas. Ia duduk di kursi meja luar, meletakkan map, lalu menatap layar laptop kosong beberapa detik. Tangannya dingin, kepala dipenuhi gema pertanyaan tadi.

Sudah menikah. Punya anak. Tinggal sendiri. Ayah anakmu di mana.

Itu bukan obrolan santai. Itu interogasi yang dibungkus nada tenang.

Pintu ruang CEO terbuka lagi beberapa menit kemudian. Zayden keluar mengambil berkas dari printer dekat mejanya. Saat melewati Elvara, ia berhenti sebentar.

"Kamu menggigit bibir bawah kalau panik."

Ia menatap lurus ke layar, menolak memberinya reaksi.

"Selamat malam, Pak."

"Masih bohong."

Ia kembali masuk sebelum Elvara sempat membalas.

Elvara menutup mata sesaat. Pria itu mengingat terlalu banyak hal kecil. Jauh lebih berbahaya daripada yang semula ia kira.

Pukul sembilan lewat empat puluh lima, ia akhirnya menyelesaikan semua pekerjaan lalu turun ke parkiran bawah tanah. Di dalam mobil menuju apartemen, ia membuka kamera depan dan menatap wajah sendiri di layar gelap.

Lelah. Tegang. Takut.

Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar Rheon. Bocah itu tidur miring sambil memeluk Sentinel, rambutnya berantakan, napasnya teratur, wajahnya damai.

Elvara duduk di sisi ranjang dan mengusap pipi kecil itu pelan.

"Kita harus pergi sebelum terlambat," bisiknya.

Namun di lantai tiga puluh satu gedung Alvero Group, Zayden masih berdiri di depan jendela ruangannya sambil memikirkan satu hal yang tak bisa ia abaikan. Setiap kali Elvara berbohong tentang hidupnya, matanya selalu melindungi seseorang.

Dan ia semakin yakin, seseorang itu adalah anak bernama Rheon.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!